Merindukan Konser Musik

Pandemi COVID-19 memaksa konser musik beralih tempat dari panggung besar ke layar kecil. Apakah konser musik daring mampu mengalahkan sensasi menonton konser musik secara langsung?

Tahun 2020 dan 2021 adalah masa yang sulit. Kita tidak bisa memungkiri bahwa pandemi COVID-19 yang berlangsung selama hampir dua tahun ini telah mengobrak-abrik setiap lini kehidupan kita. Termasuk perihal menikmati musik.

Sebelumnya, kita bisa hadir dan menikmati pertunjukan langsung musik dengan mudah. Tiba-tiba selama hampir dua tahun kita dipaksa berpindah dari panggung-panggung besar ke ruangan kecil kita di rumah, lalu mendengarkan dan menikmati konser musik di layar. Baik di aplikasi Zoom atau di kanal YouTube. Semua dalam rangka mencegah penyebaran coronavirus dan COVID-19.

Menonton konser via teknologi streaming di ruang tengah kita memang terkesan nyaman dan menyenangkan. Namun, kita harus mengakui bahwa ada sesuatu yang magis dan ajaib dari menonton konser secara langsung dengan begitu banyak penonton lain di sekitar kita.

Ketika kita hadir dalam sebuah konser, kita tidak hanya sedang menikmati musik yang dipertunjukkan. Kita tidak hanya mencerap energi dari sang musisi yang tampil. Kita juga menyerap energi dari penonton lain di sekitar kita, dan ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa.

Musik kerap dimaknai sebagai saudara kembar siam dari bahasa. Jika kata-kata menyampaikan ide atau pengetahuan, maka musik hadir untuk menyampaikan emosi.

Berdasarkan pandangan ini, seorang musisi memaparkan pesan mereka—yaitu musik—ke para penonton. Penonton atau pendengar kemudian akan menguraikan pesan ini berdasarkan kebiasaan mendengarkan musik mereka masing-masing. Dengan cara inilah penonton menerjemahkan emosi yang disampaikan musisi melalui musik.

Kemudian muncul pertanyaan: jika musik mampu menyampaikan emosi, maka menonton konser daring di layar gawai atau komputer kita harusnya tak ada bedanya kan dengan pergi ke pertunjukan musik live? Karena di kedua kasus ini, toh penonton mendengarkan melodi yang sama, harmoni yang sama, dan ritme yang sama.

Jadi apa yang hilang dari menonton konser musik di layar komputer?

Jawaban singkatnya adalah bahwa musik tidak hanya sekadar menjadi sebuah medium penyampaian pesan. Saat disimak oleh banyak orang yang berkumpul di satu tempat yang sama, musik bisa menciptakan ikatan fisik dan emosional yang kuat.

Sebagai makhluk sosial, kita harus mengakui bahwa interaksi dengan sesama manusia itu penting. Tanpa adanya interaksi sosial, kita akan merasa menderita dan kesepian. Sebagaimana kata filsuf Alfred Schütz, dalam hal menikmati musik ada kondisi yang bernama mutual-tuning-in di mana banyak orang yang berkumpul di satu venue konser akan memunculkan kesamaan persepsi tentang sebuah musik.

Setali tiga uang dengan Alfred Schütz, pianis dan profesor dari Harvard, Vijay Iyer menjelaskan kondisi yang ia sebut being together in time.” Pokok dari gagasan Iyer ini adalah berkumpul bersama di satu venue konser untuk menonton musisi di panggung memunculkan rasa kebersamaan di satu waktu yang sama. Dan ini mengakomodasi kebutuhan manusia akan interaksi sosial.

Di dalam sebuah pertunjukan musik langsung, ada semacam sinkronisasi terjadi antara satu penonton dengan penonton lainnya, maupun antara penonton dengan sang musisi. Sinkronisasi ini yang menjadi patokan kapan dan bagaimana seseorang harus bergoyang mengikuti irama, kapan harus bertepuk tangan, dan kapan harus sing along alias bernyanyi bersama secara serentak.

Kesamaan persepsi akan sebuah musik, kebersamaan di satu waktu yang sama saat menonton konser, dan sinkronisasi. Kombinasi dari semuanya memunculkan pleasure atau kebahagiaan di diri sang penonton. Persentuhan kulit dengan kulit saat bergoyang atau lebih ekstrem lagi saat moshing atau crowd-surfing adalah sebuah pleasure yang tak tergantikan.

Ini yang hilang dari menonton konser di layar komputer atau gawai. Konser musik daring tidak dapat menghadirkan pleasure yang sama dengan yang mampu dihadirkan di pertunjukan musik langsung. Meski musik yang dimainkan bernada sama, rasanya akan jauh berbeda karena hilangnya interaksi antarmanusia.

Lagipula, dalam bahasa Sansekerta musik dipahami sebagai sangita. Dalam sangita atau musik ini ada tiga unsur penting yang saling berkelindan satu sama lain: instrumen musik, nyanyian, dan gerak.

Seorang penikmat musik bisa saja menikmati dentingan piano dan turut bernyanyi di ruang tengah rumah mereka. Namun, ada satu unsur yang hilang di situ: gerak. Bayangkan jika Hammersonic diadakan di masa pandemi dan penonton cuma bisa menikmatinya di rumah. Akan agak lucu rasanya jika tiap orang gerak-gerak joget brutal sendirian di rumah saat Slipknot sedang menghentakkan musik metal mereka di ruang konferensi piranti lunak Zoom.

***

Setelah selama hampir dua tahun babak belur dihajar pandemi, tampaknya sekarang dunia sedang mulai berbenah dan memperbaiki diri. Di beberapa Negara—terutama barat—peraturan mengenai kewajiban social distancing dan swakarantina sudah mulai melonggar. Maka, konser-konser musik sudah mulai dihelat lagi. Di Amerika Serikat misalnya, salah satu konser/festival musik terbesar Lollapalooza digelar kembali. Pertunjukan dengan skala lebih kecil seperti Broadway Musicals juga diselenggarakan lagi. Salah satu band rock terbesar, Foo Fighters juga sudah bermain di panggung besar di New York dengan jumlah penonton 15.000 orang.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tampaknya kebijakan diperbolehkannya sebuah perhelatan konser masih dikaji ulang. Meski jika kita amati beberapa waktu ini beberapa pihak sudah mengadakan konser atau gigs kecil-kecilan dengan penonton terbatas dan kewajiban menerapkan protokol kesehatan (prokes). Gigs-gigs ini diadakan secara terbatas di sebuah venue kecil dengan jumlah penonton yang biasanya dibatasi hanya berjumlah puluhan orang.

Untuk konser-konser skala besar seperti Synchronize Fest, Hammersonic, atau Java Jazz tampaknya harus masih menunggu lagi agar bisa diselenggarakan.

Sampai saat itu tiba, tampaknya kita harus bersabar dan sementara menikmati suguhan pertunjukan musik di rumah masing-masing. Kita harus belajar bagaimana cara puas dan memperoleh pleasure ketika menonton konser musik di ranah daring.

Perasaan merindukan konser musik ini sungguh besar tak tepermanai. Namun, yang terpenting adalah kesehatan dan keamanan setiap orang. Jadi, sampai waktu di mana COVID-19 sudah bisa dikendalikan, marilah bertahan dan bersabar sedikit lagi.

Ketika konser musik sudah boleh diselenggarakan, di waktu itu kita kemudian bisa melampiaskan kerinduan kita dengan bernyanyi dan bergoyang bersama para penonton konser musik lainnya.

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggung jawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi serunai.co

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Telah menerbitkan buku "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017), "Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta" (2020), dan "Aubade: Kumpulan Tulisan Musik" (2021). Bisa dihubungi di surel arissetyawan@tutanota.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawan.net
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)

No Comments

Leave a Comment