Yang Hilang dalam Perdebatan JRX dan Via Vallen

I Gede Ari Astina, atau yang biasa kita kenal dengan nama Jerinx (selanjutnya disingkat JRX) melayangkan protes kepada biduan yang sedang melejit namanya Via Vallen. JRX, melayangkan diss kepada Via yang ia anggap hanya memanfaatkan karya SID untuk meraih profit, entah itu materi maupun popularitas dengan menyanyikan berulang kali lagu SID, “Sunset di Tanah Anarki” dalam versi dangdut koplo. Beberapa sorot tajam pemberitaan media langsung mengarah pada peristiwa ini.

Di antara sekian banyak media yang memberitakan hal ini, ada satu media yang menarik dan menggugah ingatan saya mengenai polemik “kepemilikan” musik di Indonesia. Media tersebut menyebut bahwa bukan kali ini saja Via Vallen terlibat dalam sengketa hak cipta karya musik. Sebelumnya, Via berhadapan dengan duo hiphop dangdut NDX-AKA terkait dengan lagu hits berjudul “Sayang”.

Polemik JRX vs Via Vallen tersebut mengingatkan saya pada beberapa momen ketika berhadapan dengan musik dangdut, terutama koplo. Sejauh ini, saya menyadari satu hal: bahwa aktivitas covering lagu di semesta koplo, merupakan hal yang sepertinya lumrah. Coba anda buka aplikasi Youtube di gawai anda dan masukkan kata kunci “cover dangdut” atau “cover dangdut koplo”. Jangan tercekat dengan apa yang muncul karena mulai dari lagu pop yang sehari-hari kita dengar di radio, lagu “Hukum Rimba” milik band punk Marjinal, hingga “Bohemian Rhapsody” milik Queen tak luput dari sentuhan aransemen koplo.

Atau coba anda ganti kata kunci anda dengan satu judul hits dangdut koplo. Bukan tidak mungkin anda akan menemukan satu lagu yang dibawakan oleh beberapa biduan. Lantas anda akan bertanya-tanya di mana letak “hak cipta” dalam semesta koplo ketika satu musisi bisa membawakan lagu dari musisi lainnya? Atau bahkan ditemukan fenomena ketika satu karya dalam semesta koplo tidak memiliki tuan, seperti nomor “Pengamen” atau “Ngamen” yang memiliki berjilid-jilid versi dan mengingatkan saya pada sebuah gerakan sosial berbasis agama yang juga diselenggarakan berjilid-jilid pada waktu itu.

Hal ini tentu persoalan yang khas. Cara pandang dan cara kerja industri musik arus utama terasa tidak relevan ketika memasuki semesta koplo. Kondisi tersebut bukan datang begitu saja dari langit. Posisi koplo, baik sebagai genre maupun sebagai satu “unit cara kerja”, bisa dibilang merupakan minoritas-ganda. Meskipun kini perlahan namun pasti merangkak dalam ranah budaya popular di Indonesia. Dangdut di Indonesia ternyata tidak bisa diseragamkan dan masih bisa dicincang sedemikian rupa dengan karakteristiknya masing-masing.

Koplo misalnya, hadir tidak dari ruang kosong. PascaOrde Baru, di tengah kondisi kehidupan terombang-ambing, dari pinggir kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur muncul sebuah musik yang ketika didengarkan ternyata memiliki efek seperti sedang menenggak pil koplo. Pembawaannya pun, baik dari segi musikalitas maupun pertunjukan, berbeda dari model dangdut yang pada waktu itu telah lebih dahulu mapan. Tak ada lirik yang menggali dan menyayat perasaan sedih. Kesantunan dan style a la Melayu tak ditemukan. Malah, lenggak-lenggok tubuh yang sensasional menjadi bahan baku khas dari sebuah hidangan bernama koplo.

Munculnya fenomena ini sempat bergesekan keras dengan gelombang kekuatan Islam, baik secara identitas maupun secara institusi, yang pascaOrde Baru juga muncul di ruang-ruang publik kita. Dalam buku Dangdut Stories karya Andrew Weintraub, tercatat bahwa Trio Macan (Lamongan), Palapa (Sidoarjo), Monata (Mojokerto), Sera (Gresik), Evita (Gresik), Sanjaya (Blora), Sakatto (Probolinggo), dan Putra Dewa (Tuban) dinilai sebagai pionir yang perlahan membawa dangdut dari pinggiran menuju ke tengah. Berdasarkan kemunculannya, tidak berlebihan melabeli koplo sebagai bentuk budaya resisten. Di balik keseronokan dan kegairahan koplo nyatanya ia tak kalah resisten dari berbagai jenis musik resisten yang lain, sekalipun itu punk.

Menurut saya, resistensi koplo mencapai puncak ketika para pelakunya seperti tidak terlalu memberi perhatian pada pertimbangan mengenai hak cipta dan hak intelektual sebuah karya –hal yang membuat perdebatan antara JRX dan Via Vallen muncul. Bentuk konkretnya, tak jarang kita menyimak running text berwarna kuning di VCD bajakan micro-gigs dangdut yang merupakan larangan untuk memperbanyak isi dalam rekaman tersebut.

Kita bisa menduga diskursus mengenai hak cipta dan hak intelektual merupakan sesuatu yang sepertinya jauh dari diskursus dan hiruk pikuk para seniman dangdut koplo di kota-kota periferal Jawa. Justru koplo hidup dan menjadi sulit untuk dimatikan karena muncul dari pembajakan yang satu ke pembajakan yang lain. Lagi pula, diskursus tersebut juga boleh dikatakan masih problematis. Para pihak yang terlibat dalam diskursus ini pun juga kerap kali masih kebingungan dengan hal ini. Bagaimana tidak, sejauh mana sebuah karya bisa dikatakan mencuri ketika satu karya yang muncul bukan tidak mungkin merupakan hasil dari pengendapan dan persingungan dengan karya lain.

Mickey Mouse dan Walt Disney menjadi contoh paling konkret dari hal tersebut. Seperti diuraikan oleh Lawrence Lessig dalam bukunya Budaya Bebas ketika mencoba mengurai perkara hak cipta dan intelektual, Mickey merupakan karakter dari sebuah film berjudul Steamboat Willie yang diputar di New York City Colony Theater pada tahun 1928. Beberapa bulan sebelumnya, film berjudul Steamboat Bill, Jr. diproduksi oleh Buster Keaton. Mirip? Ya mungkin secara judul memang mirip, apalagi bentuk dari karya itu sama-sama merupakan film kartun.

Fakta yang sebenarnya adalah bahwa Walt Disney membuat Steamboat Willie dari versi parodi kartun Steamboat Bill, Jr. milik Keaton. Walhabilkhusus, Disney memasukkan unsur instrumen musik dalam filmnya, sesuatu yang Keaton tidak lakukan. Begitulah Walt Disney bekerja dan akhirnya bertahan hingga sekarang. Steamboat Willie milik Walt Disney melahirkan Mickey Mouse yang ikonik. Steamboat Bill, Jr. milik Keaton dengan nahas menjadi karya terakhirnya.

Makhfud Ikhwan dalam tulisannya berjudul “Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan di Bus Antar Kota” melihat cara kerja koplo, dan cara yang sebenarnya digunakan juga oleh Walt Disney, sebagai cara bertahan hidup a la ikan lele yang memamah begitu saja apapun yang nyemplung ke kolam. Cara hidup itu justru membuat mereka sebagai pihak yang paling aman dari gejolak dan transisi yang terjadi dalam industri. Koplo, masih menurut Makhfud, bisa mencapai tingkat musikalitas yang tidak terbayangkan.

Irfan Rizky Darajat, peneliti di lembaga kajian musik dan masyarakat, Laras, mengatakan bahwa dalam orkes dangdut koplo lagu apapun bisa menjadi versi koplo. Melalui esainya, Asolole: Antara Rhoma dan Irama, Irfan memaparkan bahwa modifikasi adalah senjata utama pegiat dangdut koplo untuk bertahan hidup. Seniman dangdut koplo, dengan segala keterbatasan moda produksinya, memang menjadi kurang produktif dalam melahirkan karya. Tuntutan bertahan hidup membuat alternatif cover ditempuh dengan masih melampirkan kredit kepada penulis atau pelantun lagu asli.

Tudingan JRX yang mengatakan bahwa Via Vallen mencuri profit dengan mengkomersilkan beberapa dokumentasi konser dalam bentuk DVD menunjukkan bahwa JRX kehilangan konteks. Melalui akun instagramnya Via telah membantah bahwa dirinya dan juga pihak label tidak pernah sekalipun mengeluarkan DVD atau apapun itu yang dijual kepada umum, terlebih ketika ia menyanyikan lagu “Sunset di Tanah Anarki. Selain itu, tuduhan JRX justru menunjukkan kepada kita bagaimana sebenarnya eksistensi koplo langgeng dan menyeruak dari kepingan VCD bajakan yang satu ke yang lainnya. Distribusi dangdut koplo harus berterimakasih kepada supir transportasi lintas provinsi yang membutuhkan hiburan selama perjalanan dan menjadikan dangdut koplo sebagai pilihan. Mobilitas koplo melaju seturut dengan roda-roda besar truk kontainer maupun bus malam cepat. Jadi kita tahu ke mana seharusnya tudingan diarahkan oleh JRX.

Begitulah Via Vallen tumbuh dan bertahan hidup sebagai biduan. Ia hanya mengikuti cara yang lazim dalam semesta koplo. Namun, apa yang lazim bagi Via Vallen dan sederet seniman dangdut koplo lain, memang tidak lazim bagi JRX dan SID. Begitu pula sebaliknya. Sejak debut pada tahun 1997, dengan album Case 15 hingga Bad, Bad, Bad (2002) SID memang konsisten merilis semua karyanya melalui label indie. 2003 menjadi titik balik ketika SID menerima pinangan dari Sony Music Indonesia dan sederet kontroversi hingga cap mengikuti jejak langkah mereka. Sesuatu yang tidak dekat dengan Via karena ndangdut baginya hanya sekadar menyambung hidup untuk hari ke hari.

Apalagi Via juga tidak mengetahui, bagaimana seharusnya “Sunset di Tanah Anarki dibawakan? Dengan khidmat dan mengikuti kaidah-kaidah tertentu mungkin? Kalaupun iya, sebaiknya SID membuat disclaimer di setiap karyanya. Atau kalau memang diperlukan, mereka bisa selenggarakan seminar atau penataran tentang penanaman nilai-nilai kehidupan dan perlawanan dalam lagu-lagu Superman Is Dead. Tapi toh akan menjadi aneh ketika sederet pengalaman SID sebagai musisi yang memang harus diakui “top”, masih belum selesai dengan kenyataan bahwa karya publik apapun termasuk seni, boleh dan sangat boleh ditafsirkan berbagai macam oleh publik. Kata Sapardi, “penulis telah mati”. Kata Roland Barthes, “the author is dead” –like Superman maybe?

Lagipula, katakanlah memang betul bahwa yang dipersoalkan dan ditekankan JRX adalah bahwa siapapun boleh memanfaatkan karya SID asalkan bisa turut pula mengantarkan semangatnya. Bukankah Via Vallen dan sederet seniman koplo yang “berpotensi mengambil untung dari album baru SID” selama ini sudah dan akan terus melakukannya? Memang semangat apa lagi yang perlu diantarkan kecuali semangat “anti terhadap sesuatu yang sudah mapan” seperti yang selama ini identik dengan JRX dan SID?

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)