AATPSC yang Bermekaran

Pada 31 Desember 2018, band pop-folk asal Yogyakarta Auretté and The Polska Seeking Carnival merilis album kedua mereka dengan tajuk Bloom. Album ini sudah dapat didengarkan di Spotify, iTunes, Apple Music, dan berbagai digital stores lainnya.

Tahun 2013 silam, kugiran pop-folk asal Yogyakarta, Auretté and The Polska Seeking Carnival atau AATPSC pernah menghimpun antusiasme publik yang tinggi terhadap karya mereka dengan debut album Self Titled. Sebagai gambaran, publik boleh jadi merasakan ada suatu bentuk lain dari pop-folk yang lebih kolosal alih-alih sejoli dengan instrumen sederhana gitar atau ukulele.

The Jakarta Post menyebut AATPSC sebagai “…unassuming young men and women who carved their own niche by playing music that is not only unique but also a breakthrough in a scene…” BBC Indonesia menyatakan “AATPSC disambut baik oleh pendengar musik indie tanah air, terima kasih kepada kemampuan mereka membawakan melodi-melodi yang utopis.” South East Asia Indie (SEA Indie) mengulas AATPSC “all the musical creativities have been crytalized into one precious gem; a whimsical melodic and rhythmic style of European music.” Sementara situs pemerhati musik indie Asia Tenggara The Wknd menyebut musik AATPSC “sounds very français but very nusantara at the same time, surprisingly.”

Namun seperti seorang kekasih yang ditinggal ketika sedang sayang-sayangnya, begitulah AATPSC yang baru seumur jagung (pernah) menghancurkan antusiasme publik dengan sebuah pernyataan hiatus panjang yang entah hingga kapan.

Kini terjawab sudah. Setelah hiatus yang dijalani selama kurang lebih lima tahun, kelompok ini memutuskan kembali ke pentas. 12 lagu yang dirangkum dengan tajuk Bloom dan dirilis mepet di penghujung tahun pada bulan desember 2018 menjadi bentuk dari penegasan: mereka kali ini benar-benar kembali dan tak tertidur lagi setelah 2016 yang lalu mereka sempat melepas single “Melerai Lara”. Secara harfiah Bloom berarti “mekar”. “Nama ini dipilih untuk merangkum bahwa ada sesuatu yang bergerak dan bertranformasi pada AATPSC, dari perubahan para personel hingga dari segi musikalitas,” tandas mereka melalui rilis yang diterima oleh Serunai.

Tidak ada irama “folk-pop” yang sama seperti pada album pertama mereka. Para penggemar AATPSC mungkin akan sedikit mengernyitkan dahi dan memastikan ulang apakah benar-benar sedang mendengarkan band yang selama ini telah mereka tunggu kehadirannya. “Self Titled lebih banyak menggunakan instrumen akustik dan lirik lagu berbahasa Inggris. Sedangkan pada Bloom, AATPSC banyak bermain-main dan mengeksplorasi instrumen elektronik dan sampling elektronik”, kata mereka dalam rilis. Penyampaian pesan pada setiap lagu juga lebih dominan menggunakan lirik berbahasa Indonesia.

Tema-tema yang coba diangkat melalui lagu di album ini juga terasa lebih menyentuh hal-hal yang substantif alih-alih sesuatu yang romantis seperti pada album pertama. Nomor “Melerai Lara” yang pada tahun 2016 lalu sudah sempat dilepas dan diperdengarkan kepada publik misalnya, bercerita mengenai kaum transgender yang seringnya masih mendapat diskriminasi di tengah masyarakat. Atau coba tengok bagaimana nomor “Lullaby (Wondering Why)” menyoal hubungan transenden manusia dan Tuhan-nya. Sedangkan pada “Tamasya”, kugiran ini berusaha untuk menjadi pengingat bagi manusia yang suka bertamasya, namun terkadang baik sengaja atau tidak sengaja merusak alam sekitar. Isu kesehatan mental yang akhir-akhir ini mendapat tempat dalam diskursus publik juga disampaikan melalui “The Bell Jar.”

Bloom juga menjadi terasa spesial dengan terlibatnya kolaborasi beberapa seniman lain. Komponis kenamaan asal Yogyakarta, Gardika Gigih, mengisi piano dan reverse sampling di dalamnya. YK Brass Ensemble mengisi departemen brass section atau alat tiup besi. Cover album yang manis untuk Bloom sendiri juga dipercayakan kepada Edwin Prasetyo, ilustrator asal Yogyakarta.

Album ini sudah dapat didengarkan melalui beberapa layanan streaming seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Youtube, Deezer, Google Play Music, Tidal, Napster, Amazon Music, dan layanan digital stores lainnya. Sedangkan versi fisik dari rilisan album ini sendiri akan segera menyusul untuk dilepas dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)