Monita Tahalea: Memandang Waktu dari Balik Jendela

Panta rhei kai ouden menei. Semuanya mengalir, tiada yang tetap. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Herakleitos, filsuf Yunani yang hidup di abad ke-6 hingga 5 Sebelum Masehi. Bagi Herakleitos, tidak ada satu hal yang tetap; semuanya berubah. Ia menganalogikannya dengan kaki dan aliran sungai. Analogi tersebut menunjukkan bahwa kaki kita yang berpijak di sungai tidak akan pernah dialiri oleh air yang sama. Sederhananya, semuanya menjadi.

Walaupun semuanya menjadi, pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa slogan Herakleitos justru menampilkan suatu ketetapan. Suatu hal yang ada akan terus berubah dan menjadi; maka perubahan dan kemenjadian itu adalah suatu keniscayaan. Jika kita menggunakan prinsip dari Herakleitos dan menerapkannya kepada waktu, maka waktu akan terus menjadi dan bergerak. Kita menemukan keabadian dalam kesementaraan. Temporalitas waktu adalah sesuatu yang permanen (walaupun ini tentu masih bisa diperdebatkan secara filosofis).

Waktu pulalah yang—bagi saya—merupakan entitas pemersatu kesepuluh lagu di Dari Balik Jendela, album Monita Tahalea yang baru saja dirilis pertengahan Maret tahun ini. Album ini terbit lima tahun setelah Dandelion (2015), dan sepuluh tahun setelah album perdananya, Dream, Hope & Faith (2010). Waktu yang dibutuhkan sebagai jarak antara satu album dan lainnya adalah lima tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Monita bertransformasi dan semakin menemui kematangannya sebagai musisi. Pada album pertama, Indra Lesmana bertanggungjawab sebagai produser. Jadinya, album yang dihasilkan bernuansa jazz yang kental. Album kedua terdengar lebih pop dengan penekanan pada suara gitar akustik yang khas, penanda kolaborasi Monita dengan Gerald Situmorang sebagai produser. Lantas, bagaimana dengan album ketiganya?

Perihal Waktu

Album ini dibuka dengan nomor instrumentalia berdurasi 57 detik, “Pada Waktu”, yang begitu mengawang dan dreamy. Kurang dari satu menit, saya seolah dibawa ke sebuah lorong, bertanya-tanya, apa yang ada di ujung sana? Saya seolah diajak Monita melayang sejenak untuk mencapai ujung lorong itu. Pada lagu kedua “Sesaat yang Abadi”, Monita mulai bernyanyi tentang waktu.

Oh, bila sesaat itu abadi / izinkan aku di sini sebentar lagi…” ucap Monita, seolah berandai-andai pada diri sendiri, dengan iringan petikan gitar. Ia mendamba waktu yang bisa membekukan suatu kesementaraan; suatu hal yang begitu kontradiktif. Dalam lagu ini, efek yang dreamy dari lagu pertama masih tersisa, seolah-olah menyambut waktu dengan suatu gugatan yang pelan. Monita hanya ingin menikmati waktu pagi yang saban hari cuma menyapa beberapa jam saja. Akan tetapi, seiring berjalannya lagu, Monita akhirnya menerima bahwa sesaat yang ia damba untuk menjadi kekal adalah sesuatu yang justru tidak akan pernah kembali. Maka, dengan sopan ia meminta izin untuk bernyanyi sekali lagi.

Ada saat-saat yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup. Saking menyenangkannya, kita seringkali berharap untuk membekukannya lebih lama lagi, syukur-syukur mengabadikannya. Akan tetapi, bukankah kesementaraan membuat waktu tersebut menjadi begitu berharga? Bayangkan jika kita terus menerus hidup dalam momen yang sama, tak lantaskah ia menjadi banal? Monita seolah merangkum egoisme dan ketidakberdayaan manusia, sekaligus memberikan solusi atas ketidakberdayaan tersebut. Jika kesesaatan dalam sesaat adalah suatu hal yang abadi, mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya dengan sebaik mungkin. Jika Monita hendak menjalaninya dengan bernyanyi, kita tentu bisa menemukan jalan lain untuk kita sendiri.

Petikan gitar kembali datang dengan suara gemericik air. Monita dan Ananda Badudu lamat-lamat melagukan lirik yang terdengar seperti pengulangan baris-baris haiku. Saya pikir, keputusan Monita mengajak Ananda berkolaborasi dalam nomor “Pada Air” dan “Pada Angin” adalah pilihan yang tepat. Petikan gitar dan suara yang lembut dan pendek-pendek khas Ananda padu menyatu dengan warna suara Monita. Saya bahkan merasa tidak ada penyanyi yang lebih pantas untuk menyanyikan lagu ini bersama Monita. Lagu ini, bagi saya, begitu terbuka dan polos dengan kenyataan. “Aku berserah pada waktu / Pasrah pada air / Terserah kau bawa ku / Ke mana pun mengalir // Berserah pada waktu / Pasrah pada angin / Terserah kau bawa ku / Ke mana pun berhembus…” Ia menunjukkan satu hal yang juga lekat dengan manusia: ketidakberdayaan.

Perihal Kepasrahan

Manusia menjadi jangkar atas waktu (sekali lagi, perdebatan filsafat terkait ihwal ini masih berlangsung, membincangkannya adalah lain soal). Ia menandai detik ini, atau sekarang, sebagai pemisah antara masa lalu dan masa depan. Sekarang adalah sementara dan terus mengalir. Saya telah menyebut bahwa itulah yang membuat sekarang yang sesaat ini istimewa dan pantas untuk dilalui dengan sebaik mungkin. Walaupun tentu ada masa-masa dimana kita tidak bisa melaluinya dengan baik, misal dalam kesakitan. Saya dan Anda tentu pernah mengalaminya. Dalam kesakitan saya, kawan-kawan pun sering meyakinkan bahwa: waktu ini akan lewat, waktu juga yang akan menyembuhkan.

