Menghapus Intoleransi melalui Seni Rupa

Universitas Gadjah Mada (UGM) selama ini dikenal sebagai institusi pencetak akademisi sehingga kontribusinya terhadap publik lebih dikenal pada ruang-ruang akademis. Padahal UGM juga melahirkan para seniman dan pekerja kreatif di ranah seni kebudayaan.

Pada 11 Desember lalu, Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM menggelar malam pembukaan pameran seni bertajuk “Membongkar Bingkai, Membuka Sekat” di selasar ruang pameran PKKH UGM.

“Tema ini juga dipilih sebagai cerminan kondisi Indonesia saat ini yang terfragmentasi dalam kelompok kepentingan,” kata Hamada Adzani, Manajer PKKH.

Ini merupakan pameran seni pertama yang melibatkan sivitas UGM. Dengan medium seni PKKH hendak mengajak publik untuk keluar dari pandangan umum bahwa UGM hanya mencetak intelektual kampus. Proyek seni ini diawali dengan open call karya kepada para alumni, dosen dan karyawan UGM.

“Melalui proses open call karya, banyak yang memberikan tanggapan positif, mengingat yang menyelenggarakan acara adalah UGM,” ujar Hamada.

Karya-karya yang masuk kemudian diseleksi oleh Tim PKKH UGM dengan mengacu pada catatan kuratorial dan tema yang telah ditentukan. Kemudian terpilihlah 70 karya dari 23 seniman yang terdiri dari berbagai bentuk seni rupa, mulai dari lukisan, sketsa, fotografi, video audio visual, dan karya instalasi.

Melalui pameran ini sebetulnya PKKH berupaya untuk mencari para agen yang tengah mencairkan sekat intoleransi melalui kerja kesusastraan, kesenian dan kebudayaan, sehingga memungkinkan terjadinya dialog antardisiplin secara egaliter.

Budi N.D Dharmawan, salah satu kontributor yang juga alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi UGM mengatakan bahwa pameran ini menarik karena merupakan pameran orang-orang UGM.

“Sudah cukup banyak orang UGM yang menjadi seniman dan nggak banyak orang tahu. Pameran ini mampu mengumpulkan para seniman UGM dan diselenggarakan di lingkungan UGM pula, sehingga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa orang UGM juga aktif dalam kegiatan kebudayaan dan kesenian,” ujarnya.

Hal senada juga dinyatakan oleh Kris Budiman, salah satu kontributor yang merupakan Dosen Kajian Budaya dan Media UGM. Ia mengaku senang diajak untuk ikut berpameran.

“Baru pertama kali ada pameran seperti ini di UGM. Dosennya, alumninya, dan stafnya diajak pameran. Padahal seniman yang dilahirkan UGM banyak banget, ratusan (jumlahnya). Saya bisa mengumpulkan nama-nama mereka,” terang Kris.

Hamada selaku penyelenggara mengamini hal tersebut. Pameran ini merupakan pameran pertama yang memberikan ruang bagi alumni, dosen, maupun staf UGM untuk memamerkan karyanya. Padahal PKKH sendiri sudah kerap menjadi tempat untuk menyelenggarakan pameran seni dari pihak luar. Pemeran ini menjadi bukti bahwa sebenarnya tidak sedikit sivitas UGM yang juga seniman.

“Harapannya banyak mahasiswa UGM yang datang ke pameran ini, sehingga mereka mendapatkan perspektif baru bahwa ada alternatif lain untuk berekspresi selain menggunakan frame yang sudah diarahkan oleh jurusan, yakni berkesenian,” tukas Mada.

Pameran seni rupa ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis UGM yang ke-68, sekaligus sebagai penghormatan kepada Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri sebagai salah satu inisiator pendiri Pusat Kebudayaan UGM.

Pada malam pembukaan pameran, seniman Landung Simatupang membuka acara dengan dramatic reading puisi-puisi Soebagyo Sastrowardoyo. Dilanjut dengan sambutan oleh Direktur PKKH, Faruk Tripoli. Pameran ini masih akan berlangsung hingga 16 Desember 2017, dimulai dari pukul 10.00 hingga pukul 22.00 WIB.

Siti Fata

Siti Fata

Beberapa kali bergiat di kegiatan kerelawanan. Sedang mencoba keluar dari Antropologi Budaya UGM. Bisa dihubungi di fata.hanifa@gmail.com atau @fatanurhaliza.
Siti Fata

Latest posts by Siti Fata (see all)