Jalan Sunyi Seorang Cadel

“Bapak bali kapan?”

Film ini diawali dengan pertanyaan “Bapak pulang kapan?” Pertanyaan tersebut tak pernah terjawab hingga hari ini. Tiada yang tahu persis kapan Wiji Thukul, aktivis cum penyair ini, akan pulang—jika ia masih hidup. Atau kapan ia meninggal—bilamana memang nyawanya telah meregang. Sosok Wiji raib bersama belasan aktivis anti orde baru lainnya, seiring dengan mangkatnya Soeharto dari kekuasaan selama 32 tahun. Wiji diburu karena namanya masuk dalam daftar tersangka Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, 1996). Aktivitas Wiji bersama Jaringan Kesenian Rakyat (JAKER), organisasi underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyeretnya masuk ke dalam daftar orang yang diburu rezim waktu itu. Puisinya meraung-raung, mengkritisi dan menggugat kelaliman rezim sehingga dianggap “mengancam stabilitas” negara. Puisi-puisi itu masih senantiasa dibawakan di setiap aksi yang mulai marak pada senjakala orde baru, pun hingga sekarang.

Sejarah hidupnya dipenuhi dengan cerita pengelanaan dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya dinyatakan hilang. Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi salah satu tempat yang tercatat pernah disinggahi pria kelahiran Surakarta, 26 Agustus 1963 silam ini. Pelariannya di sana beserta cerita-cerita yang mengiringinya inilah yang menjadi bahan baku film Istirahatlah Kata-Kata. Film garapan sutradara muda asal Yogyakarta Yoseph Anggi Noen ini telah berbicara banyak di berbagai helatan festival film internasional sebelum resmi diputar di berbagai jaringan bioskop Indonesia. Perhelatan Locarno International Film Festival 2016 di Swiss menjadi panggung pertama bagi film yang beredar dari festival ke festival dengan judul Solo, Solitude ini. Setelahnya, Busan International Film Festival ke 21 menjadi ajang lain di mana film ini mentas.

Biopik Wiji Thukul ini justru baru diputar di Indonesia menjelang akhir 2016 di ajang Jogja Netpac-ASIAN Film Festival. Ketika untuk pertama kali diputar di berbagai jaringan bioskop Indonesia 19 Januari lalu, antusiasme khalayak membuncah. Tiket beberapa kali jadwal tayang di dua bioskop besar di Yogyakarta ludes terjual. Sehari setelahnya, kabar bahwa film ini begitu antusias disambut di beberapa kota lainnya juga menjadi headline pemberitaan media-media daring. Beberapa sinema pun dijadwalkan menambah jatah putar.

Film yang narasi utamanya didapat dari riset dan observasi berbulan-bulan dari sang sutradara ini, tidak bertabur nama-nama papan atas aktor maupun aktris yang kerap wara-wiri di layar lebar Indonesia. Namun, itu tidak mengurangi kedalaman film. Sosok Wiji Thukul diperankan oleh Gunawan Maryanto, seorang aktor dan sutradara yang namanya besar lewat Teater Garasi di Yogyakarta. Cindil, begitu ia kerap disapa, dengan cemerlang merepresentasikan Wiji sebagai seorang buron lengkap dengan ketakutan dan perasaan was-was yang membayanginya. Detail-detail yang menjadi identitas Wiji Thukul juga tidak luput. Seperti bagaimana Wiji yang cadel, yang tidak bisa dengan sempurna melafalkan “r”, menjadi intro yang apik untuk mengenalkan tokoh di awal film.

Marissa Anita, yang sebelumnya benderang di film Selamat Pagi, Malam, memerankan dengan tuntas sosok Sipon sebagai istri yang tabah dan penuh harapan sembari menanti suaminya lolos dari pelarian. Selain itu ada pula actor cum sutradara teater Joned Suryatmoko yang berperan agak antagonis dan bermain-main dengan stereotype “orang kampung” yang nyinyir, tukang gosip, dan tidak menahu malu. Dhafi Yunan dan Eduard Boang Manalu menjadi sosok Thomas dan Martin, kawan seperaktivisan yang menyelundupkan Wiji selama di Kalimantan. Satu nama yang cukup menjadi sorotan di film ini ialah Melanie Subono. Putri promotor musik kondang Adri Subono ini tidak bisa dibilang sekedar menjadi cameo dalam debutnya di layar lebar. Film ini mematahkan anggapan mahfum: kualitas film berbanding lurus dengan aktor dan aktris yang berperan.

