Merayakan Kepulangan Joni dan Susi

Ugoran Prasad. (Foto: Donnie Trisfian)

I. Band Mitos.

Konon, band ini mendapat julukan sebagai band mitos. Kenapa? Karena secara kuantitas, band ini sangat jarang naik panggung. Jumlah pertunjukan langsung band ini bisa dihitung jari. Padahal tidak dapat dimungkiri, ada begitu banyak orang di kancah musik Indonesia menantikan dan berharap bisa nonton mereka secara langsung. Band ini adalah Melancholic Bitch alias Melbi.

Band mitos ini memang telah mencuri hati banyak orang. Balada Joni dan Susi, album kedua mereka menjadi titik di mana para pendengar terpukau dengan bagaimana cerdasnya Melbi merangkai diskursus sosial politik sebuah nasion ke dalam kisah percintaan sepasang kekasih: Joni, usia 21, dan Susi, usia 19.

Sementara itu album ketiga mereka Nkkbs Bagian Pertama, adalah sebuah masterpiece pengobat rindu. Saat dirilis, album ini langsung bikin heboh karena Joni dan Susi yang sebelumnya dalam pelarian, agaknya pulang kembali, walau terkungkung dalam sebuah rezim bernama Orde Baru.

Namun, Joni dan Susi hanya pulang sebentar. Pasca-Nkkbs, mereka berdua kembali melanglang buana entah ke mana. Jika Joni dan Susi adalah pengejawantahan Melancholic Bitch, maka kugiran asal Yogyakarta ini hanya manggung sedikit sekali sejak perilisan album ketiga. Setelah itu muspra, menjadikan julukan band mitos makin melekat erat.

Setidaknya sampai malam itu (Kamis, 13/02), label band mitos akhirnya luruh. Kenapa? Karena di malam yang mendung tapi tak kian hujan itu akhirnya Melancholic Bitch menggelar sebuah konser di Liberates Creative Colony, Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, untuk makin memeriahkan konser, Melbi mengajak serta grup folk kondang Sisir Tanah untuk berbagi panggung.

Acara ini dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat. Dan beberapa hari sebelum konser, publik sudah geger karena tiket yang tersedia hanya ada 300 buah. Kegegeran muncul karena tiket itu rupanya jadi rebutan dan ludes sehari setelah diumumkan penjualannya.

Liberates Creative Colony, studio seni dan art space ini berada jauh dari pusat kota. Ia berada di Jalan Kaliurang (Jakal) atas, hampir mendekati kampus UII. Meski gate baru akan dibuka pada pukul 19:00, sejak maghrib kawasan sekitar Liberates sudah riuh dengan para penonton. Beberapa nongkrong dan merokok di depan venue, beberapa menyambangi warung burjo yang berada persis di depan Liberates.

Mereka semua sedang menanti sebuah momen di mana Joni dan Susi kembali pulang. Mereka semua ingin merayakan kepulangan Joni dan Susi.

II. Tolak Angin

Tepat pukul 19:00 konser dimulai. Sisir Tanah didaulat untuk manggung pertama. Sendirian, tanpa musisi pendukung lain, Bagus Dwi Danto mendendangkan tembang-tembang hitsnya seperti “Lagu Pejalan”, “Lagu Cinta”, “Lagu Hidup”, hingga “Konservasi Konflik.”

Yang menarik dari penampilan Sisir Tanah adalah, banyak celetukan-celetukan yang Danto lontarkan di sepanjang penampilannya. Dan ini cukup bikin para penonton ngakak to the max. Entah disengaja atau memang lupa beneran, terlihat beberapa kali Mas Danto lupa dengan lirik lagunya sendiri, atau perkara teknis seperti smoke gun yang menyemburkan asap dan ia jadikan bahan candaan.

Dengan segala kekurangannya seperti lupa lirik atau lupa akor gitar, penampilan Sisir Tanah malam itu cukup menghangatkan suasana. Tidak sedikit penonton yang tampak hafal dengan lagu-lagu Sisir Tanah dan turut bernyanyi di sepanjang penampilan Sisir Tanah.

Sisir Tanah menutup penampilannya dengan memanggil Jeje alias Jason Ranti ke panggung. Jeje kejatah menggenjreng gitar, sementara Danto bernyanyi dan memainkan harmonika. “Lagu Romantis” menjadi nomor penutup penampilan Sisir Tanah malam itu, dan masuklah konser ke menu utama: penampilan Melbi.

Keriuhan Penonton. (Foto: Donnie Trisfian)

Ketika agak kebingungan ingin menulis apa tentang konser Melbi semalam. Seseorang bernama Ayu mention saya di twitter. Ia memberi masukan bahwa saya bisa membahas pembagian kerumunan penonton yang ada malam itu. Semuanya memang hanya noktah di tengah kerumunan, namun, terjadi pemilahan lokasi berdiri yang menurut Ayu adalah sebagai mana berikut:

* Mas-mas sesepuh berbekal Tolak Angin di kanan panggung (pendhapa).

* Mbak-mbak kepala tigaan seperti akyu di depan mixer.

* Couple gelendotan nyanyi banter bgt ‘Sepasang Kekasih’ berada di baris paling belakang.

Masuk akal. Saya kemudian menggali benar-benar ingatan saya dan menemukan bahwa posisi berdiri para penonton itu memang terlihat demikian. Di depan panggung pas adalah tempat di mana para penonton muda yang—meminjam istilah Bang Haji Rhoma Irama—berdarah muda. Mereka, baik perempuan maupun laki-laki, berada di depan panggung untuk bisa moshing, headbanging, bahkan ada beberapa tampak melakukan stage diving.

Sebelah kanan panggung berisi mas-mas dan mbak-mbak yang (maaf) sudah sesepuh berusia di atas 30 tahunan. Mungkin mereka merasa boyoknya sudah tidak mampu diajak berjibaku di moshpit. Maka, dengan tenang mereka memilih menonton di samping panggung.

Penonton jenis ketiga adalah para pasangan yang barangkali menjadikan lagu “Tentang Cinta”, “Distopia”, dan “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” sebagai anthem kisah asmara. Mereka memilih untuk berada di barisan paling belakang penonton. Seraya menyanyi bersama, mereka tampak nglendot, berpegangan tangan dengan erat, seolah kiamat sudah dekat.

Terbaginya tempat berdiri para penonton ke dalam tiga kategori ini sebenarnya merupakan sebuah representasi dari betapa luasnya cakupan pendengar Melbi. Saya ingat di era 2013-an ketika situs web Jakartabeat masih eksis, dalam sebuah wawancara Ugoran Prasad pernah bilang “konsep fansclub adalah sebuah konsep yang menjijikkan.” Kenapa? Karena konsep ini menimbulkan dikotomi antara artis dan penggemar/fans. Menjadikan ada jarak.

Namun, terlepas dari pernyataan Ugo tersebut, tidak dapat dimungkiri—dan saya yakin Melbi tak punya kuasa untuk melakukan apapun—fanbase Melbi sudah menjadi sedemikian besar. Mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, dan pekerjaan. Dan mereka mencintai Melbi dengan sungguh-sungguh. Titik.

Mana peduli mereka dengan badan yang mungkin sedang sakit-sakitan. Demi menghadiri momen langka ini mereka menebas sakit itu dengan satu atau dua sachet Tolak Angin. Ya, Tolak Angin bak “Jimat orang kota.” Tokcer menyembuhkan beragam penyakit.

Songlist (Foto: Nissa Fijriani)

Tanpa babibu banyak cakap (bahkan tidak ada MC di konser itu), Melbi naik panggung dan menampilkan 17 (ya, tidak salah, 17 alias tujuhbelas) lagu. Kebanyakan lagu yang ditampikan diambil dari album Balada Joni dan Susi dan Nkkbs Bagian Pertama. Namun, ada juga beberapa lagu dari album Re-Anamnesis dibawakan.

