Swafoto

Siapa yang belum pernah selfie, atau yang bila dialih bahasakan dalam bahasa Indonesia menjadi swafoto? Ke mana saja anda ketika selama ini 130 juta hashtag #swafoto di Instagram bertebaran? Walau tidak sering, tapi pasti sekali atau dua kali anda pernah sibuk mencari pose yang terbaik untuk berswafoto. Entah lantas untuk diunggah atau sekadar untuk disimpan sebagai arsip pribadi.

Rasanya tidak berlebihan bila swafoto merupakan satu fenomena sosial. Dari anak-anak ingusan hingga anak-anak gedongan; mereka yang setengah baya hingga yang tua; para karyawan kelas menengah hingga para taipan kelas elite; semuanya tak enggan untuk swafoto. Setelah itu lantas dibagikan secara mana suka dan kapan saja ke berbagai kanal sosial media. Bahkan tak jarang, swafoto seakan-akan secara auto-pilot telah tersetting dalam kultur penggunaan gawai sehari-hari. Pertanyaannya, mengapa?

Melalui swafoto kepribadian seseorang dengan sangat cair dikonstruksi sedemikian rupa dan dibagikan melalui kanal-kanal sosial media yang ada. Sebagaimana Sonia Livingstone paparkan, kepribadian –sebagai salah satu komponen identitas- generasi 2.0 di dunia nyata sedikit banyak dipengaruhi juga oleh bagaimana identitas mereka di jagad maya yang termediasi melalui internet. Secara tidak langsung, melalui swafoto, sebenarnya kita berusaha untuk menunjukkan kepribadian kita.

Sedangkan swafoto, bagi Jill W. Rettberg, merupakan bagian dari identitas visual seseorang di dunia maya. Sudut pengambilan gambar ketika swafoto dan ekspresi ketika kita berswafoto merupakan hal-hal yang kerap kali dipertimbangkan. Tentu hal ini bukan tanpa sebab. Melainkan melalui hal tersebut, sebenarnya kita sedang berusaha untuk berbicara mengenai diri kita kepada orang lain. Ada interaksi yang berusaha dimulai melalui simbol-simbol yang kita bangun dari cara kita berswafoto.

Maka tidak heran bila kita kerap mendapati seseorang yang mengambil swafoto beberapa kali dalam satu momen yang sama. Hal tersebut pantas kita duga sebagai sebuah tindakan yang sungguh-sungguh dari seseorang dalam rangka membentuk identitas yang mereka inginkan. Namun sayang, kerap kali luput pula pemahaman bahwa pada dasarnya segala visual hanyalah citraan alias representasi semata. Seperti Narcissus, dewa tampan dari mitologi Yunani yang jatuh cinta dengan bayangan dirinya sendiri, kita kerap kali hanya mengejar bentuk ideal dari identitas visual kita saja dan cenderung mengabaikan aspek-aspek non-visual –seperti kepribadian dan ketrampilan. Sehingga budaya wajah di kalangan pergaulan menjadi mahfum.

Swafoto sebagai Budaya Populer

Menukil pernyataan John Storey, sebuah budaya populer pada dasarnya tidak pernah bebas nilai dan netral. Ia tidak cukup dilihat sebagai sebuah bentuk ekspresi suatu individu atau kelompok masyarakat. Hal ini dikarenakan dalam segala bentuk budaya populer senantiasa melekat berbagai cara pandang mengenai bagaimana sesuatu dikonstruksi sebagai hal yang ideal. Kerap kali, hal tersebut bersifat ideologis. Cara pandang tersebut saling bertarung antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pandangan Marxisme, kelompok dominan dan kelompok sub-ordinat merupakan pihak-pihak yang dituduh berada di balik munculnya suatu budaya populer dan saling berkontestasi.

Dalam konteks swafoto sebagai sebuah budaya populer, maka kita bisa menduga bahwa bagaimana seseorang melakukan swafoto, sejatinya senantiasa memiliki tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya politis. Tujuan yang sifatnya lebih dari sekedar mengekspresikan kediriannya dan mempertontonkan kepada banyak orang mengenai identitas dirinya. Kira-kira hal tersebut mirip dengan bagaimana kita makan di era sekarang ini.

Ketimbang sekadar sebagai sebuah kenang-kenangan atas sebuah momen, hal tersebut dapat ditinjau lebih dalam. Swafoto dapat dilihat sebagai sebuah cara yang populer untuk menunjukkan (jika kata memamerkan dirasa terlalu berlebihan) kelas sosial kita kepada orang lain. Menurut Brooke Wendt dalam risetnya mengenai kultur swafoto, sejatinya dalam berswafoto kita sedang berusaha untuk mengklasifikasikan diri sebagai satu kelompok masyarakat yang lebih elit ketimbang kelompok yang lain.

Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin kita merasa lebih percaya diri untuk mengunggah swafoto dengan latar belakang Menara Eiffel ketimbang swafoto dengan latar belakang gorden jendela kamar? Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin swafoto dengan latar belakang sebuah instalasi seni di salah satu art fair ternama, harus tetap dikejar walaupun ada hal lain yang dipertaruhkan, seperti kenyamanan pengunjung lain misalnya?

Jika swafoto bukan saja perkara mengekspresikan diri dan mengabadikan momen, tak perlu pula rasanya bila kita harus dengan susah payah mendapatkan latar belakang pemandangan yang indah. Bukankah momen yang kita alami akan lebih dalam bila kita maknai dan endapkan dalam diri kita masing-masing saja? Terdengar sederhana, namun, hari ini kita temukan hal tersebut sungguh sukar diimplementasikan. Sehingga, tak heran bila kadang kita mendengar berita mengenai kecelakaan yang diakibatkan kelalaian seseorang ketika sedang berswafoto semata-mata hanya untuk mendapatkan gambar dengan latar belakang atau pengalaman yang indah tak terpermanai. Bahkan kerap kali kecelakaan tersebut berujung pada nasib naas yang merenggut jiwa. Semata-mata lewat swafoto berusaha untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya ada, dirinya eksis. Swafoto ergo sum!

Lantas, tindakan berswafoto merupakan cara mengenai bagaimana standar-standar yang ideal dan “ideologis” dalam kehidupan sehari-hari turut ditegaskan. Tak terhindarkan, swafoto mempunyai standar serta kriteria yang harus dipenuhi, di luar pakem dari teknis swafoto itu sendiri. Misalnya bahwa swafoto yang layak unggah adalah swafoto yang memiliki cerita spesial atau nilai ekstrinsik tertentu yang bisa menunjukkan prestise kita. Entah yang terwakilkan melalui unsur visual itu sendiri ataupun melalui caption dari gambar tersebut.

Melalui standar-standar yang terbekukan dalam kaidah-kaidah swafoto yang layak, lantas, sekali lagi bagaimana kita berswafoto merupakan penanda sosial antara si borjuis dengan si melarat. Mengisi liburan dengan bepergian ke suatu tempat, turut menghadiri suatu event yang hits, menghabiskan waktu luang di kedai kopi waralaba internasional, bisa dilanggengkan lewat kultur swafoto yang juga semakin marak seiring dengan kultur gaya hidup yang lainnya. Kualitas aktifitas kita sehari-hari dinilai dari swafoto yang kita ambil. Jika kita tak dapat berswafoto dalam aktifitas-aktifitas tersebut, lantas terlemparlah kita dalam kasta yang berarti hina*

Hal yang lebih luar biasa lagi menyita perhatian saya terkait dengan kegiatan swafoto yang semakin marak, ialah semakin banyak pula gawai yang mengandalkan fitur andalan dan mendaku sebagai swafoto-phone. Luar biasa (tidak masuk akalnya) bukan? Hal ini tentu merupakan paradoks ketika alat telekomunikasi justru menjadikan fitur swafoto sebagai keunggulan produknya alih-alih menawarkan fitur berkomunikasi yang semakin baik. Produsen-produsen gawai tersebut malah justru berlomba-lomba membuat gawai dengan fitur kamera-depan dengan kualitas gambar setinggi-tingginya. Apa faedahnya?

Setidaknya hal ini menunjukkan bagaimana kultur swafoto telah terkomodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan industri. Komodifikasi merupakan konsep ekonomi-politik ketika terjadi suatu proses mengubah nilai guna dalam sebuah produk budaya, menjadi nilai tukar. Komodifikasi berbeda dengan komersialisasi. Komodifikasi membuat sesuatu menjadi komoditas yang bisa diperjual-belikan. Sedangkan komersialisasi terbatas pada proses bagaimana suatu konten advertorial dapat melekat dalam sebuah produk budaya. Komodifikasi merupakan proses yang tak terhindarkan terlebih di iklim kapitalisme yang semakin banal.

Komodifikasi swafoto membuat kita dapat menyimpulkan bahwa industri (dalam hal ini industri teknologi) telah memanfaatkan kultur populer swafoto sebagai bahan dagangannya. Sebelumnya, komodifikasi swafoto ini bisa kita identifikasi dengan munculnya piranti tongkat narsis (tongsis). Pihak industri dan kapital sadar bahwa swafoto bukan lagi perkara mengabadikan momen. Dengan fitur yang menjanjikan kualitas gambar lebih baik serta fitur-fitur tambahan lain seperti fitur editing, industri telah melihat bahwa swafoto juga erat kaitannya dengan bagaimana seseorang menegaskan prestisenya dalam sebuah foto diri.

Ya, kita bisa saja berargumen bahwa dalam berswafoto sejatinya tak ada yang kita kejar selain mengekpresikan diri dan mengabadikan momen. Kita boleh saja berargumen bahwa bagaimana kita berswafoto, adalah urusan privat kita masing-masing. Dan sebagaimana Roland Barthes katakan: “Ranah privat (private life) tidak lebih sebagai sebuah ranah tempat kita menjadi subjek atas hal-hal yang kita lakukan. Ranah privat adalah hak politis yang harus diperjuangkan dan dipertahankan.” Tapi apakah benar begitu? Apakah benar hak untuk menjadi besar kepala dan jumawa daripada orang lain, sebagaimana berswafoto, juga patut diperjuangkan?

*dinukil dari lirik lagu FSTVLST – Hal-hal Ini Terjadi.

*) Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)