Deugalih Merilis Video Klip Tanahku Tidak Dijual

Setelah sebelumnya merilis video klip untuk single pertama “Di Kampungku”, Deugalih kembali dengan video klip kedua dari album solonya yang berjudul sama, Tanahku Tidak Dijual

Tidak butuh waktu lama untuk Deugalih menemukan arsirannya dengan Wanggi Hoed yang selama ini konsisten menyuarakan isu kemanusiaan, salah satunya adalah permasalahan tanah. Video klip berdurasi 3 menit 35 detik ini direkam di areal Pasir Tambang Transmigrasi di daerah Tangkiling, Kalimantan Tengah, dan ditujukan untuk menjadi potongan kolase di dalam album yang merupakan durasi panjang ironi kemanusiaan sejak zaman kolonial hingga milenial.

Pertemuan karya Deugalih dan Wanggi Hoed dalam video ini bukan hanya tentang semangat keduanya dalam menyuarakan kegelisahan tentang tanah. Namun, pertemuan keganjilan-keganjilan yang melekat di dalam kedua seniman. “Wanggi adalah seniman pantomim yang menari, bisa dibilang Wanggi itu anomali, itu yang bikin gua tertarik,” tutur Deugalih. Sementara itu, Deugalih dalam lagu ini memasukkan unsur yang tidak biasa, keluar dari pakem Deugalih. Selama ini ia bermusik sejak tahun 2002 dan sering diidentikkan dengan aliran musik grunge dan folk rock.

Gua pengen bisa bikin dokumentasi orang-orang yang melakukan hal yang sama hampir setiap hari lewat lagu gua. Itu cara gua menghargai konsistensi mereka. Gua harap apa yang mereka lakukan bisa jadi contoh buat yang lain,” jelas Deugalih.

Video klip “Di Kampungku” dan “Tanahku Tidak Dijual” datang dari keseharian yang berbeda, karena Deugalih bukan sedang membuat cerita bersambung. Deugalih sedang menceritakan kembali hal-hal yang terjadi dan belum selesai.

Redaksi Serunai

Redaksi Serunai

Serunai adalah media yang menyajikan dan membahas berbagai aktivitas seni dan budaya sebagai bagian dari cara hidup manusia. Serunai menyajikan seni yang tidak terbatas pada produk seni di ruang pameran maupun panggung pertunjukan. Lebih dari itu, Serunai ingin menggali, menjadi saksi sekaligus mendokumentasikan peristiwa seni dan budaya yang merupakan wujud dari cara manusia berhubungan dengan sesamanya, dengan alam lingkungannya, maupun dengan spiritualitasnya.
Redaksi Serunai