Gempuran Sonik Fateh Remix Reinterpretation

Di dalam proses kreatif pembuatan musik, reinterpretasi adalah sesuatu yang wajar dan kerap terjadi. Kita banyak menjumpai kasus ketika musisi merilis ulang sebuah album, namun dengan aransemen ulang, baik yang dilakukan oleh sang musisi sendiri, atau sang musisi mengajak para musisi lain untuk mengaransemen ulang album tersebut.

Di luar negeri kita bisa ambil contoh bagaimana Linkin Park merilis ulang album debutnya Hybrid Theory dengan aransemen baru yang lebih eksperimental dalam album bertajuk Reanimation. Di dalam negeri kita ingat bahwa pada 2007 band jebolan IKJ, Naif, pernah menelurkan sebuah album bertajuk Mesin Waktu: Teman-Teman Menyanyikan Lagu Naif. Di album itu beberapa musisi seperti White Shoes & The Couples Company, The Brandals, Goodnight Electric, hingga Cherry Boomshell membawakan ulang lagu gubahan Naif, dengan aransemen yang sesuai dengan ciri khas masing-masing musisi tentunya dan berbeda dari versi asli lagu Naif.

Kenapa musisi memutuskan menginterpretasikan ulang sebuah album? Menurut hemat saya, ini adalah dalam rangka menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Semesta musik itu sungguh sangat luas. Satu lagu bisa dieksplorasi dengan sangat luas tergantung dari proses kreatif masing-masing musisi. “Genjer-Genjer” bisa saja menarasikan cerita kemiskinan rakyat di zaman penjajahan Jepang. Namun, eksplorasi lagu itu bisa sangat berbeda hasil akhirnya dari versi yang dibawakan Bing Slamet, Dengue Fever, hingga Nova Ruth dan Filastine.

Reinterpretasi seperti memberikan nyawa baru pada sebuah karya musik. Meniupkan ruh kreativitas yang baru.

Nyawa baru dalam reinterpretasi ini juga muncul dalam sebuah rilisan terbaru label asal Bandung, Grimloc Records. Album ini bertajuk Iqlab: Fateh Remix/Reinterpretation Project (Selanjutnya akan saya sebut Iqlab Fateh). Musisi yang membuatnya adalah Morgue Vanguard x Still dan Various Artists.

Sebelum membahas lebih dalam Iqlab Fateh, patut diketahui dan kita harus tapak tilas ke belakang. Fateh adalah sebuah proyek musik yang diinisiasi oleh Morgue Vanguard alias Ucok Homicide alias Herry Sutresna bersama dengan Hsi-Chang Lin alias DJ Still. Mereka berdua berproses album ini sejak 2011 hingga 2013. Hingga akhirnya merilis album Fateh pada 2014.

Album Fateh ini adalah karya yang berbahaya. Kombinasi antara bangunan musik beat hip-hop, bentangan ambient, dan serpihan sonik, serta lirik yang bercerita tentang krisis eksistensial, imperialisme, sejarah pemiskinan, hingga perkara kapitalisme yang mengeksploitasi kemanusiaan.

Kembali lagi ke Iqlab Fateh, proyek perilisan ulang dan reinterpretasi ini merupakan sebuah tribute alias penghormatan kepada DJ Still yang telah berpulang tiga tahun yang lalu. Morgue Vanguard melontarkan sebuah ide besar untuk penghormatan ini: merilis ulang Fateh, namun dengan mengajak 12 orang musisi lain. Semua musisi itu diminta untuk menginterpretasi ulang lagu-lagu dari album Fateh, dan hasilnya sungguh maksimal.

12 musisi yang diajak berkolaborasi bukanlah musisi kaleng-kaleng. Sebut saja Strotter Inst, Kuntari, Jaydawn, Tamat, BKGD Audio, Vladvamp, DJ Evil Cutz, Nishkra X Jaques, Efek Rumah Kaca, Kareem Soenharjo, Mike Mare, hingga Senyawa. Sungguh nama-nama yang berbahaya di kancah musik Indonesia.

Hasilnya? Iqlab Fateh adalah sebuah gempuran sonik yang bakal menyerbu kupingmu dengan eksperimentasi yang luar biasa. Wajar, setiap kolaborator tentu memiliki ciri khas dan karakter musikalnya sendiri-sendiri. Fateh versi 2014 saja sudah sangat menohok. Nah, Iqlab Fateh ini berada di level yang berbeda. Gempuran soniknya bikin saya geleng-geleng kepala: kok bisa sih reinterpretasi ini bisa sekeren dan sedahsyat ini?

Saya pribadi menyoroti beberapa track yang langsung saya jadikan favorit. “Fateh (Kuntari Remix)” Langsung mencuri perhatian saya. Ini yang mengaransemen seorang Tesla Manaf, loh, atau dikenal juga dengan moniker Kuntari. Mendengarkan track ini bikin saya mikir: Aduh, repertoar sebagus ini sayang banget kalau hanya didengarkan di pelantang suara merek Simbadda yang saya punya. Ini sih butuh sebuah speaker yang lebih mumpuni, semacam home theater gitu, atau setidaknya headset yang memiliki fitur spasial audio. Aransemen Kuntari sungguh megah. Sayang jika hanya didengarkan di speaker butut.

Morgue Vanguard juga melakukan sesuatu yang bisa dibilang berani: Berdeklamasi. Iya, membaca puisi. Di lagu “Kepada Kawan (Bumantara Hampa)” Ucok mendeklamasikan salah satu karya penyair paling termasyhur di Indonesia, Chairil Anwar). Vladvamp alias FX Adam J yang sebelumnya dikenal sebagai musisi di Kubik dan Koil, juga mengeksekusi aransemen yang apik untuk nomor ini.

Lagu lain yang mencuri perhatian saya adalah “Dialek[lek]tika Akumulasi Primitif (Sebuah Parafrase, Setelah Rehberg dan Rzewski)”. Ucok di sini menyelipkan spoken word, sebuah sabda tentang akumulasi primitif yang digagas oleh pemikir paling kontroversial sepanjang sejarah: Karl Marx.

Mungkin track yang cukup berbeda adalah “Sondang” yang dibawakan Efek Rumah Kaca. Jika lagu-lagu lain banyak berkutat di eskperimentasi elektronik dengan bangunan musik yang nyeleneh, di lagu “Sondang” Efek Rumah Kaca terdengar paling lempeng, dengan bangunan musik pop minimalis yang khas mereka.

Track terakhir “Fateh” yang dibawakan oleh duo eksperimental asal Yogyakarta, Senyawa, menjadi sebuah gong penutup yang luar biasa. Sebagaimana kita ketahui, Senyawa adalah sebuah unit yang musiknya memang sangat eksperimental, atau bisa disebut avant-garde. Di lagu ini, bangunan musiknya tentu saja adalah padu padan antara olah vokal unik Rully Shabara dan eksplorasi instrumen unik oleh Wukir Suryadi.

Bagi saya pribadi, album berisi 12 lagu dan berdurasi 55 menit ini telah membuat saya memikirkan sebuah perenungan: ini adalah album yang apik, menggenjot kesadaran kita untuk lebih menghargai hidup. Karena pandemi yang tak kunjung usai, hidup kita terasa sungguh begitu berat dua tahun belakangan ini. Bagi mereka yang kehilangan semangat hidup, atau sering berujar “bosen nih nggak ada musik baru yang menarik di dunia”, mendengarkan Iqlab Fateh akan menggetok batok kepalamu. Bahwa life worth living.

Album ini sekaligus mengajak kita mengenang mereka yang sudah lebih dulu berpulang karena berbagai sebab. Salah satunya tentu saja adalah DJ Still. Barangkali ia akan tersenyum bahagia ketika mengetahui musik yang ia gubah ternyata diinterpretasi ulang oleh banyak musisi lain, dan hasilnya sungguh maksimal. Hasilnya adalah gempuran sonik yang bikin pendengarnya merenung dalam-dalam tentang makna hidup, kebusukan dunia politik, dan kapitalisme yang tak kunjung runtuh seperti yang diidamkan banyak orang.

Selamat Morgue Vanguard dan DJ Still atas album barunya. Terima kasih atas gempuran soniknya yang sungguh menyenangkan.

Musisi: Morgue Vanguard x Still & Various Artists

Album: Iqlab: Fateh Remix Reinterpretation

Label: Grimloc Records

Tahun rilis: 2021

Format: Cakram padat (CD)

Durasi: 55 menit 13 detik

Kolaborator: Strotter Inst, Kuntari, Jaydawn, Tamat, BKGD Audio, Vladvamp, DJ Evil Cutz, Nishkra x Jaques, Efek Rumah Kaca, Kareem Soenharjo, Mike Mare, Senyawa.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Telah menerbitkan buku "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017), "Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta" (2020), dan "Aubade: Kumpulan Tulisan Musik" (2021). Bisa dihubungi di surel arissetyawan@tutanota.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawan.net
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)

No Comments

Leave a Comment