Serunai.co
Kolom

Soundscape Islami: Memori dan Literasi Auditori Azan di Indonesia

Dalam mendeskripsikan soundscape Islami di Indonesia, Rasmussen (2017) menyoroti dua spesifik karakter, yaitu musik dan tradisi oral. Menurut Rasmussen, “pengulangan dari ritual sehari-hari”, seperti azan, tampil sebagai kunci dalam membentuk pengalaman religius. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Kapchan (2007) yang menjelaskan bahwa soundscapes dibentuk dari penciptaan persepsi struktural dari mendengarkan dan mengembangkan memori dan literasi pendengaran. Azan yang berulang-ulang dilakukan fungsi yang tepat dalam membentuk memori pendengaran dari soundscape Islami.

Azan pertama hadir dalam bentuk teriakan (atau lebih tepatnya, dibacakan) oleh Bilal ibn Rabbah sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW tahun kedua Hijriah. Sejak saat itu, azan adalah sebuah pengalaman sehari-hari sekaligus konstruksi rasa identitas suara-atau dalam istilah Schafer: soundmark (Schafer, 1994).

Azan diperkenalkan di Nusantara bersama dengan datangnya Islam. Di antara naskah tertua yang menyebutkan azan adalah Hikajat Raja-raja Pasai (Bastin dan Roolvink dalam Drewes, 1968). Dalam Hikajat tersebut, Merah Silu (atau dikenal sebagai Sultan Malikussaleh dari Samudera Pasai), pernah bermimpi bahwa Nabi Muhammad meludahi mulutnya dan melantunkan azan di telinganya, dan secara ajaib, Merah Silu bisa membaca al-Qur’an tanpa didahului belajar.

Azan lantas menyebar sejalan dengan penyebaran Islam di Nusantara. Rasmussen (2017) menyebutkan bahwa lanskap suara Islami di Indonesia diawali melalui pengumandangan azan di surau desa (masjid kecil) yang digunakan untuk salat dan pertemuan keagamaan. Arab (2017) menjelaskan lebih lanjut tentang praktik azan di Indonesia di bawah penjajahan Belanda: “di mana peran Islam umumnya diremehkan, sehingga perhatian kolonial terhadap azan sangat minim”. Namun, justru karena minim inilah, maka terdapat kesempatan untuk konstruksi identitas, termasuk identitas soundscapes Islami.

Dalam lingkung yang lebih luas, soundscapes Islam di Indonesia memiliki aspek khusus mengacu pada instrumen yang digunakan. van Dijk (2007) menyatakan bahwa bedug (kayu gendang dengan kulit binatang) dan kentungan (pohon batang) membentuk karakter suara khusus dalam mengumumkan waktu sholat, selain dari azan. Kedua instrumen tersebut memiliki tradisi panjang dalam sejarah Nusantara dan bersinggungan dengan tradisi sebelum Islam, yaitu pengaruh Hindu dan juga pengaruh Cina.

Baca Juga:  Spotify Sebagai Alat Surveillance Capitalism

Seperti yang disebutkan oleh seorang dokter pada masa awal kolonial, W. Schouten (dalam van Dijk, 2007), bahwa ia menemukan bedug di masjid-masjid di Ternate ketika dia mengunjungi Kesultanan tersebut pada tahun 1659. Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan cendekiawan muslim tentang penggunaan bedug dan kentungan. Nahdatul Ulama (NU), salah satu yang organisasi muslim terbesar di Indonesia, menyatakan bahwa kedua instrumen tersebut merupakan warisan budaya yang perlu dihargai (Mahfudh, 2011).

Sedangkan Muhammadiyah, organisasi muslim terkemuka lainnya, lebih menekankan aspek relevansi penggunaan bedug dan kentungan, sehingga keberadaannya bukanlah sebuah keharusan (Abdurrahman, 2007). Pendapat berbeda lainnya dikemukakan oleh organisasi muslim Persatuan Islam yang juga membahas secara khusus tentang penggunaan bedug dan kentungan yang tidak digunakan pada masa Nabi Muhammad (Kaptein, 2004). Namun, walaupun terdapat perbedaan pandangan pada tataran organisasi muslim, tidak dimungkiri bahwa di beberapa daerah (terutama di daerah pedesaan), bedug dan bentungan adalah dua instrumen yang juga membentuk soundscape Islami di Indonesia (van Dijk, 2007).

Suara muazin dan langgam azan adalah elemen penting lain dalam lanskap suara Islami. Ada banyak cara dalam melantunkan azan sebagaimana dipraktikkan oleh empat imam besar Islam: Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi’i, dan Imam Maliki. Di Indonesia, azan dikembangkan menjadi tujuh melodi utama (langgam): Nahawand, Rost, Bayati, Shoba, Jiharkah, Hijaz, dan Shika. Namun, bentuk yang lebih sinkretis dari azan dapat ditemukan di banyak tempat di Indonesia ketika menyatu dengan estetika akustik dan ekspresi tradisional setempat. Al Bakri, Mallah dan Nuserat (1997) mencatat asal-usul ragam azan sebagai berikut:

Metode pelantunan azan yang diurutkan, diulang, dan dibagi dengan napas tertentu disebut Tarjee. Namun, tentang bagaimana aturan pelantunannya memiliki pedoman yang longgar, dan dalam banyak kasus bersinggungan dengan tradisi lisan setempat. Mode transisi verbal untuk keterampilan performatif dan metode azan bisa digambarkan sebagai pengkodean yang kuat dari emosi primordial sekaligus dan ekspresi estetika vernakular”.

Mengacu pada pandangan di atas, meskipun azan tidak banyak mengalami perubahan baik dari segi kata dan prinsip, namun karakteristik pelantunan azan kerap berubah seiring waktu dan tempat. Dengan demikian, universalitas dari azan mencerminkan pandangan kosmopolitan Islam yang lantas diterjemahkan ke dalam budaya yang berbeda dan menciptakan keragaman soundscapes Islam.

Baca Juga:  Polemik JRX - Via Vallen : Perdebatan yang Sia-sia

Selain bersinggungan dengan tradisi, sejarah azan juga berkelindan dengan perkembangan teknologi. Azan pada mulanya dilantunkan oleh muazin dengan suara lantang menggunakan melodi dan pernapasan teknis tertentu. Seiring berkembangnya teknologi, siaran radio dan televisi, juga penggunaannya pengeras suara di masjid, pelantunan azan beralih media dengan menggunakan pengeras suara atau rekaman.

Sejarah Indonesia mencatat siaran azan tahun 1936 oleh Nederlandsch-Indische Radio-Omroepmaatschappij (NIROM) (Yampolsky, 2013). Dalam penyiaran tersebut, NIROM menggunakan gramofon sebagai pengganti suara muazin; siaran tersebut dapat menjangkau sebagian wilayah Surabaya, Jawa Tengah dan Bandung. Lebih jauh, Yampolsky (2013) menyebutkan bahwa pada tahun 1937, NIROM memutuskan untuk menyiarkan azan hanya seminggu sekali sebagai simbol perhormatan pada panggilan keagamaan. Keputusan tersebut dibuat karena protes publik terkait pada perbedaan waktu siaran azan NIROM dengan waktu setempat.

Adapun penggunaan pengeras suara untuk azan, telah dipraktikkan sejak tahun 1930. Loudspeaker pertama dipasang di Surakarta dan digunakan untuk mengumandangkan azan untuk wilayah Surakarta dan sekitarnya. Setelah kemerdekaan, sulit untuk melacak masjid yang mana lebih dulu pasang loudspeaker. van Dijk (2007) menyatakan bahwa pada tahun 1950 akan banyak masjid mulai menggunakan pengeras suara untuk azan.

Berbeda dengan penggunaan besar-besaran pengeras suara, bedug dan kentungan secara perlahan hilang. Husain (2017) menyebutkan bahwa dewasa ini, bedug dan kentungan berfungsi sebagai simbol budaya di masjid-masjid yang berafiliasi khusus dengan Nahdatul Ulama (NU). Dalam konteks alih media, kini azan lazim disiarkan melalui televisi nasional saat matahari terbenam (azan magrib). Penggunaan aplikasi ponsel juga kerap ditemukan untuk mendapat waktu salat secara otomatis. Arab (2017) menyebutkan dua alasan penting terkait perkembangan teknologi baru: (1) untuk mencapai komunitas muslim yang terletak di luar soundscapes Islam, dan (2) untuk mengurangi respons pergesekan atas dasar amplifikasi azan yang nyaring.

Baca Juga:  Makan

Penggunaan aplikasi ponsel sebagai gantinya loudspeaker adalah relevan dengan masyarakat muslim yang hidup di negara dengan muslim yang minoritas. Bagi Indonesia, penggantian penggunaan loudspeaker ke aplikasi ponsel, membutuhkan upaya lebih besar sekaligus pendefinisan ulang terkait soundscapes Islami. Bourdieu (1977) menyatakan bahwa perubahan praktik konvensional hanya dapat dilakukan dengan mengubah dan membentuk kembali habitus masyarakat. Hingga habitus baru terbangun, soundscape etis atau kesadaran untuk berbagi ruang akustik (Hirschkind, 2006) adalah hal mutlak yang perlu diperhatikan bersama.

Catatan: Artikel ini merupakan ekstraksi dari tulisan berjudul “Negotiating Soundscape: Practice and Regulation of Adzan in Indonesia” yang diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2020. Penerbitan kembali artikel ini melalui Serunai merupakan sebuah upaya untuk mendiskusikan kembali konsepsi Soundscape yang dikemukakan Hirschkind dalam konteks memori sosial masyarakat terkait azan di Indonesia. Adapun diskusi terkait aspek teologis tidak dibahas.

Referensi

Abdurrahman, A. (2007). Tanya Jawab Agama 4 Suara Muhammadiyah. Pustaka Pelajar.

Al Bakri, T., Mallah. M., Nuserat, T. (1997). Al Adhan: Documenting Historical Background, Practice Rules, and Musicological Features of the Muslim Call for Prayer in Hashemite Kingdom of Jordan. Musicologica Brunensia, 55(1):213-231.

Arab, P. T. (2017). Amplifying Islam in the European Soundscape. Bloomsbury Publishing Plc.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. Cambridge University Press.

van Dijk, K. (2007). The Changing Contour of Mosques. In P. J. M. Nas (Ed.), The Past in the Present. Architecture in Indonesia (pp. 45–66). NAi Publishers and KITLV Press.

Drewes, G. W. J. (1968). New Light on the Coming of Islam to Indonesia? Bijdragen Tot de Taal-,Land-En Volkenkunde, 124(4), 433–459.

Hirschkind, C. (2006). The Ethical Soundscape. Cassette Sermons and Islamic Counterpublics.Columbia University Press.

Husain, S. (2017). Sejarah Masyarakat Islam Indonesia. Airlangga University Press.

Kapchan, D. (2007). Traveling Spirit Masters: Moroccan Gnawa Trance and Music in the Global Marketplace. Wesleyan University Press.

Kaptein, N. G. J. (2004). The Voice of the ˋUlamâ’: Fatwas and Religious Authority in Indonesia. Archives de Sciences Sociales Des Religions, 49(125), 115–130.

Mahfudh, S. (2011). Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdhatul Ulama (1926-2010). Khalista.

Rasmussen, A. (2017). Women Out Loud: Religious Performance in Islamic Indonesia. In D. Kapchan (Ed.), Theorizing Sound Writing (pp. 191–215). Wesleyan University Press.

Schafer, R. M. (1994). The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World.Destiny Books.

Yampolsky, P. B. (2013). Music and Media in the Dutch East Indies: Gramophone Records and Radio in the Late Colonial Era, 1903-1942. (Dissertation). University of Washington.

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggung jawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi serunai.co

Related posts

Noise Nan Khusyuk

Izyudin Abdussalam

Apa Warna Kulit Virus Corona?

Danang TP

Konser Dangdut Monata: Mengapa Ekspresionisme Mengungguli Automatisme

Fathul Purnomo

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy