Serunai.co
Ulasan

Wong (Nom) Dermayu Ngomong: Bagaimana Ketercerabutan Dicatat oleh Tangan Pertama

Setiap sebulan sekali, saya pasti mengunjungi sebuah perpustakaan yang juga merupakan toko serta penerbitan di Yogyakarta. Namanya O.TH yang adalah singkatan dari Octopus dan Toko Hitam. Biasa membunuh waktu dengan bergelas kopi, hari itu, saya saling tukar cerita dengan Kang Adhe. Robi dan Mas Dodit. Ketiganya adalah punggawa di O.TH.

Kami ngobrol ke sana kemari hingga tak dinyana tiba pada pembahasan mengenai perkebunan. Terkhusus perkebunan jati yang membentang dari Kecamatan Haurgeulis, Indramayu hingga perbatasan Sumedang, Jawa Barat. Bentang tersebut adalah wilayah terluas perkebunan jati di Indramayu sehingga menyimpan potensi ekonomi tersendiri. Bayangkan, dengan satu benih jati yang dibanderol seharga Rp1.500 saja, banyak orang tergiur dan berguru sambil berharap bisa meraup cuan dari pembiakan varietas itu.

Tetapi pada waktu tertentu, sebagian potensi itu lenyap seiring dengan mengularnya jalan tol di bentang tersebut. Wilayah perkebunan jati dari Kecamatan Bantar Waru, Indramayu hingga perbatasan Sumedang tersapu jalan tol.

Sampai di situ, Mas Dodit menyanggah obrolan kami. “Ada buku tentang Indramayu di dalam, lho. Isinya kupikir pas banget sama yang kita bicarakan. Bukunya tentang jurnalisme warga gitu, Gal!,” ujarnya dengan sangat yakin sehingga mendorong saya untuk mencari buku yang dimaksud. Dia memang perayu ulung yang tahu betul bagaimana menjual dagangannya. Tetapi jika tidak begitu, mungkin saya juga tidak akan bertemu dengan buku yang berjudul Wong (Nom) Dermayu Ngomong.

Wong (Nom) Dermayu Ngomong adalah antologi tulisan yang dieditori Saptaguna. Buku yang terbit tahun 2007 silam ini lahir lewat kerja sama antara Pustaka Rihlah dengan Dewan Kesenian Indramayu. Isinya adalah keresahan pemuda Indramayu terhadap ruang tinggalnya. Sepanjang 359 halaman, buku bertajuk “wacana kritis pemuda Indramayu” ini menyoal bagaimana pembangunan dan modernitas mengubah lanskap manusia serta kota yang dikenal memiliki varietas unggul buah mangga itu.

Seperti misalnya bagaimana krisis muncul di Indramayu sebagai ekses dari pembangunan jalan tol. Jalan bebas hambatan itu memanjang dan menghunus degup jantung Indramayu sebagai salah satu kota yang dilewati Jalur Pantura yang tersohor itu. Kini jalur itu tak seramai 10 tahun lalu. Padahal sejak kemerdekaan, bisa dibilang lalu lalang mobilitas orang di jalur yang melewati Indramayu itu adalah hela-tarik nafas Indramayu.

Baca Juga:  Moshing Bersama Nasida Ria

Mereka yang menadah rezeki dari dinamika tersebut kehilangan pelanggan. Padahal kerap kali orang-orang singgah untuk sekadar beristirahat atau membeli oleh-oleh macam mangga dan makanan asin-pedas khas Indramayu yang diperjualbelikan di sepanjang Pantura tersebut. Bisnis jual-beli tubuh yang dahulu ramai, kini mulai sepi. Sawah dan perkebunan jati telah salin rupa menjadi pabrik-pabrik dan pembangunan PLTU terbesar di Pulau Jawa dan yang menuai konflik agraria selama menahun.

Pada bagian lain, buku ini juga menyoal bagaimana pembangunan itu mengubah peta profesi wong Indramayu. Mereka yang awalnya merdeka di tanah sendiri sebagai petani, pedagang, pengusaha dan buruh perkebunan jati harus menggadaikan kemerdekaan itu. Maka maraklah profesi sebagai buruh migran menjadi pilihan terakhir untuk bertahan hidup.

Meski awalnya kondisi tersebut merupakan salah satu “keterpaksaan”, namun kini hal itu menjadi sangat biasa. Saya menjadi saksi bagaimana pembangunan dan ketercerabutan manusa begitu akrab. Beberapa anggota keluarga saya, terutama yang perempuan, menjalani profesi penuh resiko sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Saking biasanya, mereka yang lulus dari lembaga pendidikan tinggi dan memiliki titel sarjana pun menganggap pekerjaan itu sebagai pilihan yang lumrah.

Hal itu tidak terjadi begitu saja. Banyak dari mereka cenderung memilih pekerjaan itu semata-mata agar bisa menghidupi dan tetap terikat dengan keluarganya meski resikonya jauh lebih besar. Tanpa sadar, mereka harus bekerja dan hidup di bawah intaian perkosaan hingga kematian sebagaimana yang sering muncul di berita online.

Faktanya delapan dari sepuluh TKW asal Indramayu bermasalah. Forum Komunikasi Buruh Migran Indramayu (FKBMI) menyebut bahwa banyak buruh migran Indramayu rentan mengalami kekerasan dan mengalami manipulasi berlapis dari berbagai pihak mulai dari agen, birokrasi dan tempat kerja mereka. Kondisi tersebut tak jarang bermuara pada permasalah pelik yang disebut trafficking.

Trafficking buruh migran adalah proses yang bukan main rumit dan melelahkan; mulai dari perekrutan, pemberangkatan, pemindahan, pengangkutan hingga penerimaan. Ada dua macam trafficking yang dialami para buruh migran di Indramayu: anak-anak yang diperdagangkan sebagai pekerja seks dan remaja hingga dewasa sebagai pembantu rumah tangga yang dikirim ke luar negeri.

Baca Juga:  Alam Liar Sarkem Jogja, Debut Vivacity yang Menolak Bernasib Buruk

Semua orang berharap bahwa mereka akan dikirim ke Taiwan atau Hongkong. Karena hanya di dua negara itulah pekerja migran bisa berserikat, dokumen-dokumen tidak disita oleh majikan atau agen dan bahkan mereka diizinkan berkuliah sambil bekerja. Namun, nasib siapa yang tahu?

Resiko para buruh migran ini tidak hanya terjadi di luar negeri, bahkan beberapa buruh perempuan mengalami tindak pemerkosaan yang dilakukan oleh agen dan bahkan oknum di KBRI; dari proses birokrasi, keberangkatan maupun kepulangan. Cerita pelik ini dipaparkan begitu gamblang dalam buku ini melalui pengakuan salah satu narasumber.

Buku ini berhasil memancing ingatan dan refleksi saya. Posisi buku ini masih cukup relevan meskipun ditulis hampir 13 tahun silam. Ia adalah catatan penting yang bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan peristiwa kehilangan ruang hidup, sesuatu telah, masih dan akan terjadi di berbagai tempat. Bahkan imbas itu terasa oleh teman-teman muda millenial yang mengeluh sulit menabung untuk mendapat tempat tinggal, namun lebih mudah mendapat pekerjaan yang diupah murah.

Selain itu buku ini juga menunjukkan kepada kita bagaimana pembangunan lebih kerap menyengsarakan penduduk dan warga “asli” di mana wilayah tersebut dikembangkan. Saya teringat perjalanan lebaran tiap tahun ke Kecamatan Haurgeulis, Indramayu, tempat almarhumah nenek saya dimakamkan. Jalanan yang saya lalui itu hancur-lebur. Kadang beraspal, kadang hancur digenangi air berlumpur. Lalu lancar lagi sebentar sebelum kembali bergoncang hingga batu-batu kerikilnya berloncatan digilas ban mobil. Itu adalah jalanan paling tak konsisten yang pernah saya lewati. Tanpa musik dangdut pun, badan akan terus bergoyang-goyang demi menghindari berbagai rintangan.

Kondisi itu memancing pertanyaan: “Siapa sih yang peduli memperbaiki jalanan rusak akibat hilir-mudik truk tambang batu dan pasir itu?” Toh jalanan itu hanya dilewati penduduk lokal saja dan orang luar tak ada yang tahu. Orang lain hanya tahu tentang jalan tol dan Bandara Kertajati.

Baca Juga:  Eksperimen Alih Wahana dalam “Bank Pasar Rakyat”

Buku ini cukup penting untuk mewakili pihak-pihak dan masalah-masalah yang selama ini mungkin tak pernah menjadi wacana utama kita. Buku ini punya potensi untuk menggaungkan suara-suara mereka lebih luas. Wong (Nom) Dermayu Ngomong menjadi pintu masuk untuk menghadirkan permasalahan-permasalahan yang lindap.

Mesti begitu, menurut hemat saya, buku ini memiliki celah. Dari setiap kisah yang dipaparkan tidak ada narasi historis yang hadir sebagai konteks untuk membicarakan problem yang lebih luas dan pada akhirnya mengubah lanskap Indramayu secara sosio-kultural.

Seperti misalnya bagaimana proyek pembangunan kilang minyak EXOR I Pertamina, Balongan, Indramayu menjadi tonggak dari perubahan lanskap itu. Peristiwa itu tak dimunculkan. Padahal sejak beroperasi 1 September 1990 hingga 30 November 1994 proyek itu telah melenyapkan delapan desa di pesisir pantai dengan tambahan polusi dan limbah.

Beroperasinya kilang minyak itu itu tak hanya memengaruhi Indramayu secara ekologis. Sesama warga juga semakin kerap berselisih dan terlibat dalam konflik. Warga dari delapan desa yang tersapu proyek kilang minyak itu diintegrasi dan diasimilasikan menjadi satu desa besar. Bukannya perasaan senasib dan sepenanggungan yang muncul, warga justru kerap adu mulut. Terlebih jelang upacara-upacara tertentu akan dilaksanakan. Tiap desa punya kepercayaannya sendiri meski mengadakan pesta kebudayaan yang sama seperti Nadran, Mapag Sri, Sintren dan masih banyak lagi. Tata cara untuk mengawali ritualnya bisa sangat berbeda. Tentu tidak sederhana karena semua yakin bahwa caranya adalah cara nenek moyang mereka yang terbaik. Tapi justru sikap seperti itu bisa berujung hingga perkelahian antarpenduduk desa.

Tapi mesti begitu, hal tersebut tak mengurangi relevansi dan posisi buku ini terhadap pembahasan wacana yang lebih besar: ketercerabutan manusia. Terlebih ketika wacana itu hadir lewat tangan pertama seperti yang disodorkan buku ini. Ketika dibaca dalam konteks saat ini, wacana tersebut seperti tak lekang. Hari ini misalnya kita masih harus bersiasat dengan isu tersebut lantaran secara struktural tidak ada yang bisa menjamin ketercerabutan itu tereduksi. UU Minerba baru disahkan. Belum lagi RUU Cipta Lapangan Kerja yang eksploitatif hingga RUU P-KS yang sebenarnya merupakan salah satu tautan legal yang cukup kuat untuk melindungi pihak-pihak yang rawan lantaran pembangunan yang bias.

Judul Buku: Wong (Nom) Dermayu Ngomong: Wacana Kritis Pemuda Indramayu

Editor: Saptaguna

Penerbit: Pustaka Rihlah

Jumlah Halaman: 357

Terbit: Juli, 2007

Related posts

Gaze, Grace, Grief: Upaya Cecil Mariani Menerjemahkan Kegelapan

Isma Swastiningrum

Melawan Arus Para Pelawan Arus

Ferdhi Putra

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat”

Arie Kamajaya

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy