Pencarian Spiritual dalam Splitual

Intro

Pakar neurologi Mark Changizi menyebut bahasa dan musik adalah upaya manusia meniru alam. Menurut Changizi suara nature atau alam sebenarnya terlampau pelik untuk dipahami dengan keterbatasan otak manusia, sebab ada frekuensi-frekuensi yang tak mampu diterjemahkan datum indera manusia. Musik buatan manusia adalah upaya meniru alam hanya dengan menghadirkan frekuensi-frekuensi yang dapat dipahami manusia. Manusia menciptakan musik sebagai sebuah upaya pencarian spiritualitas.

Contoh dari pendapat Changizi dapat disimak dari penjelasan pakar mitologi Joseph Campbell. Menurut Campbell manusia membangun candi dan gereja dengan mengedepankan aspek akustika suara di bangunan itu. Ini karena manusia sedang menirukan akustik dalam sebuah gua, tempat manusia generasi pertama merasakan kerinduan spiritual. Tentu saja manusia tidak akan mampu menangkap standar akustik dalam gua secara persis, apa yang bisa dilakukan adalah membangun peniruan itu dengan simplifikasi.

Verse

Minggu malam (30/09) di sebuah venue bernama Sangat Coffee. Tempat nongkrong anak muda ini memiliki sebuah kebun kecil persis di samping bangunan utama. Di malam yang cerah itu, kebun tersebut disulap menjadi sebuah lokasi pertunjukan. Yang punya gawe adalah dua unit band cadas asal Yogyakarta, Marsmolys dan Kavaleri. Pertunjukan ini adalah semacam upacara penyambutan kelahiran anak. Sebuah pencarian spiritualitas. Anak tersebut bernama Splitual. Sebuah album Split bersama yang dilahirkan oleh Marmolys dan Kavaleri.

Seolah menegaskan upaya pencarian spiritual kedua band tersebut, kebun kecil di Sangat Coffee ini ditata sedemikian rupa, dijadikan semacam altar peribadatan. Begitu masuk ke lokasi, para penonton diwajibkan mengenakan sebuah kalung berisi rajah. Mereka langsung disambut dengan bau tajam kemenyan yang menguar di beberapa sudut lokasi.

Suasana spiritual makin kental dengan adanya altar tepat di dekat pintu masuk. Altar yang lengkap dengan sesajen dan lilin. Di meja itu juga terdapat foto-foto para musisi rock yang telah berpulang. Ya, sesajen ini dimaksudkan sebagai sebuah penghormatan terhadap mereka yang di masa lampau mendendangkan musik rock dan telah mangkat ke hadirat Yang Maha Kuasa.

Tepat pukul delapan malam, perwakilan dari dua kugiran tersebut menabuh gong sebagai bentuk seremonial: melarung Splitual. Tidak menunggu lama, setelah secara seremonial melarung album, tanpa babibu, penonton langsung disuguhi sajian utama acara malam itu: musik.

Half Eleven PM menjadi yang tampil pertama sebagai band pembuka di panggung. Musik dark pop yang mereka bawakan semakin menjadikan nuansa spiritual malam itu lebih kental. Dengan vokal yang meliuk-liuk mencekam, petikan gitar akustik yang membius, serta gesekan cello dan contrabass yang menawan. Half Eleven PM adalah sebuah band yang sulit untuk dilupakan. Ada sesuatu yang intens dari repertoar yang mereka bawakan, dan sudah pasti menancap kuat di memori para penonton.

Setelah Half Eleven PM, giliran duo Temaram menjajah panggung. Minimalis, mereka hanya beranggotakan dua orang, instrumen yang hadir juga hanya dua: gitar dan drum. Namun, bukan berarti musik mereka bisa diremehkan. Temaram membawakan musik doom dalam intensitas yang berat. Suara gitar yang berat dan gahar, ditingkahi dengan ritme-ritme drum yang menghentak. Para penonton tampak mulai gatal untuk berheadbanging di depan panggung. Mengikuti arahan dari Temaram yang juga tampak sangat menikmati peribadatan musik ini.

Tuntas. Dua kugiran pembuka telah memanaskan suasana. Tiba giliran band yang punya gawe menjajah panggung.

Marmolys digadang sebagai yang pertama tampil. Ratusan penonton yang hadir mulai merangsek ke depan panggung. Seolah siap menerima gempuran musik cadas dari Marsmolys. Dan memang benar, musik mereka cadas. Semacam stoner dan psikedelia yang memaksamu untuk berpikir ulang tentang jagat transendental. Raungan gitar dengan efek mengawang yang memancingmu memikirkan ulang perkara spiritual: sudah cukup berimankah aku?

Panggung tersebut tidak terlampau besar. Di samping kanan dan kiri terdapat dua patung dengan kepala berwarna emas yang terlihat menyeramkan. Sementara di tengah panggung terdapat slideshow visual yang bergantian menampakkan logo Splitual, foto bulan, dan nama band.

Seiring penampilan Marsmolys di panggung, energi penonton mulai tak terbendung. Mosh-pit mulai terbentuk, para penonton saling bersenggolan dan beradu badan. Beberapa terlihat gatal untuk melakukan crowd surfing lalu mulai melompat ke kerumunan yang sigap menangkap dan mengangsurkan itu badan ke penonton lain.

Sang vokalis + gitaris juga tampak gatal untuk melakukan crowd surfing. Di lagu terakhir, ia yang masih mencangklong gitar tiba-tiba melompat ke depan panggung. Penonton yang hadir sigap menangkapnya. Aksi ini menjadi sebuah suguhan yang klimaks dalam penampilan Marsmolys.

Setelah Marmolys turun panggung, lima orang punggawa Kavaleri menguasai stage.

Kavaleri adalah tipe band yang mampu menyalurkan energi luar biasa kepada orang yang mendengarkannya. Kelima personil terlihat sangat atraktif di atas panggung. Penonton makin liar dan moshing makin tak terbendung. Hentakan drum yang keras kawin dengan ritme bass, dua gitar meraung-raung, dan suara bersemangat vokalis yang saking semangatnya terkadang melontarkan sarkasme—yang sebenarnya tidak perlu dan cukup mengganggu—di jeda lagu. Sebuah kombinasi sempurna untuk memicu eargasm.

Salah satu sarkasme sang vokalis yang patut disoroti adalah sebelum Kavaleri membawakan lagu bertajuk “Mampus Kau Dikoyak-Koyak Seni.” Sang vokalis mengumpat dan meyemburkan kata-kata “Sok seni, sok filsafat. Taek.” Mungkin sang vokalis berusaha melucu. Namun, sepertinya dagelan sarkas itu gagal, karena tidak terdengar lucu sama sekali.

Seperti lazimnya ibadah pencarian makna spiritualitas yang penuh cobaan dan tidak pernah berjalan mulus seperti yang diharapkan. Ada beberapa cobaan yang juga menerpa pencarian makna spiritualitas kedua band tersebut. Sesuatu yang seharusnya bisa dihindari jika ada persiapan yang lebih baik. Ada banyak perkara teknis yang cukup mengganggu dan perlu menjadi catatan.

Yang patut disoroti adalah kualitas sound malam itu yang kurang mumpuni, terasa ‘kentang’ alias ‘kena tanggung’. Di sepanjang pertunjukan, suara yang keluar dari dua pelantang suara di kanan kiri panggung terdengar tidak seimbang. Ada kalanya suara vokalis tak terdengar, suara bass yang lebih besar menutupi suara instrumen lain.

Permasalahan ini sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan sesi sound check yang baik sebelum dihelatnya acara. Namun, tampaknya para pengisi acara tidak mendapatkan jatah sound check yang proper. Maka, jadilah keempat penampil meraba-raba dan tampil seadanya di panggung.

Outro

Terlepas dari perkara teknis, barangkali, ratusan orang yang hadir di prosesi pelarungan album malam itu mengamini satu premis yang sama: Marmolys dan Kavaleri adalah band yang menjanjikan. Pelarungan album bersama bertajuk Splitual ini hanyalah sebuah awal. Setelahnya, tentu mereka memiliki banyak amunisi musikal yang siap diberondongkan ke khalayak penikmat musik cadas. Baik dalam bentuk karya (album), maupun dalam pertunjukan langsung.

Setelah pertunjukan paripurna, setiap orang yang hadir minggu malam itu tentu pulang ke rumah masing-masing dengan sebuah bekal pemikiran yang sama: sejauh mana pencarian spiritualku? Dan di mana pencarian ini bermuara?

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)