Konser Dangdut Monata: Mengapa Ekspresionisme Mengungguli Automatisme

Tidak pernah tepat persisnya kapan, namun tari sudah menjadi salah satu dari sekian turunan primordial yang entah dengan metodologi apa untuk menemukan titik pungkas awal yang nampaknya mustahil. Terlebih dalam abad kepercayaan bahwa teori datang selalu setelah kajadian aktual terselesaikan.

Namun itu merupakan hal lain, yang memerlukan sesi tersendiri untuk membahasnya secara terperinci. Retasan sejarah tentu saja penting demi menemukan batas-batas definitif dari konsep tari dalam selera peradaban, namun sekiranya titik tolak lacakan dalam bahasan kali ini dimulai dari sudut yang berlainan. Definisi tari perlu didudukkan secara presisi. Tarikan yang perlu dilakukan akan sungguh menyasar fondasi tari, dari basis material, yakni gerak[1]; apa yang membedakan suatu gerakan dengan yang lainnya sehingga diklasifikasikan sebagai tari. Mengapa dari sekian ramai gerakan manusia beberapa dipilah menjadi tari dan sisanya sebagai non-tari, gerak dimaknai secara beragam.

Yang menjadikan tari sebagai tari

Secara sungguh kasar, gerak pada tubuh manusia bisa dibagi menjadi dua, yaitu gerak mekanis dan gerak estetis. Gerak mekanis adalah gerakan yang lebih menekankan pada upaya manusia menyelesaikan masalah dalam kesehariannya, seperti sebab lapar, maka manusia mengonsumsi makanan, demi memasukkan makanan tersebut manusia membutuhkan gerakan tangan untuk mengantarkan makanan dari piring menuju mulut. Contoh lain, yaitu seluruh gerak dalam tubuh manusia, organ bekerja dengan bergerak, dan gerakan yang dihasilkan tentu saja mekanis. Dalam contoh gerak eksternal mekanis seperti halnya makan, dalam beberapa peradaban adiluhung mulai dinaikkan levelnya dan mulai kawin dengan seni. Prancis contohnya, yang sangat mengunggulkan makan lewat tata cara yang cukup rumit. Tentu kita akan sadar mengapa film sejenis Ratatouille bisa muncul dari sana, dan mengapa Pierre Bourdieu bisa menjadi seorang kulineris ternama. Dan membaca Kinfolk di negara dunia ketiga di akhir pekan adakalanya berguna demi, paling tidak, memahami bahwa makanan berporsi kecil di meja makan Emmanuel Macron bersama kolega Rothschild lainnya adalah bukan soal pemenuhan asupan gizi semata, namun sebagai upaya performa seni. Maka perlu ditekankan sedari awal bahwa dualisme kategorisasi ini lebih cenderung untuk meleset dalam banyak analisis, namun setidaknya berguna sebagai alat baca mula-mula.

Di belahan kategori yang lain terkurung gerakan estetis. Isinya beragam, mulai dari tari, teater, senam aerobik, renang indah, dsb. Ini adalah justifikasi terawal bagaimana membedakan antara gerak tari dan non-tari. Landasan yang estetis ini tentu saja problematis, bagaimana menahan laju pemisahan yang estetis dan non-estetis. Namun jika mengembalikan narasi bahwa yang estetis adalah yang mampu meciptakan sensasi, tidak seperti gerakan makan yang hanya bisa dilihat sebagai kegiatan di luar daripada itu, maka yang estetis membutuhkan pemaknaan lain. Gerak yang estetis adalah tidak lain gerak yang mekanis — semua gerak tentu saja mekanis — namun gerak tari berhasil mencabangkan makna. Artinya, gerak mengibaskan tangan di depan pelipis berhasil dimaknai sebagai yang keluar dari makna mekanis berupa kepanasan. Namun jika persoalannya hanya imbas estetis, burung Cendrawasih di musim kawin juga tak kalah indah dengan goyangan sayapnya; mereka sangat lihai dalam menari. Dan hampir semua hewan sewaktu musim kawin senang berlenggak-lenggok demi mendapatkan pasangan. Dan di sinilah tepatnya kita akan mengerucutkan persoalan, bahwa tari dalam hal ini adalah tari sebagai seni. Mungkin seekor bekantan yang bergelantungan ria di pepohonan akan nampak seperti sedang melakukan gerakan aerobik yang estetis, namun mereka tidak bisa diklasifikasikan sebagai performa seni, karena tidak ada intensi di belakangnya. Sokongan terkuat seni terletak pada intensi akan melakukan performa itu sendiri, sehingga bahasan tari dalam hal ini adalah tari dalam kurungan seni.

Jikalau kita ingin adil menempatkan konsepsi tari, tentu saja untuk menjustifikasi seni dalam kerangka peradaban akan terasa lebih bijak. Faktor seperti historisitas, konteks sosial, tempat, institusi, bisa dijadikan sebagai fitur penjustifikasi akan tari. Artinya menambahkan variabel di luar dari gerakan secara an sich. Kita mudah mengatakan suatu seni itu tari sebab soal di luar tari itu sendiri, seperti pakaian, siapa yang melakukan tari — agen, juga konteks dimana dia ditempatkan. Kita akan tahu sekelompok orang sedang melakukan tari Saman sebab pakaian yang mereka kenakan, atau kita akan terburu-buru menjustifikasi gerakan Yoko Ono meliukkan badan sebagai tari, juga kita dengan sangat terhenyak kagum tatkala sekelompok orang Eropa Timur berjalan jinjit di ruangan Salihara.

Terlepas melalui penambahan faktor eksternal maupun tidak, tari juga bisa dikenali dari talian ritme yang menghubungkan antarpatahan gerakan. Identifikasi tari menggunakan ritme yang membalutnya. Definisi semacam ini menghadapi tantangannya di abad seperti sekarang ini, jika harlem shake masih menggunakan ritme, bagaimana dengan gerak jingkrak-jingkrak para penonton konser punk, dan juga para remaja Pantura yang tengah menonton Monata di lapangan alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur. Gerak tari yang abai dari ritme, dalam beberapa bagian mungkin mereka akan patuh dengan tuntunan bait per bait gerak, merepetisi hal yang sama, namun pada akhirnya akan jatuh dalam ketidakterbatasan gerak tanpa sumbu kendali sama sekali. Dan di sinilah ritme dalam gerak tari kehilangan kemagisannya sebagai penjustifikasi tari. Semua wajar saja, karena pada dasarnya yang selalu akan menang adalah chaos. Logos hanya dimunculkan demi membangun psikologi nyaman dalam kehidupan. Mungkin di sini hukum termodinamika dua bekerja, semua akan kembali pada entropi.

Namun pada kenyataannya kita tetap bisa memilah dengan jernih siapa yang sedang menari dan tidak, karena tatkala ke-chaos-an dari tindak tari yang diklaim tak beritme berhenti, kita akan tahu batasan dimana dia sedang menari dan sisanya bukan. Sehingga ke-chaos-an pun sejatinya terbundel dalam satu ikatan yang kemudian dipakai sebagai pemagar apa itu tari.

Dan karena ritme inilah biasanya tari akan dikombinasikan dengan musik. Musik memberikan ketukan yang sesuai demi terbungkusnya paket gerakan bernama tari. Tari yang menjadi seni adiluhung dengan sistematisasi ritmik kemudian ditarik dan dinaungi di bawah intitusi seni. Tari menjadi edukasi, harus mengikuti alur, tahap demi tahap, dengan metodologi yang telah diatur. Mau tidak mau, tari jenis seperti ini dengan ilustrasi sebanal apapun tetap berada dalam naungan sistem institusi. Lain soal, tatkala tari hadir dalam realitas di luar dari institusi. Dan tari di luar sistem inilah yang akan menjadi fokus bahasan, secara lebih spesifik lagi yaitu yang dikombinasikan dengan fitur musik.

Dualisme ekspresionisme dan automatisme

Dua kategori yang akan dihadirkan yaitu, tari dalam bentuk ekspresionisme, dan diperlawankan secara vis-a-vis dengan automatisme. Tari ekspresionisme akan lebih terkesan sebagai tari yang otentik, tari yang organik — tari jenis ini justru jauh lebih murah, yang mencoba menghadirkan gerakan sebagai piranti pengganti bahasa dalam merepresentasikan perasaan, tari sebagai media ekspresi. Ekpresi adalah respons terdasar dari pertemuan manusia dengan realitas. Dengan menggunakan tari sebagai sebuah upaya untuk menunjukkan ekspresi sebagai hasil dari reaksi dengan realitas, maka tari adalah upaya demi memunculkan realitas ke hadapan sosial, jenisnya tentu beragam. Anda bisa menemukannya di setiap suku kuno yang pernah ada di bumi. Tari sedari kesejarahannya lebih dahulu muncul dibandingkan dengan bahasa verbal, apalagi yang telah tersistematisasi seperti sekarang ini—belum lagi yang coba dipasok dengan sistem logosentrisme ala Kaukasian. Maka pada watak dasarnya, tari adalah yang selalu banal, menguakkan apa yang kita rasa, dengan dan tanpa ritme. Dengan itu pula tari mengupayakan presentasi realitas yang belum terdistraksi oleh regulasi respons dalam skema bahasa verbal.

Perwujudan ekspresionisme dalam tari bisa diraba dari hubungan antara tari dengan ritme. Tatkala ritme tari mulai intens, musik yang mengiringi dengan dentum yang semakin naik demi menampilkan suasana yang sedang coba diwujudkan. Dengan irama musik yang semakin menanjak, tari yang ditampilkan juga semakin beringas. Yang perlu ditekankan adalah keharmonisan antara suasana yang coba untuk dihadirkan lewat mediasi musik, dengan tarian yang dibawakan. Kelekatan tari dengan musik sekaligus menandaskan kesatuan antara tari dengan lirik. Contoh sederhana seperti bagaimana musik yang berderap cepat akan diikuti dengan lirik yang ceria, begitu pun sebaliknya[2]. Walhasil, tarian yang diikuti juga mengikuti aliran musik-lirik yang diperdengarkan.

Namun hal ini tidak menandaskan akan dua lapis ekspresionisme, bahwa manusia menari sebagai presentasi realitas, dan di sisi lain mencoba mengekspresikan musik. Ekspresionisme dalam tari tetap terpatok pada realitas, sehingga dengan begitu musik hanyalah benda komplementer dalam tari. Musik yang hadir diandaikan selalu sesuai dengan presentasi atas realitas yang coba diajukan.

Di sisi lain, berdiri mahzab yang sama sekali berbeda. Automatisme hadir hanya karena repetisi gerak. Tidak sesuai dengan musik yang hadir, maupun suasana yang sedang dikembangkan. Automatisme hanya mengetahui jenis gerak, namun tidak mengenali motif suasana yang sedang dibangun. Gerak automatisme memang estetis, tentu saja secara atomistik, namun dia tidak koheren dengan slot suasana. Berbeda dengan ekspresionisme yang menghadirkan keseluruhan, gerak tari secara holistik.

Kritik abadi akan berulang, bahwa pembelahan kategoris secara dualis seperti ini akan selalu bermasalah. Karena gerak tari ekspresionis juga bisa dan seringkali bertumpu pada gerak-gerak automatis. Dalam perkembangan kontemporer ini bisa dilihat dari menjamurnya studio tari di dunia. Yang terangkat naik tentu saja Korea Selatan, sebab industri Kpop mereka yang sedang digandrungi masyarakat dunia. Tidak kalah di sana sang pemain lama, Amerika Serikat. Di Korea Selatan ada beberapa studio tari terkenal seperti, 1MillionDanceStudio dengan subscriber sebanyak 5,5 juta — cukup banyak untuk ukuran studio tari. Dan Matt Steffanina untuk kanal studio musik asal Amerika Serikat dengan subscriber sebanyak 5,9 juta — jika ingin sedikit indie beberapa kanal alternatif justru jauh lebih menarik seperti En Dance Studio ataupun TheQuickStyle. Besar dari inkubasi yang berbeda, keduanya memiliki corak yang sedikit berseberangan. Studio asal Korea dalam hal ini merujuk pada 1MillionDanceStudio cenderung terlalu automatis jika diperhatikan dengan seksama. Betul mereka mencoba mengekspresikan sesuatu, namun tidak seperti Matt Steffanina yang selalu memberikan slot tarian lepas ekspresionis di waktu tertentu, seluruh gerakan sedari awal sampai akhir di 1MillionDance acapkali senada dan sesuai ritmik automatik. Maka di sini perlu digarisbawahi kembali bahwa kesesuaian dengan musik tidak berarti ekspresionis. Persoalannya cukup mendasar bahwa ekspresi itu sendiri adalah terma yang dihadirkan tatkala sudah terjadi lokalisasi perasaan manusia. Tanda kedua yaitu, sifat automatik ini semakin kentara nampak dari bagaimana figur bermain sentral dalam studio musik Korea. Jika Anda perhatikan, seluruh tarian di sana selalu diproduksi oleh para dedengkotnya, Lia Kim, Bongyoung Park, juga Junsun Yoo. Anggota lain hanya mereplikasi, posisi sebagai mentor menjadikan mereka selalu lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Berbeda dengan Matt Steffanina yang bahkan beberapa kali gagal menirukan gerakan tari dari anggota studionya sendiri.

Konser musik Monata

Dengan bermodal dua buah analisis ekspresionisme maupun automatisme kali ini, kita akan bisa melihat bagaimana tari — dalam bahasan selanjutnya akan digonta-gantikan dengan istilah joget— dalam konser musik dangdut Pantura, lebih spesifik Monata, menjadi hal yang sungguh vital. Bukan dangdut namanya jika tanpa joget asolole. Konflik panas yang dulu pernah mendera daratan dangdut, sebab goyang erotis dari Inul Daratista adalah sebuah persoalan yang sangat genting; sebab Bang Haji Rhoma Irama mencoba meregulasi — automatisasi(?) — dangdut dengan patut dan tak patut. Saya pribadi akan berpihak pada mbak Inul, terlebih dengan Inul Vizta-nya yang membahana. Bagaimana mungkin konser Monata dengan joget yang normatif; menonton Monata dengan gaya suasana mendengar alunan moonlight sonata, sungguh melecehkan nalar ketimuran. Konser Monata haruslah secara apriori mengandung joget eskpresif, hingga saling senggol, lalu tersundut rokok, dan sebagai unintended consequence namun willingly wanted berupa tawuran. Sewaktu tawuran ini berlangsung, yang terjadi adalah benar-benar saling gontok-gontokan antarpenonton, namun aturan yang perlu digarisbawahi adalah tidak pernah ada musuh secara asali-struktural, yang ada hanya perbedaan praksis semata[4]. Dan ini sangat bergantung dengan arah mata angin: siapa terdorong massa ke arah mana akan menjadi lawan kontradiktoris dengan penggal sisi 180 derajat dari posisinya sekarang. Yang jelas mereka harus melempar sandal, atau apapun yang tersedia ke arah depan mereka berdiri. Dangdut Pantura memang sedikit nyentrik. Berbeda dari punk, contohnya, yang tatkala konser juga berdarah darah, namun hal tersebut sebagai intended consequence.

Jamak akan Anda temui dalam konser dangdut polisi yang mengamankan agar suasana tetap tentram ripah-ripeh. Namun hampir di setiap kali konser dangdut Pantura pasti akan terjadi tawuran, alih-alih polisi bekerja bukan sebagai pengaman yang ditakuti, justru para remaja manja seumuran saya tersebut melihat mereka sebagai bagian dari atraksi tawuran ini–loh, justru tidak asik tanpa adanya polisi yang memberikan tembakan peringatan sana sini, atau sambil memukul dengan pentungan secara serampangan ke beberapa oknum tawuran.

Selain para pejantan, seperti polisi dan penonton remaja manja tersebut yang terdiri dari 3 jenis, yaitu mereka yang sudah uzur berumur kisaran 30-an namun masih fit and proper dengan standar kenalanan di desa, mereka para remaja baru icip-icip ingin tahu yang biasanya akan berdiri di lingkar terluar, dan sisanya adalah mereka yang berumur matang dan siap tawuran. Komposisi pembangun dalam konfigurasi konser dangdut pantura adalah seorang penyanyi perempuan semlohay di atas panggung, dan ibu-ibu yang berteriak histeris di beberapa sudut agar tawuran segera berhenti[3]. Tari di medan konser dangdut adalah unjuk kebolehan di depan konstelasi variabel-variabel pembangun keseluruhan konser dangdut. Di depan sesama pejantan, juga di hadapan para perempuan. Bisa dipastikan bahwa mereka yang senang menonton konser Monata adalah mereka yang jarang beribadah, yang muda yang energinya masih mendublar-dublar, sehingga di konser inilah tumpah ruah histeria yang tak tersalurkan lewat ibadah terjadi. Di masyarakat urban ini tercermin dari banyaknya tempat klub, atau aha! penikmat DWP yang tiap tahun semakin menggeliat, bahkan menyentuh angka 80 ribu di 2016 lalu. Jika anak-anak metropolitan membutuhkan gelap malam menutupi joget mereka, para remaja Pantura sudah mampu memecah wacana joget sebagai yang tabu, mematahkan batas batas rotasi bumi. Baik DWP (Djakarta Warehouse Project) maupun Monata, intinya satu, joget sebagai saluran histeria. Maka di sinilah justru joget menjadi penyalur kebanalan dari manusia, sehingga tak masalah jika Anda menari tidak lazim seperti gerak menjetik-jentikkan jari khas dangdut Pantura-an di konser DWP. Karena tari memang harus banal dan ekspresif, dan tak terjebak dalam gerak automatisasi.

Intinya satu, saya suka Monata!

 

Catatan
[1] Tulisan ini menerjemahkan gerak sebagai unsur pembangun dari materialisme. Gerak tidak lain adalah bentuk hasil dari radikalisasi watak atomisme material. Sehingga, dalam pembacaan yang sangat vulgar sekalipun sesungguhnya apa yang material adalah yang bergerak, dan sekaligus berenergi. Geraklah yang justru menjadikan materialisme menjadi materialisme. Karena sedari awal materialisme memiliki sifat mutlak sebagai yang selalu berubah, dan perubahan hanya terjadi manakala gerak bersatu dengan material itu sendiri, bukan dengan dongeng metafisika penjamin realitas di luar yang material.

[2] Tentu ada banyak catatan mengenai hal ini, bagaimana beberapa musik yang menanjak naik alih-alih menampilkan suasana marah, kadang juga bahagia yang tak terperi. Namun di sisi lain, lagu yang mendayu rendah juga bukan berarti selalu diasosiasikan dengan kesedihan dan kegalauan, namun juga kadang kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang tak harus diluapkan secara meledak-ledak.

[3] Tipologi seperti ini biasanya ada pada konser dangdut Monata karena undangan hajatan. Di konser Monata yang terbuka dan lebih bersifat umum, golongan ibu-ibu relatif tidak terlihat. Namun dalam beberapa konser terbuka, terlebih di kampung yang cukup kurang akses ke dunia luar, para golongan ibu-ibu biasanya akan banyak ditemukan berserakan di mana-mana.

[4] Dalam banyak kesempatan selalu akan ada satu tumbal yang menjadi amukan massa, dialah yang akan dihajar secara penuh. Namun dalam skema penonton yang besar, jenis seperti ini muncul hanya sebagai pemantik, sisanya mereka hanya saling adu jotos tidak jelas. Biasanya mereka yang mencoba melerai justru yang juga banyak terkena bogem, kecuali tentu saja polisi dengan segenap pentungannya.

Pranala Luar

Konser Dangdut Tawuran Baju Sobek, https://www.youtube.com/watch?v=WC-l6CbgZnE
Lamongan Tawuran, https://www.youtube.com/watch?v=CnhdC8kEtnM
Tom Holland Umbrella, https://www.youtube.com/watch?v=LqBiycUo_ew

 

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Fathul Purnomo

Fathul Purnomo

Fathul Purnomo. Founder Deadpoøl Universitas Indonesia. Direktur Kajian SGRC UI. Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia.
Fathul Purnomo