Sungai yang Tak Kehilangan Hantu-hantunya

Hantu yang melintas mungkin hal yang biasa. Hantu yang mendiami suatu tempat kemudian menampakan diri juga hal yang lumrah. Tetapi, bagaimana jika warga di sebuah desa hidup berdampingan dengan hantu dan terbiasa dengan hal itu?

Setiap desa memiliki ceritanya masing-masing. Cerita satu desa dengan desa lainnya tidak akan pernah sama. Suatu desa mungkin memiliki cerita tentang penderitaan mengenai tanah mereka yang dijarah oleh industri perumahan, pohon-pohon yang tumbang digilas mata gergaji modernisasi, kicau burung yang diberangus peluru-peluru para spekulan harga tanah, juga hidup mereka yang berdampingan dan berbagi dengan hantu-hantu atau kisah-kisah ganjil lainnya yang ditemukan di surat kabar, berita singkat di layar televisi, investigasi stasiun televisi khusus berita maupun dalam cerita-cerita hantu yang terus menerus diceritakan kembali.

Tentu tidak semua desa memiliki kisah yang begitu nahas, celaka, sial dan menyeramkan secara berbarengan seperti di atas. Contohnya adalah sebuah desa yang bernama Pabuaran. Berdasarkan data statistik, Indonesia memiliki puluhan desa bernama Pabuaran atau Buaran. Tetapi Pabuaran yang diceritakan dalam tulisan ini berbeda dengan Pabuaran atau Buaran yang lain.

Pabuaran dalam tulisan ini terletak di Purwokerto Utara, sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Di dunia maya namanya pernah dicatut oleh seorang penulis pemula tidak terkenal dalam kumpulan cerita hantunya yang berjudul “Tuyul, Cinta Abadi, dan Dhanyang-Dhanyang Desa”.

Warga Pabuaran kebanyakan adalah pekerja serabutan yang berdagang di pasar, kuli bangunan, petani penggarap, supir angkutan kota, juga penjual ikan. Apapun mereka kerjakan asal hasilnya bisa untuk bertahan hidup di desa tanpa perlu terbujuk rayuan kota besar.

Pabuaran tidak mengalami nasib nahas berupa pencaplokan tanah yang dilakukan oleh kolaborasi penguasa dan spekulan harga. Pohon-pohon mereka juga masih tegak berdiri meski sesekali suara gergaji mesin menderu memekakan telinga ketika menggilas beberapa batang pohon di bagian utara desa. Warga Pabuaran masih mampu mempertahankan tanah, pohon dan air mereka. Namun, di luar keberuntungan itu mereka harus hidup berdampingan dengan hantu-hantu penghuni sungai yang airnya mengalir, menghidupi, mendampingi dan menopang kehidupan mereka.

Sungai yang menghidupi

Terdapat dua aliran Sungai yang mengalir dan menghidupi Pabuaran. Sungai pertama yang mengalir di bagian barat desa dinamai Kali Raden. Sungai buatan jaman kolonial Belanda tersebut mengalir hingga ke depan rumah warga, sehingga hampir semua warga memiliki persentuhan yang intim dengannya, mulai untuk mengairi kolam ikan, mencuci, mandi, hingga keperluan air bersih lainnya. Selain mengairi Pabuaran, sungai itu juga mengairi desa-desa yang berbatasan, yakni Desa Kutasari di sebelah barat dan Kedungmalang di sebelah timur.

Kali Raden mengalir dari arah utara ke selatan desa. Semakin ke utara, bagian kanan dan kiri sungai semakin dipenuhi bulak atau semak-semak tinggi dan pohon-pohon besar. Di sisi kanan sungai terdapat jalan setapak yang cukup dilalui dua orang. Jalan itu masih kerap digunakan petani penggarap yang sawahnya terletak di dekat sungai. Di sisi kiri sungai kini berdiri perumahan bernama Pandak Indah. Hadirnya perumahan tersebut tidak sepenuhnya mengubah kesan angker sungai karena di sisi kanan jalan setapak, kuburan Pabuaran masih berdiam dengan tampang yang mampu mengintimidasi siapapun.

Selain dengan cara wajar seperti yang disebutkan di atas, Kali Raden memiliki cara yang unik untuk menghidupi warga Pabuaran. Warga sekitar menamakan cara itu sebagai regem, yang dalam bahasa Banyumas berarti menangkap sesuatu tanpa alat alias memegangnya langsung dengan tangan. Mungkin regem menjadi hal yang biasa ketika dilakukan terhadap benda-benda yang mudah ditangkap dan terapung di sungai. Sebaliknya, itu menjadi unik ketika dilakukan pada benda-benda yang gesit dan gemar melakukan perlawanan. Tentu saja benda yang dimaksud bukan tahi yang mengapung melainkan ikan-ikan yang hidup di sungai.

Warga Pabuaran menjadikan regem sebagai rutinitas sepulang kerja. Tidak peduli betapa keras kerja mereka sepanjang hari, sepulang kerja mereka masih memiliki tenaga untuk menyusuri bagian utara Kali Raden, membungkuk di sepanjang aliran sungai, menjulurkan tangan memeriksa rongga-rongga dinding sungai lalu meregem ikan yang berada di dalamnya.

Sungai kedua yang mengalir di Pabuaran adalah Kali Pelus yang berada di bagian timur desa. Berbeda dengan Kali Raden, Kali Pelus adalah sungai alam. Sungai ini memiliki tipikal sungai pada umumnya, tidak landai melainkan berlanskap batuan keras dan lebih banyak didominasi oleh jeram dangkal. Meskipun badan Kali Pelus kini semakin menyempit akibat aktivitas penambangan pasir dan batu oleh warga, ketika banjir ia masih merupakan sungai yang ganas, seganas sungai yang mengamuk ketika Lady Arwen membacakan mantra pada sebuah sungai di adegan film Fellowship Of The Ring.

Sama seperti Kali Raden, Kali Pelus juga memiliki cara unik untuk menghidupi warga Pabuaran. Bentuknya berupa ruang-ruang di dalam badan sungai yang bisa dijadikan sebagai mijahan atau tempat ikan kawin dan menyemai telur.

Warga yang menjadi pemijah biasanya membuat semacam kolam buatan dari batu di titik pertemuan perairan dalam dan perairan dangkal. Mereka memanfaatkan pertemuan arus dua perairan tersebut untuk menggiring ikan yang tengah birahi supaya mau kawin di bilik cinta yang telah disediakan—minus teh hangat dan anduk kecil pada pagi hari, sayangnya.

Dengan sabar, mereka mengamati lalu lintas ikan-ikan yang menggunakan bilik tersebut, membantu membesarkan benih-benihnya, untuk kemudian dengan sedikit akal licik dan perasaan “patut diberi penghargaan lebih” memanen benih yang telah turut mereka jaga. Begitulah cara mijahan dan pemijah bekerja di Kali Pelus.

Yang hidup lebih dahulu dan yang selalu menemani

Dua Sungai di Pabuaran tak hanya menghidupi yang masih hidup saja. Mereka juga menyediakan tempat bagi mereka yang urusannya belum terselesaikan di dunia, atau bagi mereka yang tak bisa mati, atau karena mungkin sungai-sungai adalah tempat para medi—begitu orang Pabuaran menyebut hantuhidup di dimensi sebaliknya. Keberadaan mereka tidak tercipta karena keharusan bahwa yang terjamah mata harus berdampingan dengan yang tak terjamah mata, tetapi karena mereka memang ada dan terlebih dahulu hidup di dua sungai di Pabuaran.

Keberadaan medi berdasarkan cerita turun temurun yang terus menerus dipoles dan diceritakan kembali di Pabuaran kebanyakan berhubungan dengan sungai-sungai yang ada di sana. Cerita tersebut menemani siklus hidup warga Pabuaran yang tentu saja sama dengan orang-orang lain sewajarnya baik di desa maupun belahan dunia lain: kanak-kanak, dewasa, dan tua.

Ketika masa kanak-kanak, sungai diceritakan sebagai sarang hantu yang membuat mereka jeri bermain ke sana ketika bedhug, yakni saat adzan dhuhur dikumandangkan, dan sandekala, waktu mendekati adzan maghrib. Sosok hantu yang lazim diceritakan pada masa kanak-kanak adalah miyangga, hantu air berbentuk rambut panjang terurai yang muncul dari dalam sungai menuju permukaan. Hantu tersebut diceritakan suka melilit dan menenggelamkan anak kecil yang bermain di sungai saat bedhug. Cerita tersebut sukses membuat anak-anak menjadi disiplin, gampang dicari selepas pulang sekolah, dan tidak gemar bermain di sungai yang menyebabkan mereka terkena pilek sehingga akan membuat orang tua mereka uring-uringan.

Di masa dewasa, cerita hantu yang ramai dibicarakan tidak bertitik berat pada nama ataupun jenisnya, melainkan pada akibatnya. Hantu ini memiliki sikap yang sama seperti kebanyakan sikap orang tua di saat anak-anak mereka beranjak dewasa: menyebalkan. Ia sering membuat gejolak birahi anak yang beranjak dewasa berujung pada aib yang ingin dilupakan seumur hidup. Mulai dari yang ringan berupa hilangnya kemaluan anak laki-laki yang buang air sembarangan di waktu tertentu di tepi sungai, sampai yang terparah: gancet yang berlaku bagi pasangan muda-mudi beranjak dewasa yang mengadu nyali dengan memperagakan adegan dalam film panas paling terkenal sepanjang masa, Tarzan X.

Di masa tua, hantu datang dalam bentuk kehadiran teman masa lalu yang telah mendahului pergi. Seorang lelaki tua di Pabuaran bercerita bahwa belakangan, teman dari masa lalu yang meninggal akibat terbawa arus sungai saat muda dulu kerap mendatanginya. Diam, bertubuh abu-abu dan kaku, teman itu membawa berita bahwa beberapa hari lagi mereka akan bersama kembali.

Selain cerita-cerita hantu yang terus menerus diceritakan kembali dan dipoles, sungai-sungai di Pabuaran juga memproduksi cerita hantu baru. Di Kali Raden, cerita-cerita hantu direkam dengan baik oleh para peregem. Raharjo dan Sugeng contohnya. Awal November 2016 lalu, keduanya menuturkan bahwa cerita yang paling terkenal dan dialami oleh hampir semua peregem adalah tentang ikan ketujuh. Menurut cerita ini, saat meregem di semua sisi sungai di barat pemakaman Pabuaran, para peregem tidak boleh mengambil tujuh ikan sekaligus. Ketika telah memasukkan ikan keenam ke dalam wadah, mereka harus berpindah ke sisi sungai yang lain. Apabila melanggar, konsekuensinya tidak semengerikan kehilangan kemaluan, gancet, atau meriang. Mereka hanya akan ditemui oleh sesosok makhluk yang ukuran tubuhnya sama dengan manusia, berwarna hitam karena bulu lebat memenuhi tubuhnya dan bermata merah menyala. Ia berpesan supaya peregem yang bersangkutan meninggalkan ikan ketujuh di sungai.

Mungkin bila orang-orang di Pabuaran memiliki selera humor tinggi dan berpegang pada prinsip eurosentrisme yang menyatakan bahwa dalam kebudayaan timur kematian tidak wajar akan menciptakan hantu, mereka akan beranggapan bahwa hantu tersebut adalah aktivis ekosistem sungai yang sedang sial sehingga mati di sekitar Kali Raden. Tetapi, mereka tidak berpikir demikian. Mereka hanya berpikir bahwa hantu itu memang tinggal di sepanjang sisi barat pemakaman dan memang begitu adanya tanpa penjelasan lain.

Selain ikan ketujuh, hantu lain yang terkenal di Kali Raden adalah hantu penjaga pintu air. Seperti diceritakan di atas, Kali Raden berhubungan dengan hajat banyak orang di tiga desa. Maka untuk menjaga ketersediaan air, warga ketiga desa sepakat menggilir aliran sungai dengan bergantian mengirim warga mereka untuk menggeser arah aliran debit air tertinggi melalui pintu air buatan jaman kolonial yang kebetulan terletak di jalur para peregem mencari ikan. Pak Dato, seorang pensiunan sekaligus pengurus kumpulan petani ikan “Mugi Rahayu”, mengaku kerap bertemu si penjaga pintu air itu.

Sama seperti hantu dalam cerita ikan ketujuh, hantu penjaga pintu air juga muncul karena sebab tertentu. Bisanya ia muncul dalam bentuk mengerikan, seperti perempuan berwajah rusak, lelaki tua berpakaian compang-camping, ataupun bujungan alias pocong yang mengenakan kain mori lusuh seperti baru bangkit dari kubur ketika ada yang berbuat curang dengan mengubah arah air di luar jadwal yang telah disepakati bersama. Keberadan hantu penjaga pintu air itu membuat si curang tunggang langgang sebelum perbuatannya paripurna.

Kali Pelus memproduksi cerita hantu yang lebih lengkap dibanding Kali Raden. Hal tersebut wajar mengingat Kali Pelus merupakan sungai alam yang berusia tua. Hampir semua cerita hantu maupun hantu-hantu yang ada di Pabuaran berasal dari sungai ini. Cerita hantu di Kali Pelus juga lebih spesifik dan dapat dibagi berdasarkan muasal hantunya, misalnya hantu dari manusia yang mati terbawa banjir maupun hantu-hantu yang memang telah bermukim di sana. Begitulah cara para pemancing merangkap pemijah seperti Acim, Roni, Poniman dan Yitno mengklasifikasikan hantu di Kali Pelus.

Cerita hantu paling terkenal yang berasal dari manusia yang terbawa banjir adalah tentang penjaring bertubuh separuh. Para pemijah jamak bertemu dengannya pada malam hari ketika menunggu ikan-ikan memijah. Awal pertemuan masing-masing pemijah dengan hantu tersebut datang dengan tanda yang identik: malam terang penuh bintang, teman-teman yang alpa hadir di sekitar sungai, jangkrik-jangkrik berhenti berderik, dan katak-katak tidak menyanyikan lagu kodhok ngorek. Sepi, hening dan dingin.

Saat semua tanda terpenuhi, sesosok lelaki bercaping yang mengenakan kemeja biru tua muncul dari arah selatan sungai menuju ke utara. Sosoknya belum terlihat jelas karena tersamarkan rerumputan di sepanjang tepi sungai yang cukup tinggi. Di tengah perjalanannya menuju utara sungai, ia pasti akan berhenti untuk menyapa pemijah yang kebetulan tengah apes. “Mau ikut njaring, mas?” begitu ajaknya. Khas. Ketika si pemijah menjawab “tidak”, sosok itu terus berjalan ke arah utara hingga sampai di tepi sungai yang rumputnya lebih pendek. Di situlah si pemijah akan menyadari bahwa sosok itu adalah penjaring ikan dari desa lain, entah Pandak ataupun Sokawera, yang konon tewas akibat terbawa arus banjir saat sedang menjaring. Begitu sampai di Pabuaran, tubuhnya terhimpit batu di bagian pinggang sehingga warga menguburkannya dalam keadaan tidak utuh, separuh badan saja. Poniman dan Yitno pernah bertemu dengan sosok tersebut. Namun, mereka tidak kapok dan kembali lagi ke Kali Pelus karena sungai tersebut telah menjadi sebagian sumber penghidupan mereka.

Adapun cerita hantu di Kali Pelus yang berasal dari penghuni masa lalunya dialami pemijah yang memiliki mijahan di dekat kedung Ciwarak. Roni dan Acim yang kerap menjaga mijahan di sana saat dini hari mengaku pernah bertemu dengan hantu ini. Ia kerap terlihat melompat dari tebing barat ke tebing timur kedung dengan sekali lompat, dengan hanya menghasilkan suara yang tidak lebih keras dari suara pelepah bambu yang jatuh ke tanah. Dari cerita Acim dan Roni, hantu tersebut mungkin tergambar persis sosok dalam film karya sutradara Thailand Apichatpong Weerasethakul yang berjudul “Uncle Bonmee Who Can Recall His Past”.

Berbagi tempat saling berdampingan

Hantu-hantu sungai dan warga di Pabuaran adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Meskipun kerap menampakan diri di sekitar sungai dan orang-orang di Pabuaran terbiasa dengan kehadiran mereka, pada saat-saat tertentu tingkat penampakan hantu-hantu bisa sangat tinggi. Contohnya ketika di bagian utara dan barat Kali Raden berdiri perumahan “Pandak Indah” awal tahun 2000 silam. Pada awal pembangunannya, warga dihebohkan dengan dua cerita. Cerita pertama adalah tentang kemunculan puluhan bujungan yang bergelantungan di langit-langit sebuah rumah di perumahan tersebut. Lalu cerita lain muncul dari seorang penjudi yang mendapat untung besar setelah mendapatkan empat nomor judi togel dari tanda darah di gapura perumahan. Selepas mendapatkan keberuntungan itu, konon satu persatu keluarga si penjudi mati dengan penyebab yang ganjil sebelum akhirnya si penjudi menyusul keluarganya dalam kematian yang tak kalah ganjil: teresedak ketika menyantap mie ayam bakso.

Warga Pabuaran tidak pernah mengusik hantu-hantu. Begitu pula dengan hantu-hantu yang muncul bukan untuk mengusik warga, melainkan karena sebab tertentu, atau sekadar untuk menyatakan bahwa mereka ada. Seperti kebanyakan cerita yang tidak membutuhkan kesimpulan, tulisan ini juga tidak menyimpulkan apapun karena pada kenyataannya, sampai tulisan ini diunggah, warga Pabuaran masih menjalani hubungan yang ganjil dengan hantu-hantu di sekitar sungai yang mengalir di sana tanpa berani menarik kesimpulan dari cerita-cerita hantu yang mereka alami.

Meminjam sebaris kalimat milik penulis berbakat menggonggong dalam cerita pendeknya yang berjudul “Penembak Jitu”, Dea Anugrah, ucapan “Apa dan siapa saja yang melintas, takkan bisa mencelakai kami” sepertinya diucapkan hantu-hantu kepada warga Pabuaran. Mereka mengamininya dan sungai-sungai mereka tak pernah kehilangan hantu-hantunya.

Wiman Rizkidarajat

Wiman Rizkidarajat

Pernah membuat band metal bernama Spider’s Last Moment, sekarang tengah berusaha menyelesaikan pendidikan Magister Hukumnya, menulis di Heartcorner.net, menjadi pecandu Black Metal, dan tinggal di Purwokerto.
Wiman Rizkidarajat