Sisir Tanah dan Nyanyian Eksistensial

Prolog

Di batas sore menjelang malam kesedihan terurai. Horizon siluet digelar oleh langit dari atas Pantai Glagah yang indah. Suara gemuruh ombak menjernihkan suasana. Putihnya pasir pantai mengandaikan kejujuran. Wangi laut Glagah adalah wangi kerinduan.

Seperti rindu, Glagah menghadirkan memoar. Dulu sekali, pergi ke Temon, Kulon Progo, bukan sekadar menunaikan ibadah libur ke pantai. Namun, pergi bersolidaritas bagi warga yang menderita di bawah bendera pembangunan New Yogyakarta International Airport. Oleh karena itu, berbicara Temon, tidak sekadar bicara kecantikan Glagah. Pun, bicara tentang pusat pesakitan warga.

Hari-hari itu. Gelombang protes ketidakadilan membesar. Penolakan pembangunan bandara oleh warga mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat; salah satunya adalah Sisir Tanah. Sisir Tanah merupakan proyek musik asal Bantul, Yogyakarta, yang diinisiasi oleh Bagus Dwi Danto pada tahun 2010.

Keterlibatan Sisir Tanah dalam banyak ruang penderitaan warga yang mengalami disrupsi atas hak-hak sipil, penggusuran, hingga praktik ketidakadilan, berbekas dan meninggalkan jejak historis pada saya sebagai relawan penolak pembangunan bandara, dan pendengar pertama Sisir Tanah ketika ia melantunkan bunga pada hajat budaya di Temon, Kulon Progo. Kesunyian nyanyiannya mengantar saya pada pengalaman otentik menyoal kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, dan kebencian pada kehidupan dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

Kelirihan nada, kemerduan petikan gitar, menyerupai untaian Doa. Ketenangan, romantisme, dan kedamaian mendengar Sisir Tanah, menyerupai ritus. Kerukunan, keakraban para relawan meyempurnakannya. Temon saat itu seketika berubah menjadi taman bunga, menjadi semangat baik, harapan dan keyakinan yang terus menerus memupuk.

Bagi saya, mendengar Sisir Tanah adalah mendengar kesedihan warga korban pembangunan bandara. Bagi saya, menikmati Sisir tanah adalah menikmati sabda i have a dream Martin Luther King. Bagi saya, Sisir Tanah merupakan instrumen yang mengandaikan kebahagiaan kehidupan. Dengan kata lain, Sisir Tanah menjadi simbol ingatan pada ragam peristiwa eksistensial. Akhirnya, ia menetap sebagai memoar.

Musikalitas Sisir Tanah telah menyatu dengan pengalaman hidup saya. Sisir Tanah berhasil menjadi filsafat paling berirama. Jadi puisi monumental paling sejuk. Dari kontemplasi bertahun-tahun mendengar Sisir Tanah, saya hendak menginterpretasi beberapa lagu Sisir Tanah yang beririsan dengan pengalaman eksistensial personal saya menyoal kehidupan, kedukaan, cinta, kesunyian, kebebasan manusia, dan keberanian.

Nyanyian eksistensial

Bila Sartre dan Nona Simone banyak menghabiskan waktu untuk mempertengkarkan gagasan seksual mereka di bistro di sepanjang jalan Kota Paris dengan minum kopi dan mendengar jazz. Atau para buruh kulit hitam di Amerika memilih blues cafe sebagai tempat merehat lelah pascapenghisapan di ladang kapas. Maka saya ingin melaksanakan keduanya dalam waktu yang bersamaan dengan memutar “Lagu Lelah” dan “Lagu Hidup”: mendialektisir cinta sekaligus melepas lelah dari ketersisihan, dengan atau tanpa cafe dan bistro. Kendati dilakukan dalam suasana apapun, faktanya, ia tetap relevan dan teduh.

Lagu Lelah” adalah nomer primer yang harus diputar ketika berpetualang dalam teks-teks rumit dari percintaan serba rumit filsuf cum aktivis Prancis Jean-Paul Sartre dan teman tidurnya, Simone de Beauvoir. Kehendak untuk menjalankan free love dan mempromosikan hubungan tanpa status sebagai upaya untuk keluar dari dominasi subjek terhadap subjek yang lain.

Sartre dan Simone tak ingin saling mengobjekkan. Itu sebabnya, mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain. Kendati dianggap membebaskan, kesunyian justru tiba membawa kecemburuan. Tak jarang Simone cemburu pada Sartre, dan sebaliknya, Sartre cemburu pada Simone.

Dalam konteks yang hampir sama. Saya memiliki keinginan membangun jenis percintaan bebas bersama sang kekasih. Membangun percintaan bebas artinya tanpa kontrak, tanpa syarat, dan membatalkan desair saling intervensi di wilayah private masing-masing. Menolak posesif, menolak diawasi atau mengawasi, diatur atau mengatur, serta mencemburui. Namun, pilihan membebaskan murninya perasaan itu justru berakibat fatal pada tergoresnya jiwa. Ketidaksanggupan melihat orang yang dicintai kencan bersama lelaki lain justru membuat konsepsi cinta bebas menjadi palsu. Bila cinta itu menguatkan, maka tak mungkin ia melemahkan.

