Serunai.co
Ulasan

Gaze, Grace, Grief: Upaya Cecil Mariani Menerjemahkan Kegelapan

Sendu, adalah kesan pertama yang saya rasakan ketika memasuki pintu ruang Rubanah Underground Hub, lalu mengedarkan mata saya beberapa detik pada pameran tunggal Cecil Mariani yang diberi nama “Gaze, Grace, Grief”. Saya melihat berbagai gurat garis yang ketika melihatnya sekilas tak bisa dimengerti, tapi setelah memperhatikannya beberapa kali, pola-pola garis itu akan terbaca. Dalam pandangan saya terlihat berbagai objek nyata yang dominan: aneka jenis burung dan variasi wajah.

Setidaknya ada sejumlah 61 karya dari banyaknya karya Cecil yang dipilih dalam pameran kali ini. Kurator pameran Grace Samboh dan Akmalia Rizqita “Chita” dalam catatan kuratorialnya menulis, kurasi dilakukan dengan mengelompokkan karya Cecil berdasarkan kesamaan ukuran, bentuk, medium, kecenderungan garis, hingga gradasi warna. Kemudian karya itu “disaring” kembali guna memberikan pengalaman ruang tertentu bagi pengunjung pameran.

Voila, setelah karya tersebut dipajang, saya tidak bisa tidak sepakat dengan yang dikatakan Grace dan Chita, saya bisa melihat rutinitas Cecil dalam menggambar. Tak hanya itu, gambar-gambar Cecil juga membawa pengunjung kepada jenis kebebasan dan kelegaan lain. Cecil sebagai seorang seniman, dosen, perancang grafis, pun seorang organisatoris yang terbiasa dengan kerja-kerja kreatif dan penelitian, coba melepas kebiasaan-kebiasaan tersebut dan mengungkap kemashlahatan dirinya.

Cecil dalam pameran ini menggunakan media utama: charcoal, pastel, tinta, akrilik, dengan papan gips, cotton paper, dan beragam teknik menggambar salah satunya litografi. Dari karya-karya yang ditampilkan, secara waktu pembuatan, 1 karya dibuat tahun 2020; 8 karya dibuat tahun 2022; dan 52 karya dibuat tahun 2023.

Artikel ini akan mencoba menawarkan pembacaan yang penulis tangkap terhadap karya-karya yang ditampilkan Cecil Mariani dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 24 Juni hingga 15 Juli 2023 di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta ini. Saya mengulasnya ke dalam beberapa bagian.

Memaknai Gaze, Grace, Grief

Sore itu, Sabtu, 24 Juni 2023, di acara pembukaan pameran, Cecil mengenakan atasan sleeveless shirt warna abu-abu, celana hitam, sepatu warna merah, serta sejenis slayer warna olive yang dikenakannya di leher. Usai mengobrol dengan salah satu pengunjung, saya mendatanginya untuk menyapa dan memberikan ucapan selamat. Wajahnya menyunggingkan senyum, tampak rona kebahagiaan, dan setelah kami salaman, dia memeluk saya. Perasaan haru refleks saya rasakan, sosoknya masih hangat dan ramah sebagaimana terakhir kami bertemu sekitar tahun 2019.

Baca Juga:  Monita Tahalea: Memandang Waktu dari Balik Jendela

Kami kemudian mengobrol terkait kabar, cerita kawan-kawan dekat kami, dan tentang pamerannya kali ini. Cecil bercerita, sebagian besar karya yang dibuatnya di pameran ini dibuat ketika dirinya berada di titik rendah, baik dalam hal fisik, jiwa, maupun finansial. Cecil tak menceritakan secara spesifik kondisi yang dialaminya, namun yang saya dengarkan dengan simpatik, dia mengalami fase-fase berat dalam hidup saat ayahnya sakit hingga kemudian beliau meninggal tahun lalu.

Dalam keadaan duka itu, Cecil mengalami situasi di mana makna-makna dalam hidupnya rontok. Dia kehilangan kesadaran ketika diajak berkomunikasi dengan orang lain tidak nyambung, ketika mengorganisir sesuatu melalui handphone dia lupa, dia seperti merasa kehilangan diri dan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Untuk memulihkan dirinya, Cecil kemudian pergi ke semacam terapis, dan salah satu terapi yang dia lakukan adalah menggambar.

Kondisi “grief” atau kesedihan inilah yang memberi bahan bakar pada karya-karya Cecil kali ini. Kesedihan menjadi masalah utama yang diangkat Cecil. Kesedihan itu coba Cecil rangkum dalam serial lukisan berjudul “Grieving Path Series” yang kalau saya hitung berjumlah 26 lukisan. Variasi “Grieving Path Series” ini terdiri dari visualisasi Cecil terhadap konsep dan keywords berikut: the feral lights, caustic selves, kinesthesis, sheltering haptic kin, xeno-migration, kinesthetic yellow, muscle memory loss, memory rippling, olfactory praying, amygdala, masuk angin merah abu, no scorned kinesthesia, hingga padang galak.

Dalam serial lukisan grief, charcoal serasa menjadi media tepat yang digunakan Cecil untuk menggambar, karena sifat alaminya yang semakin digores akan memberikan warna gelap yang kental. Dia seakan memberikan pesan kegelapan, kesedihan, kesusahan, kemalangan, penderitaan.

Nilai lain yang Cecil angkat adalah “gaze”. Dia menangkap berbagai macam tatapan, renungan, pandangan, yang dibuat oleh orang-orang di sekelilingnya. Gaze itu kemudian “memberikan bentuk” atau “membuat bentuknya” sendiri yang mengada lewat seni; gaze yang Cecil tangkap dari lingkungan tersebut kemudian dia terjemahkan ke dalam gambar. Gaze di sini saya artikan pula terkait bagaimana orang lain (the others) memandang orang lain. Pandangan orang lain ini lalu membentuk individu menjadi pribadi tertentu.

Kemudian di tengah kondisi grief dan gaze tersebut, ternyata masih banyak teman, kawan, sahabat yang peduli, yang menguatkannya, dan kondisi itu Cecil sebut sebagai “grace” atau kebaikan, kemurahan hati, berkah, karunia dari orang-orang terdekatnya. Grace dalam pameran ini terwujud dalam variasi warna kuning yang melambangkan semangat hidup, kebahagiaan, dan keceriaan. Hal ini bisa dilihat dalam serial lukisan “Yellow Shadow Series”. Adapula warna pink yang melambangkan cinta dan kasih sayang, berkah. Semangat ini bisa dilihat dalam serial lukisan “Crimson Phantom Series”.

Burung dan Wajah

Baca Juga:  Suno: Ketika Semua Bisa Mencipta Musik

Saat menjalani studinya sebagai mahasiswa pascasarjana di School of Visual Arts, New York, Cecil bercerita, ketika memiliki waktu kosong, dia sering pergi ke taman. Cecil menemukan ketenangan dan kedamaian ketika berada di taman. Meski masuk kawasan metropolitan, New York masih memiliki kawasan hijau yang menjadi habitat berbagai macam jenis burung. Jika di Indonesia burung cenderung takut bertemu manusia, maka di taman tersebut justru burung-burung mendatangi manusia untuk meminta makan atau sekadar bersosialisasi.

Berbagai taman seperti Central Park, menjadi melting pot para burung migran bertemu, hal ini seperti diungkap dalam buku berjudul Pesisir Timur Amerika: Washington DC, New York, Boston, Florida karya Christie Damayanti (2020). Tidak heran, tempat ini banyak didatangi oleh para pengamat burung. Pengunjung taman tak jarang juga menemukan banyak sekali jenis bebek atau burung bangu yang tak ditemukan di Indonesia. Ini seperti terlihat dalam gambar Cecil berjudul “Grieving Path Series: Gazing Up for Xeno-Migration” (2023) dan “Grieving Path Series 2: No Green Heron On Xeno-Migration” (2023).

Di taman tersebut, biasanya Cecil akan mengikuti sepasang manula, nenek dan kakek yang membawa teropong (binokuler) dan lup untuk mengamati/membuntuti burung yang ada di taman. Ketika mengikuti mereka, dia juga akan bertemu dengan berbagai jenis burung yang indah dan langka. Dari sanalah, ketertarikan Cecil terhadap burung bersemi.

“Burung-burung tertentu juga menjadi penanda datangnya musim, seperti winter,” katanya.

Cerita terkait burung tersebut mengingatkan saya pada film Jepang berjudul “The First Gentleman” (2021). Scene awal film tersebut bercerita terkait seorang ornithologist bernama Hiyori (Kei Tanaka), yang dalam menjalani kariernya, dia menghabiskan waktu berminggu hingga berbulan di hutan, rawa, sungai untuk meneliti burung-burung. Dia juga memiliki perpustakaan khusus yang semua bukunya berisi terkait burung, termasuk buku terkait burung-burung langka yang sudah jarang ditemui. Sebagaimana yang dikatakan Cecil, dalam film itu disebutkan, burung memberi pertanda akan masuknya bulan tertentu atau cuaca tertentu.

Baca Juga:  Jurnalisme Musik dan Hal-Hal yang Belum Kita Ketahui

Suatu waktu, Cecil juga menemukan seekor burung yang memakan bangkai tikus. Bentuk dan bulu burung yang ditemuinya berwarna-warni dan sangat cantik. Di sisi lain, ingatan akan burung ini membawa saya pada masa yang lain saat masih tinggal di Semarang. Suatu waktu di hari libur, di pinggir jembatan, saya melihat seekor burung tengah membawa selinting dahan kering coklat, satu demi satu untuk membuat sarang di sebuah pohon. Entah mengapa, syahdu sekali saya mengamatinya.

Saya pun bertanya, “Selain burung, di banyak gambar ada berbagai bentuk wajah, apakah wajah-wajah itu merujuk ke sosok-sosok atau orang-orang tertentu?” Cecil menjawab, “Tidak.” Lalu dia bercerita, awal mula ketertarikannya pada wajah adalah saat kecil dia melihat kakaknya sangat pintar sekali menggambar wajah. Wajah yang kakaknya gambar selalu cantik dan bagus. Cecil terinspirasi dari kakaknya itu dan kemudian menggambar wajah dengan caranya sendiri.

Seperti dalam gambar “Grieving Path Series: The Feral Lights at Padang Galak” yang menurut saya magis. Di gambar ini, dalam imajinasi saya terdapat seorang perempuan. Karya ini menggambarkan setiap manusia memiliki bayangannya (shadow) sendiri-sendiri, terdapat tarik menarik dan kontradiksi akan kebaikan dan keburukan, gelap dan terang, sisi malaikat dan sisi setan, dan lain-lain, dan sebagainya. Dari sanalah hidup manusia menjadi lebih hidup.

Epilog

Sore itu pula, kebetulan saya datang bersama seorang teman baik perempuan yang saya kenal dua minggu yang lalu di sebuah acara walking tour. Bermukim di Depok, saya mengajaknya ke pameran ini untuk sekadar rekreasi dan menghabiskan waktu weekend. Mantan anak jurusan Filsafat itu bertanya pada saya, “Ma, favoritmu yang mana?” Wah, pertanyaan sulit, kata saya dalam hati. Saya pun memperhatikan ulang, dan pandangan saya tertuju pada satu karya berjudul, “ Grieving Path Series 2: Olfactory Prayers“.

Jujur saya menyukai judulnya, olfactory prayers yang seperti membawa saya ke dunia spiritual semacam doa dan ibadah, serta olfactory atau penciuman, suatu karunia indra yang dimiliki manusia untuk merasakan bau. Plato pernah menulis jika “bau” merupakan “sifat setengah jadi” (half-formed nature), karenanya tidak banyak yang bisa dikatakan tentangnya. Sedangkan Kant menyebut indra penciuman ini sebagai indra yang paling tak tahu berterima kasih atau malah tak berguna, karena jika dihilangkan pun tak apa. Meski begitu, akan ada yang hilang jika penciuman tak ada, persepsi dan kepekaan kita akan sesuatu akan terdistorsi. Sistem penciuman memberikan masukan yang efisien terhadap sistem emosional.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan suatu obrolan hangat antara Lisabona Rahman dan Cecil Mariani di dalam catatan kuratorial:

aku sungguh ikut senang melihat pameranmu menjelang

terakhir kita bisa bicara berdua

semua-semua mampat, menghimpit

persis seperti lalu lintas macet yang menjebak kita sore itu

‘di mana kamu merasa paling lega?’ tanyaku

‘waktu bisa menggambar,’ katamu

Obrolan ini menurut saya begitu dalam dan jujur, entah kenapa saya bisa membayangkan ketika Lisa dan Cecil bicara berdua, hati ke hati. Bagaimana perempuan mendukung perempuan lain dengan caranya sendiri yang begitu indah. Sekali lagi, selamat ya Mbak Cecil!

Judul Pameran Gaze, Grace, Grief │ Perupa Cecil Mariani │ Tempat Rubanah Underground Hub │ Penayangan 24 Juni – 15 Juli 2023 │ Jam Buka 12.00-19.00 WIB

[IS]. Ed: AS].

Related posts

Merayakan Kepulangan Joni dan Susi

Aris Setyawan

Yang Terungkap Lewat Ratapan

Idha Saraswati

Merintis Pengarsipan Musik Indonesia

Aris Setyawan

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy