Serunai.co
Ulasan

Tony Juga Manusia Biasa: Ulasan Film Roadrunner dan Eulogi yang Terlambat

Jika anda berharap untuk mengenang sosok Anthony Bourdain yang keren bukan main, maka ada baiknya film ini anda lewati.

Dari jejak digital saya di laman Facebook, tercatat saya sudah fangirling acara-acara TV yang dipandunya sejak tahun 2010an, hingga mencoba untuk menelusuri tempat-tempat yang pernah dia kunjungi dari acara-acara TV-nya: Dari A Cook’s Tour (2002 -2003), No Reservations (2005-2012), dan yang terakhir adalah Parts Unknown (2013-2018). Bagi saya dan banyak orang, Anthony Bourdain memiliki profesi idaman: mencicipi makanan sembari berkeliling dunia. Maka ketika pada tanggal 8 Juni 2018 dia ditemukan bunuh diri, saya sedih bukan main. Begini rasanya ketika idola kita meninggal?

Lewat tiga tahun, saya kemudian membaca berita bahwa film dokumenter tentang Anthony Bourdain akan tayang di tahun 2021 ini dan disutradarai oleh Morgan Neville yang pernah memenangkan Oscar dari film dokumenter 20 Feet From Stardom di tahun 2014. Film dokumenter terakhir oleh Neville yang saya saksikan berjudul Won’t You Be My Neighbor, menceritakan kisah hidup tokoh pembawa acara TV Fred Rogers – semacam Kak Seto-nya Amerika Serikat (jika Anda tertarik untuk melihat film ini, bersiaplah untuk menangis mewek seperti saya).

Menyaksikan film Roadrunner bagi saya bagaikan menghidupi montase dari potongan-potongan acara TV yang sudah dipandunya, dengan disisipi oleh wawancara dengan orang-orang terdekat, termasuk chef Eric Ripert yang menemukan jenazah Anthony Bourdain pertama kali. Dibandingkan potongan montase-montase itu, saya lebih tertarik menyaksikan bagaimana orang-orang ini menceritakan kehidupan Anthony Bourdain.

Mendengarkan mereka menceritakan kehidupan Bourdain seakan-akan menyaksikan mereka duduk dan mengenang seorang kawan lama. Saya seperti mendengar mereka julid tentang teman mereka yang telah pergi, dan karena itu, bagi orang-orang ini, kenangan-kenangan manis juga berjalan seiring dengan kenangan pahit bersama Bourdain. Salah satu adegan yang paling mengena misalnya ketika David Chang, celebrity chef dari restoran terkenal Momofuku sambil terisak mengingat Bourdain yang berkata padanya bahwa dia (Chang) tidak akan pernah menjadi seorang ayah yang baik. Sebagai konteks, saya yang rajin mengikuti kemunculan David Chang di berbagai media tidak pernah melihatnya sebagai sosok yang rapuh; personanya di televisi selalu tampak seperti anak nakal; sarat guyon dan cenderung sinis. “Dasar Anthony berengsek”, batin saya waktu melihat adegan ini.

Baca Juga:  Takut Mati dengan Berani bersama Majelis Lidah Berduri

Se-rock-and-roll itu sosok Anthony Bourdain, hingga saya merasa film ini juga memiliki tema yang serupa. Jika jeli, anda akan menemukan jukstaposisi adegan-adegan dari acara TV Bourdain dan film-film lama, meskipun hanya sekitar sepersekian detik. Salah satu porsi besar referensi film bagi gaya artistik Bourdain adalah film Apocalypse Now. Sayangnya, saya masih belum menyaksikan film berdurasi hampir tiga jam ini. Yang saya kemudian pahami adalah film ini jadi sumber inspirasi Bourdain ketika dia berada di Congo untuk salah satu episode Parts Unknown. Selain itu, pengalaman menonton ini juga pasti lebih afdal jika teman-teman mendengarkan playlist Spotify yang dibuat oleh Neville berdasarkan lagu-lagu kesukaan Anthony Bourdain dari berbagai referensi: Dari Iggy Pop, The Stooges, Brian Eno, hingga Beach Boys. Jadi, anggaplah ini sebagai panduan menonton film Roadrunner jika anda bukan orang gila seperti saya.

Alih-alih menceritakan kehidupan Anthony Bourdain dari lahir, film ini dimulai dengan potongan klip dari Parts Unknown Season 12 episode 3 yang berlokasi di Indonesia, lebih tepatnya ketika dia berada di sebuah pantai di Bali. “Saya tidak peduli dengan tubuh saya setelah saya mati. Ditemukan meninggal, itu saja. Tidak perlu ada pesta” – begitu sang nihilis bersabda. Dari situ, kita diajak untuk memutar balik waktu di tahun 1999. Tahun saat dia memulai karirnya sebagai penulis. Artikelnya di The New Yorker waktu itu membuat orang-orang di New York mulai mengenal namanya. Tulisannya tersebut berkembang menjadi sebuah buku memoar berjudul Kitchen Confidential dan seketika itu ia menjadi celebrity chef.

Bak membuka kotak pandora, kesuksesan yang cukup ‘tiba-tiba’ ini mengubah arah hidup Anthony Bourdain, yang sayangnya, pelan-pelan menggelundung ke bawah. Seperti sebuah ulasan di The New Yorker, penonton bisa paham bahwa di film ini, Bourdain jadi pahlawan sekaligus penjahat bagi kehidupannya sendiri. Pahlawan karena dia berani mengaitkan gaya acara food travel dan jurnalisme hard news. Tidak segan pula ia membahas topik tentang politik geografi, rasisme dan perang. Jika ini pertama kali Anda mendengar tentang Bourdain, maka Anda harus menonton Parts Unknown. Karena acara-acara ini, saya pikir acara food travel yang dulunya dikonotasikan dengan hiburan menjadi lebih kompleks dari sekedar ‘acara makan’. Saya berani bertaruh: siapa pembawa acara makanan selain Bourdain yang berani pergi ke Russia untuk mewawancarai Boris Nemstov tentang pemerintahan Vladimir Putin?

Baca Juga:  Pesona Silat Jawa Minang

Mengarah dari tengah film ke bagian akhir kita diperlihatkan dengan perbincangan tentang kesehatan mental dan manifestasinya bagi orang-orang di sekitarnya; dari perkawinan Bourdain yang kandas hingga akhirnya bagian yang membuat saya mengernyitkan dahi: pertemuan Bourdain dengan Asia Argento yang lambat laun berakhir pada kejadian di Perancis – di mana ia bunuh diri.

Bagian tentang Bourdain dan Argento memiliki porsi yang cukup signifikan; hampir tiga puluh menit terakhir film ini didedikasikan untuk menceritakan kisah romansa mereka. Orang-orang terdekat Bourdain memiliki opini mereka sendiri terhadap fase kehidupannya ini; termasuk mantan istrinya. Yang justru alpa: wawancara dengan Asia Argento itu sendiri.

Neville sudah mengantisipasi hal ini dengan memberikan pertimbangan bahwa dari wawancara yang telah diberikan Argento di berbagai media, Neville merasa ia akan mendapatkan jawaban yang sama. Bagi saya yang menonton film ini, jawaban ini terkesan diplomatis karena di film ini orang-orang di sekitar Bourdain jelas-jelas melihat Argento sebagai pengaruh buruk bagi Bourdain. Mengenai debat tentang sejauh mana peran Argento sebagai katalis Bourdain untuk bunuh diri, hanya penonton yang bisa menyimpulkan.

Sebagai orang Jawa, saya percaya bahwa 1000 hari setelah kematian seseorang adalah waktu di mana arwahnya meninggalkan dunia ini. Katakanlah, semua urusan yang masih tertinggal di dunia fana sudah selesai. Entah kebetulan atau tidak, 1000 hari-nya Bourdain jatuh di bulan Maret 2021 lalu. Maka, ketika melihat film ini tayang, saya anggap ini sebagai lembar penutup perjalanan Anthony Bourdain. Semacam pengingat juga bahwa Tony juga manusia biasa yang akhirnya harus berpulang ketika waktunya tiba.

Selamat jalan, sang ‘pengembara jalanan’. [] [SDM/Ed: AS]

Related posts

Autobiography: Rakib Anak Kandung Orde Baru

Permata Adinda

Kepada Ide untuk Indonesia

Alfin Rizal

Paralaks Fiksi: Sebuah Usaha Memperkenalkan “Origami Tubuh”

Muhammad Nur Alam Tejo

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy