Author Archives : Ferdhi Putra

dok.Tan Kinira

Kegelisahan dalam Pias


Setiap orang punya kegelisahan, tapi tidak semua orang menuliskan kegelisahannya. Pias adalah sebuah manifestasi kegelisahan. Tepatnya, kegelisahan Aris Setyawan. Meski tajuk buku ini sesederhana Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya, saya mendapati bahwa seluruh tulisan di dalamnya tak lepas dari kerangka kritik. Maka boleh saya bilang, Pias adalah buku kritik seni dan budaya—dalam pengertian yang luas. Selama ini, sependek yang saya…

Selengkapnya »
Diskusi "Dongeng Arus Pinggir" dihelat di Mondo by The Rooftop, Jakarta Selatan (14/4). (Ferdhi/Serunai)

Mengetengahkan Kisah Arus Pinggir


Dangdut dan black metal boleh jadi berbeda dalam banyak hal; musikal, historis, dinamika. Namun, ada kesamaan antara keduanya, yakni berada di arus pinggir belantika musik Indonesia. Akhir pekan memang lebih lazim dimanfaatkan untuk bersantai. Jalan-jalan ke tempat sejuk nan indah atau menghabiskan waktu menonton film terkini di bioskop terbaik, menjadi sedikit dari banyak pilihan. Terlebih jika akhir pekan panjang. Enggan…

Selengkapnya »
Dok. Grimloc Records

Homicide Belum Selesai


Tepat pada 28 Februari 2017, kumpulan karya lengkap unit hiphop asal Bandung, Homicide, dirilis. Diskografi yang memuat tiga album studio, satu split serta sejumlah single dan remix yang dirilis lewat kompilasi, maupun unreleased, dipepatkan dalam dua keping cakram padat. Homicide: Complete Discography mungkin menjadi salah satu rilisan yang paling ditunggu tahun ini. Meski telah membubarkan diri sejak satu dekade lalu,…

Selengkapnya »
Diskusi buku Not Your World Music, Noise In South East Asia: Art, Politics, Identity, Gender, and Global Capitalism di rumah Laras (7/12). (Foto: Serunai/Ferdhi Putra)

Musik Bising dalam Kajian


Not Your World Music. Mungkin sebagian besar dari kita masih cukup asing dengan musik noise. Jika Anda tidak terbiasa dengan bebunyian yang tak lazim, mungkin seketika Anda akan berceletuk, “musik apaan sih nih?” Begitu kira-kira stigma khalayak terhadap genre ini. Kalimat pembuka di depan adalah judul buku yang mengulas tentang keberadaan skena musik noise di Asia Tenggara. Adalah Cedrik Fermont…

Selengkapnya »
Reproduksi oleh Adji Satria (diolah dari sampul EP Jalan Pulang)

Variasi Pada Jalan Pulang


Grup musik pop-balada Yogyakarta, Jalan Pulang, merilis mini album (EP) terbaru pada 6 Agustus lalu. Ini adalah rilisan kedua mereka setelah album panjang pertama bertajuk Jalan Pulang diluncurkan pada 2012 silam. Secara konsep, album yang diberi judul Variasi Pada Tema Pulang ini berbeda dengan yang sebelumnya. Irfan Rizky Darajat, penulis lagu dan vokalis Jalan Pulang, kali ini bermain solo tanpa…

Selengkapnya »
Keramaian Cassette Store Day Yogyakarta 2016. (Foto: Ferdhi Putra/Serunai)

Merayakan Kebangkitan Rilisan Fisik


Cassette Store Day 2016 dirayakan serentak di berbagai penjuru dunia pada Sabtu (8/10). Para pelaku dunia musik di Indonesia, khususnya kalangan independen, tak mau ketinggalan merayakannya. Penyelenggaraan cassette store day (CSD) di Indonesia tahun ini tersebar di berbagai kota antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Yogyakarta, Malang, Solo, Bekasi, Bogor, Tebing Tinggi, Cirebon dan Surabaya. Jumlahnya lebih banyak ketimbang tahun…

Selengkapnya »
Buku "Setelah Boombox Usai Menyalak" (Sumber : Youtube)

Membaca Setelah Boombox Usai Menyalak


Bagaimana jadinya jika seorang rapper paling disegani di kancah musik nusantara menerbitkan sebuah buku? Tentu buku tersebut akan berisi pelbagai gagasan yang bernas dan lugas, menyalak galak. Buktinya adalah bunga rampai bertajuk Setelah Boombox Usai Menyalak karya Herry Sutresna alias Morgue Vanguard alias Ucok, dedengkot kolektif rap asal Bandung Homicide. Berikut ulasannya oleh Ferdhi Putra. Saya adalah salah satu dari…

Selengkapnya »
Cover buku Melawan Arus

Melawan Arus Para Pelawan Arus


    Punk Muslim. Punk Islam. Mungkin kedua istilah itu sudah tidak terlalu asing lagi hari ini. Sejak beberapa tahun lalu, kemunculan kelompok agama dalam skena underground menjadi pembahasan yang menarik di banyak komunitas. Muncul berbagai respons atas kehadiran kelompok ini, dan respons negatif tentu saja mendominasi. Pasalnya, skena underground kadung ‘mapan’ dengan tata nilainya sendiri, sehingga seolah tidak ada…

Selengkapnya »
Suasana diskusi Preleminary Notes bertajuk "Korelasi Musik dan Agama", 8 Juli 2015 (Foto dokumentasi Laras)

Membumikan Kajian Musik


Musik sebagai ilmu pengetahuan masih cenderung terbatas pada ruang-ruang sekolah. Padahal, musik sebagai ilmu selayaknya tak berjarak dengan masyarakat. Untuk itulah Laras lahir: mengisi ruang kosong antara musik dan fenomena sosial. April 2014 menjadi puncak kegelisahan Rizky Sasono ihwal wacana musik di Indonesia yang menurutnya cenderung tekstual. Musik diciptakan hanya untuk melayani kepentingan musik. Music for music’s sake. Rekan sejawatnya,…

Selengkapnya »
Salah seorang partisipan aksi damai "ISI Tolak HTI" berorasi, Jumat (17/6). (Foto: Adji Satria)

Ketika Kampus Seni Menolak Tafsir Seni HTI


Institut Seni Indonesia Yogyakarta menolak keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia di lingkungan kampus karena dianggap mengancam keberagaman dalam berkesenian. HTI mengaku tak hendak melarang kesenian, namun kesenian mesti dikoridori oleh nilai-nilai agama. Jumat, 17 Juni 2016, usai waktu shalat Jumat, di depan panggung berukuran 2 x 5 meter di depan Gedung Rektorat ISI Yogyakarta, sejumlah mahasiswa tampak sibuk membagikan poster kepada…

Selengkapnya »