Pecah. Semua penonton ikut bernyanyi di 17 lagu yang ditampilkan. Bahkan, suara sang vokalis Ugo, dan backing vocal Sita dan Ayu sampai seolah tak terdengar, inaudible, kalah dengan teriakan para penonton. Wajar. Para penonton girang bukan kepalang, mereka sedang menikmati ekstase bunyi, eargasm.

Sebagai seorang frontman yang kharismatik, Ugo tidak terlampau banyak bicara blablabla semacam “halo semua, apa kabar? Wah senang sekali ya malam ini ramai.” Alih-alih, Ugo malah sering seolah berakting ia tengah menelpon seseorang dan berujar “halo..”. kemudian menyambungkan ucapan halo itu dengan clue lagu apa yang akan dibawakan selanjutnya.

Di luar kharisma Ugo, penampilan Melbi terasa begitu intens dan megah berkat para musisi pendukung lainnya. Di luar para personel asli, ada Danish Wisnu dari FSTVLST didapuk menghentak drum dengan gahar, Ayu Saraswati dari Mengayun Kayu mendentingkan kibor dan menjadi penyanyi latar bersama Arsita Iswardhani dari Teater Garasi, Uya Cipriano penyanyi dan gitaris Last Elise kejatah menggenjreng gitar menggantikan Yennu Ariendra yang tak dapat hadir karena sedang melakukan tur ke Eropa.

Dan kejutan muncul saat lagu “Distopia” dibawakan. Silir Pujiwati, biduan yang suaranya memang terekam di lagu “Distopia” tiba-tiba naik ke panggung dan berduet dengan Ugo menyanyikan bait romantis “kereta mengantar kita, menuju semesta berdua, menuju semesta berdua.” Ekstase, sungguh sebuah kisah cinta yang nikmat tak tepermanai.

Silir Pujiwati (Foto: Donnie Trisfian)

Tak banyak yang dapat dikatakan dari penampilan Melbi di kamis malam itu. Barangkali tiga kata ini sudah cukup mewakili tanpa terlalu banyak penjelasan: sempurna, sempurna, sempurna.

Atau, sebenarnya ada begitu banyak hal—kelebihan dan kekurangan—konser Melbi malam itu yang bisa dikatakan. Namun, karena saya terlampau girang dan ngefans berat sama Melbi (sampai di lagu “Cahaya, Harga” saya merasa gatal terdiam di bagian belakang, lalu memutuskan merangsek ke depan panggung dan melakukan stage diving dan moshing) jadilah saya tidak bisa menuliskan hal-hal itu.

III. Tentang Cinta

Di luar lagu-lagu yang terdengar dan terkesan politis karena membahas perkara aktivisme, kekerasan yang dilakukan negara, berbagai kasus HAM, sampai perkara moral, sebenarnya ada satu benang merah yang menghubungkan musik Sisir Tanah dan Melancholic Bitch: Cinta.

Cinta menjadi topik besar yang diangkat dua band kawakan Yogyakarta ini. Cinta dalam semesta Sisir Tanah dan Melbi tentu saja bukan sekadar “Cinta” afektif antarkekasih. Mereka bisa saja bicara keduanya, seperti Sisir Tanah dan barisan kata “Jika aku adalah cinta, aku hanya ingin mencinta, menjadi kupu-kupu, menjadi kupu-kupu di perutmu”, atau rayuan gombal Joni kepada Susi a la Melbi dengan bait “Katakanlah jika, aku Israel kau Palestina,..” dan seterusnya.

Tetapi cinta dalam semesta ini dapat dimaknai secara lebih luas: cinta kepada kawan dan saudara, maka, tanah dan kepemilikannya harus dibela dari serbuan kongkalikong pemerintah dan pengusaha dan lars militer. Bahwa Kulon Progo, atau Rembang, atau di manapun, cinta pada sesama dan kampung halaman adalah sesuatu yang harus tetap diruwat dan dirawat.

Melbi, dengan gagah berujar “melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara.” Ini adalah tantangan lantang pada otoritarianisme militer yang selalu hadir di seluruh aspek kehidupan NKRI harga mati. Paling santer di era Orba, sekarang juga ada walau agak terselubung. Bahkan, lamunan pun tak luput dari tentara yang masuk merasuk. Bak thought police dalam semesta distopia George Orwell.

Maka, Cinta yang bisa menjaga lamunan agar kedap tentara. Cinta yang menjadi dasar kuat para kombatan di wilayah konflik melawan popor senapan dan lars keras. Mempertahankan tanah ulayat dan harkat martabat.

Cinta, bukan hanya perkara senyawa endorfin yang bikin sumringah sepasang kekasih. Cinta adalah perkara relasi-kuasa. Maka, ia berkelindan dengan banyak hal. Seperti perkara moral di mana cintamu pada seorang istri dapat dimentahkan oleh sebuah aturan moral yang dinormalkan bahwa “istrimu harus perawan” saat dinikahi. Cinta yang bikin Susi sakit, dan Joni terpaksa harus mencuri di Supermarket, kisah cinta tragis ini adalah produk dari kapitalisma yang merangkul dan menguasai setiap aspek kehidupan manusia, sampai ke deretan rapi barang-barang yang dijual di supermarket.

Dengan musiknya, Melbi—dan Sisir Tanah—menantang dogma, menantang tatanan moral, ekonomi, dan sosial politik. Mereka mewakili perasaan kita yang sudah jengah karena tinggal di Negara +62, Negara yang mengabaikan perkara HAM, menghadirkan kekerasan yang secara simultan menjadikan “wartawan dibunuh, aktivis dibunuh, seseorang dibunuh”. Negara yang sebenarnya kaya tapi menjadikan kita menjadi warga negara yang papa dan harus berujar “jika aku miskin, kau negara.”

Pertunjukan Melbi x Sisir Tanah malam itu adalah tentang cinta, dan hal-hal krusial lain yang harus dibicarakan. Karena kalau tidak dibicarakan, ia akan mengendap menjadi nestapa. Tidak bisa tidak, ihwal kekerasan Negara dan solidaritas pada para kombatan di kampung halaman harus dibicarakan. Dalam bentuk apapun. Baik dalam artikel rigid penuh teori di Indoprogress, atau dalam bentuk karya musik yang digubah Sisir Tanah dan Melancholic Bitch.

IV. Semoga Semua Sudah Beol

Air Mineral (Foto: Donnie Trisfian)

Sebagaimana yang dipaparkan Danto di panggung, konser Melbi malam itu dipersiapkan dalam tempo singkat. Hanya beberapa hari. Namun semua hal tertata dengan apik. Ada banyak tempat sampah di sekitar venue, ada toilet di pojokan venue yang dapat digunakan penonton untuk buang air kecil dan beol, jadwal alias rundown acara juga berjalan tepat waktu, sementara di bagian tata suara dan lighting, tidak terlihat dan terdengar kendala yang terlalu kentara.

Sebuah konser yang mantap jiwa, karena ini semua dilakukan secara do it yourself alias D.I.Y., tidak ada sponsor besar yang menyokong dana produksi. Semua dibebankan ke uang hasil penjualan tiket yang berjumlah 300an buah.

Tidak menutup kemungkinan. Model pengadaan konser a la Melbi di Liberates malam itu akan menjadi cetak biru yang ditiru artist lain yang ingin menghelat pertunjukan. Bahwa ketakutan “sponsor apa yang akan membiayai konserku?” itu tidak perlu, mengingat asal dikelola dengan runut dan apik, sebuah proyek musik dapat dipentaskan dengan modal nominal dan tenaga sendiri.

Akhir kata. Kita harus mengucapkan terima kasih karena Melbi sudah membawa pulang Joni dan Susi kembali ke Yogyakarta. Kita telah merayakan kepulangan Joni dan Susi. Kini, saatnya kita berdoa agar Joni dan Susi tak lagi pergi dalam pelarian yang terlalu jauh, agar kita punya kesempatan lagi untuk menyaksikan sepak terjang mereka di atas panggung.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Telah menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawan.net
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)

No Comments

Leave a Comment