Kesunyian tiba di ujung malam penuh sendu, sedan, tangis dan duka. Pengalaman terhadap kedukaan menyoal cinta membawa luka demi luka pada semakin tergoresnya jiwa dan perasaan. Goresan itu jadi sembilu ketika Sisir Tanah mulai menembangkan:

Jejakmu..

Curiga sia-sia di punggung ragu

Lega dipandang telah hadir lelah

Sesat hidup kesunyian, sampah bicara

Bahasa kita sembunyi benar

Bunyi bohong..

Buangkan cakap bual di kepala

Kembali, sepi jangan kenangan kembalikanlah.

Pada dasarnya romantisme sejati harus diikat oleh kesepakatan (komitmen). Pada intinya, membebaskan cinta erotis adalah bohong. Pada akhirnya, kesesatan cinta berakhir pada kesunyian.

Perasaan cinta harus diikat kesetiaan. Mesra koheren dengan lelah. Mengetahui bahwa api itu panas dan melukai, memahami kasih itu aman dan hangat. mengetahui kayu itu berat dan keras, memahami kapas itu ringan dan lembut. “Lagu Lelah” adalah pertanda agung untuk keluar dari rasa lelah, keluar dari kepalsuan, dan menimbun dalam-dalam potensi bohong yang kerap menyelundup dalam hubungan.

Lagu Hidup” kembali menjadi memoar ketika saya memutar film berjudul Selma. Selma adalah sebuah film biografi yang menceritakan gerakan pembebasan orang kulit hitam di Amerika oleh figur yang terkenal memperjuangkan Human Rights, Martin Luther King.

Martin Luther King adalah pendeta sekaligus aktivis Human Rights bagi warga Amerika kulit hitam yang tidak mendapatkan hak-hak sipilnya. Disebabkan oleh adanya pemberlakuan politik rasial yang berdampak pada terciptanya klasifikasi kelas sosial etnis dan ras.

Warga Amerika kulit hitam kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif dari negara dengan tidak memberi legitimasi pada warga kulit hitam untuk berpartisipasi aktif dalam politik: tidak memiliki hak ikut pemilu, tidak mendapatkan perlindungan hukum, dan terpinggirkan. Selain itu, mereka terisolir dari aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Oleh karena itu, kesadaran kolektif itu hendak diorganisir Luther King menjadi kekuatan politik guna menyuarakan protes terhadap ketidakadilan. Melalui kualitas retorika dan kharisma dari tiap pidato ke pidato yang ia ucapkan, Luther King berhasil meyakinkan minoritas kulit hitam, bahwa ketulusan, kejujuran, dan kepercayaan terhadap soliditas dan solidaritas mampu menciptakan gelombang perubahan. Dengan satu syarat, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.

Lagu Hidup” muncul secara natural dalam kerangka kepala saya saat membaca semiotik penderitaan warga kulit hitam di Amerika melalui film Selma. Martin Luther King mendemonstrasikan tuntutan hak-hak kebebasan sipil kulit hitam demi formulasi kebijakan publik yang adil dan etis. Dalam tiap long march di Washington, pembacaan naskah akademik yang penuh kemarahan selalu diteriakkan oleh Luther King. Tidak hanya itu, lagu-lagu humanis milik Pete Seeger, Joan Baez, hingga Odetta Holmes menjadi kredo krusial yang tak pernah absen dinyanyikan dan membuat para warga sing along khidmat.

Sisir Tanah datang dengan optimisme yang lain. “Lagu Hidup” adalah kredo hidup saya ketika dihantui rasa takut atau rasa cemas. Optimisme yang dilantunkan oleh “Lagu Hidup” lebih menyerupai teknik hipnotisme yang merangsang keberanian yang dihidupkan dari dalam. Bagi saya “Lagu Hidup” milik Sisir Tanah adalah “Lagu Berani” milik saya.

Jika kau masih cinta kawan dan saudara

Jika kau masih cinta kampung halamanmu

Jika kau cinta jiwa raga yang merdeka

Tetap saling melindungi

Dan harus berani, harus berani

Jika orang-orang serakah datang

Harus dihadang

Harus berani, harus berani

Jika orang-orang itu menyakiti

Harus bersatu menghadapi.

Seperti pembebasan kulit hitam oleh Martin Luther King, “Lagu Hidup” menyatu dengan pengalaman saya terlibat pengorganisasian ruang-ruang konflik masyarakat di Tegaldowo, Temon, Magelang, hingga Jambi. Sisir Tanah seolah menjadi mesin yang terus-menerus mendistribusi energi kinetik agar supaya kesadaran dan empati saya tetap terjaga. Jauh dari itu, mendengar “Lagu Hidup” seperti mendengar “We Shall Overcome”. Lagu yang penuh keyakinan untuk memindahkan egoisme pada sesuatu yang altruistik.

