Bebunyian merambat samar di antara deru kendaraan. Para penjaga sibuk memeriksa bawaan pengunjung yang sedang mengantre. Di gerbang utama, tiket-tiket diperiksa persis sebelum masuk area Synchronize Fest. Berbagai instalasi dari bahan plastik daur ulang menggantung di sepanjang jalan, “mengganggu” siapa pun yang hendak tergesa-gesa menyaksikan penampilan musisi pujaan.
Mengusung tema “Saling silang”, tahun 2025 ini Synchronize Fest merayakan usianya yang ke-10. Selama tiga hari penuh yakni 3, 4, dan 5 Oktober 2025, ratusan ribu pengunjung yang hadir di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, diajak menyelami berbagai pengalaman menarik.
Tema “Saling Silang” berakar dari eratnya pergaulan musik dengan seni multidisiplin dalam upaya menembus batas-batas kreativitas. Gagasan tersebut berkelindan di antara dua poros penting aktor di balik Synchronize Fest yaitu label rekaman Demajors dan kolektif seni ruangrupa yang tumbuh bersama selama 25 tahun.
Festival multi-genre tahunan ini menjadi ruang yang mewadahi dan mengapresiasi karya musik, mempertemukan musisi dan penikmatnya, merayakan keberagaman, serta berbagi gagasan dan pengetahuan demi merawat ekosistem musik di Indonesia.
Saling Silang di Synchronize Fest mulanya tumbuh dari pertukaran ide dan kolaborasi antar-musisi dan seniman, mulai dari produksi dan distribusi rilisan fisik, perancangan artwork album dan video musik, hingga gigs yang digelar di berbagai kota.
Berbeda dari festival musik yang hanya mempertemukan musisi dan penonton, Synchronize Fest turut mempertemukan label independen, kolektif seni, dan ruang-ruang alternatif.
Dalam buku panduan acara disebutkan bahwa Synchronize Fest percaya musik bukanlah perkara bunyi semata. Lebih dari 700.000 penonton hadir dan mengalami musik yang hidup dan tumbuh, sementara lebih dari 30.000 pekerja bergotong royong mewujudkan sebuah festival yang sehat, berdaya, dan berpihak pada musik.
Penyelenggara acara juga menyadari dampak lingkungan dari festival musik, termasuk timbunan sampah dan emisi karbon. Sejak 2019, mereka menginisiasi model festival yang lebih ramah lingkungan melalui gerakan hijau (green movement) yang lebih dikenal dengan S.i.S.A (System Integration for Sustainability Act).
Gerakan ini diwujudkan melalui empat pilar yaitu perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan (internal change behavior), pengelolaan sampah (waste management), anjuran membawa wadah minum sendiri (bring your own tumbler), serta anjuran bersepeda sebagai moda transportasi menuju Synchronize Fest (bike to Synchronize Fest).
Selain itu, penyelenggara meluncurkan program Nebeng Bareng Transjakarta sebagai upaya mendorong pengunjung memilih transportasi publik ke arena festival sehingga dapat meminimalisir emisi karbon. Tahun ini, mereka berkolaborasi dengan Greenpeace memasang tiga set solar panel yang mampu menyuplai daya di area santai sebesar 3.300 Watt per jam.
Inklusivitas Synchronize Fest pun tampak dari tersedianya akses menonton bagi para penyandang disabilitas, anak-anak, ibu hamil, dan orang tua. Mereka juga menyediakan ruang khusus anak bernama RURU Kids sebagai area bermain yang nyaman sekaligus tempat beristirahat sejenak dari riuhnya festival. Upaya-upaya ini menunjukkan bagaimana sebuah festival musik dapat menjadi ruang aman yang ramah bagi semua kalangan.

Guruh Gipsy Zaman Kiwari
Salah satu pertunjukan musik di Synchronize Fest yang menarik perhatian saya datang dari grup band legendaris dari Indonesia yang telah dianggap sebagai ‘mitos’ yaitu Guruh Gipsy. Bermula dari sebuah album yang digodok sebagai respons terhadap dominasi kelompok musik yang terlalu kebarat-baratan semasa Orde Baru, Guruh Gipsy terkenal memadukan musik rock dengan musik tradisional khas Nusantara.
Penampilan Guruh Gipsy membawakan album Self Titled mereka di hari kedua Synchronize Fest menjadi momen langka karena para musisinya nyaris tak pernah memainkan album legendaris ini secara langsung semenjak diluncurkan pertama kali setengah abad silam.
Penampilan mereka dibuka dengan sahut-menyahut tetabuhan kendang Bali yang membawa penonton pada sebuah orkestrasi gamelan yang rancak dan dinamis. Tak lama, barong yang merupakan figur malaikat pelindung dalam mitologi masyarakat Bali memasuki panggung, menyusul seekor kera yang membagi-bagikan pisang pada para penonton.
Hentakan drum Keenan Nasution membelah alunan gamelan. Ritme dan suasana seketika groovy, diiringi permainan tutti yang bergulir serempak. Tak lama berselang, Abadi Soesman memainkan synthesizer yang berdialog dengan laras pentatonik gamelan.
Guruh Soekarnoputra, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman tampil energik dengan aransemen masa kini yang memadukan instrumen gamelan Bali, penyanyi latar, ansambel musik tiup, piano, biola, hingga marching band. Sekitar 50 penampil (termasuk musisi kolaborator, penari, dan penyaji ritual Bali) sukses menyajikan kekayaan budaya tanah air.
Berlokasi di District Stage, Guruh Gipsy tampil energik selama hampir satu jam penuh membawakan enam lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra dari album yang judulnya sama dengan nama band. Album yang direkam pada 1975 dan dirilis 1977 ini sempat dinobatkan Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu album musik terbaik sepanjang masa.
Penampilan yang sangat menggores kesan mendalam bagi batin saya muncul ketika Andy /rif membawakan lagu “Janger 1897 Saka”:
Art shop megah berleret memagar sawah (Cak he he)
Cottage mewah berjajar di pantai indah
Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi
Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri
Boleh saja bersikap selalu ramah
Bukanlah berarti bangsa kita murah
Kalau kawan tak berhati-hati bisa punah budaya asli
Kalau punah budaya asli harga diri pun tak ada lagi
(harga diri pun tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati)
Penggalan lirik tersebut memuat kegelisahan tentang cara menjaga nilai dan martabat budaya di tengah derasnya arus perubahan. Kritik ini terasa semakin relevan hari ini, terutama ketika ruang hidup masyarakat semakin tergerus modernisasi – meskipun definisi “budaya asli” masih perlu kita kaji secara kritis mengingat sifat budaya yang tidak pernah beku melainkan selalu bertumbuh, bertransformasi, dan bernegosiasi dengan zaman.
Guruh Gipsy menyajikan ruang refleksi untuk menengok kembali nilai-nilai budaya yang menempatkan relasi manusia selaras dengan alam sebagai pijakan penting untuk merawat bumi di tengah gentingnya situasi krisis ekologi zaman kiwari.

Di penghujung repertoar, Keenan Nasution secara magis melantunkan sepotong lirik lagu “Indonesia Maharddhika” diiringi suara string keyboard:
Aku dengar deru jiwa
Bagai badai mahaghora
Di Nusantara Raya
Lamat-lamat, piano dan petikan gitar bernada pentatonik kembali mengalun, disusul aksi panggung Abadi Soesman dengan permainan solo synthesizer-nya yang sungguh memikat. Ansambel musik tiup pun saling berdialog intim dengan komposisi gamelan, menjelma sebuah kolaborasi yang solid dan megah.
Guruh Gipsy seolah mengembuskan harapan tentang masa depan Indonesia yang lebih baik di tengah segala kisruh yang tak henti melanda negeri ini. Para penonton pun larut dalam suasana, menyanyikan bait demi bait lagu tersebut layaknya merapal doa bersama:
Cerah gilang gemilang
Harapan masa datang
Rukun damai mulia
Indonesia tercinta
Selamat sejahtera
Lirik lagu yang tercipta pada rezim otoriter ini seolah bangkit kembali berupaya menelusuri makna-makna barunya pada masa kini, di tengah puluhan ribu penonton lintas generasi dengan segenap perasaannya sebagai warga negara Indonesia.
Yang pasti, penampilan ini bukan sekadar ajang nostalgia melainkan persembahan bagi generasi muda sekaligus penghormatan terhadap para personel Guruh Gipsy yang telah lebih dulu tiada seperti Chrisye, Roni Harahap, dan Oding Nasution.
Sebagaimana tujuan Synchronize Fest mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem musik di Indonesia, penampilan kolaborasi Guruh Gipsy bersama ratusan musisi dan seniman pun berupaya menjembatani berbagai visi dan gagasan para penikmatnya.
Selain melantunkan harapan secara kolektif, perjumpaan antar-elemen ini mengingatkan pentingnya merawat ruang hidup bersama dengan cara menjaga alam sebaik-baiknya, sebagaimana ditunjukkan nilai-nilai dalam tradisi Nusantara.
Synchronize Fest sebagai Ruang Dialog Alternatif
Hal lainnya yang memantik perhatian saya adalah bagaimana Synchronize Fest kali ini turut bekerja sama dengan ruangrupa untuk menghadirkan ruru25: Poros Lumbung. Program ini mengundang puluhan jejaring inisiatif dan kolektif seni dari dalam dan luar negeri untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan dari ragam praktik kolektif.
Salah satu praktik artistik mereka adalah mendaur ulang berbagai material bekas seperti plastik, spanduk, kayu, besi, tutup botol, dan sebagainya. Karya-karya yang dipamerkan telah menunjukkan bagaimana daur ulang material membuka kemungkinan baru bagi praktik kerja seni dan komunitas.
Selain pameran lintas media, ruru25: Poros Lumbung juga menyajikan lokakarya, pertunjukan, diskusi, pemutaran film, dan beragam praktik seni lainnya yang menghubungkan seni, musik, pendidikan, dan gerakan sosial.

Kolaborasi semacam ini menegaskan kembali semangat “Saling Silang” Synchronize Fest yang ditandai simbol ‘X’ (angka Romawi). Tiap orang yang hadir, apa pun latar belakangnya, dapat saling bertukar gagasan, belajar, berkolaborasi, dan bersiasat mengupayakan kemandirian dalam upaya menjaga relevansi di tengah tantangan zaman.
Melalui perjumpaan-perjumpaan bermakna inilah Synchronize Fest berpotensi menjadi ruang dialog alternatif antar-warga. Ia menawarkan berbagai imajinasi tentang dunia yang ingin dibangun bersama, sekaligus mengingatkan kita betapa sulitnya melahirkan imajinasi tersebut jika tak ada upaya membangun ruang yang bisa menumbuhkan kesadaran dan solidaritas bersama – terutama ketika kini kondisi tanah air semakin tidak baik-baik saja.
Penulis: Gendra Wisnu Buana
Editor: Sylvie Tanaga
