Bagaimana Kompilasi Berisik #3 Dibuat

Pada tanggal 15 januari 2017, Jogja Noise Bombing menjalankan ibadah seni yang cukup komplit dengan membuat sebuah festival dan merilis satu album kompilasi berformat kaset. Saya mendapatkan kompilasi tersebut di hari itu juga.

Namun, beberapa hari kemudian saya baru bisa mendengarkan seluruh kompilasi berkat kecerobohan kawan saya, Eja, meninggalkan walkman-nya di Ruang Gulma, sebuah ruang kolektif yang menjadi tempat saya bertinggal. Cukup menarik mengawali pagi dengan bunyi-bunyian yang sangat berisik. Biasanya kami di Ruang Gulma mengawali pagi dengan playlist adem ayem–tapi tidak pagi ini. Berisik #3 Jogja Noise Bombing Compilation, sebuah kaset dengan dominasi warna sampul hitam-ungu memuat sepuluh track yang berisik–sesuai dengan judul yang dipilih. Bahkan bisa dikatakan cenderung beringas.

Uya Cipriano dipilih menjadi ‘chef’ kompilasi ini. Berawal dari sebuah audio workshop di Olivine Cafe pada 1 Mei 2016, sebuah ide melanjutkan kompilasi Jogja Noise Bombing mulai bergulir. Keterlibatan Uya dalam kompilasi kali ini berkat ajakan dari Taufiq Aribowo alias Ari Mindblasting untuk memberi materi workshop tentang merekam noise. Setelah workshop selesai, ide liar bermunculan, salah satunya adalah membuat kompilasi tersebut. Dalam prosesnya, sebagai sound engineering, Uya mengaku tertantang karena dalam komposisi noise, ia dapat asupan frekuensi suara yang berlimpah untuk diolah.

Saya pun tak habis pikir, kenapa Uya dengan kebiasaan komposisinya yang manis, menyanggupi proyek berisik ini. Uya saya kenal dengan pemikiran kompleksnya tentang konsep chaos cosmos hingga membentuk harmoni musik seindah proyeknya, Samasthra. Ternyata, penting baginya sebagai musisi mencoba membaca perspektif lain melalui komposisi yang diciptakan oleh liyan. Toh menurutnya, noise, sebagai musik masih punya benang merah dengan musik pada umumnya (band) secara komposisi. Tapi memang militansi pelaku noise-lah yang menarik perhatiannya.

Sepuluh track yang berhasil ia olah adalah Evil Jazz Mortus “Hyper Sentai”, Sodadosa “Untitled”, Suffer in Vietnam “My dear this is blood”, Jurumeya “Suryakanta”, Modarx “There are more witches here”, Coffee Faith “Wikataaya”, Bossbattle “Cat warrior of ulthar”, To Die “Suar Lembah Kekelaman”, Anxiety “It’s a mystery”, dan Rupagangga “Galunggung”.

Kali ini Uya bersama Jogja Noise Bombing memutuskan bekerjasama dengan Alldint Studio untuk proses rekam suaranya. Yang lucu adalah, keikutsertaan saya (Rupagangga) terjadi karena gagal paham. Ada tawaran dari Indra Menus untuk bermain noise di Alldint. Dengan sangat antusias, saya langsung mempersiapkan instrumen untuk berangkat kesana. Di perjalanan saya mencoba membayangkan kawan-kawan Alldint juga ikut bermain noise, pasti sesuatu yang mengasyikan. Karena setahu saya, kawan-kawan Alldint lebih lekat dengan jazz, blues, dan musik populer lain. Membayangkan musisi blues atau jazz menghasilkan noise yang berisik membuat saya sangat bersemangat. Tapi ternyata sampai di sana, saya tak melihat ada venue yang disiapkan. Hanya kawan-kawan yang sedang berkumpul santai dengan beberapa instrumen noise yang tergeletak. Ternyata, yang terjadi adalah sesi rekam audio! Duh, persiapan untuk tampil ganteng pun gagal karena salah paham hahaha.

Kenapa Alldint terlibat dalam kompilasi ini? Adakah kemungkinan Alldint berubah jadi tongkrongan underground? Saya pun bertanya pada salah satu punggawanya, Doni Alldint. Menurut Doni, urusan seni musik-bunyi sebenarnya saling terkait. Tak ada alasan untuk menolak noise di Alldint, karena musik sejatinya sangat luas. Alldint sebagai komunitas memiliki prinsip untuk tidak terjebak dalam kotak-kotak tersebut sehingga proses kreatif musik pun bisa lebih dinamis. Doni membayangkan ada sebuah proses interdisipliner dalam membangun kreativitas, dan hal tersebut belum banyak terjadi di Jogja.

Saya melihat manusia sebagai makhluk yang begitu lekat dengan kategori, yang memecah segala hal dalam kelas-kelas, kategori-kategori, kotak-kotak, jenis-jenis. Karena sampai mampus pun, kotak-kotak itu pasti akan tetap ada. Bukan karena kebetulan presiden negara ini gemar dengan kotak-kotak pada masa kampanyenya, tapi memang kecenderungan kita untuk mengklasifikasi sesuatu telah ada sejak kecil. Duh, malah ngelantur. Tapi benar apa yang dikatakan Doni, yang penting membuat kesenian tetap dinamis dan tak terjebak oleh kotak-kotak yang diciptakan seni itu sendiri. Ah, kita bahas kompilasi sajalah, sebelum saya berfilsafat melalui kacamata peminum arak.

Kompilasi ketiga dari komunitas Jogja Noise Bombing ini ternyata dibuat sebagai pendokumentasian karya noise yang ada di Jogja. Selain itu, menurut Indra Menus, ia punya banyak fungsi lain. Kompilasi tersebut bisa menjadi promosi project noise yang ada di dalam komunitas. Dan seperti komunitas pada umumnya, produk komunitas selalu dari, oleh, dan untuk komunitas itu sendiri. Setelah segala proses pengolahan kompilasi rampung, kaset ini dijual seharga Rp 35.000. Dana produksi dilakukan swadaya secara kolektif.

Keuntungannya pun digunakan untuk berjalannya Jogja Noise Bombing Fest 2017 dan program-program noise lainnya. Munculah nama Sean Bossbattle sebagai pengurus divisi record label Jogja Noise Bombing. Lewat Sean-lah distribusi kaset kompilasi ini lebih meluas. Tidak hanya di Jogja, kompilasi ini banyak di distribusikan oleh Sean ke Amerika Serikat.

Dari sepuluh track yang ada, masing-masing artis mendefiniskan noise dengan komposisi mereka. Namun rata-rata noise yang ada tak jauh dari berisik, liar, hingga beringas. Distorsi, dengung, pergeseran bunyi, hingga jerit (baca: nggrantes) membuat kompilasi ini mewakili suara yang dilupakan musik universal. Noise yang menarik diri dari dunia musik pada umumnya, akhirnya hampir serupa dengan musik underground lain seperti punk dan hardcore secara spirit.

Tapi hari ini, ia masih menarik garis sebagai oposisi suara khalayak ramai. Dan sejak berputarnya walkman, ia berubah menjadi perayu renung: setiap suara punya jamaahnya yang mengamini bermacam makna setelahnya. Saya pun berfantasi, setiap pembeli kompilasi ini punya kecenderungan sadomasokis. Mereka yang menikmati komposisi berisik ini seolah sedang menyiksa telinga, menikmati yang liar, yang menerabas nalar dengar orang banyak.

Bagaimanapun juga, sebuah kompilasi patut diapresiasi karena kerja panjang dalam prosesnya. Ada proses panjang di setiap kompilasi. Mulai dari penyusunan konsep, mengorganisir karya, hingga proses produksi dan distribusi. Menurut Doni, sebuah kompilasi dapat berfungsi sebagai arena persinggungan kreatif antar pelaku musik. Proses silang pendapat dari berbagai isi kepala hingga menerima karya lain untuk bergabung dalam kompilasi dapat mendewasakan seorang musisi. Sedangkan dari sudut pandang Haji Noise Jogja, Indra Menus, sebuah kompilasi berfungsi sebagai sampler. Menurutnya, cara paling mudah dan efektif untuk orang lain mengenal skena musik sebuah kota/negara atau orang yang ingin tahu tentang skena musik dalam genre tertentu adalah dengan mendengarkan kompilasi. Setelah mendapat track yang disukai, barulah mengulik bandnya lebih dalam.

Wah, ternyata saya cerita cukup panjang tentang proses kreatif kompilasi ini

Ah, baiklah, walkman berhenti berputar, dan siang menjemput teriknya. Tiba-tiba saya mendengar sesuatu yang lebih hingar bingar: kehidupan. Lalu linimasa instagram bergulir, melihat seorang kawan pamer foto pacar, sebagai pemuda zonder (zomblo underground) cepat-cepat saya menengadahkan tangan: Ya Tuhan, jangan kau noise-kan urusan jodohku. Amin.

*) Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Izyudin Abdussalam

Izyudin Abdussalam

Gemar bersenang-senang dengan musik, visual dan teks. Secara virtual menghuni instagram @melampaui_mata
Izyudin Abdussalam

Latest posts by Izyudin Abdussalam (see all)