Kepada Ide untuk Indonesia

Sebuah buku tentang seni rupa yang berupaya meyakinkan khalayak bahwa seni rupa bukan melulu perkara pameran di galeri semata.

Buku ini—tulis Muhidin M. Dahlan dalam prolognya—tidak sedang membahas pameran, melainkan latihan dasar yang barangkali sudah tak menarik lagi dalam seni ‘penulisan seni rupa’, yakni menulis resensi karya. (hal. 8).

Ada lima penulis dalam buku ini. Mereka mencoba untuk melihat, mendengar, merasa dan menjelaskan ‘lebih dekat’ tentang riwayat kedua belas perupa beserta ide yang tertuang dalam setiap karya seni rupanya. Ada penekanan khusus pada kata ‘lebih dekat’. Para penulis melibatkan seluruh fungsi indrawinya dalam upaya meresensi karya—yang pada beberapa bulan lalu sempat dipamerkan di INISeum Yogyakarta.

Secara umum buku ini memang membicarakan masalah ide. Menariknya lewat buku ID.1 ini, para penulis berhasil meyakinkan kesadaran kembali pada pembaca hari ini—baik masyarakat umum maupun masyarakat seni rupa yang seolah-olah lupa—bahwa seni rupa bukanlah melulu tentang pameran di galeri-galeri—yang kadang tak terjangkau masyarakat—dan kemudian hilang serta semakin berjarak dengan masyarakat sebab dibeli oleh kolektor dan disimpan rapi-rapi di ruang pribadi. Seni rupa adalah salah satu media paling komunikatif untuk menampung segala ide-ide seniman yang dengan keterbatasannya selalu berusaha untuk menembus batas-batas itu sendiri.

Setelah membaca buku ini, pandangan bahwa seniman tidak cukup jika hanya bertindak sebagai ‘orang aneh yang amburadul dan miring’ dalam lingkungan masyarakatnya di luar lingkup kesenian, seketika muncul. Berubah menjadi sosok yang dalam setiap penciptaan karya seni—dalam hal ini seni rupa—akan bekerja keras memeras otak, membuka kemungkinan-kemungkinan, bergulat dengan ide dan menggali sejarah yang terlanjur ditutupi atau bahkan dihilangkan oleh kekuasaan sebab kepentingan tertentu.

Sebut saja Galam Zulkifli, salah satu dari 12 seniman yang dibahas dalam buku ini, lewat karya “Seri Ilusi #3 Indonesia Idea (ID)” yang menampilkan sekitar 600-an wajah tokoh ‘penyumbang ide’ dalam bentangan kanvas yang memanjang, mencoba menampung sejarah Indonesia dengan teliti dan berdasarkan riset serius selama bertahun-tahun. Sehingga, jika kita amati secara teliti pula, bidang kanvas itu tidak sekadar memamerkan ratusan wajah tokoh penting saja, melainkan kita akan menemukan benang sejarah dari satu tokoh ke tokoh lain lengkap dengan peran sepanjang hidup si tokoh lewat berbagai simbol.

Pada satu sisi, Galam ingin menyampaikan bahwa pemaknaan dalam sejarah dapat melegitimasi seorang manusia. Hal ini digambarkan dengan jelas ketika ia melukis berbagai macam wajah tokoh dengan berbagai ukuran. Ketika dalam sejarah seorang tokoh dikecilkan perannya oleh masyarakat, Galam melukis ukuran wajah yang kecil. Ketika seorang tokoh dielu-elukan dan dianggap penting dalam hal kebaikan bangsa, gambar wajahnya dibesarkan.” (Hal. 72)

Jika Anda bertanya mengapa wajah? Misalnya, sudah dijelaskan dalam buku ini, bahwa bagi Galam, wajah sama halnya sidik jari, setiap wajah yang lahir akan berbeda, sekalipun bagi yang kembar, dan sebagainya.

Selain mengenai ide setiap karya, buku ini juga menguak proses kreatif keduabelas seniman dengan singkat, padat dan penting. Mulai dari kehidupan masa kecil sebelum mengenal seni rupa hingga hal-hal yang membentuk ideologi setiap seniman dalam penciptaan karyanya.

Setidaknya penyusunan esai seni rupa dalam buku ini, mengandung tiga bab penting; gambaran detail karya-karya yang dibahas, penjelasan profil seniman secara mendalam dan ide penting yang ditawarkan setiap seniman lengkap dengan hal-hal yang melatarbelakangi.

Kita menjadi tahu, bahwa selalu ada alasan di balik penciptaan karya dari seniman. Buku ini juga ditampilkan dengan gaya yang ramah, informatif, komunikatif—terutama bagian karya dan foto profil seniman—sehingga pembaca dari lini mana pun tetap akan melahap habis buku bacaan ini. Sepertinya buku ini meskipun mengulas seni rupa, memang dibuat bukan hanya untuk kalangan seni rupa saja. Dan, memang inilah secara tersirat maupun tersurat cita-cita penghormatan pada keragaman tercipta.

Dalam epilog panjang di buku ini, Taufik Rahzen juga mengulas habis tentang keragaman yang berangkat dari ide dan sejarah panjang Indonesia. Ia mengutip ungkapan Soekarno dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Aku membentuk masyarakatku sendiri dengan pemetik kelapa, supir, bujang tak bekerja—inilah kawan-kawanku. Pertama aku berkenalan dengan saudara Kota, seorang nelayan. Dia membawa temannya. Begitulah mulanya. Aku mendekat kepada rakyat jelata karena aku melihat diriku sendiri di dalam orang-orang yang melarat ini.” (hal. 158)

Jika merujuk pada sub-judul buku ini, “Perayaan Ide, Penghormatan pada Keragaman”, benang merah dari sekumpulan resensi karya seni rupa—meminjam istilah Muhidin M Dahlan—adalah upaya kita sebagai generasi yang hidup pada zaman sekarang untuk tetap optimistis di tengah pertarungan kepentingan yang saleh dan salah.

Keduabelas seniman ini tentunya juga ingin mengabarkan kepada kita bahwa ide, perjuangan harus kembali dibenahi demi cita-cita Indonesia yang ideal—jika terlalu klise dicita-citakan makmur. Nanang Garuda menyatakan dalam buku ini bahwa, sumber perpecahan Indonesia bukan hanya SARA lagi, tapi SARAP, yaitu suku, agama, ras, antargolongan, dan partai politik.

Pada akhirnya, kita akan bertanya tentang apa yang sudah kita lakukan? Selamat membaca dan semoga menemukan apa yang mesti kita lakukan, setidaknya untuk diri kita sendiri, nanti meluber untuk Indonesia.

Judul : ID.1-Perayaan Ide, Penghormatan pada Keragaman

Penulis : Ageng Indra, Fitriana Hadi, Nisa Ramadani, R. Nurul Fitriana Putri, Suhairi Ahmad

Prolog : Muhidin M. Dahlan

Epilog : Taufik Rahzen

Cetakan : Pertama, November 2017

Penerbit : Radio Buku

Tebal : 165 hlmn: 13×19 cm

ISBN : 978-979-1436-46-5

Alfin Rizal

Alfin Rizal

Lahir di Magelang, 5 November 1993. Menulis puisi, cerpen dan esai. Bergiat di Komunitas Radiobuku. Dan, sudah menerbitkan beberapa buku: Antologi Puisi ; Lisan Tulisan (RAR, 2016), Kumpulan cerpen: LELAKU (SAE, 2016), dan Sehimpun Puisi; KESENGSEM (Nyala, 2017).
Alfin Rizal

Latest posts by Alfin Rizal (see all)

  • Celanadallam

    Kurang tajam! Mas, saya tidak mau baca buku ini, karena hanya kitab suci yang tidak punya kekurangan.

    • Edwin Prasetyo

      Gitu juga boleh mas, jadi nanti penilaiannya bisa separo-separo 😉 nb: kitab suci memang tidak punya kekurangan, kita yg punya.