Merayakan Kebangkitan Rilisan Fisik

Cassette Store Day 2016 dirayakan serentak di berbagai penjuru dunia pada Sabtu (8/10). Para pelaku dunia musik di Indonesia, khususnya kalangan independen, tak mau ketinggalan merayakannya.

Penyelenggaraan cassette store day (CSD) di Indonesia tahun ini tersebar di berbagai kota antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Bali, Yogyakarta, Malang, Solo, Bekasi, Bogor, Tebing Tinggi, Cirebon dan Surabaya. Jumlahnya lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya yang hanya diadakan di empat kota, yakni Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya.

Khusus untuk Yogyakarta, gelaran CSD dihelat di halaman Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto, Kota Baru. Bentara Budaya Yogyakarta memang kerap menjadi langganan acara serupa. Setidaknya, dalam tiga tahun terakhir penyelenggaraan cassette dan records store day diadakan di lokasi tersebut. Meski cuaca di Yogyakarta sedang tidak bersahabat beberapa waktu belakangan, panitia bergeming untuk tetap menggelarnya dengan format lapak terbuka di halaman.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul 12.00. Ada 25 pelapak yang turut meramaikan CSD Yogyakarta tahun ini. Mereka tidak hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan juga dari Solo dan Bekasi. Sigit, partisipan asal Bekasi, mengaku ini kali pertamanya mengikuti CSD di luar kota. Menurutnya, antusiasme khalayak terhadap event ini luar biasa. “Tak peduli hujan dan becek, animo pengunjung luar biasa,” ujar pemilik toko rilisan fisik online Pooks Store ini.

Meski sedang merayakan rilisan kaset, pelapak membawa serta rilisan fisik dalam bentuk lain seperti cakram padat dan piringan hitam (vinyl). Menjelang sore, para pelapak dan panitia sedikit direpotkan oleh hujan deras yang mengguyur. Tenda yang terpasang tidak cukup membendung tampias air. Alhasil, meja-meja yang awalnya tersusun rapi terpaksa disingkirkan untuk menghindari guyuran air.

Sempat berlangsung beberapa jam, rangkaian event akhirnya terpaksa ditunda, termasuk sesi diskusi bertajuk “Musik dan Perkembangannya Hari Ini” dengan pembicara Robert Pepper dari label independen Alrealon Musique, New York, Amerika Serikat, yang seharusnya dimulai pada pukul 15.00. Menjelang sore, hujan mereda sehingga lapak-lapak kembali digelar dan diskusi bisa berlangsung meski durasinya tidak begitu panjang.

Seiring dengan hujan yang mereda di sekitar Yogyakarta, para pengunjung mulai berdatangan. Kaum muda tetap mendominasi, meski tak sedikit para orang tua yang turut berimpitan untuk mendapatkan rilisan yang mereka cari. “Yang datang semakin beragam. Sekarang banyak anak muda yang datang, dulu lebih banyak orang-orang tua yang datang,” kata Indra Menus, salah seorang penggerak CSD Yogyakarta.

Animo masyarakat memang semakin meningkat setiap tahunnya. “Dari tahun ke tahun semakin menarik. Karena mereka yang datang tidak hanya sekadar melihat-lihat, tapi ikut membeli rilisan-rilisan tersebut,” ujar Taufiq Aribowo atau biasa disapa Ari, salah satu penggagas CSD.

CSD pertama muncul di Inggris pada 2013 dengan motif utama merayakan rilisan kaset. Namun, perayaan CSD yang tersebar secara sporadis ke berbagai negara menemukan alasan-alasan lain. Di Indonesia, CSD hampir tak ada bedanya dengan record store day (RSD) yang memang memiliki tujuan untuk mendorong penjualan rilisan fisik.

Menurut Menus, CSD di Yogyakarta digelar untuk mengumpulkan para penjual kaset yang kian susah dicari. Dengan demikian, acara ini menjadi ruang interaksi bagi para pengumpul rilisan fisik dengan pedagang. Transaksi menjadi lebih mudah karena semua berkumpul dalam satu momentum.

Selain ajang bertemunya produsen dan konsumen, keberadaan acara semacam CSD juga dilihat sebagai ruang kreatif yang berlangsung secara samar di balik gempitanya perburuan rilisan langka. Salah satu pengunjung, Bagus Dwi Danto, menilai CSD bisa menjadi ruang belajar. “CSD itu kegiatan menarik. Acara seperti ini dapat mempertemukan banyak musisi independen, sehingga satu sama lain dapat saling berbagi, belajar dan mengapresiasi karya,” kata musisi yang dikenal dengan nama panggung Sisir Tanah ini.

Salah seorang musisi independen Yogyakarta, Izyudin Abdussalam dari grup musik Talamariam, menilai ada banyak hal unik di CSD. “Jarang banget bisa lihat kaset sebanyak itu. Ada banyak genre di sana, tidak melulu hardcore punk. Di skena kita gak akan bisa nemuin kaset To Die sebelahan sama kaset Agnes Monica,” selorohnya.

Seusai acara, musisi yang akrab disapa Bodhi ini, bersama Brett Zweiman personil band Numbfoot, salah satu band yang tampil di CSD malam itu, melakukan eksperimen bebunyian di studio mininya di bilangan Bantul. “Kami jamming dan menyepakati sesuatu, bahwa apa yang kami mainkan adalah mengolah energi baik dalam tubuh. Kemudian dia ngajak ke Solo, agar energi baik itu juga bisa dirasakan sama audiens di Solo,” katanya.

Sehari setelahnya, mereka berkolaborasi di acara bertajuk Wiken Noise di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ini membuktikan ada banyak hal di luar urusan jual beli yang dihasilkan dari gelaran-gelaran serupa.

CSD biasanya digelar bersanding dengan pertunjukan musik. Para musisi yang ikut meramaikan CSD Yogyakarta 2016 di antaranya Bloater (AS), Emil Palme (Denmark), Numbfoot (AS/Vietnam), Pas Musique (AS), Terasering dan Mengayunkayu (Yogyakarta). Penampilan para musisi dalam ajang CSD seolah menjadi simbol bagi perayaan tradisi rekaman. Adapun sejumlah musisi merilis albumnya pada perhelatan ini, antara lain To Die yang merilis kaset Kalut Mendera, kaset perdana Libertaria bertajuk Kewer – Kewer, dan piringan hitam 7” Parasite Lottery milik Frau.

Jogja Record Store Club

Terselenggaranya CSD di Yogyakarta merupakan andil sebuah kolektif yang diinisiasi oleh sejumlah pegiat skena independen Yogyakarta. “Kami membentuk Jogja Record Store Club karena merasa dengan teroganisir akan lebih mudah menggelar event,” kata Ari, yang juga pemilik label rekaman berbasis internet (netlabel) Mindblasting.

Selain demi mempermudah komunikasi dan pembagian peran dalam event, Jogja Record Store Club juga menjadi wadah dalam mengembangkan skena musik independen. Sejak terbentuk, mereka mulai mendokumentasikan berbagai aktivitas musik independen di Yogyakarta.

Dalam tiga kali penyelenggaraan cassette dan records store day, misalnya, mereka rutin memproduksi kaset kompilasi karya musisi Yogyakarta. “Itu menjadi dokumentasi atau artefak sejarah pergerakan musik di Yogyakarta,” terang Ari.

Kaset-kaset tersebut dirilis secara terbatas dan biasanya dibundel dengan zine yang memuat tulisan para pegiat skena independen Indonesia. Tahun ini, mereka merilis V/A Jogja Record Store Club #3 yang melibatkan sejumlah musisi pendatang baru.

Pada 2015, kolektif ini juga membuat proyek Jogja Record Store Map, yakni proyek pembuatan peta yang berisi petunjuk lokasi toko rilisan musik di Yogyakarta. “Di Jogja kan biasanya hanya ada peta wisata. Lalu kami berpikir, kenapa tidak record store dijadikan obyek wisata juga?” tambah Ari.

Peta tersebut rampung digarap pada 2015 dan dibagikan pada gelaran Record Store Day 2015. Boleh jadi, upaya-upaya tersebut akan membuat skena musik independen Yogyakarta kian bergairah.

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)