Sisir Tanah: Puitis Sejak Dalam Pikiran

Sebuah pembacaan tentang Sisir Tanah, jalinan musik dan lirik yang penuh cinta, serta perayaan kelahiran anak musikalnya WOH akhir pekan silam (6/5).

Panggung itu sederhana. Beberapa bohlam tergantung dalam juntaian kabel memenuhi pandang. Kain putih membentang luas menjadi latar panggung. Sebelumnya, di tiket pertunjukan malam itu, tertera nama Risky Sasono sebagai penata artistik pementasan. Beberapa alat musik berjejeran di panggung menanti si empunya masing-masing. Drum menanti ditebas, tuts kibor menunggu dipijat, bass di belakang panggung termangu disorientasi di sandarannya, dan beberapa gitar berjejer seperti atlet sepakbola akan memulai laga. Dan baiklah, sejujurnya ini penataan artistik yang sangat-sederhana-dan-nyaris-biasa-saja. Tapi saya ingat, saya hadir tidak untuk menonton penataan artistik. Salah tempat kalau set artistik ciamik yang saya kejar. Saya hadir untuk sebuah pementasan sebagai wujud syukur dari meluncurnya sebuah album yang lama dinanti. Di pelataran dan teras, hadirin sudah berjubel memadati lokasi dalam celotehannya masing-masing. Muda-mudi dan beberapa scenester Yogyakarta tampak berswafoto di photo booth berwarna biru dengan lingkaran spectrum bertuliskan “WOH” di tengahnya. Photo booth itu sekaligus menunjukkan identitas milik siapa sejatinya hajatan malam itu: Sisir Tanah.

Pukul 19.30 barulah penonton berangsur berbaris memasuki Auditorium IFI-LIP, Yogyakarta. Beberapa anak kecil berlarian sembari sesekali menempikkan teriakan bahagia di sekitar panggung. Sejujurnya saya cemas melihat adegan itu. Cemas kalau kaki-kaki kecil itu tersangkut kabel dan harus membuat jidatnya berjibaku dengan ubin yang sekeras kehidupan. Juga cemas kalau-kalau ekspektasi saya akan pertunjukan yang intens lagi khusyuk harus terusik oleh para scenester cilik ini. Syukurlah, anak-anak itu belum mengerti betul apa arti ‘perlawanan’ sehingga dengan perlahan mulai mengindahkan peringatan orang tuanya, dan jelang dimulainya pertunjukan mereka mengakhiri polah tingkah di venue dan duduk diam.

Sebelum Sisir Tanah naik panggung, Fajar Merah membuka pertunjukan dengan melantunkan bait-bait perlawanannya dalam irama gitar yang syahdu. Dibalut sorot lampu merah framboze, salah satu puisi karya Wiji ThukulBunga dan Tembok” tak luput ia bawakan untuk memicu senandung dari 200 orang yang hadir malam itu. Setelah Fajar, Ananda Badudu naik ke pentas dan menjadi penampil selanjutnya. Sempat harus bergelut dengan rasa grogi dan demam panggung, Nanda memungkasi dua lagu yang sebelumnya ia bawakan dengan nomor lama Banda Neira Esok Pasti Jumpa”. Masing-masing dari mereka menyampaikan bunga selamat kepada Sisir Tanah, dengan pesan bersalut syukur yang lebih kurang sama: akhirnya malam itu menandai pencapaian karir Sisir Tanah sebagai seorang musisi dengan lahirnya sebuah album.

Setelahnya, dari sisi kiri pentas, sebuah tubuh masuk ke area panggung. Sembari mengibaskan rambutnya yang tergerai, tubuh yang bergerak dalam gelap Auditorium IFI-LIP Yogyakarta itu kemudian mengambil gitar yang tersandar. Seorang perempuan di sebelah saya berbisik, “wah ini dia”. Tubuh itu mengalungkan gitar dan mendekapnya sembari bersiap menggetarkan senar yang membentang. Seberkas sinar jingga dari lampu panggung menyorot wajahnya dan mulailah sepenggal demi sepenggal lirik ia lantunkan:

Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia

Dan jangan ada: benar tak akan pernah ada tempat yang sungguh merdeka

Seumpama lelah masih tersisa banyak waktu

Menjelmakan mimpi, menggerakkan kawan

Mendatangkan damai

Dan selebihnya kita mengenali bahwa baris demi baris lirik itu adalah bagian dari tubuh lagu bertajuk“Lagu Baik”. Lagu itu menjadi pembuka dari konser peluncuran album Sisir Tanah, WOH. Entah apa makna sebenarnya di balik nama album itu. WOH mafhum dipahami sebagai wujud atas ekspresi ketakjuban. Tapi ungkapan yang sama bisa merujuk pada makna yang berbeda ketika kita melibatkan referensi bahasa kita. Dalam bahasa Jawa, woh mempunyai padanan dengan awoh yang berarti berbuah. Baik woh sebagai jelmaan atas ungkapan ekspresi maupun sebagai salah satu entitas kata dari Bahasa Jawa, saya rasa ia sama-sama pas disematkan sebagai judul album. Barangkali Sisir Tanah berharap segala ekspresi ketakjubannya yang tertuang dalam WOH dapat tumbuh, kemudian berbuah.

Kita pantas takjub dan boleh berbangga karena salah satu musisi folk yang selama ini hilir mudik dari panggung ke panggung, akhirnya membuahkan hasil dari prosesnya. Mengaku mulai pertama kali belajar bergitar sejak tahun 1996, Bagus Dwi Danto, aktor intelektual di balik nama Sisir Tanah, telah mengembara dalam proses dan nama Sisir Tanah selama 7 tahun. WOH adalah buah dari pengembaraannya itu. WOH digodok dan digarap selama berbulan-bulan sejak Desember 2016, kemudian dikenalkan ke kancah di 17 kota selama puluhan hari antara akhir April hingga awal Mei dalam perjalanan bertajuk Harus Berani Tour 2017. Maka, pertunjukan malam minggu kemarin semacam pungkasan perjalanan, sekaligus awalan untuk perjalanan panjang anak musikal Sisir Tanah yang dibaptis dengan nama WOH.

Malam itu, Danto dibantu oleh beberapa musikus lain. Para musikus ini tak muncul dari belakang panggung seperti lazimnya pertunjukan. Alih-alih, barangkali untuk memunculkan kesan guyub, mereka justru muncul dari barisan penonton. Para musikus ini adalah Ragipta Utama (gitar), Nadya Hatta (kibor), Faizal Aditya (bass), Indra Agung (drum), Asrie Tresnady (sitar), Yussan Ahmad (tanpura), Erson Padapiran (trumpet), dan Jasmine Alvinia (backing vocal). Kurang lebih 8 lagu yang selama ini sudah sering Sisir Tanah bawakan dari panggung ke panggung maupun lewat laman soundcloud, dihadirkan dengan aransemen baru. Aransemen yang membuat setiap lagu semakin kuat dalam menarasikan kisahnya masing-masing.

Jeda antar lagu menjadi momen di mana Danto bercerita tentang proses pengkaryaannya: sesuatu yang selama ini jarang terjadi bila dirinya manggung. Ia juga berulang kali melemparkan candaan, mulai dari usaha untuk memaksakan diri membuat akun instagram demi keperluan promo, celana yang mendadak melorot, lampu sorot yang terlampau silau menyinari dirinya, hingga gitar pinjaman dari Endah dan Rhesa yang nantinya berencana ia cicil. Beberapa anggota keluarga, termasuk ibu dan istrinya, serta karib yang tertangkap matanya malam itu juga tak luput ia tanggap.

WOH sendiri terdiri dari 10 lagu dengan irama folk dan balada khas Sisir Tanah. Lagu-lagu itu berbaris dengan lirik yang lugas. Menyeret narasi tentang kompleksitas hidup, namun dengan cara yang sederhana tanpa kehilangan rasa.

Kita berjalan saja masih terus berjalan. Meski pun kita tak tahu berapa jauh jalan ini nanti.

