Kegelisahan dalam Pias

Setiap orang punya kegelisahan, tapi tidak semua orang menuliskan kegelisahannya.

Pias adalah sebuah manifestasi kegelisahan. Tepatnya, kegelisahan Aris Setyawan. Meski tajuk buku ini sesederhana Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya, saya mendapati bahwa seluruh tulisan di dalamnya tak lepas dari kerangka kritik. Maka boleh saya bilang, Pias adalah buku kritik seni dan budaya—dalam pengertian yang luas.

Selama ini, sependek yang saya tahu, kebanyakan buku (kumpulan tulisan) kritik seni dan budaya masih terlalu berat untuk dijadikan bacaan santai. Kebanyakan tulisan kritik akan disertai dengan teori yang ndakik-ndakik serta sistematisasi laiknya makalah ilmiah. Yang seperti ini biasanya ditulis oleh para sarjana yang mengisi waktu senggang mengajar dan menelitinya dengan menulis esei pendek. Tetapi bisa jadi klaim saya salah. Hmm, mungkin saya butuh rekomendasi lebih banyak.

Tetapi setidaknya, Pias mengisi ruang kosong itu. Ia menjadi bacaan ringan sekaligus berat karena menawarkan wacana-wacana kritis tentang banyak hal. Ya, banyak hal; seni budaya yang tidak terbatas pada musik, seni rupa, sastra, film, dlsb., tetapi juga merambah ke soalan yang mungkin agak sulit disangkutpautkan dengan “seni dan budaya”. Soal makanan dan pekerjaan, misalnya. Pias melengkapi deretan panjang buku kumpulan esei seni dan kebudayaan yang diterbitkan beberapa tahun belakangan.

Saya menyoroti dua hal dalam Pias, teknis dan substansi—tentu saja, apalagi? Soal teknis, saya kira tidak perlu berpanjang-panjang. Singkatnya, saya agak sedikit terganggu dengan banyaknya kesalahan penulisan alias typo. Karena sudah melewati proses penyuntingan dan proofread, seharusnya kekeliruan minor itu tak perlu ada.

Entah kenapa, belakangan, saya banyak menaruh perhatian pada soalan teknis. Ada banyak buku, khususnya terjemahan, yang diterbitkan dengan sampul yang sangat menarik, promosi yang menggugah, namun mengecewakan dari segi teknis, baik itu penerjemahannya, maupun tata letak isi. Jika sudah tak nyaman dengan satu-dua halaman pertama, saya biasanya memutuskan untuk berhenti membacanya.

Oke. Tetapi itu soal lain. Sampul Pias memang menarik, ia juga bukan buku terjemahan, secara tata letak juga cukup membantu kenyamanan membaca. Hanya mungkin pilihan jenis hurufnya saja yang tidak sesuai selera saya—ya toh, buku itu diterbitkan bukan demi kepentingan selera saya.

Kedua soal substansi. Tetapi sebelumnya saya mau membuat pengakuan dulu. Kesalahan saya membaca Pias adalah karena membaca pengantarnya lebih dulu. Apa yang salah dengan membaca pengantar? Bukankah itu fungsi tulisan pengantar? Merentangkan jembatan pada pembaca agar mudah memahami isi buku yang diantar. Seorang karib pernah bilang, “setiap baca buku, aku selalu menghindari membaca tulisan pengantar.” Alasannya, karena ia tidak mau terjebak justifikasi si pengantar terhadap isi buku. Dan saya mengalaminya saat membaca Pias.

Terlepas dari itu, Aris pernah bilang, “the substance is the only matter”. Tetapi sepertinya Aris malah mengabaikan unsur terpenting ini dalam Pias. Sebelum diterbitkan, hemat saya, semestinya Aris menilik ulang tulisan-tulisannya. Meski sudah diseleksi berdasarkan yang terbaik menurut Aris dan tim penerbit, ada banyak hal bisa diperdebatkan dari kesimpulan-kesimpulannya. Saya sepaham dengan Cholil Mahmud—ini yang saya maksud jebakan. Karena ini adalah tulisan-tulisan lama Aris (2011-2015), wajar bila ada kekurangan dalam argumentasinya. Pada kurun waktu itu ada banyak hal yang Aris alami, berbagai proses dilalui, beserta pembelajarannya—kumpulan tulisan ini adalah wujud konkretnya. Tetapi, pertanyaannya sama dengan Cholil, apakah Aris yang dulu sama dengan Aris yang sekarang? Cholil memakluminya dengan tepat. Saya kira Aris yang sekarang punya cakrawala yang lebih luas timbang ia di tahun 2011, dan tentu saja berpeluang mengoreksi pendapatnya di masa lalu.

Ada jeda yang cukup panjang dari awal perencanaan buku ini hingga akhirnya diterbitkan. Aris berkesempatan menengok kembali gagasan-gagasan yang pernah ia lontarkan. Di sejumlah tulisan, gagasan Aris terlihat normatif. Sebut misalnya tulisan berjudul Colony Collapse dan Runtuhnya Negeri. Kesimpulan yang ditawarkan Aris di sana tidak memberikan nuansa baru. Di situ ia terjebak—atau menjebakkan diri—pada solusi normatif: “menggugat pemerintah”, bahkan menyerukan “jangan salah memilih pemimpin” dalam pemilu. Entah apa yang Aris pikirkan saat menuliskannya, tetapi saya menangkap kesan ia mengalami kebuntuan ide. Saya kira, jika artikel itu ditulisnya hari ini, kesimpulannya tidak akan berujung begitu.

Efek lainnya adalah kontradiksi dalam argumen. Misalnya dalam perkara (musik) modern versus tradisi/etnis. Meski ingin sekali menunjukkan keberpihakan, Aris malah tampak gamang mengambil posisi. Di satu artikel ia membela musik etnis. Di kesempatan lain ia berpihak pada musik modern, meski dengan justifikasi: yang modern pun “etnis”. Mungkin Aris ingin memperlihatkan obyektifitasnya pada topik ini, tapi saya malah melihatnya sebagai inkonsistensi. Apa sebab? Mungkin karena, Aris, dalam ihwal ini, tidak memberi fondasi argumen yang kuat. Semata adalah hasil refleksi spontannya usai menyaksikan fenomena yang diulas dalam artikel-artikel tersebut.

Boleh jadi karena ada rentang waktu antara artikel yang satu dengan artikel lainnya, sehingga perubahan persepsi menjadi sangat mungkin. Namun, alih-alih melihat transformasi pemikirannya, saya malah menangkap kesan inkonsistensi tadi. Karena itulah saya berpikir, mungkin sebaiknya Aris melihat kembali ide yang pernah ia tuliskan, karena barangkali ada bagian-bagian yang perlu ia koreksi. Lain cerita kalau Aris merasa tak ada yang perlu diubah—itu artinya ia masih konsisten dari sejak bertahun-tahun yang lalu.

Saya juga cukup terganggu dengan banyaknya—bahkan di beberapa tulisan terkesan memaksakan keberadaan—“teori”. Menyebut filsuf atau penulis teras boleh jadi dapat memperkuat argumen yang ia paparkan, namun bagi saya tidak perlu-perlu amat sejauh persoalan itu bisa dipahami dengan common sense. Keberadaan “teori” dalam beberapa tulisan Aris malah membuatnya menjadi rumit—dan tidak kontekstual—alih-alih menjernihkannya.

Sampai di sini saya menyimpulkan bahwa Aris terlihat terlalu tergesa-gesa menerbitkan Pias, atau tidak mempersiapkannya dengan cukup matang, meski kurun waktu persiapannya terbilang cukup panjang.

Namun terlepas dari itu, Aris tetap memiliki keunggulannya sendiri. Menurut saya, Aris tampil lebih baik justru ketika menulis hal-hal yang dimensi personalnya lebih kuat, misalnya dalam Robohnya Warung Kami dan Demi Ucok, timbang hal-hal besar yang ia tulis dengan kerangka wacana arus besar pula, seperti dalam The Act of Killing: The Act of Questioning.

Bisa jadi ini hanya selera saya terhadap isu-isu minor. Tetapi di situ ia nampak lebih lepas ketimbang saat mengulas topik-topik bernas dengan kerangka wacana arus utama, yang justru membuatnya terbebani oleh (bakal) persepsi orang atas tulisannya. Karena itu pula, Aris sebetulnya sudah bisa menjawab catatan Erie Setyawan yang dalam pengantarnya mengatakan bahwa ia tak menemukan benang merah yang menghubungkan pengalaman empirisnya dengan peristiwa yang disampaikan Aris. Justru Pias, bagaimanapun, adalah bukti pengalaman empiris Aris sebagai orang yang memberi perhatian pada soalan seni budaya.

Judul : PIAS: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya
Penulis : Aris Setyawan
Penerbit : Warning! Books & Tan Kinira Books
Halaman : xvii+323
Tahun terbit : 2017 (cetakan pertama)

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)