Serunai.co
Narasi

Hindia Album Kedua: Merayakan Kiamat Tanpa Juru Selamat (Bagian 2)

lagipula hidup akan berakhir

Sambungan dari Bagian 1

***

Meski terpecah dalam dua set lagu, Lagipula Hidup Akan Berakhir bukanlah double album. Hal ini diperkuat oleh pengakuan Baskara dalam wawancara kami dan karenanya ia harus ‘dibaca’ jadi satu karya utuh. 

Untuk keperluan analisis, kami para penulis bersepakat tidak membatasi objek kajian pada materi album saja sebagai sumber primer, tapi juga dengan memperluas dimensi Lagipula Hidup Akan Berakhir meliputi sumber sekunder (yakni simbolisasi yang muncul di video musik, blog, bahkan konser album). 

Karena keterbatasan ruang juga, eksekusi analisis akan dilakukan dengan purposive sampling yang relevan dalam tiga lapis analisis: yakni teks (dengan menyibak makna dari simbol berupa lirik tertulis, serta audio dan visual terkait album), produksi teks (proses kreatif pembuatan album) dan konteks (alam socio-cultural tempat album tersebut dilahirkan).

Lagipula Hidup Akan Berakhir

Lagipula Hidup Akan Berakhir dalam Tinjauan Musikal

Penilaian yang beredar dari rentetan review media atas Lagipula Hidup Akan Berakhir pascarilis membangun asumsi publik betapa musikalitas album ini bernuansa depresif, gelap dan melelahkan.

Qais Indi Purnama bahkan dalam blognya menilai betapa kualitas songwriting Bas tampak kedodoran di enam lagu terakhir karena terdengar seperti lagu kampanye untuk merek rokok atau provider operator seluler.

Berangkat dari asumsi publik media, dengan bantuan visualisasi data Spotify API dari Cyanite kami menemukan hal berbeda. Alih-alih depresif dan bernuansa gelap, album ini justru punya dua mood utama yang tampak dominan dalam diagram, yakni aggressive (Bagian 1) dan happy (Bagian 2). Kedua bagian tersebut berbagi mood lain yang sama bobotnya yakni energetic dan uplifting.

Track Mood Analysis LHAB Bagian 1. Sumber https://app.cyanite.ai/shared/project/34b18dbd16ddb1739480d276081c8cb5eca7c985010423
Track Mood Analysis LHAB Bagian 2. Sumber https://app.cyanite.ai/shared/project/b09bb352254bf8c7e43df3db8ea1eadba7d2bffc2461d2


Alih-alih didera songwriting yang kedodoran versi Qaiz, Lagipula Hidup Akan Berakhir justru tampil sudah eksperimental sejak awal jika dibandingkan dengan MDB yang multi-layered. Formatnya yang terbagi menjadi dua bagian, kami nilai sengaja dirancang sirkular: yakni track 1 Bagian 1 “Malaikat Berputar di Atas Pencakar Langit” adalah verse dari outro track 14 bagian 2 “Wawancara Liar Pt IV.” Sedangkan track 13 Bagian 2 “Nabi Palsu” cukup korelatif dengan track 2 Bagian 1 “Janji Palsu”.

Baca Juga:  Melukis Nada dan Lirik Bersama Andra Semesta

Betul memang tidak ada lagi kejutan segar seperti di MDB semisal mash up vokal Sal Priadi vs Baskara di nomor “Belum Tidur,” atau cross-genrenya “Jam Makan Siang” yang ciamik mengawinkan pop, hip-hop dan rap dengan musik masinal secara eklektik. Namun, secara mencolok kita bisa menunjuk kehadiran 4 track skit Wawancara Liar sebagai format lanjutan dari “Wejangan Mama,” “Wejangan Caca,” dan “Anggra” dalam voice note di MDB.

Dibintangi impersonator muda Kristo Imanuel dan Iyas Lawrence, keduanya meniru siaran podcast wawancara dengan aksen vokal sosok pebisnis muda di Pt. 1 (Sandiaga Uno, Nadiem Makarim), pejabat publik di Pt. 2  (Luhut Binsar Pandjaitan, Tifatul Sembiring), pejabat negara di Pt.3  (Joko Widodo), dan sosok aktivis di Pt. 4 (Hariz Azhar, Adian Napitupulu).

