Mengetengahkan Kisah Arus Pinggir

Dangdut dan black metal boleh jadi berbeda dalam banyak hal; musikal, historis, dinamika. Namun, ada kesamaan antara keduanya, yakni berada di arus pinggir belantika musik Indonesia.

Akhir pekan memang lebih lazim dimanfaatkan untuk bersantai. Jalan-jalan ke tempat sejuk nan indah atau menghabiskan waktu menonton film terkini di bioskop terbaik, menjadi sedikit dari banyak pilihan. Terlebih jika akhir pekan panjang. Enggan rasanya menyia-nyiakan waktu bersantai dengan membahas hal-hal serius dan berat. Tetapi ajakan diskusi sore itu memaksa saya membatalkan rencana mencari udara baik di luar kota.

Perhelatan diskusi bertajuk “Dongeng Arus Pinggir” yang dihelat malam itu (14/4) di kafe Mondo By The Rooftop, di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, lebih menarik rasa penasaran saya. Andrew Weintraub dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, dan Yuka Dian Narendra dari Universitas Matana, menjadi pemantik diskusi malam itu. Keduanya membahas dua hal yang berbeda secara musikal namun berada pada frekuensi yang sama dalam konteks sosialnya, yakni sebagai musik arus pinggir.

“Kita kedatangan dua hipster paripurna,” kata Raka Ibrahim, moderator diskusi malam itu. Pengantarnya mengingatkan bahwa malam itu kita akan membahas sesuatu yang jarang dilirik dan diperbincangkan khalayak. (Dangdut memang sering diperbincangkan, tapi tidak banyak yang melihatnya dari kacamata kelas sosial, identitas dan gender, bukan?). Yuka mengulas tentang black metal di Indonesia sementara Andrew mendedah dangdut. Keduanya berangkat dari hasil riset.

Yuka mengambil topik mengenai black metal untuk disertasinya, sementara Andrew sejak lama mengincar dangdut untuk diteliti.

Dangdut dan black metal memang berada di arus pinggir. Namun, keduanya berada di arus pinggir yang berbeda. Dangdut misalnya, meski disebut sebagai arus pinggir, ia sebetulnya merupakan “the most popular music in Indonesia,” meminjam kalimat Andrew.

Tak ada yang bisa memungkiri ini. Gelaran dangdut selalu menyedot massa besar. Bahkan di era Orde Baru—hingga sekarang—dangdut menjadi pilihan partai politik dalam berkampanye. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menarik massa. Dalam banyak peristiwa politik, massa besar menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kedigdayaan suatu kelompok. Meskipun massa yang datang pada kampanye dengan hiburan dangdut belum tentu memilih partainya. Begitu populernya dangdut, ia menjadi konsumsi bagi banyak kalangan, lintas kelas, agama maupun etnis. Namun, stigma dangdut sebagai musik murahan tak pernah bisa lepas. Benny Soebardja, musisi rock ‘70an, bahkan menyebut dangdut dengan fenomenal—dan sinis—sebagai ‘musik tai anjing’. Tepat di sinilah kemudian dangdut, meski sangat populer, berada di aras pinggir belantika musik karena alasan ‘dangdut tidak keren’.

“Saya ingin mengeksplor masalah kelas sosial, etnis dan negara dalam buku itu.” Andrew merujuk pada hasil penelitiannya yang dibukukan berjudul Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music (2010) yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia (2012)

“Saya ingin tanya, who is dangdut? Kalau itu ‘most popular music’, siapa yang diwakili dangdut? Mungkin ya, tak ada seorang pun di sini yang merasa ‘dangdut is my music’,” ujar Andrew. Saya menangkap ia ingin menunjukkan bagaimana posisi dangdut di tengah masyarakat Indonesia dengan mengambil contoh di ruangan itu.

”Tadi kata Raka, Rhoma Irama adalah teman saya, dan kemudian [orang-orang. Red] pada ketawa. Itu funny,” ujarnya.

”Tapi kalau di forum fans dangdut yang obsesif dengan Rhoma Irama yang bernama Forsa (Fans of Rhoma Irama dan Soneta), perspektif mereka sangat beda. Karena mereka tahu saya dekat dengan Rhoma Irama, mereka ingin dekat dengan saya. Kenapa beda amat? Karena relationship dengan musiknya. Yang menarik soal relationship antara fans dangdut, misalnya dengan orang-orang di ruangan ini, adalah masalah kelas sosial. Dangdut, katanya, identik dengan kelas menengah ke bawah,” tambah Andrew.

Ini adalah contoh kecil dari lingkup penelitiannya yang hingga sekarang masih ia geluti, kurang lebih selama 15 tahun. Ia berkisah dalam bukunya ketika mau memulai penelitian tentang dangdut: “Dangdut? Itu cuma segerombolan perempuan berpakaian minim dan menggoyang-goyangkan pinggulnya! Kenapa ada orang yang ingin mempelajari itu!,” tulis Andrew. Dari perspektif akademis dangdut pun dianggap “cenderung imut, main-main, lucu, dan ringan, bukan serius, kontemplatif, dan berat.” Nyatanya dangdut tidak hanya berada di tepian kebudayaan populer, di ranah akademis pun dangdut berada di sudut yang sama—setidaknya ketika Andrew melakukan penelitian dangdut—tidak lebih ‘layak’ dibanding musik tradisi yang dianggap lebih adiluhung.

Pelabelan dirinya sebagai ‘profesor dangdut’ pun bisa bermakna ganda. Ada yang menganggap serius; wajar karena ia telah melakukan penelitian yang komprehensif tentang dangdut. Namun, ada juga yang melihatnya sebagai sesuatu yang lucu. “Profesor dangdut, itu dua kata yang tidak masuk akal. Tidak cocok, profesor dan dangdut. Tapi saya bisa mengerti,” katanya malam itu.

Lain kisah dangdut, lain pula kisah black metal. Meski keduanya berada di aras pinggir, black metal tidak sepopuler dangdut. Peminatnya tidak lebih spesifik dalam kategori kelas. Ia lebih lekat pada identitas kebudayaan, dalam hal ini Jawa. Penelitian Yuka berlokus pada yang ia sebut sebagai javanesse black metal, yakni sebuah kelompok pelaku musik yang memadukan black metal dengan kebudayaan Jawa, seperti spiritualisme kejawen.

Membicarakan kejawen mungkin akan jauh dari membicarakan politik. Ia lebih masuk akal digagas dalam ranah kebudayaan. Namun, di sini letak persinggungannya. Identitas kebudayaan yang diusung oleh para scenester black metal menjadi sangat politis ketika ditarik pada kondisi perbenturan kebudayaan. Dengan kata lain, menjadi black metal kejawen adalah sebuah bentuk resistensi.

Yuka mengambil tiga sample skena black metal yang menurutnya representatif dalam konteks ini. Yakni, Mataram Scene (Solo), Jenggala Scene (Sidoarjo), dan Dhaha Scene (Kediri). Ketiganya memiliki motif perlawanan yang berbeda, sesuai dengan konteks sosial-politiknya masing-masing. Di Solo para scenester berhadapan dengan ancaman antipluralisme mengingat wilayah tersebut menjadi basis cukup besar kelompok Islam konservatif.

Di Sidoarjo para pegiat skena berhadap-hadapan dengan korporat, sebab sebagian dari mereka adalah korban dari bencana lumpur Lapindo, bencana yang ditimbulkan oleh para korporat tersebut. “Inilah subject matter bagi mereka. Apalah artinya kita (pelaku skena) yang ada di Jakarta. Apa yang mereka hadapi konkret,” tutur Yuka setengah berkelakar.

Di Kediri lain soal lagi. Para pelaku skena tidak berhadapan dengan apapun kecuali penelantaran terhadap identitas mereka sebagai bagian dari sejarah besar masa lalu. Apa yang mereka lakukan tidak hanya bermusik, melainkan juga menjadi pewaris situs-situs bersejarah. “Enggak ada arkeolog ke sini. Di mana negara?,” ujar Yuka meniru respons scenester di Dhaha Scene. Yang unik adalah, ketiadaan otoritas untuk menjaga sisa-sisa identitas budaya tersebut membuat mereka berinisiatif untuk membentuk otoritasnya sendiri: menciptakan mitos angker agar tidak ada yang merusak tempat tersebut. Di sinilah praktik spiritualisme ala kejawen mereka ejawantahkan.

“Black metal adalah kendaraan politik bagi mereka. Kejawen inilah yang digunakan untuk melawan narasi-narasi dominan,” ujar Yuka.

Pengkondisian dangdut dan black metal di aras pinggir memang berbeda. Dangdut, meski tidak secara eksplisit melawan stigma ‘murahan’, mereka tetap eksis dan malah menjadi “the most popular music”. Lirik-liriknya tentang percintaan, kisah merana, kesedihan maupun kegembiraan telah merangkul banyak manusia yang bernasib sama. Dangdut menyiratkan perlawanan dengan subtil. Barisan ‘orang-orang kalah’ inilah yang membuatnya bisa diandalkan dalam soal jumlah massa penggemar. Betapapun ‘tai anjing’-nya menurut Benny Soebardja, dangdut tetap digdaya.

Sementara black metal menyusuri jalan yang lebih sunyi. Ia tidak menjadi populer, namun mampu membawa pelakunya menjadi demikian fanatik hingga menciptakan subkulturnya sendiri. “Mereka menawarkan gagasan identitas Jawa yang sama sekali baru dan berbeda,” kata Yuka. “Setidaknya dari fenomena black metal kejawen ini ada upaya besar untuk menantang legitimasi budaya yang adiluhung (dominan).”

Perlawanan yang eksplisit dalam laku maupun lirik menegaskan di mana mereka berdiri dan untuk apa. Dengan black metal, peminggiran identitas, dalam hal ini Jawa, oleh satu dua kebudayaan dominan, telah memunculkan siasat perlawanan yang lain.

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)