Serunai.co
Ulasan

Arungkala, Piano Tua, dan Arsip Gereja: Catatan Pameran Arsip Gereja Cipaganti

arungkala
Piano Tua (Foto: Amos Ursia)

Ulasan pameran Arsip Gereja Cipaganti yang diinisiasi oleh Kolektif Arungkala.

Masa kecilku dihabiskan di sebuah gereja yang punya satu piano tua. Beberapa tuts out of tune, pedalnya juga agak berat. Seorang nenek selalu jadi pianis andalan, pianis pertama yang kukenal. Ia fasih membaca not balok untuk mengiringi ibadah. Setiap jam sembilan pagi hari Minggu, piano itu berbunyi. Lagu-lagu himne kaum Baptis dimainkan—jemaat gereja duduk di barisan bangku tua, saling menyapa, semua terasa begitu akrab. 

Ingatan terbanyak dari masa kecilku ialah duduk dalam barisan jemaat di Gereja Baptis Baitlahim, Bandung. Kami menyanyikan himne “Jangan Aku Dilalui” (Pass Me Not o Gentle Saviour) dan “Jaminan Mulia” (Blessed Assurance). Lagu-lagu himne umat Baptis kebanyakan ditulis Fanny J. Crosby, seorang penyair dan komponis perempuan asal Amerika Serikat yang banyak menulis pada akhir abad 19 dan awal abad 20. 

Lagu-lagu himne Fanny Crosby dianggap menandakan era musik gereja congregational, perpindahan dari nyanyian solo atau paduan suara berbahasa Latin menuju nyanyian khalayak nan vernakular dan partisipatif — himne berbahasa Inggris menggunakan ungkapan sehari-hari yang dinyanyikan bersama oleh seluruh jemaat gereja. 

Kaum Baptis di Amerika Serikat mula-mula dianggap menyemai tradisi demokratisasi agama di mana partisipasi orang-orang biasa dijunjung tinggi. Akar sejarah kaum Baptis terkait dengan perpindahan orang-orang Inggris Raya ke Amerika Serikat, gerakan melawan monarki absolut, juga religiusitas Amerika Serikat sepanjang abad 19 dan 20. 

Dibandingkan sejarahnya di Amerika Serikat dan Eropa yang sudah berlangsung sejak abad 19, sejarah kaum Baptis di Indonesia terhitung baru. Gereja Baptis di Indonesia dirintis oleh Southern Baptist Convention sekitar 1950-1960. Southern Baptist Convention merupakan sebuah denominasi yang punya problem sejarah dari segregasi rasial hingga Perang Dingin.

Denominasi ini didirikan tahun 1845 di Augusta, Georgia, sebagai pecahan dari gereja-gereja Baptis di Amerika Serikat bagian Selatan. Perpecahan ini terutama dipicu oleh ketegangan mengenai isu perbudakan, di mana para pemimpin Baptis Selatan menolak tekanan dari kalangan Baptis Utara yang menentang perbudakan. 

Dalam sidang perdana Southern Baptist Convention, salah satu pendirinya yaitu William Bullein Johnson, menyerang para penentang perbudakan dari kalangan Baptis Utara. Johnson menuduh mereka tak mampu membuktikan klaim bahwa praktik perbudakan adalah dosa. Artinya, Southern Baptist Convention dibangun di atas pembelaan teologis terhadap institusi perbudakan. Konvensi ini mempertahankan sistem segregasi rasial serta menolak keterlibatan dengan gerakan hak-hak sipil selama puluhan tahun. 

Baca Juga:  Kepada Ide untuk Indonesia

Arsip Gereja dalam Linimasa: 1950–1965 

Akhir 2025 pada sebuah petang di Bandung, aku bersama teman-teman Kolektif Arungkala berada di Gereja Baptis Cipaganti. Diinisiasi sejak 2019, Arungkala bergerak pada persimpangan aktivisme kultural, seni kontemporer, dan praktik pengarsipan dengan praktik multidisiplin. Melalui produksi pengetahuan sejarah yang berjangkar dalam ruang kewargaan, Arungkala mengolah arsip-arsip dan mempresentasikannya secara langsung di ruang-ruang warga seperti balai warga, pos ronda, pasar, dan sebagainya.

Sore itu, kami melihat-lihat sekeliling gereja dan menjumpai tumpukan arsip. Map dan kardus arsip itu berdebu. Kami membuka tumpukan dokumen dari tahun 1960 sampai 1970. Arsip-arsip yang kami temukan ini menandai satu periode menarik dalam sejarah kaum Baptis di Indonesia, bahkan sejarah gereja-gereja di Indonesia secara umum. 

arungkala
Pameran arsip di Gereja Baptis Cipaganti, kolaborasi Kolektif Arungkala dengan warga Gereja Baptis Cipaganti. (Dokumentasi: Arungkala, Maret 2026)

Kami membaca arsip-arsip gereja ini dan secara perlahan mempelajari konteks historisnya. Setelah berdiskusi dengan beberapa pengurus gereja, kami sepakat menginisiasi sebuah pameran arsip dari berbagai dokumen milik Gereja Baptis Cipaganti. Pameran arsip gereja tampaknya hal yang amat baru di Indonesia. Kami mencari beberapa referensi dan menemukan bahwa inisiatif semacam ini memang jarang sekali dilakukan.

Sementara itu, konteks historis Gereja Baptis Cipaganti dan sejarah denominasi Baptis di Indonesia ternyata cukup kompleks.

Kompleksitas berawal dari hengkangnya para misionaris Amerika Serikat dalam Southern Baptist Convention yang bertahun-tahun beraktivitas di Republik Rakyat Cina (RRC) pada era Mao Zedong. Ketika itu, Perang Korea 1950–1953 memanas dan kampanye anti Amerika Serikat berkobar di seluruh Asia Timur. Poster-poster anti Amerika Serikat terpampang di sudut-sudut jalan. Demonstrasi dan propaganda anti Amerika Serikat merebak luas. Peperangan pun merajalela di mana-mana. 

Peraturan pemerintah RRC yang menolak segala bentuk aktivitas lembaga Amerika Serikat memaksa misionaris Amerika Serikat dalam Southern Baptist Convention pindah ke negara lain. Indonesia jadi salah satu negara tujuan. Perintisan gereja, rumah sakit, dan seminari di Indonesia dimulai pada dekade tersebut. Momen krusial sejarah Gereja Baptis di Indonesia muncul pada 1950-an. Gereja-gereja Baptis di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dibangun sepanjang dekade ini. 

Gedung Gereja Baptis Cipaganti di Bandung dibangun tahun 1958 dan aktif digunakan beribadah sepanjang 1960-an sampai hari ini. Satu dekade setelah misionaris Southern Baptist Convention hadir di Indonesia, peristiwa besar terjadi pada September dan Oktober 1965.

Sejarah Gereja Baptis di Indonesia, khususnya perintisan Southern Baptist Convention, tak bisa dilepaskan dari dinamika Indonesia setelah 30 September/1 Oktober 1965. 

Baca Juga:  Angki Purbandono: Dari Scanography Hingga Ganja

Sejumlah arsip mencatat lonjakan anggota baru denominasi Baptis tiap tahun yang mencapai 4.000-5.000 orang setelah 1965. Pemerintahan militeristik Soeharto lahir dan khalayak sangat takut dengan tuduhan menjadi “simpatisan komunis”. 

Itu sebabnya perintisan Southern Baptist Convention “diuntungkan” oleh pembantaian massal 1965. Diksi “diuntungkan oleh pembantaian massal 1965” tercetus berkali-kali dalam arsip-arsip para misionaris Amerika Serikat. 

R. Keith Parks, misionaris Southern Baptist Convention, menyebut secara eksplisit: “The Lord moved in Indonesia in a remarkable way two years ago. It was only God’s intervention that saved this country from the Communists. There is a great revival, people turning to the Lord in great numbers, more in some areas than in others. Whole villages are coming to the Lord.”

(Terjemahan bebas: Tuhan bekerja di Indonesia dengan cara yang luar biasa dua tahun yang lalu [baca: 1965]. Hanya campur tangan Tuhan yang menyelamatkan negara ini dari para Komunis. Terjadi kebangunan rohani yang besar, orang-orang berbalik kepada Tuhan dalam jumlah besar, di beberapa daerah lebih banyak dibandingkan daerah lainnya. Seluruh desa datang kepada Tuhan)

Arsip-arsip yang kami kumpulkan selama berada di Bandung menunjukkan bagaimana sejarah gereja terhubung dengan dinamika sosial-politik. Tak pernah ada yang netral tentang arsip, begitu pun cara kita melihatnya hari ini. 

Arsip Gereja = Arsip Warga

Arsip-arsip gereja yang kami kumpulkan dan kami pelajari menjadi material utama dalam pameran arsip yang berlangsung 15–29 Maret 2026. Menempati sebuah ruang kosong dalam gedung gereja, arsip-arsip tersebut kami olah dan kami pasang pada dinding gereja. Kami sengaja tak mengemasnya dengan gaya museum yang rapi dan steril. 

Kami membiarkan dinding-dinding gereja sendiri yang bicara dengan bekas paku, noda air, dan cat mengelupas berusia puluhan tahun. Organ elektrik yang rusak kami biarkan berdiri di pojok ruangan, persis seperti saat terakhir kali digunakan mengiringi himne gereja era 1980-an. Kursi kayu jati yang digunakan untuk ibadah kami atur tak beraturan, mengundang siapa pun yang datang untuk duduk, membaca, bertanya, atau sekadar merenung.

arungkala
Arsip-arsip dalam pameran arsip di Gereja Baptis Cipaganti. (Dokumentasi: Arungkala, Maret 2026)

Pada sudut lain ruang pameran, kami mengolah potongan arsip gereja — mulai dari laporan tahunan, foto-foto hitam putih, denah bangunan gereja, hingga arsip majalah “The Commission” terbitan Southern Baptist Convention. Dari arsip majalah terbitan April 1962 tersebut, kami memperlihatkan sebuah artikel bertajuk “Triumphant Ten Years” yang ditulis oleh seorang misionaris yang tinggal cukup lama di Indonesia, Buford L. Nichols. 

Baca Juga:  Orang-Orang Gembel Perumahan dan Pujian atas Karya DOM 65

Selain arsip-arsip berbentuk dokumen, kami cukup beruntung sempat berbincang dengan warga senior Gereja Baptis Cipaganti. Pameran arsip komunitas semacam ini ternyata dapat menjembatani percakapan, tuturan kisah, dan ingatan — mempercakapkan ingatan dari satu generasi ke generasi lainnya.  

Kami juga menemukan dinamika hubungan gereja dengan masyarakat di sekitarnya. 

Ada tahun-tahun ketika gereja dianggap “asing” karena memang didirikan oleh misionaris Amerika Serikat. Ada tahun-tahun ketika gereja justru menjadi tempat yang dicari karena mampu menyediakan pendidikan gratis atau layanan kesehatan yang tak tersedia di tempat lain. Ada pula momen ketika gereja tutup mata terhadap apa pun yang terjadi di luar temboknya, sebuah posisi yang perlu diintervensi secara diskursif untuk melawan penyeragaman pikiran dan pelupaan massal. 

Ketika menyebut “arsip warga”, kami bermaksud mengambil posisi yang jelas dalam kontestasi produksi pengetahuan. Arsip-arsip ini tidak pernah menjadi milik institusi negara, tidak pula sepenuhnya milik institusi gereja dalam arti formal.

Arsip-arsip ini dimiliki oleh orang-orang biasa yang terhubung dengan gereja. Sejumlah foto dan dokumen yang tersimpan di gereja merupakan salinan dari foto dan dokumen pribadi milik keluarga para jemaat yang mereka simpan dalam lemari tuanya masing-masing.

Kami sadar bahwa pameran sederhana di sudut gereja yang hanya berlangsung dua minggu tak akan mengubah narasi besar tentang sejarah nasional. Tapi setidaknya ada sesuatu yang bergerak.

Ketika seorang remaja melihat-lihat arsip gereja, kami mendapatinya tiba-tiba tertarik dengan setumpuk dokumen. “Siapa ya nama orang-orang dalam foto hitam-putih ini?” Dari sinilah bergulir percakapan lintas generasi yang mungkin tidak akan terjadi jika arsip-arsip tersebut tetap terpendam dalam map atau kardus di sudut-sudut gudang. 

Inisiasi pameran arsip bersama komunitas gereja ini tak didukung sponsor mana pun, bahkan nyaris tanpa biaya produksi. Saya pikir, inisiasi ini justru menjadi momentum penting dalam produksi pengetahuan berbasis warga. Kita merefleksikan dinamika sosial-politik, melihat sejarah secara kritis, dan menyemai kembali ingatan kolektif tentang masa lalu.

Inisiatif semacam ini akhirnya menjadi sangat penting dalam situasi pelupaan sistemik, dalam politik penulisan sejarah, dan dalam absennya orang-orang biasa dalam historiografi resmi. Toh arsip warga yang banyak tersebar di balai warga, tempat ibadah, studio foto, hingga kediaman pribadi justru menyimpan catatan-catatan paling jujur tentang bagaimana orang-orang biasa menghadapi zaman yang berubah.

Penulis: Amos Ursia

Editor: Sylvie Tanaga

Related posts

Philippe Jaroussky: Sang Tenor-Kemayu Ternama Masa Kini

Jafar Suryomenggolo

(Hasrat) Yang Kini Terbaring

Aris Setyawan

“Lagipula Hidup Akan Berakhir” dan “Cincin” Karya Hindia dari Perspektif Sejarah

Nadya Karima Melati

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy