Membumikan Kajian Musik

Musik sebagai ilmu pengetahuan masih cenderung terbatas pada ruang-ruang sekolah. Padahal, musik sebagai ilmu selayaknya tak berjarak dengan masyarakat. Untuk itulah Laras lahir: mengisi ruang kosong antara musik dan fenomena sosial.

April 2014 menjadi puncak kegelisahan Rizky Sasono ihwal wacana musik di Indonesia yang menurutnya cenderung tekstual. Musik diciptakan hanya untuk melayani kepentingan musik. Music for music’s sake. Rekan sejawatnya, Leilani Hermiasih, mengamini kegelisahan tersebut. Selama ini musik masih kerap dimaknai sebagai sekadar karya kreasi bebunyian. Tidak lebih. Paling banter, musik dikenali sebagai hiburan popular a la media massa.

Kelindan musik dan masyarakat begitu erat. Menurut Rizky, musik, jika dikaji, akan mampu menghasilkan sesuatu yang bisa memberikan kontribusi bagi peradaban manusia, lebih dari sekadar hiburan. Kajian musik dan persinggungannya dengan banyak disiplin ilmu, seperti politik, sosiologi, hingga ilmu budaya, memungkinkan musik dilihat dari banyak perspektif. Karena alasan itu Laras dibentuk.

Laras adalah komunitas yang berupaya mendedah musik dalam korelasinya dengan fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Laras membuka ruang-ruang diskusi dan penelitian mengenai musik yang tidak terbatas pada latar disiplin ilmu tertentu.

Dari hasil perbincangan Rizky dan Lani, pada September 2014, terselenggaralah diskusi publik perdana Laras yang dinamai Preliminary Notes. Preliminary Notes adalah upaya untuk mengumpulkan gagasan-gagasan terkait musik dan isu tertentu. Untuk menyebut beberapa, misalnya, Musik dan Demokratisasi, Musik dan Politik, Musik dan Agama, Musik dan Gender, serta Musik dan Ruang.

Preliminary Notes pertama bertajuk “Musik dan Demokratisasi era 90-an” yang digelar pada September 2014. Pemantik pada diskusi tersebut adalah Antariksa (KUNCI Cultural Studies) dan Indra Menus (Pegiat Musik Jogja) yang mengulas tentang pengaruh musik dalam proses demokratisasi menjelang kejatuhan Soeharto.

Ada banyak lagu yang menjadi sumber inspirasi massa untuk melawan hegemoni Orde Baru kala itu. Herry Sutresna, penggawa grup musik hip hop legendaris Homicide, misalnya, menjadikan lagu Mentari karya Iwan Abdurrahman sebagai Lagu Protes Lokal Terbaik dari sepuluh lagu yang ada di daftarnya.

“Hingga tiba saat kuliah dan berada di tengah-tengah massa aksi yang dengan hikmat menyanyikan lagu ini seolah himne perang sebelum merangsek barikade ‘bubur kacang hijau’ di circa 95-96an. Lirik lagunya tidak secara langsung menyerukan protes, namun memiliki kombinasi nada dan lirik yang berpotensi menginjeksi nyali dan nyaris melenyapkan rasa takut,” tulisnya.

Seperti itulah kira-kira cara Laras menyajikan konteks sosial terhadap musik, lebih dari sekadar komposisi bebunyian.

Hingga 2016, Laras sukses menggelar enam seri Preliminary Notes, dengan rerata peserta diskusi mencapai 50-100 orang. Laras juga mengadakan dua Forum Peneliti yang melibatkan 10-15 partisipan. Bagi Rizky, Forum Peneliti adalah keberhasilan Laras dalam membumikan kajian musik. Tidak melulu mereka yang berlatar belakang studi musik yang bisa terlibat, namun siapa saja yang meminati kajian musik. Khususnya kajian musik yang berkorelasi dengan fenomena sosial. “Kami berharap bisa menstimulus kajian-kajian musik dengan semangat baru dan segar. Tidak hanya di kalangan akademik,” ujarnya.

Irfan Rizky Darajat, salah seorang partisipan Forum Peneliti pertama, mengakui bahwa Laras telah membuka ruang yang lebih luas bagi peminat kajian musik. “Pembahasan musik di Indonesia bagiku masih berkisar di review musik. Penelitian yang dapat diakses oleh kalangan luas belum terlalu banyak,” katanya. Oleh karena itu keberadaan Laras sebagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap kajian musik mendalam menjadi penting.

Meski Laras tidak mendaku diri sebagai forum akademik, komunitas ini menginisiasi penelitian dengan metode yang cukup tertib dengan tema yang cenderung luwes. Hasil penelitian itupun tidak berhenti di ruang penyimpanan komputer atau berkas yang teronggok di sudutan meja. Laras menerbitkan karya-karya tersebut. Dari Forum Peneliti #1, Laras telah menerbitkan sebuah buku bertajuk “Ensemble: Mozaik Musik dalam Masyarakat” (2015).

Keberadaan Laras kian diakui dari tahun ke tahun. Itu dibuktikan dengan pelibatan Laras, sebagai kelompok maupun personal, dalam berbagai kegiatan, seperti diskusi, seminar, hingga memfasilitasi kegiatan yang berkaitan dengan musik. Pada 2016 misalnya, Laras dipercaya menjadi kurator film-film musik untuk Festival Film Dokumenter (FFD).

Laras pernah dikritik lantaran dianggap merumitkan hal yang sepele. Namun ada juga yang menilai bahwa mereka justru memuliakan hal sepele. Etnomusikolog, Aris Setiawan, dalam ulasannya berjudul “Mengabadikan Kesederhanaan Bunyi” (Jawa Pos, 6 Maret 2016), menyayangkan isi buku “Ensemble: Mozaik Musik dalam Masyarakat” yang dinilainya terlalu ‘ilmiah’, bahkan ‘sok akademis’. “Peristiwa musik yang idealnya dapat dituturkan dengan sederhana dan tak muluk-muluk untuk dimengerti justru terkesan berat dan njlimet di buku ini. Seolah ada keharusan menggunakan perangkat teori-teori tertentu untuk mengulas sebuah musik,” tulis Aris. Baginya, kutipan, teori dan catatan kaki justru mengganggu alur ulasan.

Meski demikian, pengajar di Institut Seni Surakarta itu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Laras. Melalui buku tersebut, menurutnya, Laras telah mengisi ruang yang selama ini terabaikan. ”Buku ini justru coba membaca fenomena-fenomena bunyi sederhana di sekitar kita, tentang forum dan pergelaran musik yang selama ini luput dari perhatian,” katanya.

Selain catatan baik, Laras juga belum lepas dari kekurangan. Sebagai pendiri, Rizky merasa masih cukup banyak kendala yang dihadapi Laras. Sebagai komunitas cair dan sukarela, konsistensi Laras dalam menjalankan aktivitasnya masih diuji. Para pegiat yang kini berjumlah empat orang (Rizky Sasono, Leilani Hermiasih, Michael HB Raditya dan Irfan Rizky Darajat) sudah cukup sibuk dengan aktivitas personalnya—pekerjaan ataupun studi—sehingga agak kesulitan membagi waktu dan tenaga, kendati antusiasme mereka terhadap musik tak pernah berkurang. Irfan sendiri berharap ke depan, Laras bisa melibatkan lebih banyak pihak, tak terkecuali dari kalangan seniman maupun akademis.

Selain itu, konsep program yang masih mencari bentuk juga menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan Laras. “Tantangannya adalah bagaimana merancang dan mengembangkan program agar bisa memfasilitasi mereka yang berminat terhadap (kajian) musik, dan bagaimana output penelitian Laras bisa diakses publik secara luas dan populer dengan berbagai cara,” kata Rizky.

Soal pendanaan juga tak luput menjadi persoalan. Pada tahun pertama, Laras mengandalkan bantingan para pegiatnya agar program yang sudah dirancang bisa berjalan. Beruntung pada tahun kedua, Laras bisa menjalin kerjasama dengan Pusat Studi Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada sehingga terbantu dalam banyak hal. Berkat kerjasama tersebut, “Laras sekarang sudah punya kantor,” kata Rizky. Selain markas, PKKH UGM juga memberi dukungan untuk publikasi hasil penelitian Forum Peneliti Laras.

Irfan, orang terakhir yang tergabung dengan Laras, tidak ingin menyebut persoalan finansial sebagai kendala. “Intinya, kami masih mencari siasat agar bisa mandiri dan berjalan secara mapan,” kata Irfan. Bahkan ke depan, ia berharap Laras bisa melembaga agar dapat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dengan lebih leluasa.

Irfan punya optimisme sendiri akan masa depan komunitas ini. Mahasiswa Kajian Budaya dan Media UGM itu berharap Laras bisa terus membicarakan musik dengan baik, yakni dengan kajian, penelitian dan juga kritik. “(Hasilnya) nanti bisa dijadikan rujukan untuk melihat fenomena (musik dan korelasinya dengan masyarakat) yang terjadi di Indonesia dengan sudut pandang orang Indonesia sendiri,” katanya. Sedangkan Rizky berharap apa yang dilakukan Laras dapat mendorong diskusi musik di dalam maupun luar kampus agar kajian musik dapat lebih membumi.

 

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)