Elegi Kisah ‘Pembangunan’ dalam Bunga Trotoar

Seorang lelaki mulai bercerita dari balik layar dengan cahaya teram-temaram. Sebuah cerita nestapa akan keadaan yang dinamakan ‘peradaban’ yang menuntut perubahan, mulai dari alam, arsitektural, hingga interaksi manusia yang hidup di dalamnya.

Pada awalnya mereka bergembira akan bangunan menjulang yang hadir di sekitar mereka, namun kenyataan pahit satu per satu harus mereka telan. Di mana perubahan tidak semanis janji-janji awal pembebasan lahan, dan kini yang tertinggal hanyalah secercah ingatan. Lantas ingatan-ingatan yang kerap menjadi romantisme sekaligus harapan masyarakat inilah yang digagas dan diolah oleh Irfan R. Darajat—pentolan grup musik Jalan Pulang—, sebagai sebuah sajian pertunjukan audio visual yang dipergelarkan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 30 September 2016 silam.

Diberi tajuk Bunga Trotoar: Yang Hilang di Sepanjang Jalan, Irfan berkolaborasi dengan Hengga Tiyasa, Kurnia Yudha F., dan Lintang Enrico, untuk menyingkap pelbagai kenyataan perkotaan kini yang kerap tidak ramah terhadap alam, bahkan manusia. Bermula dari ingatan serta kenangan masyarakat, Irfan ‘bermain-main’ dengan narasi keseharian yang diartikulasikan beragam deskripsi kehidupan perkotaan. Tidak hanya itu, Irfan turut memformulasikan kompleksitas ingatan tersebut dengan terma “Bunga Trotoar.” Dengan terma tersebut, Irfan dapat menyampaikan pesan secara konotatif, sekaligus denotatif. Dan sifat ganda tersebut membuat Irfan dapat menyertakan segala kemungkinan interaksi keseharian untuk dibicarakan baik sebagai pesan reflektif, ataupun proyektif akan keadaan lingkungan di masa mendatang.

Antara Narasi dan Nada

Sebuah layar tersiar akan visual dari lanskap perkotaan membuka pertunjukan di malam itu. Tidak lama berselang, dua orang memasuki panggung dari sisi yang berlainan. Dari sisi kiri panggung Hengga mengambil sebuah gitar dan menggendongnya, sedangkan di sisi kanan, Lintang mulai mengutak-atik sebuah kotak hitam yang mengeluarkan pelbagai suara. Alih-alih mengganggu visual yang telah ada, kedua orang tersebut justru mengiringi visual dengan pelbagai unsur nada dan soundscape perkotaan.

Sementara visual dan audio masih selaras, terdengar potongan wawancara masyarakat berkomentar tentang pembangunan. Beberapa menit berselang, wawancara tadi disambung dengan pembacaan sebuah narasi dari seorang lainnya yang berdiri di belakang layar. Ialah Irfan, yang terlihat samar-samar di belakang layar disinari cahaya kuning seraya membacakan konteks pertunjukan kepada penonton. Irfan menceritakan sebuah perubahan yang terjadi di masyarakat. Pada menjelang akhir narasi yang dibawakan oleh Irfan, tersiar sebuah visual yang menggambarkan pembangunan sekitar jalan dan galian lubang. Sebuah potret akan keadaan yang sebenarnya kita sadari pembangunannya, tapi tidak pernah kita cermati implikasinya.

Dibarengi dengan visual pembangunan, Irfan memasuki panggung dan mulai menyanyikan sebuah lagu yang bertajuk “Yang Bergegas”. Lagu tersebut bercerita tentang sebuah perubahan yang bergerak cepat, sifat dari perkotaan. Dinyanyikan di awal pertunjukan, Irfan seakan hendak memberikan konteks yang lebih jelas lagi akan sifat dari perkotaan, yakni praktis. Setelah lagu usai, alih-alih penonton dibiarkan menunggu, video di layar kembali tersiar. Sebuah adegan sekelompok masyarakat sedang melakukan senam, para penonton diajak melihat interaksi yang terjalin di daerah pembangunan. Berlatar pembangunan dan beton di sisi kiri dan kanan area senam, kita seakan diperlihatkan bagaimana masyarakat menyiasati ruang yang semakin sedikit jumlahnya.

Berselang video senam tersebut, Irfan kembali memasuki panggung dan menyanyikan lagu bertajuk “Bunga-Bunga Trotoar.” Dalam lagu ini Irfan seolah hendak menyematkan bahwa perubahan yang telah terjadi tidak mungkin kembali, namun dapat disiasati dengan cara tidak meratapinya terus-menerus. Namun kiasan bunga trotoar seakan menjelaskan bahwa ia telah menjadi saksi dari masa silam. Seusai Irfan menyanyikan lagu “Bunga-bunga Trotoar”, terdengar pula beberapa hasil wawancara masyarakat akan keadaan lingkungan kini. Alih-alih diperdengarkan jelas, wawancara diselaraskan dengan soundscape perkotaan, lagi. Sehingga impresi pertunjukan semakin terasa ramai kendaraan dan pembangunan.

Disambung oleh lagu “Lingkar Waktu”, Lintang mengaransemen iringan dari lagu tersebut. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya di mana Irfan memainkan gitar, pada lagu ini Lintang memaikan pelbagai soundscape dan nada-nada yang diproduksi dari synthesizer. Walau di sesi obrolan paska pertunjukan Irfan sempat mengakui mengalami kesulitan bersinergi dengan alunan musik digital—terlebih trayektori Irfan dalam bermusik memang lebih akrab dengan gitar—, dan implikasinya Irfan perlu bekerja ekstra untuk menyesuaikan nada, mood, bahkan teks. Namun ia cukup cerdik, kendati merasa kesulitan, para penonton diperbantukan dengan pengalaman keseharian perkotaan yang ia munculkan, seperti: selokan mataram yang meluap, jalanan yang terus diperbaiki, gedung-gedung tinggi yang terus terbangun, dan sebagainya. Alhasil para penonton menunggu teks apa yang dibawa bukan lagi kesempurnaan nada yang dilantunkan, walau keduanya saling berkorelasi.

Kembali disambut dengan soundscape keseharian Jalan Kaliurang, Irfan kembali menyambung dengan lagu yang bertajuk “Ungkapan Terima Kasih Seorang Pengamen Kepada Anak dan Istrinya yang Menunggu di Rumah.” Dalam lagu ini Irfan secara lebih jeli memotret keadaan salah satu elemen perkotaan, yakni aktivitas rumah tangga dari seorang pengamen. Narasi yang diutarakan Irfan adalah aktivitas kerja yang kerap menyita waktu untuk bertemu istri dan anak. Dari praktik keseharian yang lekat dengan para penonton, Irfan menyematkan pesan bahwa perkotaan kerap mengorbankan pelbagai kepentingan, bahkan urusan keluarga sekalipun.

Tidak hanya lagu yang diciptakan dalam rangka proyek pertunjukan tersebut, Irfan turut mebawakan lagu dari bandnya, Jalan Pulang. Menyanyikan “Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi,” Irfan ingin membawa penonton pada perasaan yang lebih personal, yakni percintaan. baik antarindividu ataupun pada alam semesta. Menutup pertunjukan, Irfan kembali menyanyikan lagu “Lingkar Waktu”, berbeda dengan sebelumnya ada beberapa bait yang memang baru dinyanyikan di bagian akhir pertunjukan. Yang secara sederhana menyiratkan bahwa menyiasati perubahan bukan lagi sebuah pilihan, namun sebuah jawaban. Dan lagu tersebut menutup sekaligus meninggalkan pesan mendalam untuk membuat penonton lebih peka dengan keadaan sekitar.

Tersirat Wacana Tersemat Kesadaran

Jika para penonton mengharapkan sebuah pertunjukan yang menghibur a la sajian musik televisi, seperti Dangdut Academy atau Dashyat, maka agaknya penonton akan menjadi orang ‘tersial’ di dalam pertunjukan tersebut. Namun, jika keadaannya seperti itu, bukan berarti pertunjukan menjadi sajian yang ‘benar-benar’ serius. Kendati kegelisahan menjadi gagasan utama dari pertunjukan, Irfan tetap mengkomunikasikan pesan dengan lirik yang berangkat dari keseharian para penonton. Irfan dkk. dapat menyarikan pengalaman-pengalaman yang dirasakan penonton dan dipertunjukan secara audio visual.

Dimulai dengan visual Jalan Kaliurang yang disusun oleh Kurnia Yudha, visual tersebut seakan mengembalikan ingatan penonton yang kerap melewati Jalan Kaliurang. Beberapa titik yang kerap dilewati dan memang menjadi perhatian utama dari pembangunan di jalan tersebut. Dalam hal ini, pilihan Kurnia Yudha mengambil lanskap Jalan Kaliurang sebagai sample kegelisahan dirasa jitu, lantaran pembangunan masif yang dibarengi dengan harga tanah yang menjulang telah menyulap kawasan tersebut menjelma sebagai salah satu daerah konsumtif di Yogyakarta. Munculnya pelbagai pusat perawatan tubuh, persaingan franchise makanan, hingga pembangunan hotel, berkontestasi memperebutkan perhatian masyarakat, tidak hanya di jalan itu, tetapi di Yogyakarta.

Lantas, bagi penonton yang jarang melewati Jalan Kaliurang, mungkin akan terasa asing dengan lanskap video yang dihadirkan. Namun, penonton tidak dibiarkan dengan keterasingannya. Kurnia Yudah tetap menjaga benang merah yang tetap bisa dirasakan, yakni soal pembangunan. Hal ini turut dibuktikan dengan tidak hanya terkonsentrasi dengan jalan Kaliurang, Kurnia Yudha juga menghadirkan lanskap simpang Tugu-Kota Baru-Malioboro, jembatan baru Jombor, dan sebagainya. Maka secara visual telah tersemat bahwa meski bertolak dari pembangunan di Jalan Kaliurang, tayangan berakhir di setiap jalan di mana penonton tinggal. Ini adalah proyek sederhana yang secara langsung mengganggu pikiran serta kepekaan penonton saat kembali ke rumah masing-masing dan melihat seberapa jauh lingkungan mereka telah berubah.

Hal lainnya yang menarik adalah penciptaan nomor lagu yang dibawakan Irfan, Hengga, dan Lintang. Tidak hanya alunan yang beragam, baik tempo cepat ataupun sebaliknya, teks dari tiap lagu pun menarik. Implikasinya adalah visual yang dihadirkan seakan mendapatkan deskripsi ‘bernada’ dari pelbagai lagu yang dibawakan. Deskripsi pun tidak diawali dari hal yang muluk-muluk, melainkan dimulai dengan hal-hal yang dekat dengan penonton: dari aktivitas kerja, keluarga, percintaan, hingga ruang-ruang yang hilang karena pembangunan. Lalu narasi yang tersarikan dari pengalaman bersama tersebut diwujudkan dalam terma-terma jujur dan puitis.

Salah satu alasan mengapa wacana tersebut dapat tersampaikan adalah selarasnya background pop-balada yang Irfan usung dalam bandnya, Jalan Pulang, dengan tawaran wacana kritis akan perkotaan dalam penciptaan lagu di dalam proyek tersebut. Tidak hanya itu, dari proyek ini turut terlihat bahwa teori ‘wacana’ dari scholar Perancis, Michel Foucault—terlebih di dalam buku Irfan yang berjudul Nyanyian Bangsa memang menggunakan telaah wacana—menjadi titik pijak Irfan untuk membedah beragam persoalan dan mengimplementasikannya pada pelbagai karya. Dan melalui seni, Irfan membicarakan pembangunan, bukan menggunakan toa atau pengeras suara yang menyerukan pesan provokatif, melainkan hanya dengan bernyanyi, lirih dan bertolak dari keseharian yang menggugah kesadaran.

Dimulai dari apa yang berubah dalam lingkungan, dengan melihat trotoar sebagai saksi bisu dari pembangunan, proyek audio visual ini seakan ingin menyatakan bahwa Bunga Trotoar dapat diposisikan layaknya ingatan para masyarakat, namun turut dapat diposisikan serupa dengan masyarakat yang melihat dan sadar bahwa pembangunan justru merusak pelbagai hal, tetapi hanya diam dan tidak berbuat apa-apa.[]

Michael H.B. Raditya

Michael H.B. Raditya

Menonton serta menggemari pergelaran seni musik dan tari. Bisa dihubungi melalui alamat surel: michael.raditya@gmail.com.
Michael H.B. Raditya

Latest posts by Michael H.B. Raditya (see all)