“Laila” memotret hubungan antara kesakitan dan waktu dengan baik. Berbagai bebunyian elektronik seperti synthesizer dan dentingan piano mengiringi Monita sayup memanggil-manggil dari kejauhan, “Laila…” Laila menceritakan si aku (atau si Laila?) yang tengah merasakan kesakitan yang begitu dahsyat, tetapi tetap berpegang setia pada hal yang lebih baik di waktu mendatang.

Bersukalah dalam pengharapan / Sabar dalam kesesakan / Dan bertekunlah di dalam doa / Teguhlah hai kau jiwaku…” nyanyi Monita dalam bagian chorus kedua. Monita secara langsung mengutip Roma 12:12 dan lagu ini menjadi begitu megah dalam kesederhanaan. “Laila” tidak menjadi megah karena kutipan tersebut berasal dari Alkitab, namun karena kutipan tersebut—bagi saya—adalah suatu bentuk keikhlasan manusia dalam menjalani hidup. Doa adalah salah satu cara, kalau tidak bisa dibilang cara terakhir, yang bisa manusia lakukan setelah menunaikan segala usaha terbaik. Sebab apa yang kita ketahui tentang masa depan? Bagi saya, doa adalah salah satu bentuk perlakuan paling jujur atas telapnya seorang manusia.

Kini saya, dan mungkin Anda, seringkali dipenuhi kemarahan terhadap dunia yang begitu gonjang-ganjing. Situasi politik yang keruh, ekonomi yang kapitalistik, ketidakadilan gender, bahkan pandemi coronavirus. Kita berhak untuk marah, dan itu sama sekali tidak salah. Akan tetapi, “Laila” hadir seolah membawa ketenangan yang selama ini tak sadar kita perlukan. Pasrah dan berserah, bagi saya, tidak bisa semata-mata diartikan sebagai sesuatu yang lemah dan pengecut. Justru itu merupakan suatu keberanian tersendiri yang tidak semua orang bisa lakukan. Artinya, kita mampu memahami bahwa sesungguhnya ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sebagai manusia; ada hal-hal yang berada di luar kuasa kita.

Betapa rendah hatinya seorang manusia yang mau mengakui ketidakberdayaan dan keterbatasan gerak dirinya. “Laila” menjadi pengingat akan betapa kecilnya saya di titik biru pucat bernama Bumi ini. Betapa sederhananya untuk tidak menjadi congkak. Saya dan Anda toh adalah Laila juga, sama-sama manusia yang juga menghidupi waktu dengan begitu singkat. Justru dengan pengakuan atas ketidakberdayaan kita, manusia bisa memanfaatkan apapun yang dipunya dengan sebaik mungkin. Selain itu, manusia yang bukan apa-apa ini juga bisa menghargai entitas lain sebagaimana mestinya, salah satunya waktu. Dan ya, waktu pun terus mengalir…

Perihal Sisi Lainnya

Kenangan akan waktu-waktu yang membahagiakan juga ditampilkan Monita dalam album ini. Misalnya dalam “Tapak Hening”, Monita menggambarkan besarnya harapan anak-anak di Bukit Wairinding, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Lagu yang merupakan kerjasama Monita bersama Bayu Risa, Yosua Gian, dan Theoresia Rumthe ini menunjukkan sisi ceria dari album ini. Keceriaan lainnya juga nampak pada “Sibu-sibu” dan “Sayonara”, penutup album yang manis.

Nomor lain yang juga merupakan favorit saya adalah “Jauh Nan Teduh” yang juga menampilkan Ananda Badudu. Saya bisa membayangkan suasana perjalanan berkendara di tengah dingin, kabut, dan seringkali hujan, di daerah Pancasari, Buleleng, Bali, ketika mendengarkan lagu ini. Semua instrumen lagu ini terdengar begitu pas sesuai porsinya. Apalagi ditambah suara Ananda yang lembut dan pendek-pendek (oke, saya mengatakannya dua kali dalam tulisan ini). Sejuk sekaligus memeluk, teduh sekaligus hangat. Dan ya, terkadang, kita cuma perlu untuk membagi waktu bersama dengan seseorang yang kita kasihi. Untuk saling mendekap, melipur pilu, atau melipat asa atas waktu yang akan datang.

Ah, betapa kita begitu rapuh sebagai manusia, dan Monita Tahalea dengan percaya diri namun berhati-hati, mampu membuat saya menginsafinya. Dari Balik Jendela menampilkan Monita Tahalea yang tentu jauh lebih dewasa dari dua album sebelumnya. Kudos untuk Lie Indra Perkasa sebagai produser album ini. Dari segi lirik, musik, dan aransemen, album Monita ini kini menjadi favorit saya. Walaupun album perdananya masih menempati ruang tersendiri di hati saya. Dengan suara lembutnya, Monita Tahalea memperlihatkan indahnya ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu yang ia maknai sendiri, dari balik jendela masing-masing.

Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani

Seorang pendengar musik yang biasa-biasa saja. Sepulang lulus sebagai sarjana filsafat dari Yogyakarta, kini ia mengisi hari-hari dengan mengelola program-program edukasi lingkungan di ROLE Foundation, Bali. Bisa ditemui di @raniokt (Instagram dan Twitter) dan Oktaria Asmarani (Facebook)
Oktaria Asmarani

Latest posts by Oktaria Asmarani (see all)

No Comments

Leave a Comment