Makan

Salah satu petuah utama orang tua saya—dan barangkali orang tua semua orang—semasa kecil adalah agar tidak lupa berdoa sebelum makan. Petuah tersebut kemudian menjadi ritual yang diterapkan semua orang sebelum makan, memohon kepada Yang Maha Esa agar makanan yang disantap menjadi berkah bagi tubuh. Doa ini bersalut rasa syukur karena masih mampu mengunyah renyahnya brokoli dan gurihnya tempe goreng hari ini di saat 20 ribu lebih orang meninggal dunia karena tak memiliki makanan untuk disantap.

Semakin dewasa, ritual berdoa sebelum makan tersebut berubah. Saya dan kalian adalah generasi 2.0. Generasi yang hidupnya lekat dengan interaksi di jagat internet. Generasi yang dewasa ini hidup di sebuah desa global dengan piranti gawai mutakhir penghubung jaringan maya.

Dalam rangka menghidupi jaringan pertemanan maya kita, ritual berdoa sebelum makan terpaksa mengalah kepada ritual baru yang lebih penting: menjepret foto makanan yang sudah dihidangkan dengan kamera gawai, otak-atik sedikit foto itu dengan perangkat lunak vscocam agar nampak lebih nikmat, lalu membagikannya ke media sosial sehingga seluruh jaringan pertemanan maya di penjuru dunia dapat melihatnya. Setelah itu barulah kita berdoa—atau ada yang khilaf lupa berdoa—dan menyantap makanan itu.

Makan bukan lagi sekadar perkara memenuhi kebutuhan dasar nutrisi bagi tubuh. Makan adalah penegasan eksistensi generasi 2.0. Sarana mencari bahagia.

Tapi bukankah makan juga salah satu bagian dari budaya? Sama seperti musik atau traveling yang patut dicitrakan dan dibicarakan bukan hanya masalah kebutuhan dasarnya, tapi juga kelindan sosial budaya yang melingkupi ritus makan beserta ragam corak makanannya? Jadi sah-sah saja menggunggah foto makan dan makanan ke media sosial, bukan?

Sah. Tidak salah sama sekali. Tapi mari kita renungkan kebiasaan mengunggah foto makanan kita dengan memahami gagasan kolumnis, Zen RS, saat membahas traveling yang belakangan juga digandrungi generasi 2.0. Dalam esainya Zen menuding perilaku jalan-jalan a la anak muda masa kini mirip dengan model lukisan mooi indie jaman Hindia Belanda. Jenis lukisan ini hanya menggambarkan kemolekan Hindia sebagai sebuah surga yang isinya indah melulu, melupakan pembahasan lebih mendalam berbagai problematika sosial politik dan gonjang-ganjing tanah Nusantara.

Demikian juga traveling generasi 2.0 menurut Zen berkutat di perkara kemolekan obyek wisata yang harus diabadikan keindahannya dan dibagikan ke dunia melalui media sosial . Perjalanan adalah perkara mencari senang, mana sempat pelancong 2.0 memelajari sisi-sisi humanisme warga yang berdiam di wilayah wisata, atau bagaimana konflik horizontal antar warga vs warga dan warga vs negara terjadi di beberapa wilayah wisata tersebut .

Setali tiga uang dengan perkara traveling yang dibahas oleh Zen RS, bisa jadi perkara makan dan makanan generasi 2.0 adalah bentuk mooi indie. Foto makanan berskala 1:1 di Instagram kita adalah upaya menggambarkan kemolekan makanan Hindia, atau makanan belahan bumi barat yang kita makan di daratan Hindia. Kebiasaan ini makin terkesan menggemaskan karena yang kita kejar adalah jumlah ‘tanda cinta’ atau ‘jempol’ yang disematkan orang lain ke foto kita, bukan interaksi membicarakan ritual makan itu di kolom komentar. Bagaimana orang lain mau berkomentar dan berdiskusi jika caption foto kita tidak menyelipkan benih untuk diskusi itu?

Saya sering mengamati akun-akun instagram yang isinya ‘cerita makan’ dan ihwal foodporn lainnya. Keterangan foto? Jangan harap akan ada narasi apik a la Bondan Winarno atau Anthony Bourdain. Alih-alih isinya sekadar ajakan untuk makan, makan, dan makan. Terkadang bagi yang cukup jeli mengamati, akan paham benar bahwa foto dan caption-nya adalah advertorial, si pemilik akun dibayar untuk beriklan. Iklan tersebut terselubung semu testimoni tulus.

Perkara mengunggah foto makan di media sosial bukan lagi klangenan eksistensial anak muda. Ada perputaran uang di dalamnya, antara pemilik usaha restoran atau kedai makan dengan pemilik akun media sosial (baca: buzzer). Isi kolom komentar lebih menarik lagi, berisi anak-anak muda yang menandai temannya, beberapa dengan ajakan “wah enak nih, ayo makan ke sini”, dan komentar senada lainnya.

Kembali ke pembahasan sebelumnya, koleksi foto makan dan makanan di media sosial akan menjadi urusan kebudayaan jika kita membicarakan unsur kebudayaan itu dan tidak sekadar berburu ‘tanda cinta’ atau komentar ‘terlihat enak, nih’. Dalam salah satu tulisan di blognya, chef dan penulis kuliner, Anthony Bourdain, menjelaskan bagaimana proses pendokumentasian kuliner dunianya malih rupa. Sebelumnya, Bourdain hanya menggambarkan sisi kenikmatan setiap makanan. Belakangan pria bertato ini mafhum: makan tak bisa dilepaskan dari budaya. Bahwa perkara makan dan makanan itu mampu menceritakan kelindan sosial politik masyarakat pemiliknya.

Pergeseran ini lantas terlihat dari program-program televisi yang Bourdain asuh. Misalnya, di salah satu episode Parts Unknown, saat Bourdain berkunjung ke Hanoi. Alih-alih sekadar menceritakan eksotisme makanan kaki lima Vietnam, Bourdain juga mengupas bagaimana kondisi negara yang berkali-kali dirongrong perang  tersebut. Di sela menyesap kuah sedap Bun Cha bersama Presiden Barack Obama di sebuah kedai, Bourdain juga memaparkan bagaimana hubungan Vietnam dan Amerika Serikat, dua negara yang di masa lampau bermusuhan dalam perang hebat. Dengan apik Bourdain menggambarkan bagaimana tradisi makanan berkuah Vietnam kini berdampingan dengan restoran cepat saji Amerika.

Bayangkan, alangkah apiknya jika foto makan dan makanan kita di media sosial atau blog disertai narasi tentang bagaimana makanan tersebut eksis di masyarakat, atau kesadaran mendadak ‘negara ini tidak baik-baik saja’ saat sayur asem yang kita masak gagal matang karena gas elpiji habis dan kita kesulitan menemukan gas pengganti di sekitar rumah. Berawal dari cerita baper tentang sayur asem gagal matang bisa memancing diskusi dengan khalayak desa global lain bahwa tata kelola migas kita bermasalah.

Bukankah ini luar biasa, kita bisa melatih kepekaan diskusi dan analisis kita tentang permasalahan negara dari foto makan dan makanan. Kita bisa menceritakan kisah manusia Indonesia ke dunia seperti saat Nuran Wibisono menyelipkan kisah kesahajaan Pak Syamsul, tukang soto yang merantau dari Jawa Timur ke Yogyakarta. Di balik narasi betapa nikmatnya semangkuk soto dengan daging sandung lamur dan sekerat paru goreng, tersimpan kisah kemanusiaan yang menarik.

Foto makan dan makanan di media sosial memang akan mencitrakan kita semakin keren di hadapan warga desa global. Menjadi keren adalah sarana generasi 2.0 mencari bahagia. Tapi patut direnungkan, bagaimana jika kekerenan itu adalah hipokrisi? Semacam self esteem kita untuk menutupi fakta bahwa sebenarnya masih banyak perihal kemanusiaan yang luput kita bicarakan di balik kemolekan gambar makanan itu. Apakah kita rela mengabaikan kisah kemanusiaan demi memperoleh banyak ‘tanda cinta’ dan ‘jempol’? dan cap semu bernama ‘keren’ dan ‘kekinian’?

 

*) Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)