Pemilihan skit dalam wawancara model begini dengan jitu mengubah beratnya kandungan topik jadi asupan yang renyah dan jitu.

Memilah Topik lewat Semantik

Menilik penggunaan kata dalam Lagipula Hidup Akan Berakhir secara semantik, Bagian 1 memuat lebih banyak kosakata sebanyak 4.218 entri kata dibandingkan Bagian 2 yang terpaut selisih sebanyak 1086 entri kata.

Namun, secara konten, LHAB mengandung sentimen negatif yang mendominasi 66%, sementara itu sentimen positif hanya berkisar 15% saja, sedang sisanya berada dalam sentimen netral di angka 18%.

Visualisasi Data Looker Studio. Klik untuk tampilan penuh

Dari visualisasi data juga diketahui bahwa dari total 7.350 kosakata yang tersedia, LHAB hanya menggunakan sebanyak 1.881 varian entri kata dengan rasio rata-rata 1 entri kata bisa digunakan ulang sebanyak 6 kali yang hampir kesemuanya menggunakan kosakata bahasa Indonesia baku dan populer.

Dalam artian meski terbagi dalam jumlah sebaran topik yang cukup luas, secara semantik LHAB tidak cukup kreatif dalam mengolah kosakata berbahasa Indonesia.

Baca Juga:  "Lagipula Hidup Akan Berakhir" dan "Cincin" Karya Hindia dari Perspektif Sejarah

Yang justru paling menarik dari analisis semantik di sini adalah terkuaknya kata kunci seperti ekses teknologi, social relationship, inflasi, personal dan mental health, krisis iklim dan oligarki sebagai sebaran topik lagu untuk dikaji maknanya lebih dalam di paparan selanjutnya.

Namun, untuk menilai apakah sebaran topik ini memiliki kandungan makna filosofis tertentu, kita memang tidak bisa terburu-buru agar tidak jatuh dalam cocoklogi. Berbekal hasil analisis semantik di atas, kita bisa melengkapi penafsiran dengan menjaring makna berbagai tanda yang mengitarinya secara semiotik.

Menjaring Tema Lagipula Hidup Akan Berakhir via Semiotika

Kehadiran tanda yang tampak mencolok ketika mendaras album Lagipula Hidup Akan Berakhir ini sudah bisa diketahui lewat nomor pembuka instrumental “Malaikat Berputar Di Atas Pencakar Langit” yang menampilkan petikan lirik dari Kitab berbagai penjuru dunia dari Yeremia, Mahabharata, hingga Al-Quran dan kehadiran ilustrasi empat malaikat bersayap.

Kandungan nilai-nilai Ilahiyah dan kehadiran malaikat di pembuka album ini tampak jelas hendak menyimbolkan momen apokaliptik yang dalam kepercayaan agama besar dunia dikenal sebagai peristiwa kiamat.

Dalam banyak referensi agama Samawi, dikisahkan bagaimana Mikail, Jibril, Israil dan terutama Israfil sebagai empat sosok malaikat kunci penyampai wahyu yang akan muncul di akhir zaman untuk meniupkan sangkakala sebagai kabar penanda kiamat.

Meski tak hadir terang-terangan dalam lirik lagu-lagu selanjutnya, namun simbolisasi empat malaikat ini korelatif anti-modernisme yakni Wawancara Liar Part 1 (melambungnya harga rumah sebagai dampak Inflasi), Wawancara Liar Part 2 (kebocoran data sebagai ekses teknologi), Wawancara Liar Part 3 (ketidakpercayaan publik pada rezim sebagai krisis politik) dan Wawancara Liar Part 4 (kerusakan alam sebagai krisis iklim).

Keempat krisis multidimensi dalam Lagipula Hidup Akan Berakhir inilah yang kami simpulkan jadi landasan utama storytelling lagu-lagu berikutnya seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut:

Baca Juga:  Papua di Depan Mata
Judul LaguInterpretasi
Malaikat Berputar di Atas Pencakar LangitSebuah intro yang dibalut dengan aransemen berbasis strings. Detail-detail seperti instrumen yang digunakan sebanyak 4 buah, adalah sebuah referensi terhadap malaikat yang berjumlah 4, dan topik besar masalah yang juga berjumlah 4. Serta build up ke dalam intro “Janji Palsu” yang begitu mengenaskan dan emosional.
Janji PalsuLirik yang menggambarkan nihilisme akan sukses-sukses duniawi yang bisa hilang dalam sekejap. Lagu ini juga merepresentasikan perasaan Baskara terhadap perubahan pandangan terhadap segala hal yang ia dapatkan, mengetahui bahwa bayarannya tak seberapa dengan apa yang harus ia korbankan dari dirinya sendiri (baca: ketenangan batin, kestabilan batin, privasi, dan sebagainya).
Matahari TenggelamLirik yang menggambarkan perasaan Baskara akan semua cacian yang ia dapatkan dan pembelaan yang terkadang ia keluarkan, bagaimana itu bisa berakumulasi hingga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (baca: bunuh diri perkara cyber bullying).

Bagaimana orang-orang di sosial media sangat mudah terpengaruhi oleh opini-opini yang hanya lewat semata, tidak memikirkan dampaknya pada orang yang dituju.  
Satu Hari LagiLagu yang mempunyai perasaan egois, hanya ingin memikirkan dirinya sendiri, mungkin ia merasa sudah tidak ada hal yang berguna dan ia juga sudah terlalu lelah untuk selalu peduli. Perasaan lelah karena ia harus selalu terlihat peduli dan memikul image yang diberikan pendengarnya karena album pertama yang ia keluarkan.

Mempunyai kedua sentuhan pesimisme dan nihilisme akan hidupnya, karena sejujurnya sudah tidak ada lagi yang dituju, semua sudah bisa didapatkan, seakan motivasi untuk hidup hanya terletak dalam hal-hal negatif.
Wawancara Liar Pt ISebuah narasi pendek tentang adanya perubahan ekonomi terhadap generasi. Dibuka dengan informasi statistik berdasarkan persentase terpengaruhnya individu terhadap inflasi. Bagaimana inflasi yang semakin meningkat bisa mengganggu dan mengubah cara hidup generasi sekarang, spesifiknya adalah lifestyle, kesehatan mental, serta cara pandang hidup mereka. Uang yang habis untuk ngopi setiap minggu, atau harga rumah sebesar warung yang menyentuh miliaran.
Ibelsebuah tribute untuk barber keluarga Bas, dan permintaan maaf akan kelalaian para manusia yang mempunyai kuasa lebih karena gagal “menyelamatkan” yang seharusnya bisa dilakukan. 
Siapa yang Akan Datang Ke Pemakamanmu Nanti?Sebuah lagu yang sangat kontemplatif dan membuat kita berkaca ke setiap detail yang telah kita lakukan di dunia ini. Lagu ini membawa hawa yang sangat negatif dan perasaan tak berguna, seakan-akan selama ini kita hidup tidak ada baiknya, selesai dari dunia pun masih harus menemui kehidupan lain.

Lagu ini dipenuhi pertanyaan retorik yang terkadang selalu kita abaikan. Berbeda dengan lagu “kematian” lain, lagu ini justru membawa rasa amarah sekaligus kekhawatiran dan sedikit rasa benci akan hidup karena tidak diberi ketenangan sedikitpun. 
SelebrisikSebuah lagu yang menggambarkan kebodohan netizen terhadap role model/influencer yang langkahnya selalu mereka ikuti kemana pun. Baik maupun buruk, jelek atau benar, apapun yang mereka lakukan selalu ditiru dan di-Tuhan-Tuhan-kan.

Juga ekspektasi netizen terhadap figur publik tersebut, berharap mereka selalu mengangkat isu-isu yang bahkan tidak relevan dengan mereka, lupa bahwa figur publik pun tetap manusia dengan pengetahuan mereka yang terbatas. 
CincinSebuah lagu romansa yang dibalut dengan keadaan sederhana yang Bas miliki, tak dilebih-lebihkan, tak dikurang-kurangkan. Kesannya memang romantis dan manis. Namun, di dalam Cincin terselip satu dua lirik yang terisi rasa pesimistis terhadap hubungan yang sedang dijalani.

