Merintis Pengarsipan Musik Indonesia

Penyakit laten negeri ini adalah enggan menengok ulang sejarah, terlalu malas mengumpulkan arsip segala hal. Termasuk mengumpulkan segala hal tentang musik. Almanak Musik Indonesia 2005 – 2015 (selanjutnya disebut AMI) adalah sebuah rintisan, berusaha mengobati penyakit laten tersebut dengan cara mengarsipkan musik nusantara.

Disusun oleh Kelik M. Nugroho, buku ini terbagi ke dalam empat bab: Kronik Musik Indonesia, Kelompok Musik Indonesia Terpilih, Tokoh Musik Indonesia, dan Daftar-Daftar.

Pada bab pertama, AMI mencantumkan secara kronologis kejadian musik di Indonesia pada kurun waktu 2005 sampai 2015. Kronik tersebut diperoleh dari kliping pelbagai terbitan media massa.

Misalnya, kisah kegaduhan karena penyebaran kaos bersablon logo palu arit—yang ternyata adalah sampul album band metal Kreator—beberapa waktu lalu sebenarnya reaktif dan tidak perlu, karena band asal Jerman itu pernah manggung di Jakarta 24 April 2005 silam, dan kala itu tak ada kegaduhan serupa. (hlm 17).

Pada bab kedua, pembaca akan menemukan banyak kelompok musik yang memiliki andil besar di dunia musik. Selain nama yang cukup familiar seperti Koes Plus, Panbers, atau Bimbo, senarai ini berisi kelompok yang sebenarnya memiliki keunikan musikal namun seolah gaungnya kurang terdengar.

Misalnya Kelompok Kampungan, grup eksentrik asal Yogyakarta ini menggabungkan formula rock dengan musik tradisional di era 70-an. (hlm 145). Tidak dapat dipungkiri, grup besutan Sawung Jabo ini meletakkan benih bagi musik-musik fusion era sekarang yang gemar memadu-padan musik modern dengan tradisional.

Pada bab ketiga, nama seperti Addie Muljadi Sumaatmadja atau yang lebih dikenal sebagai Addie MS dituliskan, dijelaskan profil pribadi dan karir musiknya. Yang menarik adalah, selain nama beken, pada bab ini nama setiap tokoh berusaha dituliskan sebagai nama aslinya. Dari situ pembaca bisa mengetahui nama asli Sudjiwo Tejo adalah Agus Hadi Sudjiwo, dan bagaimana sepak terjangnya di dunia kesenian dan musik (hlm 171).

Bab terakhir buku ini berisi senarai, daftar pelbagai hal mengenai musik Indonesia. Mulai dari daftar album terbaik, musisi paling berpengaruh, hingga lokasi beberapa sekolah musik di Indonesia.

Berat Sebelah, Arus Samping yang Terlewat

Sebagai rintisan, AMI tentu tak luput dari kekurangan, terutama sumber data yang banyak diambil dari media massa baik cetak maupun elektronik, kebanyakan media arus utama (mainstream). Alhasil, sebagian besar kronik, nama, dan ihwal musik yang disebut adalah mereka yang berjalan di arus utama. Tak pelak, almanak ini tampak seolah hanya terisi dua kutub dalam arus utama: musik dalam industri pop, dan art music semacam musik klasik a la biolin dan piano di resital. AMI seolah melewatkan arus samping.

Padahal di balik gempita musik di arus utama, ada geliat luar biasa di arus samping (sidestream) punya andil tak kalah penting bagi perkembangan sejarah musik Indonesia. Banyak yang menganggap arus samping (indie) sebagai benteng terakhir musik berestetika, karena mereka membuat dan merilis sendiri musiknya tanpa terikat berbagai tetek-bengek hirarki dan perkara industri seperti yang lazim terjadi di arus utama.

Sebenarnya kosakata ‘indie’ disebutkan beberapa kali di AMI (hlm 38, 39, 40, 51), pun saat band rock Shark Move didaulat sebagai pelopor band indie karena merilis secara mandiri album perdana Ghede Cokra’s di tahun 1973 (hlm 141). Namun, penyebutan tersebut sebatas lewat dan tidak menjelaskan lebih lengkap apa itu indie.

Album perdana Pas Band, 4 Through The Sap masuk dalam senarai 150 album musik terbaik Indonesia (hlm 247). Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut bahwa album tersebut menjadi tolak ukur bagi banyak musikus agar berani merilis karya secara mandiri di arus samping. AMI juga luput menyebut nama produser Samuel Marudut di bagian Tokoh Musik Indonesia (hlm 168-241). Padahal banyak khalayak menganggap almarhum Marudut sebagai pionir gerakan rilis musik independen.

Penyusun buku tak sepenuhnya salah. Mereka hanya mengambil data dari publikasi yang telah ada. Sebenarnya ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih besar. Pertama, kurangnya upaya mengarsipkan secara komprehensif seluruh kronik musik baik di arus utama dan arus samping sejak awal. Kedua, minimnya liputan media massa tentang aksi musikus di ranah arus samping.

Bagi sastrawan Pramoedya Ananta Toer, arsip adalah salah satu faktor penting kenapa Belanda bisa menangkis setiap serangan pejuang kemerdekaan di masa silam. Pram menggambarkan pentingnya arsip melalui sosok rekaannya dalam Rumah Kaca. Tokoh protagonis Minke, harus tunduk pada kekuatan arsip Pangemanann—representasi kuasa kolonial.

Belajar dari Pram, bagi dunia musik, arsip adalah bekal penting untuk menyusun bagaimana jalannya musik Indonesia ke depan. Sebagai sebuah bangsa yang hidup di budaya oral, dan budaya literer yang kurang, Almanak Musik Indonesia ini penting. Kelik M. Nugroho patut mendapatkan acungan jempol atas upayanya merintis pengarsipan musik Indonesia dalam sebuah buku, sebuah upaya untuk mencatat dan mengingat.

Tentu proyek rintisan arsip musik ini harus diteruskan. Harapannya, akan ada Almanak Musik Indonesia edisi berikutnya dengan penambahan kronik musik Indonesia, serta sumber data yang lebih beragam.

Judul Buku: Almanak Musik Indonesia 2005 – 2015.

Penulis: Kelik M. Nugroho

Penerbit: Yayasan Tali Kemanusiaan, Tangerang

Cetakan: Pertama, 2015

Tebal Buku: 300 halaman

*Ulasan buku ini telah ditayangkan di harian Kompas, Sabtu 12 November 2016.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)