Kultus Kargo dan Dunia Spiritual Masyarakat Melanesia

Sekitar empat bulan lalu, kanal You Tube bernama Java Films merilis sebuah video berjudul “John Frum Cult in Tanna”. Secara ringkas, video tersebut menceritakan pecahnya kultus John Frum karena kedatangan seorang ‘nabi’ baru bernama Fred. Penganut kultus John Frum digambarkan mulai meninggalkan kepercayaannya dan pecah menjadi kelompok-kelompok kecil.

Video itu menjadi penting karena merekam sejarah gerakan kultus kargo yang ada di Melanesia. Seperti kita tahu, sebagian besar Melanesia juga berada di wilayah Indonesia. Anehnya, hingga catur wulan pertama tayang, video ini hanya ditonton oleh 602 orang.

Jauh sebelum video tersebut dibuat, John G. Strelan, peneliti dari Australia, telah menulis berbagai gerakan kultus kargo dalam buku “Kargoisme di Melanesia”. Buku ini muncul dalam bahasa Indonesia sebagai usaha menambah literasi tentang sistem kepercayaan yang ada di Melanesia, termasuk Papua Barat. Pada dasarnya, buku ini membahas kultus kargo dan kaitannya dengan teologi Kristen. Namun, buku ini menyediakan ruang interpretasi yang luas dari berbagai segi terutama kebudayaan.

Sesuai dengan judulnya, buku tersebut mencatat dengan cukup rinci pergerakan kultus kargo di Melanesia. Melanesia yang dimaksud bukan hanya Papua Barat yang kita tahu sekarang, tetapi hingga kepulauan di sebelah timur Australia. Kultus kargo dapat ditemukan hampir di setiap pulau mulai dari Pulau Misool di Kepulauan Raja Ampat, Papua New Guinea, Selandia Baru, Kepulauan Salomon, Vanuatu, hingga Fiji.

Dalam bukunya, Strelan sendiri tampak kebingungan mendefinisikan apa itu kultus kargo. Strelan memberikan sebuah gambaran naratif bahwa kultus kargo merupakan sebuah gerakan yang dimulai dengan kemunculan seorang nabi atau pemimpin yang menyatakan bahwa ia telah mendapatkan penglihatan mengenai nenek moyang yang akan kembali dalam waktu yang tidak lama lagi. Kedatangan nenek moyang tersebut biasanya ditandai dengan tanda-tanda alam seperti gempa bumi, banjir, gerhana atau gunung meletus sebelum kemudian tercipta sebuah tatanan dunia yang baru.

Setelah banyak mendapat pengikut, kultus terus berkembang. Biasanya ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan perilaku sosial. Umumnya, pengikut kultus akan menjual semua miliknya dan membangun gudang-gudang besar guna menyimpan barang-barang baru yang kelak akan dibawa oleh nenek moyangnya. Mereka akan menggelar pesta-pesta demi mempercepat kedatangan nenek moyang dan dengan mudah menerima hal-hal baru yang tadinya ditentang oleh kaum mereka, juga sebaliknya. Sampai kemudian mereka sadar bahwa nenek moyang tidak akan datang. Pengikut sebuah kultus pun akan berkurang sedikit demi sedikit. Anehnya, Strelan mengatakan jika ada nabi baru yang datang ke tempat yang sama, maka seluruh rangkaian kultus akan dilakukan dari awal kembali.

Meskipun demikian, penjelasan di atas tidak terbukti otentik terjadi dalam setiap kultus kargo. Banyak sekali variasi cerita dan perjalanan kultus kargo untuk dapat langgeng di masyarakat pengikutnya.

Beberapa kultus kargo

Sebagai contoh, kultus kargo John Frum yang dijelaskan di awal tulisan berasal dari Kepulauan Vanuatu. Kultus ini tumbuh subur di Pulau Tanna. Kultus ini dimulai dengan kedatangan Dewa Karaperamun yang mengabarkan dirinya sebagai “John Frum, Raja Amerika”. Setelah kedatangan dewa tersebut, orang-orang mengubah cara hidupnya. Mereka terpecah dalam kelompok-kelompok kecil dan masuk ke dalam hutan. Mereka meninggalkan pelayanan di gereja Kristen dan Katolik. Di dalam hutan mereka berdansa, berpesta dan meminum kava—sejenis minuman keras. Mereka juga membelanjakan semua miliknya karena yakin zaman baru akan segera datang. Penganut kultus ini percaya bahwa John Frum akan datang dari Amerika untuk memulai zaman baru.

Selain itu, ada 62 gerakan kultus kargo lain yang tercatat dalam buku ini. Kultus ini hampir tumbuh rata di setiap daerah Melanesia. Tak terkecuali di Papua Barat bagian utara. Di sana ada sebuah kultus tua bernama Manamakeri.

Manamakeri merupakan kultus yang tercatat paling tua, yang dimulai sejak 1855. Ada beberapa versi cerita mengenai Manamakeri. Dalam buku “Cerita Rakyat Daerah Irian Jaya” terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan misalnya, Manamakeri disebut Mananarmakeri dengan alur cerita yang lebih panjang. Namun, cerita tersebut dianggap sebagai cerita daerah, bukan bagian dari kultus kargo.

Manamakeri berarti ‘orang tua yang berkudis’. Ia diceritakan pernah mengunjung tempat orang-orang mati yang disebut koreri. Koreri dapat pula diartikan sebagai keadaan yang bahagia. Namun, karena kesalahannya dia tidak dapat memasuki tempat itu lagi. Sekembalinya dari Koreri, ia memiliki kekuatan untuk melakukan mujizat seperti membangkitkan orang mati dan mengubah orang tua menjadi muda kembali. Selama hidupnya, Manamakeri mendapat penolakan di tempatnya tinggal. Orang-orang tidak percaya ia bisa membuat mujizat. Oleh karena itu, Manamakeri kemudian berlayar ke arah barat dengan membawa rahasia kehidupan kekal. Inti dari kultus ini adalah, menunggu kembalinya Manamakeri dari pelayarannya tersebut membawa kejayaan dan kehidupan yang kekal. Kepercayaan ini pula yang menjadi cikal bakal banyak mitos di sekitar Biak hingga Pulau Numfor.

Kultus berikutnya datang dari bagian barat Melanesia. Kultus ini dikenal sebagai kultus telanjang (Naked Cult) di Pulau Espiritu Santo, Vanuatu. Gerakan ini dipelopori oleh Tieka. Ia mengajari pengikutnya menanggalkan pakaian agar dapat berhubungan seks dengan siapa saja. Semua perempuan termasuk gadis-gadis muda harus melayani semua pengikut gerakan ini. Mereka menolak segala macam hal yang berbau Eropa dan melarang pengikutnya bekerja pada bangsa Eropa. Segala macam hewan ternak harus dibunuh dan semua rumah harus dibakar. Mereka harus tinggal di dua rumah besar saja.

Ketika mereka menaati semua ketentuan tersebut, maka “Amerika” akan datang membawa kargo yang berkelimpahan dan kehidupan kekal. Dimulai pada 1944, gerakan ini hanya bertahan lima tahun. Banyak yang kemudian menyangsikan Tieka karena tidak ada tanda-tanda kedatangan zaman yang baru.

Menafsirkan kultus kargo

Upaya menafsirkan kultus kargo telah dilakukan oleh banyak orang dengan berbagai sudut pandang. Beberapa pengamatan yang dilakukan oleh pihak barat tersebut menyisakan lubang besar. Usaha penafsiran lain menyajikan perbedaan pendapat antara gereja Kristen dan Katolik. Namun, usaha tersebut belum sampai pada hasil yang memuaskan.

Di balik kekalutan dalam penafsiran tersebut, Strelan telah menunjukkan usaha yang bagus dengan melihat kultus kargo dari beberapa sudut pandang. Mengutip Steinbauer, setidaknya ada lima pendekatan yang dapat digunakan untuk menafsirkan kultus kargo. Pendekatan tersebut meliputi kategori sosio-politis, etis-Kristen, kultural-historis, nasional-ekonomis dan ekletik.

Pendekatan sosio-politis menjelaskan bahwa kultus kargo merupakan upaya pertahanan diri masyarakat Melanesia saat terjadi kontak tiba-tiba dengan kebudayaan lain—dalam hal ini budaya barat. Ada sebuah pesan kebudayaan yang ingin disampaikan lewat kultus kargo, bahwa yang tradisional tidaklah kalah. Vittorio Lanterani yang dikutip dalam buku ini berpendapat bahwa kemunculan kultus kargo merupakan sebuah ‘refleksi religi’ atas jurang kebudayaan yang dalam antara masyarakat Melanesia dengan barat. Kedatangan budaya barat dengan berbagai teknologi canggih dianggap sebagai hal yang supra-alamiah. Sementara itu, orang Melanesia beranggapan bahwa sesuatu yang supra-alamiah adalah milik nenek moyang. Dasar tersebutlah yang memunculkan berbagai kultus kargo.

Pendekatan kultural-historis memiliki sudut pandangnya sendiri. Kebanyakan orang yang menggawangi sektor ini adalah etnolog dan antropolog. Mereka berpendapat bahwa untuk memahami kultus ini, harus dicari terlebih dahulu gerakan-gerakan religi, ritus dan mitologi tradisional. Eliade, salah satu tokoh pendekatan ini, mengatakan bahwa sebenarnya kultus kargo hanyalah sebuah gerakan bertema tradisional yang diberi tambahan nilai-nilai baru. Gerakan ini memiliki orientasi kepada nubuat dan milenarianisme.

Dari sudut pandang nasional-ekonomis, Worsley, salah satu tokohnya, berpendapat bahwa kemunculan gerakan kargo adalah reaksi terhadap pemerasan yang dilakukan oleh penguasa asing. Ia melihat letak geografis masyarakat Melanesia berpencar-pencar, dengan pola kehidupan yang terasing dan terpisah satu sama lain. Mereka tidak mengenal sistem politik yang terpusat. Pemegang norma adalah kepala adat dan tingkat kekayaan diukur dengan keberanian seseorang dalam peperangan. Lewat kecenderungan-kecenderungan tersebut, Wosley menarik kesimpulan bahwa tingkat pengetahun politik yang rendah cenderung memunculkan gerakan milenarianisme seperti kargo. Selain itu, rendahnya pengetahuan akan teknologi, kesehatan, hingga sistem pertanian dan peternakan juga menjadi faktor khusus munculnya gerakan kargo ini.

Melalui buku ini, Strelan telah mampu menghadirkan pengalaman spiritual masyarakat Melanesia. Namun, perlu diingat bahwa buku ini telah berumur 28 tahun. Mungkin telah ada banyak penelitian lanjutan yang dilakukan orang lain terkait kultur kargo. Di balik itu semua, buku ini tetaplah bacaan yang menarik bagi siapapun yang ingin mengetahui dunia spiritual bangsa Melanesia.

Sekurang-kurangnya buku ini menjadi landasan berpikir supaya pembaca tidak lekas mudah mengkafirkan sesamanya. Spiritualitas merupakan bagain dari budaya, juga sebaliknya. Mencari mana yang paling benar itu sungguh pekerjaan yang sia-sia karena semuanya merupakan pengalaman batin penganutnya. Semoga demikian.

Identitas buku

Judul Buku : Kargoisme di Melanesia : Suatu Studi tentang Sejarah dan Teologi Kultus Kargo (SEARCH FOR SALVATION : Studies in the History and Theology of Cargo Cults)

Penulis : Dr. G. Strelan, bekerja sama dengan Drs. Jan. A. Godschalk

Penerjemah : Dr. D. C. Ajamiseba dan Pdt. Benny Giay, M Th.

Penerbit : Pusat Studi Irian Jaya

Tahun Terbit : 1989

Agustinus Rangga

Agustinus Rangga

Mahasiswa Sastra Indonesia yang menggemari kajian-kajian sastra dan budaya. Berjejaring lewat Twitter @agrangga dan surel agoestinoesrangga@gmail.com.
Agustinus Rangga

Latest posts by Agustinus Rangga (see all)