Lirik di atas adalah nukilan dari nomor “Lagu Pejalan”. Sederhana dan dalam. Menyimpan ironi dan paradoks laku hidup. Sepenggal lirik yang menyadarkan bahwa kerap kali yang manusia tahu adalah tetap nglakoni dan nglakoni. Dari jalan yang satu ke jalan yang lain dan kita berserah pada tujuan yang tak tertuju. Mendengarkannya, saya bak sedang berdialog dengan sosok yang dengan sederhana memahami kerumitan dan absurditas hidup yang pelik. Dan begitulah, Sisir Tanah menjadi termahsyur di antara gelombang musikus folk yang akhir-akhir ini membanjiri pasar musik sidestream. Ketika musisi lain berusaha sekeras mungkin untuk menjadi puitis, entah mengapa hal tersebut tidak ada pada Sisir Tanah. Ia puitis sejak dalam pikiran. Lirik-lirik yang diutarakan tergelincir begitu saja dan terasa konkret.

Menurut saya, begitulah seharusnya folk: musik yang lahir sebagai hasil dari persetubuhan kegelisahan dan kemampuan berekspresi dari manusia. Kita pernah punya nama-nama seperti Iwan Fals (pada masa sebelum dirinya terjerembab ke dalam cawan kopi industri) dan Sawung Jabo misalnya, sebagai musisi yang secara otentik dan konsisten menyuarakan gita kehidupan dari berbagai lini. Iwan pernah begitu keras terhadap rezim dengan cara penyampaian a la akar rumput. Sedangkan Jabo bersama orkes Sirkus Barock yang ia pimpin, begitu dalam serta halus mengkristalkan laku hidup dalam liriknya. Jabo konsisten menjalankan laku musikalnya sejak rezim Orde Baru masih amat digdaya, bahkan hingga sekarang. Persamaannya, mereka sama-sama mewakili semangat zaman dalam konteks masyarakat Indonesia di era pembangunan.

Kalau kita lihat dalam konteks generasi musikus akhir-akhir ini, semakin sedikit yang berani membawa tema keresahan dan kompleksitas alur hidup sebagai bahan pengkaryaannya. Kebanyakan (masih) terjerembab dalam isu-isu tentang asmara saja. Atau tema-tema berbau fantasi a la Holywood. Karya musik yang mampu membawa pendengarnya untuk berefleksi secara dalam saya kira akhir-akhir ini sangat kering. Dan bisa jadi ini menjadi tanda zaman, bahwa ketidakmampuan kita berefleksi bisa jadi akan membuat manusia mencapai kondisi yang linier dan begitu-begitu saja. Tidak ada semangat kritisisme yang bersifat spiritual, kontemplatif dan mendalam untuk menggugat hidup yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Sedikit banyak kita bisa menengok kondisi tersebut di ranah budaya popular kita bukan?

Sisir Tanah, melalui musiknya, menjadi nada yang menegur dan memperingatkan bahwa hidup ini perlu terdiam dan rehat barang sejenak. Kesejatian Sisir Tanah ada pada bahasa yang ia kemas dan terwujud dalam setiap liriknya. Latar belakang Bagus Dwi Danto sebagai aktivis merupakan modal tak terpermanai untuk lalu bisa menangkap dan membekukan realita hidup ke dalam dendangnya. Segala aspek coba ia potret: konflik, cara kita berelasi dengan alam, politik, cinta, hingga optimisme dalam cita. Maka tidak berlebihan rasanya menganggap Sisir Tanah sebagai generasi pembawa balada baru. Sisir Tanah sepadan dengan Eka Kurniawan yang mengusung realisme-sosial di ranah kesusastraan generasi terkini.

Malam itu di Yogyakarta, setidaknya ada 6 pertunjukan berbeda dihelat di tempat yang berbeda. Maka, ratusan orang yang memilih hadir di konser Sisir Tanah tentu sudah memikirkan benar kenapa mereka memutuskan untuk menjadi saksi lahirnya WOH. Mereka siap turut serta mengiringi Sisir Tanah dan anak musikalnya untuk ‘membakar peta, dan membuat jejak baru.’ Serta memupuk ‘semangat baik’ agar ‘keberanian terus panjang umur.’ Tentu tak semua orang setuju. Namun, bagi saya pribadi, Sisir Tanah, WOH, dan para musikus pengiringnya telah menggetarkan kalbu dengan pertunjukan yang begitu hangat.

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)