Mas Danto alias Sisir Tanah dekat dengan pusat-pusat penderitaan itu. Tak hanya menyanyikan lagu-lagu yang menawan, ia juga terlibat dalam ragam aktivisme sosial dan aktivasi ruang publik warga konflik. Bila Odetta Holmes adalah musisi folk Amerika sekaligus aktivis sosial-politik yang mengambil keterlibatan dalam gerakan Martin Luther King, maka Sisir Tanah adalah sama; menjaga nyala api dari kepadaman. Konklusinya, “Lagu Hidup” merupakan 0 Freedom versi Odetta.

Sedihmu adalah sedihku juga

Sakitmu, sakitku sakit kita manusia

Sisir Tanah secara implisit hendak mengargumentasikan integritas permanen manusia dalam rangka mempromosikan keadilan universal. Bahwa berbahagia di atas kesedihan banyak orang adalah kelam. Bahwa kesejahteraan di atas kemiskinan adalah jahat. Berempati untuk merasakan kesedihan manusia lainnya adalah tindak etis. Kendati masyarakat modern hari-hari ini telah bertransformasi menjadi sangat agresif dan sentimental, ia tetap beranggapan bahwa pada dasarnya bio-organis manusia dirancang oleh alam demi organisme sosial: bersolidaritas untuk merasakan kesedihan orang lain.

Selain itu, Sisir Tanah hendak merayakan nilai humanisme dengan memberi semacam keyakinan baru bahwa kendati manusia dikutuk menderita di dunia, ada penyelesaian atraktif untuk keluar dari situ; menanggung beban kegelisahan, rasa sakit, dan penderitaan bersama-sama. Itu merupakan watak dasar manusia sebagai makhluk sosial. Namun, ia dikacaukan oleh politik dan bisnis. Rasa saling memiliki, kehendak untuk melindungi, dan keinginan hidup harmonis antarwarga acap dihegemoni oleh kompetisi individual yang beringas. Sekali lagi, pertikaian itu terjadi karena aktivitas politik dan bisnis.

Epilog

Pengalaman eksistensial mendengar Sisir Tanah adalah pengalaman otentik yang menyatu dengan pengalaman hidup saya. Goresan luka akibat pilihan radikal demi tiba pada cinta bebas, mengandaikan ketulusan cinta sebagai makhluk budaya, tak mungkin dapat dibagi-bagi gratis pada yang lain. “Lagu Lelah” senantiasa menjadi memoar akan hal itu.

Mendengarkan Sisir Tanah merupakan refleksi terhadap masa lalu personal saya. Kelelahan “Lagu Lelah” ditertibkan ulang oleh keberanian “Lagu Hidup”. Mas Danto, Sisir Tanah, berhasil mengamankan keputusasaan saya untuk tetap merawat hidup. Melankolisnya cinta berhasil didamaikan oleh Doa yang diucapkan Mas Danto setelah ritus tuntas tertunaikan melalui petikan gitarnya. Apa yang ada pada dirinya (Sisir Tanah), ada pula bagi dirinya (Mas Danto).

Bahagiaku takkan lengkap tanpa bahagiamu

Bahagiakanlah kehidupan.

Sisir Tanah tak akan berhenti melantunkan kemerduan. Tak akan berhenti mendengarkan kesedihan dan pesakitan. Kepekaannya sebagai musisi akan selalu terlihat pada panggung-panggung solidaritas penderitaan warga. Terdengar di kamar-kamar kos pengap aktivis mahasiswa. Sisir Tanah akan terus mengucapkan keyakinan bahwa akan ada penyelesaian etis kesengsaraan. Kedamaian, keteduhan, kesejukan yang konsisten ia percayai, akan mampu merangkul hangat kerukunan, kelak. bila keserakahan, kebencian, dan individualitas manusia populer dan masif dipertontonkan, maka logis, “Lagu Hidup” adalah lawannya.

Sisir Tanah adalah momen yang berakhir jadi monumen. Ia menjadi jejak historis dalam ingatan saya, dalam museum kehidupan saya. Dengan maksud itu, mendengar Sisir Tanah adalah sebuah upaya untuk memastikan bahwa kebahagian kehidupan hanya mungkin ditempuh melalu jalur keberanian.

Dan harus berani, harus berani

Harus berani, harus berani

Harus berani.

Krisnaldo Triguswinri

Krisnaldo Triguswinri

Penulis buku Jazz Untuk Nada dan inisiator Perpustakaan Jalan Magelang. menggemari Sisir Tanah dan kajian subkultur.
Krisnaldo Triguswinri

Latest posts by Krisnaldo Triguswinri (see all)