Sebuah Ingatan tentang Banda Neira

Sungguh menjadi kabar mengejutkan bagi para penggemar Banda Neira atas keputusan bubar yang dilansir baik di akun instagram resmi milik mereka @bandaneira_official, maupun dua akun dari personelnya: Ananda Badudu dan Rara Sekar.

Selepas meluncurkan album baru beberapa bulan lalu, Banda Neira agaknya menjadi grup musik yang paling ditunggu jadwal pentasnya. Namun, dahaga akan pertunjukan Banda Neira perlu diredam karena Rara Sekar pergi ke negeri seberang untuk menempuh studi. Alhasil penggemar harus menunggu ketersediaan waktu kedua personelnya untuk mendengar album baru mereka yang bertajuk Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.

Sejujurnya, saya bukan penyuka garis keras band Banda Neira. Saya mengetahui grup tersebut karena teman dekat saya menggilainya. Dengan perlahan tapi pasti, teman saya memutar musik sederhana a la Banda Neira secara rutin dan membuat alunan gitar Ananda Badudu serta suara Rara Sekar terngiang di kepala. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta beberapa lagu yang saya favoritkan, seperti Rindu” dan “Berjalan Lebih Jauh”, untuk saya simpan di telepon genggam dan pemutar musik di perangkat laptop saya. Semakin hari kuantitas pendengaran semakin kerap, dan kabar mereka tampil di Yogyakarta seakan menjadi buruan utama.

Beberapa jadwal pentas di akhir tahun 2014 pun terlewat, hingga akhirnya pada 28 Maret 2015 saya dapat menyaksikan secara langsung pertunjukan mereka di acara South Fest 2015 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada. Diselenggarakan di halaman FEB UGM, tidak ada ekspektasi panggung yang terlalu tinggi karena hanya penampilan mereka, Banda Neira, yang saya nantikan.

Akhirnya yang dinanti datang juga. Tiba saatnya Banda Neira tampil. Melangkah secara perlahan, mereka berdua menuju ke depan panggung untuk menyapa. Kendati sapaan dari Rara Sekar agak ‘krik’, juga sesekali Ananda Badudu menimpali, namun interaksi tersebut membuat keadaan semakin lucu, juga terasa dekat. Tidak hanya diam, sorak-sorai penonton pun terdengar membuat suasana pertunjukan justru terasa semakin hangat. Tidak terlalu banyak bicara, mereka mulai menyanyikan lagu demi lagu dari album pertama. Tanpa aba-aba, para penonton ikut bernyanyi bersama.

Seusai pertunjukan, saya tidak pergi menuju ke belakang panggung untuk menemui mereka. Saya memutuskan untuk pulang dan menuliskan pengalaman tersebut ke dalam ulasan pertunjukan—aktivitas yang sejak tahun 2014 saya giati. Artikel tersebut selesai dan saya kirimkan ke salah satu website. Sang redaktur mengamini untuk menerbitkan, namun karena ada gangguan teknis pada website tersebut, tulisan itu terbengkalai dan tidak pernah diterbitkan hingga kini.

Kabar ‘duka’ tentang bubarnya mereka membuat saya mencari lagi tulisan lama tersebut. Dengan perubahan yang dilakukan sesuai gaya selingkung website tertaut, saya memutuskan untuk menerbitkannya. Bukan untuk menunjukan jika saya kerap mengulas pertunjukan, juga tidak ditunjukan agar Banda Neira kembali rujuk—karena hal tersebut muskil untuk saya yang bukan siapa-siapa mereka. Namun, tulisan tersebut ingin saya terbitkan karena mereka telah memberikan pengalaman pertunjukan yang berbeda, khususnya bagi saya, dan mungkin saja untuk Anda.

Festival musik dan pengalaman kolektif

Selepas hujan deras mengguyur kota, suasana Balairung dan sekitarnya dibuat syahdu dengan sajian musik sendu dari beberapa musisi lintas genre. Sabtu (28/3), sebuah festival, South Fest 2015, dihelat di halaman kampus (Plaza) FEB UGM. Bertajuk “Music–Picnic–Romantic”, festival ini turut dimeriahkan oleh penampilan beberapa band lokal seperti: Economic Session Band, Batiga, Jazz Mben Senen, serta band tamu dari Bandung yang sedang naik daun, Banda Neira.

Banda Neira memang sedang menuai popularitasnya. Sejak album Berjalan Lebih Jauh kerap diperdengarkan, baik melalui pemutar musik ataupun radio, penampilan live band yang terdiri dari dua orang tersebut memang ditunggu banyak orang. Jumlah personel tidak mempengaruhi aksi panggungnya. Kendati berjumlah dua orang, pelbagai jenis panggung—baik besar ataupun sebaliknya—dapat mereka kuasai. Dengan tidak berlarian ke sana kemari, namun hanya melantukan lagu demi lagunya, mereka justru membuat semua mata penonton tertuju ke panggung dengan bibir berucapkan lirik demi liriknya.

Terlebih di South Fest, format panggung yang tidak terlalu besar—jika dibandingkan pertunjukan musik FEB lainnya yang kerap dihelat di Gedung Graha Sabha Pramana UGM yang identik dengan kemegahan dan musisi luar negeri—membuat suasana semakin dekat dan hangat. Dengan kapasitas penonton yang tidak terlalu banyak, penampil pun seakan terasa lebih intim dengan penonton. Sebagai penampil terakhir, Banda Neira memang telah ditunggu-tunggu, terbukti dengan banyak penonton yang semakin mendekat dan rapat dengan panggung. Sapaan diawali oleh Rara Sekar. Tanpa berlama-lama, Ananda Badudu mulai memetikan senar gitarnya sehingga seketika suasana menjadi syahdu. Rara mulai menyanyikan kata demi kata bersama para penonton yang menyaksikan.

Hujan sempat turun cukup lebat di tengah penampilan, tetapi yang cukup mengherankan, para penonton tidak beranjak pergi. Sebuah peristiwa yang luar biasa bagi saya—terlebih mereka bukan Slank atau God Bless—karena para penonton tidak beranjak dan memilih untuk berbasah-basah demi idola mereka. Ananda Badudu dan Rara Sekar sempat cukup kaget dengan respons penonton yang konsisten untuk tetap di tempat. Dengan menyampaikan ke-gumunan dan ketakjuban mereka terhadap penonton yang diungkap di sela lagu, keduanya membuat suasana semakin erat.

Setelah dua-tiga lagu dinyanyikan di kala hujan, rintik-rintik air mulai berhenti. Ananda Badudu dan Rara Sekar melanjutkan beberapa lagu di album pertama mereka. Ada sebuah lagu yang turut dimainkan namun tidak terdapat di dalam album mereka, yakni sebuah lagu yang diciptakan atas proyek Kita Sama-Sama Suka Hujan bersama Gardika Gigih dan beberapa musisi lainnya.

Sebagai penampil di penghujung acara, Banda Neira memang memberikan suguhan musik yang berbeda dengan penampil-penampil sebelumnya. Jika beberapa penampil sebelumnya memberikan keahlian bermusik yang tidak diragukan lagi, dengan progresi chord yang tidak akrab bagi orang awam, ataupun nuansa riang yang dibangun, hal tersebut tidak terlalu menjadi soal bagi Banda Neira. Kendati hanya mengandalkan alunan gitar dengan chord yang sederhana, Banda Neira mengandalkan sebuah hal yang kerap terlupakan, yakni kekuatan teks di tiap lagu mereka. Dari Banda Neira tersemat bahwa sebuah musik tidak hanya untuk diperdengarkan, tetapi juga untuk dinyanyikan secara bersama.

Pengalaman bersama sang idola

Dari menonton pertunjukan live band Banda Neira, tersemat pesan bahwa ternyata sebuah pertunjukan tidak hanya sebatas pertemuan dan tatap muka dari kedua insan yang saling mutualis—Banda Neira dan penonton. Namun, terdapat hal lainnya yang dicari, yakni pengalaman kebertubuhan bersama dengan idola. Dari sini dapat kita lihat bahwa posisi penonton menyukai sebuah genre tertentu dilakukan dengan sadar. Kesadaran tersebut lantas dapat terus hidup tidak hanya dengan pengalaman auditif saja—seperti dengan mendengarkan penyanyi kesukaan, tetapi mereka juga membutuhkan pengalaman visual bersama sang idola, dalam hal ini Banda Neira.

Dengan menyaksikan secara langsung, penonton akan sadar bahwa yang mereka idolakan adalah nyata. Oleh karena itu, walau dirundung hujan, penonton tidak ada yang beranjak ketika Banda Neira terus bernyanyi. Penonton yang mendengarkan secara terus menerus album Banda Neira di rumah mereka masing-masing telah menunggu penampilan tersebut. Menonton Banda Neira secara langsung menjadi momen idaman yang mereka jalin bersamaan dengan aktivitas mendengarkan band tersebut secara auditif.

Bertolak dari relasi pertunjukan Banda Neira dan penonton, ada berapa pesan tersemat. Pertama, pengalaman auditif yang ingin dimunculkan kembali ketika dapat bernyanyi bersama dengan Banda Neira secara langsung. Oleh karena itu, penonton tidak hanya menonton melainkan turut bernyanyi bersama. Kedua, pengalaman bernyanyi bersama antara satu penonton dengan penonton lainnya. Dengan bernyanyi bersama mereka sadar bahwa yang mereka idolakan bersama adalah nyata. Pertemuan antarpenonton di depan sang idola juga menyiratkan bahwa mereka tidak sendiri.

Ketiga, penonton memerlukan pengalaman pertunjukan bersama idola. Tidak hanya datang dan bernyanyi, namun bergesekan, berhimpitan, bersentuhan dan berkeringat bersama dengan sesama penonton turut menjadi nilai lebih. Oleh karena itu, pertunjukan langsung—seperti yang dilakukan Banda Neira di South Fest 2015—membuat harapan penonton terhadap idola terejewantahkan: bahwa yang mereka kagumi bukan suatu konstruksi imajiner. Pilihan menggemari salah satu idola semakin kuat ketika satu penonton menyadari bahwa terdapat penonton lain yang sama-sama menggemari idolanya.

Jika dirujuk secara umum, idola memang menjadi komoditas dari budaya populer atau budaya massa. Namun, tidak menjadi sebuah kesalahan ketika penonton mengidolakan seseorang, terlebih ketika sang idola dapat memberikan dampak yang positif, walau hanya dengan alunan lagu. Setidaknya, ucapan terima kasih perlu disampaikan kepada Banda Neira atas pertunjukan memukau yang telah mengakomodasi harapan kolektif penonton bersama idolanya, dan juga untuk panitia yang sudah berkerja keras walau sempat disurutkan asanya karena hujan turun terlalu lebat di malam itu.

Selanjutnya

Setidaknya itulah yang terbetik dari pertunjukan Banda Neira setahun silam. Setelahnya, saya tidak pernah lagi menyaksikan mereka. Sekali namun bermakna bagi saya. Setahu saya, beberapa kali mereka datang ke Yogyakarta untuk pentas bersama musisi Yogyakarta, Gardika Gigih. Lainnya, saya pernah mendapati mereka menyempatkan mampir ke diskusi preliminary notes yang diselenggarakan kelompok LARAS – Studies of Music in Society dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosumantri (PKKH) UGM. Kabar setelahnya yang saya ikuti adalah produksi album kedua mereka usai, dan Rara Sekar yang memutuskan melanjutkan studi beberapa waktu setelahnya. Hingga beberapa hari lalu, sebuah kabar yang sulit diterima bagi penonton mereka terdengar. Namun, dapat dipastikan bahwa keputusan tersebut penuh pertimbangan.

Lantas apa yang dapat para penggemar perbuat? Keadaannya kini telah berubah. Beberapa saat lalu penonton seakan dibuat terus menunggu pentas selanjutnya, sedangkan kini harapan tersebut sirna. Tentu pilihan melupakan atau menghapus lagu mereka dari pemutar musik adalah hal yang keliru. Karena dengan tetap mendengar kembali dua album mereka, justru akan mengembalikan memori penampilan live yang pernah para penonton jalin. Dalam hal ini, untuk menyikapi sebuah band yang telah bubar, ada banyak jalan yang bisa dilakukan. Beragam cara lainnya dapat dilakukan, tentu didasarkan atas kadar kegemarannya masing-masing. Namun, satu di antaranya adalah tetap mendengarkan untuk mengurai ingatan yang akan mengembalikan Banda Niera walau hanya sebatas imajinasi di dalam kepala. Sebuah tawaran yang mungkin bisa dilakukan hingga mereka ‘kembali’ suatu saat kelak. Terima kasih Banda Neira atas sajian musik sederhana namun sarat akan makna.

*) Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Michael H.B. Raditya

Michael H.B. Raditya

Menonton serta menggemari pergelaran seni musik dan tari. Bisa dihubungi melalui alamat surel: michael.raditya@gmail.com.
Michael H.B. Raditya

Latest posts by Michael H.B. Raditya (see all)