Kisah Salim Kancil dan Tosan Diangkat dalam Film

Kisah-kisah konflik agraria yang kian marak di berbagai wilayah memantik ide sejumlah pegiat agraria untuk mengangkatnya dalam bentuk film. Selain sebagai dokumentasi, film semacam itu juga menjadi media mengampanyekan penyelamatan lingkungan dan ruang hidup di dalamnya kepada publik.

Seorang lelaki tengah melaju di atas sepeda motor. Kamera melihatnya berlalu, untuk kemudian mengikutinya dari belakang sehingga tulisan di atas kaus yang menempel di punggungnya terlihat jelas: “Jika aku mati karena membela lingkungan, maka akan kugoncangkan Indonesia!”

Kalimat yang dikutip dari ucapan Salim Kancil itu membuka film dokumenter berjudul “Kisah Kelam Pasir Hitam” yang diputar versi trailer-nya pada Jumat (12/8) di Uwong Cafe, Sleman, Yogyakarta. Pemutaran film itu diawali diskusi bertema “Meninjau Tata Kelola SDA & Konflik Agraria Indonesia” dengan narasumber Eko Cahyono dari Sajogyo Institute.

Penonton yang memadati kafe malam itu tampak antusias menatap layar, untuk kemudian menyadari bahwa film yang sedang diputar itu baru versi trailer sepanjang kurang dari lima menit. Ungkapan kecewa diiringi derai tawa pun terdengar dari berbagai sudut ruang.

Melihat reaksi pengunjung, jurnalis Mongabay Indonesia Tomy Apriando yang terlibat dalam proses penggarapan film tersebut segera memberi penjelasan. Memang, malam itu baru versi trailer yang diputar. “Rencananya dalam waktu dekat film ini akan diluncurkan di Pusat Studi Agraria IPB (Institut Pertanian Bogor),” katanya.

“Kisah Kelam Pasir Hitam” adalah film yang mengangkat kisah perjuangan Tosan dan almarhum Salim yang juga dikenal dengan nama Salim Kancil dalam menyelamatkan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dari aktivitas penambangan pasir besi. Dalam film ini, Tosan menjadi sosok sentral yang menuturkan upaya warga dalam menolak tambang sembari menunjukkan lubang-lubang bekas penambangan pasir di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Salim dan Tosan, dua warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, menjadi perhatian media setelah keduanya menjadi korban pengeroyokan puluhan orang akibat aktivitasnya dalam menolak penambangan pasir besi pada 26 September 2015. Akibat pengeroyokan itu, Salim meninggal, sedangkan Tosan menderita luka yang memaksanya harus menjalani perawatan selama berhari-hari.

Menurut Tomy, film tersebut dibuat untuk menunjukkan pada publik kondisi pesisir Lumajang pascapenambangan pasir. Film tersebut merupakan satu dari sejumlah film tentang konflik agraria yang akan dibuat bersama oleh sejumlah organisasi seperti Serikat Petani Indonesia, Sajogyo Institute, Yayasan Desantara, Komite Nasional Penyelamatan Agraria dan Mongabay Indonesia.

Pembuatan film dimulai Mei lalu. Diawali dengan riset untuk mengumpulkan data awal, Tomy bersama rekannya, Gesang Nur Wasyim, kemudian turun untuk mengambil gambar di lapangan. “Keluarga Salim Kancil mendukung pembuatan film ini,” terang Tomy.

Melalui film ini, diharapkan masyarakat mengetahui dampak tambang di Lumajang, khususnya berupa kerusakan kawasan pesisir dan abrasi pantai. Film itu juga diharapkan bisa mendorong pemerintah memperbaiki tata kelola pertambangan di Lumajang maupun wilayah lain di Indonesia.

Tomy menambahkan, film berdurasi sekitar 20 menit itu saat ini masih dalam tahap pengeditan. Setelah diluncurkan di IPB, film tersebut akan diputar di berbagai kantong komunitas, khususnya yang memiliki persoalan serupa dengan yang dihadapi Tosan dan almarhum Salim Kancil.

Dalam diskusi yang mengawali pemutaran film, Eko Cahyono menjelaskan bahwa Salim Kancil bukan hanya korban konflik agraria di desanya. Lebih dari itu, Salim Kancil adalah korban dari ketidakjelasan aturan tentang agraria dan kebijakan pembangunan yang tidak berorientasi sosial-ekologis sejak era kolonial hingga saat ini.

Idha Saraswati

Idha Saraswati

Peminat seni, budaya dan media. Bisa dihubungi di jatisaras@gmail.com.
Idha Saraswati

Latest posts by Idha Saraswati (see all)