Ibadah Bising melalui Jogja Noise Bombing Fest 2017

Bunyi apa pun bisa menjadi musik. Tapi tidak jarang kemudian tersegmentasi. Semua jenis musik mampu mengantarkan pelaku maupun pendengarnya kepada pengalaman transendental. Tak terkecuali kesunyian ala John Cage dan kebisingan yang dirangkum oleh genre noise. Mengalami noise tidak melulu berkutat dengan kebisingan. Lebih dari itu, dibutuhkan kepekaan terhadap suara, sebab di dalamnya kaya akan bunyi dengan beragam frekuensi.

Sore itu (15/01), Saung Garlic Resto dibuat bising hingga malam hari oleh para pegiat noise. Ialah gelaran Jogja Noise Bombing (JNB) Fest 2017 yang menjadi ajang ibadah noise bagi para penikmatnya. Sebelumnya, untuk menyongsong gelaran ini para pegiat noise telah menyelenggarakan #RoadToJNBFest2017 sebagai pre-event. Rangkaian preevent tersebut diselenggarakan sejak penghujung 2016 hingga awal 2017.

Semakin malam, acara yang diselenggarakan sejak pukul 15.00 WIB tersebut semakin padat oleh para hadirin. Seharusnya acara tersebut tuntas pada pukul 23.00 WIB. Namun, di luar perkiraan, acara tersebut sudah selesai saat jam menunjukkan waktu 22.30 WIB. Alhasil, banyak penonton yang merasa kecelik. Namun, tidak dapat dipungkiri bila massa yang menghadiri gelaran ini jumlahnya bertambah dari tahun-tahun sebelumnya. Penuhnya parkiran motor di Saung Garlic Resto menjadi saksi. Hal ini diamini pula oleh salah satu nama baru di JNB tahun ini, Izyudin Abdussalam atau yang dikenal dengan nama panggung Rupa Gangga. “Biasanya ‘kan aku cuma datang terus nonton, dan kebetulan tahun ini berkesempatan untuk main. Ya, tahun ini lebih ramai,” paparnya.

Gelaran JNB Fest tahun ini adalah yang ke-7 kalinya setelah pada 2009 gagasan ini mulai dilemparkan oleh para pegiatnya. Tahun ini JNB Fest diikuti oleh 17 unit noise dari berbagai daerah, baik skena lokal maupun mancanegara. Nama-nama seperti Patrick Harsono, Rupa Gangga, dan Grindtabachan dari Bali adalah beberapa yang mewakili dari skena noise lokal. Sedangkan dari skena mancanegara diwakili oleh Tzii dari Belgium, DJ NuRe Onna dari Swiss, HKPT dari Malaysia, serta S*I*N dan Schizoprenic Wonderland dari Singapura. Nama-nama tersebut disaring dan dikurasi setelah mengirimkan beberapa demo karya musik noise yang mereka bawakan. “Ada juga beberapa nama yang memang datang dari jaringan kami”, papar Indra Menus, salah seorang penggagas JNB Fest.

Dari segi penampil, ada yang berbeda dari JNB Fest tahun ini. Kolaborasi apik antara kelompok olah vokal Raung Jagad besutan Rully Shabara dengan kelompok Yogyakarta Synth Ensemble menjadi headliner dari JNB tahun ini. Perpaduan antara bebunyian yang dihasilkan oleh anggota tubuh manusia dengan bunyi yang berasal dari berbagai peralatan seperti knop dan synthesizer menjadi pertunjukan eksperimental yang berbeda dan unik. Kekaguman penonton menjadi keniscayaan. Banyak mata terkesima, banyak kuping dibuat merinding. Pasalnya, noise yang selama ini dinilai sebatas bising belaka serta anti-musikalitas, ditampik dengan sajian sedemikian rupa melalui kolaborasi tersebut.

Memang, kehadiran noise kerap kali masih identik dengan stigma musik yang bising, tidak jelas, dan tidak mudah dipahami sebagai musik sebagaimana pada umumnya. Pemahaman noise bagi para pelakunya sendiri pun juga masing-masing. Indra Menus misalnya mengamini noise sebagai sesuatu yang tidak biasa. “Noise adalah seni mengeksplorasi bunyi dengan alat di sekitar kita”, papar Menus. Sedangkan Rully Shabara, salah satu personil duo eksperimental Senyawa, mengartikan noise sebagai bunyi yang tidak diinginkan. “Adalah sebuah eksperimen bagaimana kalau bunyi yang tidak diinginkan itu disusun, ditambah layer dan suara bising yang lain menjadi sebuah lagu”, papar Rully. Sedikit berbeda dengan keduanya, Izyudin Abdussalam atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Rupa Gangga lebih menghayati noise sebagai laku spiritual. “Noise adalah tentang bagaimana memposisikan bunyi dalam hidup,” paparnya.

Noise: Apresiasi Dulu dan Kini

Jogja Noise Bombing menjadi salah satu helatan apresiasi noise yang cukup akbar di Yogyakarta, bahkan di Indonesia. Ia menjadi wadah untuk noise yang biasanya hanya dipertontonkan di ruang-ruang alternatif nan kecil. Memang ada beberapa helatan noise lain seperti di Surabaya dengan gelaran Melawan Kebisingan Kota atau di Malang dengan event Malang Sub Noise. Namun, partisipasinya bisa dibilang tidak seluas JNB. “JNB pada dasarnya membebaskan siapa saja untuk jadi partisipan. Hanya karena ternyata banyak banget yang minat, proses kurasi akhirnya diberlakukan,” jelas Indra.

Antusiasme yang tinggi tersebut tidak hanya dari segi partisipan. Hadirin pun terpantau memenuhi JNB Fest tahun ini. Setidaknya hal ini lantas menunjukkan bahwa noise kini mulai dilirik dan diapresiasi secara luas. Antusiasme penonton pun tidak hanya datang dari warga Yogyakarta saja. Seta, salah seorang penonton yang hadir di JNB Fest datang jauh-jauh dari Magelang untuk menghadiri gelaran akbar noise di Yogyakarta ini. Ia mengaku rela menempuh jarak Magelang-Yogyakarta setelah dibuat terkesima oleh pagelaran serupa yang diadakan tahun lalu.  “Buat saya untuk JNB tahun ini lebih seru,” jelas Seta.

Di balik khusyuknya ibadah noise kemarin, apresiasi JNB Fest secara khusus dan  musik noise secara umum tumbuh secara perlahan. Kepopuleran noise hari ini bukan sesuatu yang instan. Seperti bayi yang belum bisa berjalan sendiri, pada 2009 silam JNB mengawali diri sebagai komunitas yang merangkak terlebih dahulu sebelum akhirnya sebesar ini. “Kalau dulu, istilahnya masih nunut (menumpang,-red.) di acara orang. Misal opening pameran atau di berbagai gigs hardcore punk,”  kenang Indra.

Bagi Menus yang sudah cukup lama berkutat di skena noise lokal Yogyakarta, ada kegetiran tersendiri terkait dengan bagaimana musik noise diapresiasi di Indonesia. Ia menyuratkan bahwasanya khalayak di Indonesia kerap kali masih membutuhkan legitimasi terkait dengan menarik atau tidaknya sebuah gagasan dari pihak lain. “Jadi kalau orang lain, dalam hal ini orang luar negeri atau media-media asing katakanlah, berbicara bahwa A itu bagus, maka kita baru percaya. Hahaha”, sindir Menus. Menus sendiri bercerita bahwa beberapa kali pertunjukkan noise pernah diintervensi. “Kadang kita dibolehin main, cuma suaranya minta dikecilkan karena takut bikin telinga sakit atau apa. Padahal mereka yang main musik noise rata-rata paham betul tentang sound,” jelas Menus.

Menyimak Tumbuh Kembang Noise

Eksistensi noise di Indonesia sendiri, dapat ditelusur sejak dekade 1960-an. Munculnya musik noise adalah bagian dari perkembangan musik eksperimental di ranah akademis. Namun, karena hidup dalam konteks eksplorasi akademis, maka artefak perkembangan musik noise dalam bentuk rilisan fisik jarang ditemukan. “Yang bisa kita temui hanya dalam catatan-catatan literatur saja”, papar Menus. Salah satu nama yang tercatat bereksplorasi dengan musik noise adalah komposer kenamaan Slamet Abdul Sjukur. Selain tumbuh untuk keperluan akademis, perkembangan awal musik noise sendiri juga bertaut erat dengan bentuk kesenian lain, terutama seni rupa melalui medium instalasi. “Karena waktu itu cukup contemporary art melalui new media art menjadi trend sehingga noise lazim digunakan sebagai pendamping”, tambah Indra.

Indra Menus sendiri pernah merangkum serba-serbi musik noise di Indonesia sejak tahun 1995 sampai 2015 ke dalam sebuah rilisan berjudul Pekak! yang dirilis-fisikkan oleh label indie asal Selandia Baru. Dalam album kompilasi tersebut bisa kita dapati nama-nama yang cukup mahsyur dalam kancah noise seperti Sodadosa, Kalimayat, To Die dan lain sebagainya. Menus juga memaparkan bahwa perkembangan noise atau JNB dipacu pula oleh film Bising karya Adithya Utama yang telah lebih dulu diputar di berbagai negara dan baru pertama kali diputar di Indonesia pada gelaran JNB tahun 2015 lalu.

Kini, yang menarik dari perkembangan noise adalah terkait dengan para pelakunya. Indra mengamati bahwa ketertarikan yang tinggi dengan skena musik noise justru datang dari para pelaku sub-kultur dan musik punk, serta sub-genre underground lainnya. Indra menilai kejenuhan akan hilangnya model-model produksi do it yourself (DIY) dan distribusi skena underground yang khas mulai memudar. “Mereka melihat bahwa semangat skena noise kurang lebih mirip dengan punk misalnya. Noise menawarkan konsep DIY, networking, dan lain sebagainya yang cenderung mandiri dan kolektif kolegial,” papar Indra.

Hal senada juga dipaparkan oleh Rully Shabara. Rully yang sudah bertahun-tahun berkutat di dunia musik mengamini bahwa noise kini adalah punk atau hardcore sebagaimana dahulu. “Noise dan eksperimental, saya pikir, sebenarnya sudah lama. Dan akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang baru. Ke depan akan sama juga seperti para pendahulunya, misal punk atau hardcore”, jelas Rully.  Terkait dengan kepopuleran noise, Indra sedikit berbeda pendapat dengan Rully ketika ditanya apakah suatu saat noise, sebagaimana punk saat ini, akan menemui kemapanannya sendiri. “Menurutku, noise itu sak madya. Apa adanya dan tidak ada usaha untuk menjadi sepopuler musik-musik yang lain. Dia bakal naik, tapi di lingkup itu sendiri,” pungkas Indra. [MN/AB]

Mega Nur

Mega Nur

Entitas biasa yang tertarik dengan cultural studies dan sedang dalam proses kurasi agar berfaedah untuk semua umat. Dapat ditemui di kanal meganur.tumblr.com atau instagram gadull
Mega Nur