Tambang Panas di Pasar Seni

Oleh : Aris Setyawan dan Idha Saraswati

Loket penjual tiket masuk pasar seni Art Jog 2016 sudah tutup. Kompleks Jogja National Museum di bilangan Gampingan Kota Yogyakarta sudah mulai lengang. Namun, perupa Titarubi tetap melangkahkan kakinya memasuki area pameran.

Ia langsung menuju ke Balai Ajiyasa yang berada di tengah kompleks Jogja National Museum (JNM). Di dalam bangunan bergaya joglo itu, pada salah satu bagian dindingnya, panitia menempel berbagai logo sponsor pendukung Art Jog. Dinding itulah tujuan Titarubi.

Jumat (10/6) malam itu, ditemani kurator Art Jog 2016 Bambang Toko Witjaksono, Titarubi melakukan aksinya. Dengan bantuan tangga, ia menggapai sebuah logo untuk kemudian menutupinya dengan selotip kertas. Lalu menggunakan spidol, ia mencoret-coret selotip kertas yang telah menutup logo PT Freeport Indonesia itu. Foto aksi itu segera menyebar di media sosial.

Akan tetapi, selotip kertas dengan coretan spidol di atas logo Freeport itu ternyata tak berumur panjang. Malam itu juga, foto Heri Pemad, Direktur Art Jog 2016, yang tengah membuka selotip penutup logo Freeport juga menyusul beredar di media sosial.

Buntut dari aksi menutup logo itu, Titarubi mendapat teguran dari panitia dan sejumlah kolega senimannya. “Aku mengakui kemarin salah banget, bodoh banget, aku juga dimarahi banyak orang,” tutur Titarubi terkait aksinya itu, saat ditemui di kantor Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), Jumat (20/6) siang.

Siang itu Titarubi datang terlambat dari jadwal wawancara yang disepakati. Begitu turun dari sepeda motor, tergopoh-gopoh ia meminta maaf atas keterlambatannya. Ia mengaku kurang enak badan karena sedang banyak pikiran.

Titarubi (Foto : Serunai/Adji Satria)

Titarubi (Foto : Serunai/Adji Satria)

Aksi menutup logo itu merupakan reaksi Titarubi terhadap polemik terkait keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor Art Jog 2016. Sebagai salah satu perupa yang berpartisipasi, Titarubi tak pelak turut terseret arus perdebatan. Sejumlah pihak yang tidak setuju sponsor dari Freeport mempertanyakan keterlibatan seniman dalam perhelatan itu. Sebagian pihak bahkan menuding seniman-seniman yang terlibat di dalamnya sebagai antek Freeport.

Dengan menutup logo, Titarubi mau menunjukkan dirinya bukan antek Freeport. Ia mengutuk keras Freeport dan berbagai kesewenangan yang dilakukannya pada rakyat dan alam Papua. Ia menilai Art Jog melakukan kesalahan fatal karena melibatkan Freeport sebagai penyokong dana.

“Dia (Art Jog. Red) mengambil suatu keputusan yang riskan, gegabah gitu, tidak berpikir terlalu panjang. Walaupun beberapa orang mengatakan dia sudah berkonsultasi dan seterusnya. Secara bisnis, ya, ini benar. Mereka melakukannya dengan profesional. Tapi persoalannya yang mereka jual adalah barang-barang yang memperjuangkan HAM. Kan, ini kan jadi bertentangan dengan apa yang dijual,” tuturnya.

*

Kritik terhadap keberadaaan Freeport sebagai sponsor Art Jog 2016 datang dari berbagai kalangan. Dari seni rupa, seniman street art Andrew Lumban Gaol adalah salah satu yang lantang mengajukan kritik. Mengunggah foto deretan logo pendukung Art Jog termasuk logo Freeport di dalamnya, di akun instagram Antitankproject, Andrew mempertanyakan sikap seniman yang memamerkan karyanya di Art Jog, terutama mereka yang selama ini kerap memamerkan karya bertema kemanusiaan, budaya, sosial dan politik. Foto itu mendapat lebih dari 1.300 tanda cinta dan 250 komentar.

Forum Solidaritas Yogyakarta Damai atau FSYD juga menyatakan kekecewaannya. Dalam pernyataan tertulisnya, FSYD mendesak panitia Art Jog meminta maaf khususnya kepada rakyat Papua karena berafiliasi pada Freeport. FSYD juga menekankan perlunya kode etik dalam dunia seni.

Lesbumi Yogyakarta dan Forum Nahdliyin untuk Konflik Sumber Daya Alam (FNKSDA) turut mengeluarkan pernyataan mengecam panitia Art Jog yang dinilai tidak sensitif terhadap penderitaan warga Papua. Dua lembaga itu bahkan mengeluarkan ajakan memboikot Art Jog.

Menanggapi perdebatan seputar sponsor, panitia Art Jog akhirnya bereaksi. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 13 Juni, panitia Art Jog antara lain menjelaskan bahwa alasan keputusan meminta dukungan dari PT Freeport adalah kebutuhan pendanaan yang mendesak. Selain itu, panitia meminta maaf kepada berbagai pihak yang tersakiti.

Namun, pernyataan panitia itu tak meredam kritik. Tak hanya menyoal keterlibatan Freeport, belakangan FNKSDA juga mempertanyakan keberadaan Bank Mandiri dalam daftar sponsor. Tahun ini, bank pelat merah itu menjadi sponsor utama sehingga nama resmi Art Jog pun berubah menjadi “Mandiri Art Jog 9”.

Kecaman FNKSDA muncul karena Bank Mandiri baru saja menyetujui kucuran dana sebesar Rp 3,9 triliun pada PT Semen Indonesia guna membangun pabrik semen di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Padahal warga di sekitar Pegunungan Kendeng, khususnya ibu-ibu, selama dua tahun terakhir tengah berjuang untuk menggagalkan rencana pendirian pabrik semen yang dikhawatirkan merusak lingkungan itu. Polemik soal sponsor Art Jog pun kian ramai ketika perwakilan ibu-ibu Rembang yang selama lebih dari dua tahun tidur di tenda perjuangan mengirim surat terbuka yang ditujukan kepada para peserta maupun pendukung Art Jog 2016.

Lebih jauh, sejumlah organisasi bahkan membentuk Aliansi Boikot Art Jog 2016. Seruan boikot diwujudkan dalam bentuk pernyataan dan aksi damai pada Kamis (16/6). Aksi di depan gerbang JNM itu juga diikuti oleh sejumah mahasiswa Papua yang tinggal di Yogyakarta.

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Boikot Art Jog menolak seni yang tidak berperikemanusiaan. Mereka mendesak penyelenggara Art Jog mengembalikan uang dari Freeport. Selain itu, mereka menghimbau seniman dan para penyelenggara kegiatan seni untuk tidak bekerjasama dengan Freeport maupun perusahaan hitam lainnya.

Para seniman peserta Art Jog bergeming menanggapi ajakan boikot itu. Titarubi, misalnya. Meski tak menyetujui keberadaan Freeport sebagai sponsor, ia menolak boikot. Oleh karena itu, ia tak berniat memindahkan karyanya berupa sebuah kapal berjudul “Abyss of History” dari Art Jog.

“Jangan rusak Art Jog, kalau aku memboikot, misalnya aku menarik karyaku, aku melakukan tindakan kejam. Ngapain aku melakukan solidaritas kepada Papua dengan cara membunuh kawan sendiri. Kan sama gilanya, itu lebih buruk menurutku,” terangnya.

Titarubi mengaku lebih ingin menyelamatkan Art Jog sebagai gelaran seni rupa yang bermanfaat. Itu ia lakukan dengan mengajak para pekerja seni iuran guna mengganti dana sponsor dari Freeport yang menurut panitia nilainya sebesar Rp 100 juta.

Gayung bersambut. Ajakan saweran itu dilanjutkan perupa Agung Kurniawan yang tahun ini tidak menjadi peserta Art Jog. Dalam siaran pers yang dirilis pada 27 Juni, Kurniawan menyatakan diri mewakili sekumpulan warga yang peduli pada aktivitas warga yang sehat dan mandiri. Ia memandang tunduknya Art Jog selaku lembaga seni kepada perusahaan multinasional adalah karena minimnya dana. Kondisi tersebut juga dipicu abainya masyarakat seni maupun non-seni terhadap pembenahan serta pemberdayaan infrastruktur dan suprastruktur seni.

“Kita membiarkan panitia Art Jog bekerja sendiri, sementara kita warga seni dan non seni yang sesungguhnya juga berdaya, hanya diam sebagai penonton dan pemandu sorak,” paparnya.

Saweran dalam rangka Solidaritas Art Jog 2016 itu berhasil mengumpulkan dana Rp 16, 3 juta. Angka itu jauh di bawah total dana sponsor yang harus dikembalikan ke Freeport.

*

Art Jog 2016 dibuka pada 27 Mei – 27 Juni 2016. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta, tahun ini Art Jog bertempat di kompleks JNM.

Art Jog digelar setiap tahun, dan tahun ini adalah gelaran ke-9. Selama sembilan tahun penyelenggaraan, lebih dari seribu perupa di Indonesia terlibat. Jumlah pengunjung di setiap perhelatan mencapai hingga 100.000 orang.

Seiring waktu, panitia Art Jog banyak berbenah. Sejak 2014, khalayak yang hendak melihat karya-karya dalam gelaran Art Jog mesti membeli tiket. Tahun ini, harga tiket masuk untuk pelajar adalah Rp 25.000, sedangkan umum Rp 50.000.

Mengambil tema “Universal Influence”, sajian utama Art Jog yang kebetulan berlangsung sepanjang momen Ramadan tahun ini adalah karya dari para perupa. Selain itu, ada sejumlah kegiatan lain mulai dari pertunjukan musik, diskusi, dan sebagainya.

Di antara karya-karya itu, ada sejumlah karya dari para perupa yang selama ini dikenal kritis terhadap isu pelanggaran hak asasi manusia maupun perusakan lingkungan. Sebut saja perupa senior Djoko Pekik. Di Art Jog 2016 ini ia memajang lukisan berukuran 258 x 510 x 7 cm dengan judul “Sirkus Adu Badak”. Lukisan ini menggambarkan politik pecah belah yang dilakukan para pemodal dari luar negeri yang memonopoli perekonomian di era Orde Baru. Rakyat dibuat sibuk dengan konflik, dan akhirnya hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Pada Art Jog 2014, ia juga membuat lukisan dengan judul “Go To Hell Crocodile” yang menggambarkan penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan akibat tambang. Selain Djoko Pekik, ada juga nama-nama seperti Muhamad Yusuf, Arya Panjalu, FX Harsono, Entang Wiharso dan lain-lain yang kerap mengangkat tema lingkungan, agraria, maupun kritik terhadap pelanggaran hak asasi manusia dalam karyanya.

Kecuali Titarubi, tak satu pun perupa peserta Art Jog yang merasa perlu menunjukkan sikapnya terkait perdebatan tentang dukungan dari Freeport maupun Bank Mandiri. Hingga penutupan Art Jog, karya-karya dengan beragam tema yang mengisi ruang pamer JNM tetap terpanjang di tempatnya.

*

Heri Pemad, Direktur Heri Pemad Art Management yang menjadi penyelenggara Art Jog mengaku telah memperkirakan keputusannya akan menimbulkan polemik. Akan tetapi, ia tak menyangka bola salju polemik akan bergulir sedemikian liar.

Dijumpai di kompleks JNM, sehari setelah penutupan perhelatan Art Jog 2016, Selasa (28/06), di sela kesibukan para pekerja membongkar berbagai karya seni dan piranti pendukung lainnya, Pemad menjelaskan alasan di balik keputusan soal sponsor.

Menurut dia, keputusan itu telah dipikirkan masak-masak. Tidak mudah mendapatkan sponsor. Kerjasama dengan Freeport murni bisnis, mengingat Art Jog adalah bursa seni rupa yang dikelola oleh perseorangan atau swasta. Kerjasama hanya berlaku di level promosi dan bisnis yang tidak akan mempengaruhi konten maupun kreativitas peserta Art Jog.

“Jadi ini kan profesional, sponsor, murni, tidak ada kepentingan selain sama-sama bekerja sama di wilayah promosi, kan gitu kan,” katanya.

Pemad mengaku sedikit kecewa karena polemik ini memicu konflik antar seniman. “Yang bikin saya kecewa atau prihatin tuh ketika teman-teman sendiri menjadi saling berantem di media sosial. Tapi saya bilang apapun ini ada hikmahnya, apapun ini ada pentingnya juga, menjadi media belajar bersama,” ujar lelaki berkacamata itu.

Menanggapi gerakan saweran solidaritas Art Jog 2016 yang berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 16 juta, Pemad memberikan apresiasi. Namun, ia menegaskan Art Jog tidak memiliki kaitan dengan saweran tersebut. Oleh karena itu, ia menolak menerima uang itu.

“Itu tuh kita nggak ada urusan… Ini nggak ada sangkut-pautnya dengan saya, saya tuh sudah punya komitmen sendiri dengan Freeport. Terus mereka, lah itu dibawa kemana? Ya terserah, wong bukan urusan saya kok. Enggak bisa dong mencampuradukkan. Mau profesional atau emosional? Mau munafik atau mau konsisten? Kan gitu. Itu kan sudah pilihan, jadi kita enggak bisa main-main,” tegasnya.

*

Ketika kritik soal sponsor dari Freeport muncul, mahasiswa Papua yang berada di Yogyakarta belum mengetahui informasi soal itu. Seiring kian ramainya perdebatan, mahasiswa Papua pun ikut masuk dalam pusaran polemik. Puncaknya ketika sejumlah mahasiswa Papua mengikuti aksi Alinasi Boikot Art Jog di depan gerbang JNM pada Kamis (16/6) sore. Aksi itu dilakukan seusai aksi damai oleh Gerakan Rakyat Papua Bersatu (GRPB) di kilometer nol Yogyakarta pada Kamis siang.

