Meneroka Festival

Sithik-sithik kok festival”. Kira-kira seperti itulah gerundelan waton yang muncul dari kawan saya. Ungkapan itu mencuat beberapa waktu lalu ketika kami ngobrol ngalor-ngidul dan sedikit menyinggung tentang geliat seni dan budaya di Yogyakarta.

Ia, meski harus diakui terkesan agak nyinyir, menyampaikan kejengahannya tentang penggunaan kata festival di berbagai helatan. Menurut hematnya, saking sering sebuah terminologi digunakan, maka tidak jarang pula semakin jauh maknanya dari terma tersebut. Sebagai awam, ia menilai terminologi festival hari ini bak api jauh dari panggang.

Sepanjang pengamatan saya, semoga diamini pula oleh Anda, bahwa terminologi festival cukup sering digunakan sebagai tajuk sebuah helatan seni pertunjukkan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, event organizer hingga institusi tertentu berlomba-lomba menggunakan rumus “nama yang catchy + fest”, seakan-akan untuk menahbiskan dan menguatkan kesan uforia helatan tersebut.

Mari kita bersama-sama tengok salah satu fakta bahwasannya festival ternyata merupakan salah satu produk peradaban yang sudah cukup tua. Eksistensinya sama tua dengan kesadaran manusia terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya (transenden) dan kesadaran untuk berelasi dengan kekuatan itu sendiri. Feria, yang dalam bahasa latin mengacu pada upacara penghormatan kepada dewa, merupakan akar etimologis dari kata festival itu sendiri.

Salah satu bentuk festival dalam arti feria yang hingga kini masih menjadi perayaan bersama masyarakat internasional adalah gelaran akbar olimpiade. Helatan tersebut merupakan warisan masyarakat Yunani kuno. Olimpiade merupakan ekspresi penghormatan kepada Zeus sebagai dewa tertinggi dalam mitologi mereka. Bentuknya perayaan itu masih sama: penyelenggaraan kompetisi berbagai rupa olahraga dalam kurun beberapa hari. Bedanya, kini perayaan itu bukan lagi menjadi milik kebudayaan Yunani kuno yang diselenggarakan di sepanjang bukit Olympus saja. Hari ini perayaan itu kita kenal sebagai pesta olahraga internasional yang diadakan empat tahun sekali.

Kalau Yunani terlalu jauh, kita bisa mengacu pada tradisi sekaten. Perayaan yang hari ini lebih dikenal karena bazar pakaian awul-awul-nya ketimbang esensi perayaannya ini adalah bentuk festival dalam arti feria dengan unsur muatan lokal masyarakat Jawa. Perayaan ini merupakan peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Di Yogyakarta, sekaten mewujud dalam bentuk berbagai upacara penghormatan. Penanda sekaten resmi dibuka saat para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan satu set gamelan Kyai Sekati pada tanggal 5 Maulud. Gamelan itu sendiri dipercaya sebagai gamelan yang digunakan oleh Sunan Bonang ketika turut menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Pada perayaan sekaten, gamelan tersebut diletakkan di kompleks Masjid Besar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan mulai dimainkan setelah shalat isya oleh para abdi dalem. Malam terakhir, kala gamelan diletakkan kembali di kompleks Masjid Agung, disebut “Malam Garebeg.” Saat itulah sebagian besar masyarakat berduyun-duyun ke Alun-Alun Utara. Kerap kali, upacara dibarengi dengan diselenggarakannya pasar malam.

Olimpiade masyarakat Yunani kuno dan sekaten milik masyarakat Jawa sama-sama merupakan ekspresi spiritualitas yang diwujudkan dalam bentuk perayaan serta diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu. Wujud perayaannya bisa bermacam-macam. Namun bila kita menggunakan rujukan festival-feria untuk melihat contoh lain yang serupa di Nusantara, maka hampir dapat dipastikan bahwa perayaan dan upacara tersebut menggunakan kesenian sebagai salah satu pendekatan sekaligus perwujudan ekspresi.

Festival lantas semakin identik dengan kesenian dan masyarakat. Makna yang melekat secara umum tentang festival ialah bahwa tidak ada festival yang tidak seni–baik seni musik, tari, sekalipun sastra seperti Asian Literacy Festival atau Ubud Writers Festival. Hal ini berkebalikan dengan kondisi sebelumya yang mana “tiada festival yang tidak spiritual”. Festival lantas tidak lagi melayani kebutuhan suatu kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kesamaan dalam satu pemenuhan kebutuhan saja, dalam hal ini kebutuhan spiritual. Dan memang sejatinya watak dari sebuah produk budaya senantiasa multidimensional.

Ketika hari-hari ini festival tidak sekedar untuk urusan-urusan sakral dan spiritual, maka sejatinya ada sesuatu yang bisa kita titeni (perhatikan). Bisa jadi, hal itu memang perkara pemakaian bahasa saja. Tapi tunggu dulu. Pun bila kita tempatkan bahasa sebagai sebuah sistem tanda, maka ada sesuatu yang ditandai dari pemakaian bahasa tersebut. Hari ini, sebuah penyelenggaraan festival merambah pula pada pertimbangan dimensi-dimensi lainnya seperti sosial, ekonomi, kultural hingga yang termutakhir, turisme. Upacara serta berbagai perayaan dengan predikat festival tidak lagi sekedar menjadi agenda suatu kelompok kecil masyarakat. Ia menjadi agenda bersama dan menjadi milik masyarakat secara luas. Artinya festival tidak dapat dipisahkan pula dari konteks dan dinamika perkembangan masyarakat. Ketika segala hal hari ini harus nampak berkemajuan dan serba modern, sementara di sisi lain festival yang pada masyarakat tradisional bersifat spiritual, tak heran terjadi tranformasi pemaknaan festival pada konteks masyarakat kontemporer[1].

Relasi antarmasyarakat yang lebih bercorak gesellschaft serta kesadaran-kesadaran yang bersifat sekuler membuat ekspresi spiritual tidak lagi harus dirayakan. Walaupun di Indonesia hal-hal tersebut masih dapat ditemukan keberlangsungannya, seperti contoh-contoh yang sudah dipaparkan. Lebih lanjut, bisa kita pertanyakan akan sampai kapan hal tersebut bertahan. Pun begitu dengan bentuknya. Dalam tataran ini, festival tidak lagi sekedar berusaha memenuhi prasyarat ritual-ritual saja, namun juga perayaan yang berorientasi sebagai hiburan (leisure) bagi khalayak.

Maka tak jarang kritik dilontarkan bahwa festival kontemporer hari ini seakan-akan sangat berorientasi pada hura-hura semata, profit dan miskin makna. Secara etimologis, festival semakin dikenali sebagai perayaan yang menekankan uforianya (festrum) ketimbang ekspresi spiritual (feria). Menurut saya, hal tersebut tidak dapat ditarik-ulur pada pembahasan benar atau salah sebagaimana orang tua menilai perbuatan gelagat anak millenial. Namun begitulah semangat zaman yang sedang dihidupi oleh masyarakat modern, terutama yang hidup di wilayah perkotaan. Festival lantas menemukan fungsinya dalam kerangka yang paling profan: sebagai salah satu bentuk pengalihan rutinitas sehari-hari yang serba didera waktu, kaku dan tak jarang beku, khas masyarakat metropolitan. Festival menjadi salah satu bentuk eskapisme. Meski begitu perlu diberikan catatan bahwa pemaparan tersebut tentu juga bukan pemaparan yang saklek.

Melampaui Perayaan dan Keriaan
Festival seharusnya dikaji dan ditelisik lebih dalam lagi terlebih ketika kita memposisikannya sebagai salah satu produk budaya yang berada di tengah masyarakat dan tidak abstain dengan dinamika yang terjadi. Sejatinya produk budaya tidak pernah apolitis. Suatu festival dapat dilihat sebagai arena kontestasi wacana. Selalu ada nilai, standar, identitas, resistensi yang ditawarkan terhadap “standar budaya” yang mapan dan elit[2]. Begitu juga festival sebagai salah satu produk budaya popular, sejatinya dapat menjadi sebuah identitas dari suatu tempat atau suatu masyarakat serta mencoba untuk menentukan standarnya yang khas dan coraknya tidak kita temukan dalam bentuk kebudayaan lain, terutama budaya tinggi (elit). Maka dari konstruksi identitas tersebut, ada suatu pembeda dan cara pandang tertentu yang coba ditawarkan kepada masyarakat secara luas melalui helatan festival.

Festival sebagai identitas juga bukan hanya tentang bagaimana festival tersebut mengartikulasikan karakter dengan bentuk-bentuk ekspresi budaya yang ada di tempat tersebut. Festival dapat pula berfungsi sebagai pengingat dan penegasan kembali tradisi-tradisi suatu masyarakat yang sudah ataupun berangsur ditinggalkan. Seperti misalnya Festival Memedi Sawah di Klaten yang digagas komunitas petani lokal bersama kolektif seni Taring Padi. Melalui festival tersebut, penggunaan memedi atawa orang-orangan sawah untuk mengusir hama burung emprit, coba untuk diingatkan kembali kepada para petani yang mulai meninggalkan kebiasaan itu dan beralih menggunakan berbagai bahan kimia pengusir hama. Hal yang ingin saya sampaikan ialah bahwasannya suatu penyelenggaraan festival ternyata dapat direka sedemikian rupa agar fungsinya tidak lagi sebagai ajang hura-hura semata. Ia bisa menjadi perekat dan menjelma sebagai identitas suatu kota, suatu kelompok masyarakat. Lebih lanjut, festival bahkan bisa kita reka sebagai salah satu bentuk public-sphere yang termutakhir dan bukan public-sphere pada kerangka konvensional.

Ketika pemahaman public-sphere konvensional ala Jurgen Habermas adalah yang berorientasi pada apa yang disebut sebagai cognitive-communication, Jim McGuigan mencoba untuk membangun dan mengembangkan kesadaran Habermas terhadap public-sphere dan budaya popular dengan merumuskan cultural public-sphere. Cultural public-sphere adalah situasi dan momen dimana dinamika yang terjadi antara publik yang saling bersinggungan didasari oleh pola interaksi serta komunikasi yang bercorak affective-communication. Secara harafiah affective-communication berarti bagaimana pesan-pesan yang terkait dengan isu publik bahkan personal sekalipun diartikulasikan dengan pendekatan olah rasa serta pendekatan estetik yang mengutamakan perwujudan-perwujudan ekspresi kolektif. Dalam hal ini seni menjadi medium untuk menunjukkan perwujudan-perwujudan tersebut.

Cultural public-sphere tidak lagi berada pada tataran politis. Keberadaannya di tengah publik justru hadir atas ketidakberdayaan publik untuk turut berpartisipasi secara bebas dalam arena political public-sphere. Yakni ketika arena tersebut justru diokupasi oleh politisi-politisi dan kalangan elit sahaja. Belum lagi ketika media massa pun tumpul untuk mengakomodasi suara publik dalam political public-sphere terrain. Konsepsi tersebut mengingatkan saya pada salah satu karya gerakan anak muda berbasis seni, ketjilbergerak, yang mengkritik isu pembangunan Kota Yogyakarta dan minimnya ruang publik bagi anak muda dengan karya seni yang multidimensional lagi partisipatoris bertajuk Taman Tiban dalam gelaran Biennale Jogja XIII, 2015 silam. Ketjilbergerak berkolaborasi dengan jaringan pemuda dari berbagai kalangan merumuskan sebuah proposal sekaligus mewujudkan semacam prototype tentang ruang publik yang diidam-idamkan oleh anak muda. Karya itu sendiri bukan merupakan karya artefak namun kalau boleh saya sebut justru ia menjelma sebagai sebuah semi-festival yang dibangun dengan berbagai macam kegiatan dan mata acara. Dinamika serta partisipasi publik yang hadir menjadi nyawa di dalam ruang itu sendiri. Taman Tiban setidaknya mendekati apa yang McGuigan konsepsikan tentang cultural public-sphere.

Pertanyaannya lantas adalah bagaimana dengan Yogyakarta beserta sederet festival-festival lain yang hampir setiap tahun rutin diselenggarakan? Adakah fungsinya sudah lebih dari sekedar festival-festrum? Pertanyaan ini tentu terlalu mentah bila dijawab tanpa ada penelisikan yang lebih dalam serta luas. Selain itu para pegiat-pegiat kesenian serta kebudayaan di Yogyakarta tentu mendapatkan tantangan untuk merumuskan perayaan yang memang menjadi nyawa, identitas, dan mengartikulasikan spirit masyarakat Yogyakarta itu sendiri.

Catatan akhir

[1] Liana Giorgi dkk (Ed.), Festivals and Cultural Public Sphere, (New York: Routledge, 2011), hlm.12.
[2] Storey, J, Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction, (Inggris : Pearson Education), hlm. 9.

 

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)