Musik Bising dalam Kajian

Not Your World Music.

Mungkin sebagian besar dari kita masih cukup asing dengan musik noise. Jika Anda tidak terbiasa dengan bebunyian yang tak lazim, mungkin seketika Anda akan berceletuk, “musik apaan sih nih?” Begitu kira-kira stigma khalayak terhadap genre ini.

Kalimat pembuka di depan adalah judul buku yang mengulas tentang keberadaan skena musik noise di Asia Tenggara. Adalah Cedrik Fermont dan Dimitri della Faille yang gigih menelusuri keberadaan musik ini di negara-negara seperti Indonesia, Myanmar, Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Beberapa minggu lalu, tepatnya Selasa malam (7/12), buku berjudul lengkap Not Your World Music, Noise In South East Asia: Art, Politics, Identity, Gender, and Global Capitalism dibedah di markas komunitas kajian musik, Laras, Yogyakarta. Cedrik berkesempatan hadir langsung ditemani oleh Dyah Isaka, musisi musik bising yang menjadi salah seorang narasumber penelitian tersebut.

Diskusi dibuka dengan paparan Cedrik mengenai perjalanannya ke berbagai negara dan bertemu dengan skena noise di tiap-tiap negara. Dari Eropa Barat hingga Amerika Utara. Dari Afrika hingga Asia. Ia sendiri memang musisi yang menekuni genre tersebut, meski tak menutup diri dari jenis musik lain. “Noise memang menjadi prioritas saya,” katanya.

Musik noise tidak seperti genre lain yang memiliki pola nada tertentu sehingga membuatnya menjadi unik. Musik noise dapat dikenali dengan mudah lantaran komposisinya yang kerap tak beraturan, dan sudah pasti, bising.

Tak sekadar bising, menurut Dyah, atau akrab disapa Woro, sebuah karya musik noise tetap harus punya detail untuk membedakan antara musisi yang satu dengan yang lainnya. “Noise itu spontan, terbebas dari konten-konten musikal,” ujar Woro. “Jika dianalogikan sebagai lukisan, maka ia adalah lukisan abstrak,” tambahnya.

Dalam buku disebutkan, awal mula sejarah musik noise modern seringkali merujuk pada kiprah artis avant-garde asal Italia, Luigi Russolo. Ia disebut-sebut sebagai artis noise pertama. Manifestonya yang berjudul L’arte del rumori (The Art of Noise) yang terbit pada 1913, menjelaskan bahwa revolusi industri memberikan peluang kepada manusia untuk mengapresiasi bebunyian yang kian kompleks. Suara-suara mesin dianggap menawarkan cara lain menuju dunia baru dan meninggalkan era tradisi kegelapan.

Namun noise tidak harus merujuk pada apa yang didefinisikan Russolo. Noise, yang dalam bahasa Indonesia memiliki cukup banyak padanan (bising, pekak, hiruk pikuk, berisik, gaduh), bisa juga berwujud suara-suara yang kerap hadir dalam keseharian kita. Gemersik air, suara burung, derap langkah, hembusan angin, dan lain sebagainya, bisa dimaknai sebagai noise. “Noise adalah bagian dari kehidupan. Ia ada di manapun dan kapanpun,” kata Rully Shabara, salah seorang musisi eksperimental Yogyakarta.

Musisi avant-garde fenomenal, John Cage, bahkan menyebut karya sunyinya yang berjudul 4’33 sebagai musik lantaran lagu tanpa suara sama sekali itu disokong oleh noise yang ada di sekitarnya. Ia menyebut suara derap langkah, gesekan kaki kursi yang didudukinya, dan bisikan penonton sebagai bagian dari komposisi lagu yang hanya disajikan secara langsung tersebut.

Pegiat komunitas Jogja Noise Bombing, Indra Menus, melihat skena musik bising di Indonesia belum cukup masif. “Skena musik noise di sini masih dalam tahap berkembang. Banyak orang masih meraba-raba instrumen apa yang ingin mereka gunakan dalam berkarya. Banyak dari mereka juga masih mencari bentuk bunyi yang mereka harapkan,” kata Menus.

Problem lainnya adalah pendokumentasian skena musik bising belum cukup baik. “Banyak band noise yang tidak punya album,” kata pria yang menggawangi band bising To Die ini. Namun, tidak semua memiliki pengarsipan yang buruk. Senyawa, misalnya, grup eksperimental asal Yogyakarta adalah salah satu yang paling menonjol di antara musisi noise yang ada di Indonesia. Selain karyanya sudah direkam dan dirilis dalam berbagai bentuk medium, jam terbang mereka pun terbilang tinggi lantaran kerap tampil pada festival musik di dalam maupun luar negeri.

Kendati demikian, dalam buku tersebut, Cedrik dan Dimitri tidak berkutat pada asal muasal dan estetika musik noise belaka. Seperti tertera pada judul, kajian ini tidak semata-mata membahas musik noise sebagai seni, melainkan juga menelisik kelindan antara noise dengan fenomena sosial, politik, ekonomi. Kedua penulis tegas mengatakan bahwa, “Buku ini politis: ini soal anti-seksis dan anti-kolonial. Buku ini diharapkan dapat memicu diskusi tentang masyarakat, representasi sosial, ketidaksetaraan, marjinalisasi dan kolonialisme.” Alih-alih obyektif, Cedrik dan Dimitri mengakui dengan jujur bahwa tak ada penulis netral. Mereka adalah bagian dari apa yang mereka tulis.

Soal sikap politik, Menus misalnya, menganggap musik noise memiliki pesan politis di dalamnya. Noise kini menjadi alternatif ketika punk sudah begitu komersil. “Saya tertarik dengan punk lantaran ia menjadi ancaman dengan sikap do-it-yourself-nya. Namun saya melihat punk mulai diterima [pasar] dan kemudian saya menemukan musik noise dan merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu dengan punk. Ya, Bagi saya, noise sangat politis, sama seperti halnya punk,” ujar Menus.

Akan tetapi tidak semua musisi noise di Indonesia mengamini soalan politik ini. Woro, misalnya, mengakui bahwa sebagian artis menjadikan karyanya sebagai manifestasi politik, tapi tidak bagi dia. “Saya membuat musik hanya berdasar pada apa yang saya rasakan,” katanya.

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)