Ditemui di sela-sela acara dialog dan buka puasa bersama di Asrama Mahasiswa Papua Yogyakarta, pertengahan Juni lalu, Roy Karoba dari Biro Politik Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Yogyakarta menjelaskan sikapnya saat bergabung dengan aksi Aliansi Boikot Art Jog.

“Kami hadir bukan untuk menentang Art Jog, tapi menentang Freeport,” tegasnya.

Menurut Roy, isu Freeport adalah isu yang selalu disuarakan oleh AMP. Ini karena Freeport adalah salah satu aktor yang membelenggu Papua hingga hari ini. Oleh karena itu, AMP menuntut Freeport dan perusahaan asing lainnya angkat kaki dari Papua. “Kami masih di bawah penjajahan Indonesia, di mana salah satu aktornya adalah Freeport … Freeport sudah ada sejak 1967, padahal Papua baru menjadi bagian dari Indonesia pada 1969,” terangnya.

Ia menegaskan tidak memiliki masalah dengan Art Jog maupun para seniman yang terlibat di dalamya. Meski demikian, ke depan ia berharap para penyelenggara kegiatan seni maupun seniman bisa lebih jeli melihat pihak yang memberikan sponsor.

“Supaya hal seperti kemarin tidak perlu terjadi, itu perlu dikaji secara baik. Intinya kita semua kawan, kami tidak bermusuhan dengan Art Jog dan seniman. Yang kami musuhi adalah Freeport,” tambah Roy.

Hal senada disampaikan Joko Prianto, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang yang menjadi nara hubung dalam surat yang ditujukan ibu-ibu penghuni tenda perjuangan menolak pabrik semen kepada seniman dan pendukung Art Jog. Segala bentuk perusakan alam menurutnya harus ditolak. Oleh karena itu, ia mengajak para seniman untuk bersama-sama menjaga alam.

“Kalau kemarin ada yang salah ayo kita benahi, karena kami juga tidak bisa jalan sendiri, kami juga butuh teman dan saudara di manapun. Jadi surat kemarin itu sifatnya hanya mengingatkan, ini lho ada seperti ini,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela acara Kupatan Kendeng di Rembang, awal Juli lalu.

*

Guliran bola panas perihal sponsor Art Jog sepanjang Ramadan itu memang tidak berakhir dengan pencabutan logo sponsor. Meski begitu, polemik yang telah berlangsung menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak.

Secara personal, Pemad merasa mendapat pembelajaran berharga, terutama ihwal bagaimana membiayai perhelatan Art Jog di tahun-tahun berikutnya. Apakah itu berarti ia akan lebih selektif dalam memilih sponsor? Apakah tidak akan ada Freeport?

Menanggapi pertanyaan itu, sembari duduk di kursi kafe bus yang hanya dibuka sepanjang perhelatan Art Jog, Pemad memberi jawaban diplomatis. “Saya tidak bisa katakan begitu karena itu masih pada wilayah saya dan saya tidak mau menyinggung perasaan orang yang sudah membantu saya. Saya tidak akan menggigit tangan yang sudah memberi makan saya. Kata orang Papua kan begitu, jangan menggigit tangan dari orang yang memberi kamu makan,” terangnya.

Sedangkan Titarubi meyakini polemik itu memberi pelajaran berharga kepada semua pihak. Baik pihak Art Jog yang dikritik, maupun mereka yang mengkritik.

Ia lantas mengajukan pertanyaan retoris kepada para seniman, khususnya mereka yang gencar melancarkan kritik.

“Misalnya siapalah yang sekarang mengkritik sangat keras ini, dia pameran di satu Galeri, lalu karyanya dibeli oleh Freeport. Dia nggak tahu, misalnya, karena seniman tuh jarang tahu siapa pembeli karyanya, kolektornya itu siapa… Terus kemudian setelah laku, setelah duitnya abis, berapa tahun kemudian, temennya bilang : “eh lu tahu nggak itu tuh dibeli sama Freeport”, atau “itu terpajang di Freeport,” apa yang terjadi?” katanya sambil tertawa.

Redaksi Serunai

Redaksi Serunai

Serunai adalah media yang menyajikan dan membahas berbagai aktivitas seni dan budaya sebagai bagian dari cara hidup manusia. Serunai menyajikan seni yang tidak terbatas pada produk seni di ruang pameran maupun panggung pertunjukan. Lebih dari itu, Serunai ingin menggali, menjadi saksi sekaligus mendokumentasikan peristiwa seni dan budaya yang merupakan wujud dari cara manusia berhubungan dengan sesamanya, dengan alam lingkungannya, maupun dengan spiritualitasnya.
Redaksi Serunai

Latest posts by Redaksi Serunai (see all)