Tak Ada Heroisme Di Sana

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Peringatan, 1986

Penggalan puisi itu sungguh gagah. Ia dirangkai oleh seseorang yang muak dengan rezim yang belingsatan tak karuan meneror rakyat. Dari nukilan di atas, kita bisa wajar bahwa dalam konteks yang tepat puisi itu bisa membakar tekad massa. “Peringatan” hanya salah satu dari sekian puisi Wiji Thukul yang provokatif. Sastra protes, banyak orang bilang. Namun, anda tidak akan mendapatkan kesan Wiji yang dituduh “subversif dan mengganggu keamanan” dalam Istirahatlah Kata-Kata. Potret penderitaan dan terkoyaknya kebebasan kehendak dalam jalan sunyi seorang cadel menjadi proses kreatif di mana puisi-puisi Wiji bermekaran. Anggi tidak memilih cerita-cerita yang bernarasi heroik seperti ketika Wiji menggerakkan 14.000 buruh di Pabrik Sritex, Surakarta, untuk mogok kerja dan berujung dipopornya mata Wiji yang sebelah kanan. Anggi lebih memilih kisah Wiji Thukul yang lari setelah ditetapkan sebagai tersangka yang terlibat dalam kerusuhan di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) tahun 1996.

Istirahatlah Kata-Kata mengemas kisah pelarian yang jauh dari kesan heroik dan gagah. Pelarian yang menunjukkan bagaimana represi dan intimidasi pemerintah, tak dinyana membuat hati dan pikir menjadi ketar-ketir. Wiji yang celingukan setiap ada orang melewati, menghampiri dan mengajak berbicara dirinya, direpresentasikan dengan detail lewat dialog dan bahasa tubuh Gunawan Maryanto. Kegelisahan Wiji tak mampu dibendung bahkan oleh alam mimpi sekali pun: beberapa kali scene menunjukkan Wiji tidak bisa terlelap dalam beberapa malam. Bahkan meski tahu dirinya sedang dihadang oleh seorang yang kurang waras, ketakutan sebagai bagian dari wajarnya manusia, benar-benar terekspos. Membuat kita lantas akan berpikir: “Orang kurang waras saja digagas?”. Tapi begitulah gambaran yang coba diartikulasikan dari ketakutan dan paranoid seorang buron yang tak pernah kita rasakan.

Penokohan Sipon juga hadir untuk semakin melantangkan artikulasi tersebut. Bagaimana seorang istri turut setia dan tabah dalam jalan sunyi sang suami dengan cara yang berbeda: Menghadapi interogasi polisi; menjamu intel-intel yang datang tanpa pernah diundang; meladeni nyinyirnya tetangga; hingga melapangkan dada mengasuh dua anak yang masih kecil, menjadi scene demi scene yang menyeimbangi dengan setia kegetiran pelarian seorang buron.

Perasaan-perasaan seperti itu sekaligus menjadi konflik dalam film ini. Konflik yang dikemas tidak tajam dan rata-rata hampir selalu dibuat anti-klimaks sesegera mungkin. Di satu sisi memang mengurangi nilai tambah yang sebenarnya bisa dieksplorasi. Namun, di sisi lain ini juga menarik: bagaimana meringkas konflik namun tetap mampu membuat penonton terlibat cukup intens. Kejeniusan aktor dalam melakukan pendalaman menjadi kunci.