Mungkin kondisi ekonomi yang tak tentu, atau keadaan yang tak memungkinkan untuk melahirkan sebuah buah hati. Namun, highlight di lagu ini bener-bener tentang mengapresiasi dan mencintai hubungan yang gini-gini aja, apa adanya, saling ada untuk bersama, saling mencintai.  
Wawancara Liar Pt IISebuah narasi singkat yang mengangkat isu-isu teknologi dari kebocoran data hingga “usaha” yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab. Dibuka dengan rap yang secara garis besar bisa diartikan sebagai “kecurangan” yang dilakukan dalam dunia sosial. Bagaimana narasinya dibuka dengan background story “kemewahan” yang dirasakan oleh para pelaku. Namun, mereka mengesampingkan dan meremehkan tanggung jawab terhadap kewajiban dan masalah yang sedang dialami. Mencakup sejumlah pertanyaan-pertanyaan awam terhadap pelaku yang bertanggung jawab perihal kebocoran data.
Kami Khawatir, Kawan

Salah satu lagu yang terasa hangat di album ini, setelah dihantam dengan berbagai rasa tidak peduli dan egois, lagu ini mengingatkan pendengarnya bahwa pada akhirnya masih banyak yang sayang dan peduli dengan mereka.

Banyak orang yang masih ingin melihat dan ingin merasakan kehadiran mereka. Sedikit nasihat dari Hindia juga untuk jangan terus pergi, banyak yang khawatir dan secara tidak langsung “merepotkan” untuk mencari mereka. 
Apa Kabar, Ayah?Sebuah narasi yang dibalut dengan track “hangat”, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan menyayangi yang ada di depan mata. Narasi ini membuat kita tersadar juga bahwa pada akhirnya kita tidak pernah tau kapan seseorang akan pergi untuk selamanya, terkadang terlalu mendadak, sampai-sampai masih banyak hal yang belum dilakukan. Mengikhlaskan kepergiannya begitu menyiksa, namun menerima kepergiannya juga sangat menyakitkan.
Iya… Sebentar Salah satu lagu yang rasa pesimisme dan nihilismenya terasa paling menonjol dari semua. Lagu ini seakan mempertanyakan semua hal yang terjadi pada diri kita, merintih untuk meminta waktu lebih mencerna hal-hal yang hadir, yang mau tak mau harus dijalani walau rasanya tak berguna.

Rasa tak berguna dari diri sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa juga lahir dalam lagu ini. Bener-bener rasanya nggak berguna saja kita hidup dan bernafas di sini. 
Bunuh Idolamu Sebuah lagu dengan perasaan yang sangat mentah, apapun itu yang selama ini Baskara rasakan menjadi seorang manusia, tumpah setumpah-tumpahnya di sana. Rasa marah, rasa benci, rasa geram, rasa eneg semuanya hadir.

Perasaan yang ditulis di sana semuanya buruk, negatif, dan kasar, namun itulah faktanya. Bukan lagi rasa pesimistis atau nihilisme di sini, lagu ini betul-betul mentah secara penulisan, jangkauannya sudah terlalu personal dan tidak bisa se-relate itu lagi dengan kehidupan orang lain. 
Im’ Not A Robot/ CaptchaSebuah intro pendek yang menyambungkan bagian album pertama dan kedua. Di dalamnya juga terselip beberapa kata yang jika dirangkum bisa diartikan sebagai suruhan atau permohonan untuk “diam”, dan hal ini tertuju pada social media.
Forgot PasswordSebuah lagu yang menggambarkan terjebaknya manusia di dunia maya. Mengukur segala hal di dunia nyata lewat dunia maya, menjadikan dunia maya sebuah tolak ukur segala hal (baca: kesuksesan, kekayaan, kebaikan, karakter, hidup, dsb).

Dan pada akhirnya sudah tidak ditemukan jalan keluarnya lagi, sudah seperti “tinggal” di dalam sana. Banyak yang ingin keluar, namun sudah terlambat, banyak yang meminta tolong, namun sudah tak memungkinkan. Lagu ini sangat amat menggambarkan keadaan manusia dan ketergantungannya dengan internet sekarang. 
Perkara Tubuh Sebuah lagu yang betul-betul isinya sangat amat telanjang. Menggambarkan segala ketidaknyamanannya sebagai seorang manusia di sini, mulai dari fisik hingga batin dan beberapa pikiran tak senonoh yang selalu hadir karena hal-hal tersebut. (baca: bunuh diri).
PesisirSebuah lagu dengan rasa pesimistis yang sangat amat tinggi melihat keadaan bumi, spesifiknya Indonesia sendiri. Bagaimana sudah tak terlihat apapun lagi, rabun, masa depan hancur, langit menggelap, semuanya perlahan tenggelam.

Seakan manusia hanya menunggu diterkam oleh waktu, tak berbuat apa-apa, hanya menerima nasib. Seakan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi, hanya hidup untuk diri sendiri, menjalankan kehidupan seperti tak terjadi apa-apa. Kekhawatiran tentang masa depan terdengar jelas dalam lagu ini. Di bagian akhir dibalut dengan suara choir yang sorak sorai, seakan menggambarkan suara teriakan “alam”. 
Wawancara Liar Part IIISebuah narasi singkat yang bercerita sudut pandang politik dari kacamata orang yang terlibat langsung di dalamnya. Banyak perumpamaan yang digunakan untuk menunjukan situasi di dalam dunia politik itu sendiri. Bagaimana rasanya sudah terlihat “kotor dan jorok” dari luar, namun sebenarnya masih banyak orang-orang di dalam sana yang tidak bersalah namun kena imbasnya. Narasi pendek ini juga menunjukan beberapa perspektif dari seseorang yang mempunyai “kuasa” di negara ini namun tetap merasa powerless terhadap lingkungannya sendiri.
Masalah Masa Depan Sebuah lagu dengan rasa kekhawatiran tentang masa depan. Mencakup banyak sekali topik masalah yang sedang dialami saat ini, mulai dari inflasi hingga krisis iklim. Sampai-sampai dampak yang akan terasa bukan hanya berskala makro, namun juga mikro. Ada sedikit perasaan personal yang terletak dalam lagu ini, bagaimana kita sebagai warga negara yang biasa-biasa ingin membantu pun tidak bisa, ada niatan ingin menolong pun susah, rasanya tak akan terjadi perubahan apa apa.
AlexandraSebuah lagu tentang perasaan lintas generasi yang terasa sangat jelas. Bagaimana seharusnya ada banyak hal yang bisa dinikmati dan dihargai lintas generasi, namun hilang dan tenggelam sebelum sampai pada generasi selanjutnya.

Sebuah permintaan maaf juga karena banyak hal yang seharusnya tidak hilang, banyak hal yang seharusnya hadir untuk menyemangati hidup mereka, namun gagal dijaga dengan baik. Sebuah pengharapan juga untuk mereka, semoga tetap semangat, semoga tetap ingin hidup, walau banyak sekali hal yang tak hadir untuk mereka. Semoga masih bisa menemukan kebahagiaan.
Jangan Jadi PahlawanSebuah lagu hangat lagi yang berisi sebuah pengharapan dan apresiasi. Terima kasih sudah selalu mendukung, terima kasih sudah selalu ada di samping, terima kasih sudah selalu mendengarkan, namun pada akhirnya tolong mengerti bahwa keputusan tetaplah milik kita seorang.

Lagu yang mempunyai horizontal relationship, berlaku ke siapa aja yang ada untuk mereka. Sebuah lagu yang sangat hangat dan memeluk perbedaan menjadi sesuatu yang utuh. 
Bayangkan Bayangkan adalah sebuah intro pendek yang berisi harapan dan surat cinta dari kekasihnya Baskara, bagaimana ia berharap bahwa mereka akan selamanya dan terus menemani sesama dalam masa apapun.
Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah Sepasang lagu yang menyambung satu dengan yang lain, keduanya terisi pengharapan dalam skala mikro maupun makro. (baca: hubungan personal, hubungan dengan keluarga sekitar, hubungan dengan negara, hubungan dengan alam).

Lagu ini terasa sangat hangat dan nyaman, lirik yang tertulis serasa membakar bara api dalam diri sendiri untuk terus berjuang, karena pada akhirnya yang membuat manusia tetap hidup adalah harapan. Harapan besok akan berubah, harapan besok akan lebih membaik, dan seterusnya. Bas pun juga sadar bahwa tantangan yang hadir tak selalu harus dianggap sebagai sesuatu hal yang berat, sesekali mari dirayakan dan dinikmati, sesekali mari mengapresiasi kekuatan diri sendiri karena bisa melawannya. 
Kita Ke Sana Sebuah lagu yang bisa diartikan dalam banyak cara. Hubungan dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Lagi-lagi, lagu ini dibalut dengan rasa pengharapan untuk selalu menyisihkan waktu untuk diri sendiri, selalu membasuh diri sendiri, dan selalu mengapresiasi diri sendiri.

Tak jarang kehidupan yang sedang dijalani begitu riweuh dan bandel, namun, lagu ini seakan mengingatkan kita untuk tetap istirahat dan beri waktu luang untuk hubungan yang sedang dijalani. 
Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya Sebuah lagu upbeat yang mendorong kita semua untuk lakukan apa yang kau mau, untuk menikmati hidupmu selayaknya, untuk menjaga keselarasan batin dan pikiran mu. Secara garis besar tema yang diangkat memang betul tentang pekerjaan dan surat resign. Namun, sebetulnya kalau ditelaah lebih lanjut, just do whatever you want, jangan terlalu menimbang sana sini, jangan terlalu peduli sana sini, pikirin diri sendiri dulu, sayangi diri sendiri dulu.

Pada akhirnya yang paling mengetahui kita ya kita sendiri, yang seharusnya membuat keputusan untuk kita ya diri kita sendiri. Lagu ini juga mengingatkan bahwa gapapa kalau hidup tak berjalan sesuai idealisme orang-orang, gapapa kalau banyak bumbu nano-nano-nya, nikmatin aja sebelum nyesel karena itu akan berakhir. Sebuah lagu bagus walau terjadi kesalahan agak fatal di judulnya karena kata yang baku adalah “karier”, bukan “karir.”
Nabi Palsu Sebuah penutup yang cukup mengagetkan namun cocok dengan apa yang kita alami sekarang. Tanpa disadari banyak sekali manusia yang “omdo” alias omong doang, banyak yang nggak sesuai perkataan dan perbuatannya.

Dan di lagu ini, Bas kembali mengingatkan kita bahwa dia juga bisa salah, orang yang kalian sayang juga bisa bohong, orang yang kalian “sembah-sembahkan” juga bisa saja membuat kalian kecewa. Ya karena manusia memang suka menelan ludah sendiri. Jadi, pada akhirnya yang kalian punya hanya diri sendiri, yang kalian percaya hanya diri sendiri, setidaknya jika kalian berbuat salah atau mengubah keputusan, kalian tahu bahwa itu diri kalian sendiri. 
Wawancara Liar Pt IV Sebuah narasi pendek yang menyadarkan kita bahwa selama ini krisis iklim telah terjadi. Namun, selalu dianggurkan karena dianggap belum terlalu signifikan. Narasi ini juga menggaris bawahi bagaimana kita sebagai individu terus berharap dan berharap ada orang atau “penyelamat” di luar sana yang bisa memberi kita solusi untuk masalah yang sedang dihadapi. Sedangkan dari dulu manusia telah hidup berdampingan dengan masalah tersebut dan menjalaninya saja. Bagaimana narasi ini juga membawa sedikit tema tentang kebahagiaan yang tidak abadi, dan sekarang kita hanya bisa menikmati yang tersisa sebelum semuanya habis ditelan waktu.

***
Bersambung ke Bagian 3 (Habis)

Related posts

Tambang Panas di Pasar Seni

Redaksi Serunai

Sungai yang Tak Kehilangan Hantu-hantunya

Wiman Rizkidarajat

Melukis Nada dan Lirik Bersama Andra Semesta

Isma Swastiningrum

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy