Angki Purbandono: Dari Scanography Hingga Ganja

Pada masanya saat dirilis pada 2008 silam, album kedua milik band indie Efek Rumah Kaca begitu fenomenal dan monumental. Album ini memenangkan berbagai penghargaan mulai dari MTV Indonesia Award 2008, hingga Rolling Stone Indonesia.

Gambar yang terpampang di sampul album band indie ini adalah mainan seekor kambing yang kepalanya dijepit dengan sebuah jepitan jemuran. Sementara latar belakangnya terlihat hitam kelam.

Selain karena bangunan musik Efek Rumah Kaca yang menjadikan album ini sebagai karya musik favorit para penikmat musik independen di kala itu, tidak dapat dimungkiri sampul album itu dengan latar belakang gelapnya benar-benar mewakili judul album tersebut: Kamar Gelap.

Sampul album itu merupakan sebuah karya seni media baru scanography yang dibuat oleh Angki Purbandono.

Angki Purbandono adalah anomali. Dalam artian positif. Di dunia seni rupa kiwari, atau lebih spesifik seni media baru atau new media art, Angki menjadi bagian dari sedikit seniman Indonesia yang mengembangkan dan menciptakan karya-karya fotografi melalui medium mesin scanner. Metode itu dikenal sebagai scanography.

Dalam bukunya The Magic of Digital Photography: Close-up, Joseph Meehan mendefinisikan scanography sebagai gabungan dari kata scanner dan photography. Maka, scanography dapat juga disebut sebagai seni scanner photography alias fotografi alat pindai.

Sederhananya, Angki menggunakan medium mesin scanner alias mesin pindai untuk membuat karya fotografi.

Seniman berusia 48 tahun ini terlahir di sebuah desa bernama Cepiring. Secara administratif, Cepiring masuk ke wilayah Kendal, Jawa Tengah. Angki tak lahir dari keluarga seniman. Sejak kecil ia juga tidak bersinggungan dengan kesenian.

“Sebenarnya bakat kesenian saya tidak terlalu menonjol pada saat kecil, tapi kelakuan saya yang berbeda,” jelas Angki dalam sebuah presentasi yang terekam dalam kanal YouTube TedxTalks.

Seniman yang gemar mengenakan celana pendek ini memperoleh pendidikan formal seni di dua kampus di Yogyakarta. Sebelumnya ia bersekolah di Modern School of Design alias MSD (1993-1994). Sayangnya ia tak dapat menuntaskan masa perkuliahan.

Akhirnya Angki pindah kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1994-1999). Kala itu Kampus Sewon—julukan untuk kampus ISI Yogyakarta—baru saja membuka program studi atau jurusan fotografi. Maka, Angki adalah salah satu mahasiswa fotografi angkatan pertama.

Selain pendidikan formal di sekolah tinggi seni, Angki juga mendapat banyak pengetahuan non-formal dengan mengikuti berbagai program residensi seniman baik di dalam maupun luar negeri.

***

Mudah Bosan. Itulah kredo yang kerap menempel pada para seniman kontemporer. Mereka mudah bosan terhadap suatu metode pengkaryaan. Untuk menghilangkan kebosanan tersebut sang seniman akan bereksperimen, mengeksplorasi segala kemungkinan metode atau media.

Angki, kiranya juga mengidap kredo yang sama: mudah bosan. Jebolnya ia dari perkuliahan di kampus MSD mungkin juga dipicu kebosanan ini. Dan kesaklekan segala macam metode fotografi konvensional yang ia peroleh di Kampus Sewon makin menambah kebosanan itu.

Buntutnya, Angki terus menerus bereksperimen dengan berbagai metode dalam setiap karyanya. Scanography hanyalah salah satu metode yang ia temukan dan gunakan. Selain itu, sebelumnya ia juga kerap berkarya dalam metode kolase, stop motion, hingga fotogram.

Ketik nama Angki Purbandono di YouTube, maka akan banyak ditemukan video yang semuanya memaparkan hal yang sama: Angki memiliki value atau nilai yang tinggi. Ia sangat berprestasi.

Video yang berada di peringkat pertama adalah rekaman momen saat Angki menjadi pembicara di TED Talks, sebuah forum bicara prestisius yang terkenal dengan taglinenya ‘ideas worth spreading’ dan digelar di seluruh penjuru dunia. TED Talks tidak sembarangan memilih pembicara. Harus seseorang yang berprestasi tinggi. Di situ Angki bicara tentang bagaimana seni membebaskan dirinya.

Di bawahnya ada begitu banyak video lain. Brilio News memberi judul “Seniman Jogja Mendunia Lewat Mesin Scan”. Ada lagi video dari Metro TV. Di situ Angki tengah menjabarkan apa itu Scanography.

Angki memang telah mendunia. Ia telah menyelenggarakan lebih kurang 15 kali pameran tunggal. Pameran pertamanya bertajuk KOLASMANIAC dihelat di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta pada 1999. Menyusul kemudian beberapa pameran lain di luar negeri, seperti Industrial Fiesta di Korea Selatan (2006), 2 Folders from Fukuoka di Jepang (2010), hingga If You Give me Lemon, I’ll Make Lemonade, Tales From Tokyo and Tangkahan di Singapore pada 2017.

Berbagai prestasi yang Angki dapat di kancah internasional melalui karya-karya seninya tak lantas menjadikan Angki seorang yang jemawa. Sebagai seorang sosok, ia tetap membumi, bersahaja, dan peduli pada lingkungan, manusia, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Ini terbukti dari berbagai afiliasi yang melekat pada dirinya. Angki adalah salah satu pendiri MES 56, sebuah kolektif atau ruang seni fotografi kontemporer dan konseptual di Yogyakarta. Ia juga pendiri Prison Art Programs (PAPs) dan Yayasan Seni Penjara. Kedua lembaga itu bergerak di bidang kepedulian terhadap para narapidana di lembaga pemasyarakatan.

Angki juga bekerja sebagai art director di Lingkar Ganja Nusantara (LGN), serta Yayasan Sativa Nusantara. Kedua lembaga yang disebut terakhir bergerak di bidang penelitian ganja sebagai substansi yang dapat digunakan untuk keperluan medis.

Jumat (19/07) siang itu saya berkesempatan untuk berbincang dengan sang maestro. Kami berbicara ngalor-ngidul tentang 15 anak usia SMA yang sedang nyantrik alias berguru padanya selama 12 hari dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2019 yang diselenggarakan Kemendikbud, scanography, disiplin sebagai kunci keberhasilan, sampai ihwal per-ganja-an di Indonesia. Berikut merupakan ringkasan dari obrolan kami.

Mas Angki memandang toleransi bagaimana?

Kemarin kita baru saja berkunjung ke OHD Museum. Oei Hong Djien alias OHD itu salah satu orang yang saya hormati. Dan beliau adalah keturunan China. Dan kita tahu stigma itu bagaimana, itu nggak perlu ngomong tentang toleransi, kenapa? Karena saya harap teman-teman atau anak-anak didik saya sudah paham begitu. Bahwa di dalam kelompok kita selalu berkenal menunjukkan asal-usulnya saat bergabung dalam satu ruang. Jadi toleransi saya pikir di Indonesia sudah disusun dengan baik oleh para pendiri bangsa ini ya.

Tapi belakangan banyak terjadi kejadian intoleransi mas?

Ya itu oknum. Kembali lagi ke perkara oknum. Saya tegaskan toleransi itu sudah ada di diri dan nyawa saya. Seorang yang sukses pasti hidup di tengah perbedaan. Pasti itu. Pasti. Apalagi menjadi presiden, hidup di tengah banyak suku, 250 Juta orang, yang produktif dan non-produktif, gila itu. Tetapi pendiri bangsa kita berhasil untuk menetapkan Pancasila sebagai ideologi atau sebagai dasar. Yowis toh, patokan kita tuh hanya lima loh. Sederhana. Kemudian ditambah undang-undang secara hukum konstitusional ada UUD 45. Kita tuh dianggap negara republik dengan demokrasi paling simple sebenarnya. Tetapi balik lagi di oknum selalu ada.

Ini menarik karena tadi si Tegar (Peserta BBM asal Pekalongan) ketika saya tanya tentang toleransi, dia jawab intoleransi terjadi karena itu kembali ke diri masing-masing. Ada yang orang yang tidak bisa memaknai toleransi. Jawaban Tegar mirip-mirip lah dengan jawaban mas Angki

Toleransi itu memang harus dipaksa, karena kalau nggak dipaksa akhirnya jadi awam dalam hidup keberagaman.

Dari sejak kecil, anakku misalnya, sudah harus dipaksa untuk punya toleransi. Nah toleransi kan bukan hanya warna kulit. Toleransi tuh antara pembantu, tukang sampah, pakde bude, jadi semua yang harus kita hadapi ya kita harus punya sikap toleransi yang tinggi, dan bahkan terhadap binatang dan tumbuhan. Apapun sebetulnya. Kita buang sampah sembarangan artinya kita nggak punya toleransi terhadap semuanya, terhadap alam semesta, manusia, binatang, tumbuhan yang berada di situ, ekosistem yang berada di situ. Jadi luas banget toleransi itu, dan wajib. Maka harus dipaksakan. Kalau nggak bubar. Dan perang. Efeknya perang.

Contohnya Suriah sekarang sudah nggak punya toleransi. Agamanya sama, jadi mono dan nggak jelas juga kan. Semua jadi terkesan jelek. Jadi nggak punya sedikitpun nilai untuk bertoleransi. Akhirnya perang dan kacau, dan ini yang mereka inginkan. Kalau sampai merembet ke negara lain saya pikir ya salah besar.

Dalam setiap kegiatan di BBM, mas Angki benar-benar membuka seluruh dapur mas Angki ke anak didik. Lalu saya tanya ke beberapa teman-teman tentang perubahan cara pandang apa yang sudah kalian dapat sebelum dan sesudah ikut BMM bersama Angki? Misalnya Haidar (peserta BBM asal Bengkulu) menjelaskan tentang saat bagaimana mas Angki jelasin tentang Ganja. Haidar awalnya memandang Ganja negatif, jelek, jahat, tetapi ketika mas Angki jelasin segi positifnya, cara pandang Haidar berubah. Ternyata ganja ada segi positifnya, itu bisa untuk kesehatan, dll/. Nah beda lagi Evinda (Peserta BBM asal Madura), saat ia melihat salah satu karya mas Angki yang menggunakan kondom. Menurut dia setelah memandang itu, ya intinya “aku memandang ini dari agama mas. Kondom itu tabu. Dan boleh dipakai setelah menikah.” Pertanyaanku adalah kenapa mas Angki berani sekali membuka seluruh dapur mas Angki bahkan sampai ke ihwal yang menurut masyarakat luas itu tabu misalnya ganja dan kondom?

Karena saya hanya hidup sekali. Jadi alangkah baiknya pengalaman-pengalaman yang saya punya, ya kan terbuka itu pengalamannya dari tertutup. Kemudian jadi terbuka, yang saya pastikan keterbukaan saya punya nilai yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ya katakanlah dari ganja, saya dipenjara kan itu berarti saya bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan. Oke saya bersalah gitu. Tapi begitu masuk penjara saya mikir: kayaknya kalian yang salah deh, Undang-Undang kalian yang sangat merugikan teman-teman yang hanya satu linting, setengah linting, baru mau sekolah baru mau skripsi, jadi pendekatan yang sistematis itu kadang tidak menjawab hasilnya. Justru hukum dengan toleransi, dengan cara melihat latar belakangnya itu justru akan menambahkan orang untuk jadi nasionalis, menjadi membela negaranya gitu. Seperti polisi terpuruk karena persoalan-persoalannya. Yang sebetulnya ketika hukum itu punya toleransi, dia bisa dihormati oleh korban, atau pengguna, dalam konteks ganja.

Sekarang kredibilitas kelembagaan polisi terpuruk, ya stigmanya aja gitu. Keterbukaan saya memang punya nilai untuk jelas-jelas memasukkan wawasan yang non-akademik. Kayak pertama dulu awal anak-anak baru datang, saya bertanya “Siapa yang merokok?” nggak ada yang ngaku, tapi belakangan saya menemukan beberapa merokok dan mereka bilang “pak jangan lapor Kemendikbud ya, saya malu.” Terus saya bilang “lah kamu sama Kemendikbud malu tapi sama saya nggak malu?” Aku pernah SMA, ugal-ugalan itu di SMA biasa paling ngerokok, terus lama-lama ngerempong, ngentot, wis aku banget.

Itu jangan diulangi sikap tertutup tapi negatif begitu. Harusnya kita terbuka saja, tapi punya nilai gitu. Keterbukaan harus ada nilainya, nah sekarang anak-anak yang merokok kan jadi nggak punya nilai, minus mereka nilainya. Untungnya kalian sama PapaPu (Panggilan akrab anak-anak kepada Angki: red). Nah hari ini kalian harus menambah nilai dengan berkegiatan, agar kamu mendapat nilai untuk mengganti ilangnya nilaimu karena merokok sembunyi-sembunyi.

Nilai itu bukan hanya dari saya, tapi juga dari temanmu, dari Kemendikbud, dari BBM All Generation, dari semua yang melihat itu. Jadi perbaiki gitu. Keterbukaan saya bukan hanya karena saya seniman, tapi karena saya adalah manusia dan saya pernah mengalami pengalaman itu, jadi saya sanggup untuk melawan atau membenarkan beberapa yang dianggap orang awam tabu, itu bisa diperbaiki, bisa lebih dibuka dan bisa dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan.

Seperti ganja ya saya akhirnya pendekatannya ke medis gitu, dan hak untuk nyaman seperti merokok dengan tembakau, itu hak setiap orang. Seperti alkohol juga harusnya bisa dijual bebas, tapi poinnya lebih ke medis dan kemanusiaan. Keterbukaan yang lainnya banyak. Tentang unsur seksual. Kondom tadi itu kan tentang simbol, di penjara, penjara laki-laki pula, ya saya harus terbuka.

Bapakku tuh hakim. Sekarang sudah almarhum. Jadi, bapakku tuh koyo konco. Wis mulai SMA wis takon “kowe ngerokok ora?” “Wis ket kelas 3 SMP wingi pak”, dijawab “oh yowis.”

Nah yang penting jujur, jadi nilainya itu yang penting. Saya nggak pernah dipukul atau ditendang bapak. Saya masuk penjara pun, Ibuku sudah nggak kaget. Hanya mikir “coba kalau bapak masih ada” saya jawab “sudah toh bu, bisa saya urus sendiri kok”.

Sebenarnya memang saya urus sendiri kasus ini, tapi kemudian keluarga tahu. Saya urus sendiri karena bagi saya ganja ya ada resikonya. Nah menurut Ibu yang penting keterbukaan yang ada nilainya Ibu cuma bilang “yowis rapopo, tapi ini terakhir ya.” eh malah saya jadi aktivis (pegiat dan penggiat: red) ganja, ibuku bilang “Wah kowe ki jan...”

Mas Angki setelah kejadian masuk penjara malah menjadi aktivis ganja. Menurut mas Angki di Indonesia masih jauh nggak sih dari pelegalan ganja? Atau nggak usah terlalu jauh melegalkan, masih jauhkah kita dari menghilangkan stigma negatif ganja di Indonesia?

Stigmanya nggak akan hilang ya. Kayak stigma para narapidana selama hidup akan melekat, stigma negatif sebagai pembunuh keluar dari penjara itu buruk, padahal mungkin memang sudah berubah orangnya. Malah di dalam penjara itu saya belajar bahwa orang kriminal pembunuh itu kan karena emosi sesaat, bukan habit. Nah kalau narkoba itu karena habit, itu yang kadang nggak bisa berubah.

Stigma negatif ganja akan bertahan seterusnya, dan masih lama untuk menghilangkannya. Tetapi sistem yang akan mengayomi. Lah stigma polisi misalnya, walau mereka berusaha keras memperbaiki perilaku dan imej. Secara jujur stigma akan terus melekat. Secara sistem sebenarnya ini bisa diubah. Saya sudah bergerak sebagai aktivis bersama LGN (Lingkar Ganja Nusantara). LGN sendiri sudah berusia 10 tahunan.

Sudah ada lembaga semacam LGN yang selama 10 tahun berusaha mendobrak sistem dan mendukung legalisasi ganja. Namun, belum ada perubahan tuh. Bagaimana mas? Perlu apalagi kita?

Memang kita perlu keberuntungan sebenarnya. Beruntung dapat rezim yang otoriter atau nggak. Sama kayak di Amerika. Di sana juga butuh puluhan tahun, dia bahkan lebih dari 50-60 tahun untuk ganja masuk ke golongan 1. Dari tahun 60an. Akhirnya UU Negara-Negara PBB mereka abaikan gitu. Di Amerika ganja masih ilegal, kecuali untuk medis. Beberapa negara seperti Portugal dan Belanda sudah melegalkan secara total. Portugal bahkan apapun legal, cocain misalnya. Nah tingkat kejahatan di Portugal justru menurun, itu ada statistiknya.

Jadi ada satu Undang-Undang di ujung yang semua negara-negara, terutama negara berkembang kayak negara equator kayak Kamboja sampai Indonesia masih berpatokan pada UU itu. Namun, belakangan Kamboja, Vietnam, hingga Myanmar mengabaikan UU itu. Mereka tahu kalau itu buatan Amerika yang di era penyusunan UU itu memang sangat rasis, mereka tidak suka melihat orang-orang kulit hitam bersenang-senang, orang Hispanik ngentot sama kulit putih, Negro ngentot sama orang kulit putih. Mereka terus menyalahkan ganja. Ganja adalah salah satu sumber malapetaka. Akhirnya UU itu diabaikan. Akhirnya Malaysia sudah mau bikin UU legal medis, Filipina menyusul, jadi apalagi?

Indonesia? Selama orang gelar tikar, duduk bersama, ya maju sebenarnya. Untuk menyatakan legal medis itu kan sebenarnya sangat bernilai politisi gitu, bahwa kita tahu wawasan tahu pengetahuan. Legal medis kan bukan berarti segalanya harus pakai ganja gitu kan nggak. Itu bisa diatur. Tapi kita belum punya SDMnya. Nah, di sini lah muncul ruang untuk oknum-oknum korup yang memanfaatkan minimnya SDM

Aku di sini sinis dengan pemerintah, atau oknum pemerintah. Lah akhirnya Setnov (Setya Novanto: red) juga ketangkap, kepala DPR loh. Gila ini. Berarti kan sistem kalian yang salah, masak aku harus percaya sama kalian? Jadi kita udah, stigmanya karena kenyataannya gitu, kepala, wakil, asisten ketangkap semua satu rombongan. Nah kalian sebagai bagian dari sistem saja ketangkap semua, terus aku harus percaya sama siapa? Kalian tuh yang paling tinggi di pemerintahan. Nah ini level personal ya, akhirnya saya menjaga jarak dengan politik tapi saya menghargai sistem. Misalnya dengan tidak ikut pemilu. Aku hormat acara politik itu, tapi aku nggak mau terjebak. Dan aku akan loyal bekerja untuk negara ini mengenai sistem yang ada.

Keterbukaan mengenai ganja, Kemendikbud nyatanya tetap menunjuk aku untuk jadi maestro di BBM dari 2018 dan tahun ini. Padahal sejak tahun kemarin keterbukaan saya ya sama saja. Artinya rezim memandang ada value atau nilai pada diri saya. Dan bahkan kita nanti diundang untuk berpartisipasi dalam pekan kebudayaan nasional di bulan oktober. Ini sekarang kami (LGN) mulai mikir apa saja yang akan kami presentasikan.

Pekan Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan nanti adalah yang pertama. LGN diundang namun dengan syarat, tidak ada kata-kata Ganja. Jadi namanya kami ganti dengan Atas Nama Daun. Dan ini konsep saya. Persiapan untuk Pekan ini, kami sudah riset berbagai kitab, tradisi di Nusantara, dan itu akan kita presentasikan. Kami sadar pemerintah ngetes kita, seberapa wawasan kita, dan seberapa lucu cara penyajian dan seberapa cerdas. Maka saya punya ide mempresentasikan Cannamime, gabungan dari kata Cannabis dan Pantomime. Jadi akan ada video cara memanfaatkan akar ganja, tapi tidak ada ganja di situ, dengan pantomime yang dimunculkan adalah panci kompor, adegan merebus, diamkan beberapa menit, lalu tuangkan ke wadah. Itu cara mengajari manfaat akar ganja tanpa perlu ada ganja di adegannya.

Kemudian kita juga bikin video interview dengan Bangkit Sanjaya, seorang penyanyi duta anti-narkoba di masa lampau. Selain itu dengan Riri Reza, sutradara film Tiga Hari Untuk Selamanya yang ada adegan nyimeng. Kita ambil budaya yang sebenarnya sudah terbuat, kita gunakan itu untuk bukan menghapus stigma, tapi menambah nilai untuk menghapus stigma itu.

Lagipula sebenarnya sebanyak apa sih pengguna Ganja di Indonesia? Saya jamin 2 persen dari penduduk Indonesia aja nggak ada, lebih banyak tembakau. Karena sebenarnya nggak semua orang cocok dengan ganja. Hal ini sudah rahasia umum. Nah perangkat pemerintahan kita kan banyak, selain pemerintah ada melalui agama, atau NGO. Menurut saya non-pemerintahan bekerja lebih keras dalam ihwal legalisasi ganja ini.

Mendengar cerita mas Angki, dan kemarin juga mas Agan Harahap mengaitkan bagaimana pemakaian substansi dengan proses kreatif gitu. Memang harus ya mas? Atau penggunaan itu ngefek banget dengan proses kreatif?

Kalau cocok ya cocok. Kayak orang, ada orang yang tidak sholat dia akan gemeteran, mendapat experience ritual. Ini saya harus sholat di tempatnya nih. “Udah kamu sholat sini aja” “nggak bisa saya harus ke Masjid.” Jadi ada substansi yang bikin tenang. Ya sama, secara ilmiah bisa dijelaskan. Tapi bukan saya yang jelaskan. Kalau saya kan pengguna yang selama 20 tahun lebih terbukti bahwa itu bisa memicu kepekaan, bisa membuat keputusan, terus bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat orang lain. Tapi intinya saya memang sudah berbakat tanpa itu. Ganja hanya membantu relax, bahkan sampai mabuk berlebihan tuh pernah, karena memang itu tujuanku dan lingkunganku. Selama aku tidak mengganggu orang lain tidak salah, intinya kan itu.

Saya jadi ingat pernah baca tentang Bimbim (Slank) bilang “menulis lagu pas sadar tuh susah ya”.

Nah Dia yang ketergantungan itu. Karena kesadaran itu, kalau memang kamu berbakat, kamu pegang apa saja itu akan berubah jadi emas gitu. Berarti kamu yang ketergantungan, kamu yang cemen. Aku pernah debat sama Bimbim, “kenapa sih kalian terhadap Ganja, malah jadi teman BNN? Seolah nggak peduli tentang pengetahuan gitu, dengan isu dunia. Kamu cemen ah.”

Mereka juga tidak punya patokan, justru pas kalian sadar saat ini kalian malah tidak menunjukkan talentanya gitu. Kan kepentingan orang bukan karena substansinya. Dan kenyataannya karya Slank sekarang lihat saja. Kayaknya mereka harus kembali ke masa lalu, romantisme flower generation. Talenta itu yang penting. Itu akan menghasilkan karya yang maksimal. Lah aku nek ketergantungan ganja terus yo aku rakerjo nuh. Nyimeng terus ben dina kan yo males toh. Dadi ra kerjo. Dadi ra apik. Nah itu sing aku perdebatkan bahwa ganja tuh tidak seperti yang kadang digunakan seniman untuk tameng ya. Mencari inspirasi, sebenarnya nggak.

Aku pas sidang kasusku di pengadilan tuh dikasih dua pilihan, hakimnya bilang “Kamu ngerokok tembakau sakit, atau ngerokok ganja masuk penjara?” ya saya jawab “Saya masuk penjara aja lah bu. Daripada sakit.” ternyata orang pada tertawa. Wong ganja ora marai loro.

Kita sadar sebagai gerakan, banyak orang walau ada di pemerintahan memang belum sampai gitu… Tapi ada satu dari Komisi 3 Namanya Erma Ranik.

Nah di sini aku selalu komentar cerdas, #STOPGanjaPhobia. Aku selalu membuat hashtag #STOPGanjaPhobia, #MelawanTakut, #MembacaAlam, #StandUpCannabies aku buat itu. Agar ada kepercayaan individu. Tetapi follower LGN memang kebanyakan pemakai. Nah dari sebanyak itu follower IG kan nggak mungkin tapi semua pakai Ganja. Hanya 0 koma sekian persen.

Mas Angki menekankan kedisiplinan pada anak-anak peserta BBM, contohnya mas Angki marah-marah karena anak-anak nggak beresin piranti setelah melakukan proses scan. Menurut mas Angki Disiplin adalah sikap. Itu bagaimana mas?

Kalau mereka menguasai, ini pengalamanku, dari tidak disiplin menjadi disiplin. Karena kalau kamu tidak disiplin ya kamu nggak akan punya pekerjaan, dan kita tidak akan pernah dipercaya orang. Pada level apapun. Karena disiplin itu dimulai dari hal-hal kecil, yang sangat kecil. Yang mereka mulai sekarang. Karena [BBM] mewajibkan pembelajaran karakter, ya itu karakterku disiplin, maka mereka harus belajar itu.

Nggak hanya anak-anak, Kiki pun [asisten Angki: red], atau istriku pun harus ikut pola disiplinku. Karena saya pernah punya pengalaman ketika saya tidak disiplin saya tidak dianggap, apapun yang saya lakukan dan inginkan jadi tidak dianggap. Tetapi ketika kamu disiplin, orang semakin hormat, percaya dan semakin selektif. Orang-orang makin selektif saat memilih saya atau mengundang saya seperti itu. Termasuk program BBM ini, kalau 2018 aku nggak berhasil ya 2019 nggak akan ada lagi, ini salah satu contohnya.

Berarti disiplin memengaruhi proses kreatif dan hasil karya?

Ya memengaruhi cara hidup kita, termasuk cara berkarya itu tadi. Anak-anak bidangnya kan macam-macam. Jadi, ini pasti akan berkesan selama hidup mereka. Dan saya ingin setelah mereka pulang ke rumah masing-masing mereka berubah gitu. Ada perubahan itu kan nanti orangtuanya atau siapapun ikut seneng gitu, jadi bukan hanya lembaga [Kemendikbud] yang memilih mereka, tapi juga orang terdekat mereka, kembali lagi keluarganya, saya harap mereka seneng ada perubahan. Seperti ini kan [Tegar dan Noval], mereka berdua nilainya turun kan, ya mereka harus buat nilai baru gimana caranya.

Seperti saat saya masuk penjara nilai saya kan turun. Wah narkoba, nggak bener nih. Makanya saya terus bikin Yayasan Seni Penjara, ini untuk mengembalikan value saya. Ada Program Seni Penjara, ini untuk menambah nilaiku gitu. Juga menghilangkan stigma. Itupun harus disiplin. Di dalam penjara pun saya disiplin. Ternyata disiplin tuh ada di mana-mana. Kan ada jadwal piket di penjara, aku tidak peduli jadwal itu. Kalau lantai kotor ya saya sapu. “Lah kamu kan ora piket mas?,” wah saya nggak bisa gitu. Bajingan di depan selku bekas rokok banyak. Ya bersihkan saja, tanpa nunggu piket. Nah sikap saya itu justru memengaruhi narapidana lain. Mereka terus ikut bersih-bersih.

Ada evaluasi nggak untuk BBM 2019? Dan berharap dipanggil lagi nggak tahun depan?

Kalau saya sebagai maestro, kerja dari narasumber saya pikir nilainya tinggi ya, dan mereka cukup meluangkan waktu khusus untuk memilih maestro dan pelajarnya. Evaluasi yang menyebalkan atau menyakitkan nggak ada sih. Jadi, malah justru mereka para narasumber harus bekerja keras agar program ini bisa bertahan dan dibaca orang banyak. Supaya bertahan. Ketika dibaca orang banyak, orang penting, program ini akan sustain. Bisa jadi program BBM akan jadi milik masyarakat, bukan hanya dikelola pemerintah. BBM bisa menjadi gerakan warga yang dikelola bersama.

Catatan: Beberapa paragraf dari pengantar tulisan ini diambil dari feature yang penulis buat untuk program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2019 yang diadakan Kemendikbud. dimuat ulang di sini dengan beberapa perubahan untuk tujuan pendidikan.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Telah menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawan.net
Aris Setyawan

No Comments

Leave a Comment