Kondisi yang serba sengkarut serta kompleks di era tersebut, sebagai latar cerita, juga tidak secara gamblang dibicarakan. Sesuatu yang riskan karena rawan mendistorsi fokus cerita film ini. Sengkarut itu “hanya” mewujud dalam adegan-adegan ketika listrik berulang kali padam; seorang ABRI yang menyelidik lewat perbincangan ringan tak berujung jawab dari Wiji; mekanisme birokrasi “orang dalam” untuk mengurus administrasi seperti KTP; hingga keterpaksaan menyaru sebagai Paul, tukang bakso bangkrut asal Jawa. Semuanya mewujud dalam beberapa bagian pendek saja. Namun, cukup jelas berbicara mengenai kompleksitas situasi yang dihadapi Wiji, bahkan beberapa hal terasa masih relevan hingga saat ini.

Ketimbang menguarkan romantisme dan heroisme perlawanan, tak berlebihan menjuluki film ini sebagai bentuk eksplorasi atas sisi melankolis dan jalan sepi dari perlawanan. Film ini banyak berbicara tentang hal-hal yang dikorbankan dari sebuah sikap kontra. Tak ayal, film yang berdurasi lebih kurang 90 menit ini terkesan membosankan dan datar. Bahkan setelah lampu bioskop dihidupkan, terdengar desas-desus nada kecewa dari beberapa penonton. Beberapa pernyataan, “tanggung sekali ending-nya”, “mengapa tidak sekalian (ditampilkan) ketika Wiji kembali ke Jakarta untuk ikut aksi reformasi?” dihela. Mungkin kita sudah terlanjur excited dan membangun ekspektasi ketika menyaksikan trailer film ini yang memang terkesan intens dan penuh konflik yang curam.

Menyaksikan Istirahatlah Kata-Kata menjadi sesuatu yang baru dan “menantang” bagi kita. Bagi saya lumrah, mengingat aksi-aksi heroik dalam hingar bingar diplomasi, orasi, dan demonstrasi dari kisah-kisah serupa di ranah film Indonesia hampir tidak pernah alpa sebagai pemanis. Satu-satunya aksi heroik Wiji hanya mewujud ketika ia memberikan segelas air minum kepada seorang perempuan yang menangis. Sederhana dan jarang kita temui dari beberapa film biografi tokoh atau pahlawan yang pernah beredar di layar lebar Indonesia. Bahkan Gie (2005) besutan Riri Riza, jika ingin dijadikan sebagai padanan film tentang perlawanan aktivis pascakemerdekaan, jauh lebih berapi-api.

Kata-kata, sebagaimana judul film tersebut, juga benar-benar beristirahat. Dialog antar tokoh sangat minim dilontarkan. Hanya ada beberapa adegan ketika dialog mengisi tensi adegan. Salah satunya ketika Wiji beserta Thomas dan Martin dengan intens saling melempar ping-pong dialog dan diakhiri dengan gelak tawa setelah Wiji melontarkan puisi “Kemerdekaan”. Itu pun untuk menunjukkan momen ketika Wiji mulai beradaptasi dengan ketakutan dan rasa was-was. Selebihnya, penonton dibiarkan untuk menyelami dalam terka apa yang tokoh pikir dan rasakan lewat shoot camera yang beberapa kali diambil membelakangi aktor. Teknik-teknik pengambilan gambar tersebut menjadi satu di antara perkara teknis lain yang memberi pengaruh serta melengkapi sisi sepi dari narasi besar yang selama ini diartikulasikan tentang Wiji Thukul. Membuat film ini jauh dari kesan glorifikasi.

Film ini juga tidak banyak bermain dengan musik latar yang pada umumnya digunakan untuk menunjang suasana dalam film. Namun, yang menarik, beberapa puisi Wiji dipilih untuk dibacakan sebagai substitusi musik latar tersebut. Gunawan Maryanto yang juga seorang penyair tahu persis bagaimana setiap puisi harus dibawakan agar fungsi musik latar dalam sebuah film bisa terwakili lewat puisi.

Tentang Apa yang Wiji Perjuangkan Hari Ini

kau tak kan bisa mencuci tanganmu
sekalipun 1000 pengeras suara
melipatgandakan pidatomu
suara rakyat adalah suara Tuhan

dan kalian tak bisa membungkam Tuhan
sekalipun kalian memiliki 1.000.000 gudang peluru

Wiji raib. Atau lebih tepatnya diraibkan. Namun, sebagaimana banyak didengungkan, ia ada dan berlipat ganda. Film ini hanyalah salah satu dari penggandaan Wiji sebagai sosok, gagasan, sekaligus semangat. Keberanian telah menyelamatkan dirinya untuk berbicara mengenai kemungkaran negara. Ia, bersama sosok lain yang berani, menjadi lecut bagi negara ketika menyimpang dari jalannya. Lewat puisi, bagi Wiji, seolah-olah pembungkaman diremehkan dan diberlakukan sebagai legitimasi untuk mengakali rakyat. Ketika nama Wiji disitir, sebenarnya dosa negara sedang diungkit. Namun, benarkah “negara” yang dimaksud itu terbatas pemahaman “negara” sebagai entitas kelembagaan lengkap dengan suprasistem di dalamnya? Apakah kita, yang sama-sama warga negara sebagaimana Wiji, alpa dalam kemungkaran itu?

Apa yang diperjuangkan Wiji adalah apa yang hari ini kita cecap dalam bentuk-bentuk kebebasan pengungkapan pendapat. Lebih dari itu: partisipasi nyata. Semua orang sepakat bahwa kebebasan dalam pengungkapan pendapat serta turut andil dalam menata negara, menjadi jiwa dan intisari dari demokrasi—sesuatu yang Wiji damba. Hari ini, kita hirup dengan dalam dan sebebas-bebasnya demokrasi dan kebebasan berpendapat itu. Namun, apakah itu lalu berarti segalanya telah usai? Benarkah hari ini, 19 tahun pascarezim yang tidak demokratis usai, kita memperlakukan demokrasi secara proporsional? Apakah hikmat kebijaksanaan berjalan lurus dan mendampingi hasrat untuk turut berkomentar terhadap segala hal yang terjadi? Paling tidak linimasa berbagai kanal media sosial yang kita miliki bisa menjadi acuan dalam rangka pencarian jawab pertanyaan tersebut.

Banyak suara-suara, atas nama demokrasi, justru menguar tak jelas rimbanya. Demokrasi, ketimbang sebagai sistem yang menunjang keadilan sosial dan memupuk persatuan justru jauh dari cita-citanya. Hari ini, demokrasi kita lihat sebagai wajah tentang yang menang dan yang kalah. Tiada kepadu-padanan di sana karena logika kontestasi kadung menyelinap menjadi ekses yang tak diinginkan. Atas nama kebebasan berpendapat, kita lupa bahwa di Indonesia ia berdampingan dengan “kemanusiaan yang beradab”. Nyatanya, semua orang memang boleh bersuara namun itu berarti seikat dengan tiadanya harga dan apresiasi yang tersisa untuk orang lain. Sehingga ketika ibu-ibu memasung kakinya pada genangan semen; petani-petani yang tunggang langgang dikejar junta militer; dan patok-patok pembangunan digalakkan segalak intimidasi dan represi aparat, menjadi diam adalah, ya, hal yang wajar. Karena hal-hal itu bukan suara yang memang kita kehendaki untuk suarakan. Perkara kebebasan berpendapat, bukan? Tak berpendapat pun juga bebas dong?

Demokrasi pada akhirnya tak lebih dari sekedar lahan basah bagi mereka yang “punya” dan menjadi lagu lama buat kaum papa. Inikah wajah demokrasi yang Wiji perjuangkan dalam setiap baris puisinya? Istirahatlah Kata-Kata, bila ditempatkan dalam konteks sekarang, lantas menjadi sebuah ajakan untuk rehat dan menarik diri dari hingar bingar suara. Ia menjadi pengingat bahwa ada kala ketika segalanya, termasuk kata yang mewujud dalam berbagai racau, perlu ditempatkan sebagaimana letak awalnya.

Aloysius Bram

Aloysius Bram

Mengasuh altrouismo.wordpress.com. Tertarik dengan kajian di ranah budaya populer dan seni. Kontak via: aloysiusbram@gmail.com atawa @bramskoy (IG&Twitter).
Aloysius Bram

Latest posts by Aloysius Bram (see all)