Ziarah: Semesta Tanah, Kematian, dan Pencarian yang Tertunaikan

Sebelum memulai perjalanannya di layar bioskop, pagelaran layar tancap film Ziarah di pelataran Balai Dusun Pagerjurang seakan menjadi prasyarat yang mesti dilakoni. Layar tancap itu merupakan wujud terima kasih tim pembuat film kepada desa yang menjadi lokasi kelahiran Ziarah.

Angin malam berhembus di sepanjang premier Ziarah di Dusun Pagerjurang, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Sabtu (13/5) malam itu. Dingin sesekali memaksa tubuh untuk menggigil. Namun, itu tak menyurutkan antusiasme ratusan penonton untuk melumat sajian teranyar dari sutradara BW Purbanegara. Penonton yang terdiri dari perangkat desa hingga provinsi, termasuk Wakil Bupati Gunungkidul, juga warga mulai dari anak-anak, remaja hingga yang berusia lanjut membaur jadi satu. Mereka menjadi riuh tiap kali wajah dan pemandangan desa yang tak asing muncul di layar itu.

Layar tancap malam itu seperti mematahkan konsep desublimasi represif ala Herbert Marcuse. Bahwa di zaman yang serba membayar dan mengikuti aturan untuk mendapat kebahagiaan seperti sekarang, Purbanegara justru menggelar layar tancap sebelum film yang telah wara wiri di berbagai festival itu muncul di bioskop komersial. Selain tak dipungut biaya, warga yang hadir termasuk saya bebas mengekspresikan impresi pada setiap scene. Entah dengan terbahak ketika layar menampilkan laku jenaka, atau terdiam ketika mendengar dialog yang dalam. Tidak ada popcorn memang. Tetapi ada pedagang yang menjajakan aneka minuman dan makanan, sehingga saya bisa membeli segelas kopi hitam untuk meredam kantuk dan dinginnya malam.

Wajah senja penuh guratan itu adalah milik Mbah Sri, perempuan tua yang bertekad kuat mencari tahu makam suaminya, Prawiro Sahid. Prawiro kala itu pamit kepada Sri untuk turut berjuang membela negara dalam Agresi Militer Belanda II. Namun, hingga kemerdekaan kini dapat dirasakan cucu mereka, Prawiro tak pernah kembali. Hanya kabar kematian dan sebuah makam tak bertuan di Taman Makam Pahlawan menjadi satu-satunya penanda bahwa suaminya telah berpulang ke haribaan semesta. Itu pun tak cukup melegakan. Agar kelak ketika kereta senja menjemput ia dapat bersemayam di samping pusara sang suami, Mbah Sri memulai pencariannya seorang diri.

Tidak ada harapan berlebihan coba ditawarkan. Tidak ada kritik tajam dilontarkan. Emosi yang coba dibangun pun disusun perlahan. Dan lagi, berbeda dari film Indonesia kebanyakan yang mencoba mengangkat nilai-nilai lokal, Ziarah hadir dengan rupanya yang jujur juga tenang. Dialog antarsatu dengan lainnya dalam membangun narasi terdengar sederhana namun sarat makna. Ia tidak pula dihiasi dengan scoring yang mengalun atau berdentum, hanya dialog lamat-lamat yang subtil. Peran yang dilakoni oleh warga lokal yang sebelumnya jauh dari hingar-bingar layar kaca menjadi nilai lebih dalam kesederhanaannya.

Ziarah sejatinya mengajak penonton untuk merefleksikan kembali relasi manusia dengan tanah, mengingat negara ini dibangun oleh narasi besar sebagai negara agraris. Digambarkan perbedaan dua generasi dalam mengamini ikhwal tersebut. Bagi Mbah Sri, tanah bisa jadi begitu berharga apabila raganya kelak dikubur di samping makam sang suami. Sedang bagi cucunya, tanah menjadi modal sosial untuk memberi jaminan kepada calon istri bahwa ia bersungguh-sungguh mengajaknya ke pelaminan. Meski hari-hari ini silang-sengkarut agraria belum tunai, Purbanegara tidak berusaha menampilkan kritik terhadapnya secara berlebihan. Hanya gambaran singkat namun esensial yang coba disentilnya, lalu membiarkan para penonton untuk menginterpretasi kemudian. Bahwa tanah adalah tempat singgah yang tidak hanya memiliki nilai jual tetapi juga nilai historis.

Tentang lokalitas yang begitu menonjol ditampilkan terwujud dalam simbol-simbol yang dikenakan. Mulai dari dialog berbahasa jawa sepanjang film, pakaian sehari-hari Mbah Sri yakni kebaya dan jarik, keris yang akhirnya mampu menjadi penunjuk arah bagi Mbah Sri dalam mencari makam Prawiro, hingga mitos pulung gantung di Gunung Kidul. Ketika manusia modern menitikberatkan segala hal pada rasionalitas, Purbanegara mencoba memberi sedikit oase pada keringnya laju modernitas dengan meromantisir spiritualitas tradisional melalui simbol-simbol tersebut. Atau paling tidak, ia seperti mengingatkan agar wong Jowo (ora) ilang Jawane seperti yang diramalkan Jayabaya.

Kabeh sing wis kepisah, bisa nyawiji meneh neng lemah” (semua yang sudah terpisah, bisa menyatu kembali di dalam tanah). Kalimat tersebut bagi saya tidak hanya menyinggung romansa cinta sejati yang terpisahkan oleh maut saja. Lebih dari itu, ia mencoba mengatakan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kita semua akan menemui senjakala pada waktunya nanti; dijemput atau menjemput kematian. Dan mungkin, Mbah Sri mengamini betul bahwa kematian menjadi jawaban atas renjana yang menghantuinya akan keberadaan makam sang suami.

Kendati film ini menyuratkan potongan-potongan sejarah pertumpahan darah di Indonesia melalui pemaparan saksi sejarah secara langsung, bukan hal tersebut yang menjadi poin utama. Adalah tamparan keras yang ditampilkan melalui gigihnya Mbah Sri dalam pencariannya. Ia mendengar banyak kisah tentang suaminya yang mati ditembak karena dicurigai sebagai kumpeni, tentang makamnya yang tenggelam di sebuah waduk, hingga sempat dikelabuhi. Namun, ia terus mencari kebenaran itu. Bila ditarik ke konteks saat ini, bukankah proses yang dilakoni Mbah Sri merupakan ironi bagi generasi muda saat ini? Kulit penuh kerut serta tubuhnya yang sudah nggregeli saja masih dapat terbakar dan melaju untuk mencari kebenaran masa lalunya. Sedangkan generasi muda kini yang dilengkapi sarana mencukupi justru terkesan enggan menyusuri sejarah bangsanya sendiri.

Meski Ziarah padat akan nilai-nilai filosofis jawa dengan banyak scene yang menggambarkan kematian, ia tetap terlihat indah dalam kesederhanannya yang membumi. Sebuah penyegaran nan kontemplatif yang patut ditonton di tengah-tengah laju peradaban modern di mana manusianya berjalan linier dan tergesa-gesa, serta angin segar bagi perfilman Indonesia yang melulu mengangkat roman picisan atau seksualitas yang terbalut oleh kisah misteri.

Sebuah kejutan ditampilkan di akhir film, meskipun tersirat banyak penanda pada scene-scene sebelumnya. Seperti yang saya sebut di awal, film ini tidak memberikan harapan berlebihan, sama halnya dengan upaya Mbah Sri mencari makam suaminya. Harapannya dalam pencarian telah tunai, namun tidak dengan perasaannya.

Saya tidak mampu membayangkan perasaan seperti apa yang menyelimuti Mbah Sri atas jawaban dari pertanyaan sederhananya. Tetapi, apa yang dapat dilakukan ketika sejarah panjang yang coba diuraikan ternyata tidak bersambut dengan kebenaran yang diamini? Kecewa sudah barang tentu. Tetapi bagi Mbah Sri, menerima dan melanjutkan hidup adalah jawaban terbaik.

Sebagaimana Mbah Sri, para penonton yang datang juga kembali melanjutkan hidup selepas pemutaran film tersebut tunai. Melanjutkan kembali ziarahnya masing-masing dengan terus mencari. Karena, bukankah sejatinya manusia dilahirkan untuk mencari makna keterlemparannya di dunia ini?

Mega Nur

Mega Nur

Entitas biasa yang tertarik dengan cultural studies dan sedang dalam proses kurasi agar berfaedah untuk semua umat. Dapat ditemui di kanal meganur.tumblr.com atau instagram gadull
Mega Nur