Serunai.co
Ulasan

Alam Liar Sarkem Jogja, Debut Vivacity yang Menolak Bernasib Buruk

vivacity
Vivacity saat manggung dalam gelaran Brang Breng Brong volume 5 di Bakudapa Cafe (Foto: Cahyo Kumolo)

Tentang Vivacity, Sarkem Jogja, dan debut album bertajuk The Wild is Yours.

Jika lima langkah keluar dari rumah adalah “alam liar”, bisa dibayangkan jika rumahmu berada di Sarkem a.k.a Pasar Kembang, Yogyakarta. Di sana kita akan bertemu kompleks pelacuran, gangster, tukang becak, riuh pedagang, dan juga turis. Tidak ada hari libur di pinggiran kawasan wisata Malioboro itu. Atas kehendak semesta semua berjalan hingga membentuk Pasar Kembang sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Narasi di atas merupakan sedikit gambaran dari mini album Vivacity, The Wild Is Yours. Enam lagu di album ini diluncurkan secara digital oleh Netlabel asal Yogyakarta, Dugtrax Records pada akhir Desember lalu. Di album ini Vivacity menggambarkan kondisi tempat di mana mereka tumbuh; Sarkem, Sebuah lokasi yang selalu diidentikkan dengan “wisata lendir” untuk para lelaki hidung belang di Yogyakarta.

Vivacity lahir di pusat Kota Yogyakarta pada awal tahun 2019. Formasi mereka saat ini diisi oleh Rickycunk (Vokal, Gitar), Bigar Chaka (Gitar), John Tito (Bass), dan Jat Bastard (Drum). Sejak awal berdiri, mereka memainkan musik dari subgenre punk; yaitu Oi dan Street Rock. Tidak bisa dimungkiri bahwa mereka terinspirasi dari band-band sejenis macam Cock Sparrer, Blitz, Sham 69, The Last Resort, hingga DOM 65.

Berbicara soal Vivacity tentu tak lepas dari sosok Rickycunk yang merupakan produk asli Pasar Kembang. Ia lahir dan tumbuh di gang-gang sempit dan gelap itu. Sosok yang kerap bisa ditemui kelayapan di Malioboro hingga dini hari. Waktu luangnya selalu tampak banyak . Ia yang selalu tampak nge-punk, tampil lengkap dengan atribut sepatu Docmart dan jaket kulit penuh spike dan patch. Nama Vivacity, menurutnya, diambil dari nama sebuah kosmetik yang dipakai seorang PSK tersohor di Pasar Kembang.

“Di Pasar Kembang itu ada PSK paling cantik, namanya Mona (bukan nama sebenarnya, red). Aku waktu itu ketemu dia dan ternyata pake bedak merknya itu Viva. Dari situ kata Viva terus tertancap di pikiran sampek pulang ke rumah. Viva, viva, viva, terus lalu aku pakek jadi nama band kayaknya keren, lalu ditambahi City, jadi terpilih nama Vivacity,” kata Rickycunk pada obrolan di sebuah angkringan di daerah Pajeksan saat 22 Februari 2024 dini hari.

Baca Juga:  Orang-Orang Gembel Perumahan dan Pujian atas Karya DOM 65

Frontman Vivacity ini menjelaskan bahwa album ini merupakan hasil pemikirannya merespons kondisi sosial masyarakat urban Yogyakarta. Enam lagu di album ini yaitu “Sesak”, “Jurus Mabuk”, “Laga Tanding”, “Omong Kosong”, “Aku Tak Butuh Panggungmu”, dan “Hucksters”. Untuk lagu “Hucksters”, mereka menggubah ulang lagu dari band Dead Germs di album kompilasi Still One Still Proud Vol.1 yang dirilis Movement Records pada 1998.

Isi lagu di album itu kira-kira begini: “Sesak” berisi musikalisasi puisi marah-marah di mana dari gang sempit Sarkem bisa melahirkan pemberontakan. “Jurus Mabuk” berkisah ihwal gangster pengecut yang enggan diajak duel satu lawan satu karena beraninya keroyokan. Pada lagu “Laga Tanding”, menggambarkan keras kehidupan yang dibayangkan seperti sebuah pertandingan olahraga. Janji-janji pemangku kebijakan yang tidak ada juntrungannya ada di lagu “Omong Kosong”. Lalu di “Aku Tak Butuh Panggungmu” berpesan akan tidak main-main dengan janji manis yang telah diberikan kepada orang. “Hucksters” yang berarti pedagang asongan, bercerita tentang pedagang yang menjerit karena ditangkap sewenang-wenang oleh polisi.

Pada liner notes album ini, Imam Senoaji dari DOM 65 mengungkapkan bahwa lagu-lagu di album ini seperti menjelaskan bahwa hidup di Jogja Kota tidaklah santai. Pada aransemen musik, menurut Imam, Vivacity menghadirkan punk rock yang kuat dengan pondasi klasik Oi! macam The Last Resort dipadu dengan klasik rock seperti Slade. Hal ini menjadikan lagu dari Vivacity menjadi oplosan rock jalanan yang serba pas kadarnya. Beat dan ritemnya lugas, ada sedikit sentuhan Hardcore Amerika.

“Musik mereka adalah refleksi yang serius, tidak ada drama, tidak ada gemerlap glamornya fashion tongkrongan, tidak lagi bicara ilusi weekend-nya kelas pekerja, semua nyata tentang bagaimana mereka bertahan hidup dari segala omong kosong romantisasi basi,” tulis Imam.

Mendaku diri sebagai punk-rock dengan jargon “Viva La Subkultur Rombeng”, Vivacity memang hidup di jalanan. Sepanjang jalanan Yogyakarta adalah tempat mereka hidup dan sumber inspirasi bagi karya-karya mereka. Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pariwisata, yang selalu tampak indah di media sosial, sejatinya mempunyai masalah dan tidak baik-baik saja.

Yogyakarta memang tidak semuanya romantis seperti lagu Adithia Sofyan atau Kla Project. Banyak masalah sosial yang sejatinya bisa membuat dadamu sesak hingga ingin misuh-misuh; Upah Minimum Regional yang angkanya selalu rendah, premanisme di sana-sini, persaingan kerja yang tinggi, kemacetan akhir pekan karena bus pariwisata, hingga masalah kesenjangan-kesenjangan lainnya. Hal tersebut tentu membuat banyak pemuda depresi di Yogyakarta. Syahdan klitih adalah ujungnya.

Baca Juga:  Yang Hilang dalam Perdebatan JRX dan Via Vallen

Rickycunk mengungkapkan bahwa Vivacity lahir dari benar-benar rombeng; compang-camping menjalaninya, tapi terus akan hidup. Mereka menjalani hidup seperti terus ditempa masalah bertubi-tubi. Masalah yang cukup rumit hingga gitar milik Rickycunk dicuri. Meski begitu, berdasar prinsip brotherhood ala punk, Vivacity secara organik berkarya untuk meluapkan keluh kesah bersama. Mereka seperti tidak pernah pasrah menghadapi keadaan. Lagu Vivacity, “Jurus Mabuk”, diceritakan Rickycunk terinspirasi oleh pengalaman nyatanya saat dikeroyok orang di tahun 2017.

“Hidup di kawasan pariwisata memang harus berhadapan dengan para gangster seperti itu. Saya menantang berani enggak 1 lawan 1. Eh, ternyata dikeroyok. , rebutan nasib. Hal itu sering kali terjadi di sini,” ucapnya.

Keras kehidupan membuatnya juga menciptakan lagu “Laga Tanding”. Hidup yang dibayangkan layaknya menjalani sebuah pertandingan. Kerja keras, bertahan menghadapi serangan, melewati bermacam rintangan, lalu berjuang meraih kemenangan.

“Ceritanya di 2019 ada temanku datang ke rumah ngeluh cicilannya banyak lalu diusir dari kos karena gak bisa bayar. Pada tahun itu ngetren teman-teman bikin lagu tentang sepakbola. Sebenarnya kami mau bikin lagu tentang sepakbola, tapi karena ketika nonton bola selalu mabuk jadi kepikiran bikin lagu bola yang enggak bola-bola banget. Laga Tanding ini cerita tentang teman saya yang bernama Nopek itu,” ucap pemuda full tattoo ini sambil nyengir.

Pada lagu “Laga Tanding”, Vivacity seperti hendak bercerita tentang hidup yang tidak dipertandingkan adalah hidup yang tak layak dijalani. Menjalani hidup dengan lempeng, berada di zona nyaman, dan tanpa aral melintang itu kurang rebel. Kurang ada motivasi berlebih untuk berjuang memperoleh sesuatu yang diinginkan. Semua dijalani layaknya seperti lelaki sejati dalam imajinasi Rickycunk. Tidak boleh cengeng dan harus berani bertempur.

Barangkali seperti itulah hidup menjadi laki-laki ala Vivacity. Mereka adalah sekumpulan penyuka tantangan, sulit diatur, dan memacu adrenalin. Mereka lebih suka menjaga gengsi daripada harus tertunduk pasrah. Kalah terhormat lebih bagus ketimbang menang dengan cara memalukan. Meski banyak dibilang pilihan ini bodoh oleh kebanyakan orang, Vivacity seperti punya keyakinan akan menjaga harga diri lebih utama daripada menjaga harta, apalagi nyawa . Sebuah gaya hidup yang barangkali terinspirasi dari kelompok Hooligans di Britania Raya.

Baca Juga:  Tony Juga Manusia Biasa: Ulasan Film Roadrunner dan Eulogi yang Terlambat

The Wild is Yours bagi Rickycunk seperti menjadi usaha peneguhan diri bahwa ketika keluar rumah harus bersiap dengan segala risiko yang bisa didapat. Keserempet motor, kejambret, menginjak tai kucing, atau mungkin bertemu musuh. Semua bisa terjadi tanpa bisa diprediksi. “Yang penting harus berani aja dulu. Gak perlu takut kalau gak salah. Kata orang Jawa itu kalau takut jangan berani-berani, kalau berani jangan takut-takut,” ucapnya.

Saya beberapa kali telah menonton pertunjukan Vivacity, beberapa di antaranya saat event peluncuran album mereka di Decored pada akhir Januari 2024 dan di gelaran Brang/Breng/Brong vol. 5 awal Februari 2024. Pertunjukan mereka liar dipenuhi anak muda yang bersemangat. Dari yang berdandan ala skinhead Inggris, metalhead Amerika, hingga ala ala anak skena zaman sekarang. Panggung mereka selalu riuh, semua ber-moshing ria untuk bersenang-senang. Yang paling ditunggu biasanya adalah saat lagu “Jurus Mabuk” dimainkan. Rickycunk akan menari seperti penari ular yang membuat penonton menjadi berjoget mengiringi. 

Seperti punkers kebanyakan, Vivacity memosisikan diri sebagai mereka yang kalah namun terus berjuang. Mereka kalah dari gedung-gedung yang kian menjulang, polusi visual yang terus mengganggu, musisi lain yang dapat panggung besar, hingga kekalahan telak hidup lainnya. Sebagai warga lokal kotanya, mereka memang telah banyak kalah dari para pendatang yang datang ke kota ini. Meski kalah, Vivacity seperti enggan kalah tanpa perlawanan. Lagu-lagu dari mereka adalah suara masyarakat yang menolak menerima nasib buruk.

Hari menjelang pagi di Angkringan Pajeksan. Nasi kucing dan mendoan telah tuntas, disambut azan dari Masjid DPRD Malioboro yang kencang berkumandang. Para pedagang mulai menggelar lapakan, terlihat pula orang-orang yang mulai lari pagi. Penanda hari baru sudah mulai, dan saya bersama Rickycunk harus pulang ke tempat masing-masing.

Penulis: Ismail Noer Surendra

Editor: Ferdhi Putra

Related posts

Merintis Pengarsipan Musik Indonesia

Aris Setyawan

(Hasrat) Yang Kini Terbaring

Aris Setyawan

Sebelas Tahun Semesta Laleilmanino: Menubuh dalam Arteri, Mempertanyakan Meritokrasi

Isma Swastiningrum

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy