Noise Nan Khusyuk

Bagaimana mungkin kebisingan, sesuatu yang riuh, berisik dan ramai, membawa kita dalam keheningan batin?

Hari ini noise mulai digemari oleh musisi subkultur sebagai sebuah fenomena yang unik. Tak ada permainan yang sama, tak ada sesuatu yang bisa dihafal dari panggung noise. Pemain dan pendengarnya sama-sama tak bisa menebak suara apa yang akan keluar dari amplifier. Di dalam noise, proses penciptaan bunyi adalah sesuatu yang ditonjolkan. Seraya memutar potensio, menekan berbagai tombol atau atraksi lainnya, sang pemain larut di antara produksi bunyinya sendiri, dan rata-rata pendengar menikmati atraksi penciptaan bunyi sebagai sebuah seni pertunjukan yang bermain-main dengan bunyi.

Mungkin noise diciptakan sebagai seni pertunjukan, mungkin juga tidak. Beberapa waktu yang lalu, Numbfoot bermain dengan apik di perhelatan Cassette Store Day Yogyakarta (8/10). Tak ada atraksi membanting pedal effect, mereka merangkai bunyi-bunyian yang ramah, berulang dan merayu kita mengikuti ritme.

Kelompok musik ini merupakan kumpulan pegiat bunyi yang berasal dari Amerika. Brett Zweiman, sebagai salah satu punggawanya telah menetap tiga tahun di Hanoi. Pengalaman kulturalnya di Vietnam membentuk karakter musik Numbfoot bernuansa spiritual timur, meski tidak utuh. Sebagai musik meditasi, Numbfoot begitu piawai membuat pola looping. Emosi seakan dipermainkan dengan pemilihan irama dan efek suara yang dipilih.

Pada bunyi-bunyian semacam ini, repetisi atau pengulangan digunakan sebagai medium yang mengantar pemain dan pendengarnya mencapai fase kekhusyukan. Apa yang dicapai dalam kekhusyukan noise? Momen trance adalah momen khusyuk, di mana satu-satunya hal yang dipedulikan adalah keasyikan menenggelamkan diri. Di dalam sembahyang, doa adalah medium mencapai momen ini. Pengaturan nafas yang konstan mendorong kita lebih berkonsentrasi dan merayakan keutuhan diri.

Begitu pula dengan noise. Ritme yang konstan, repetisi dan permainan frekuensi adalah media seperti doa. Penikmatnya benar-benar tenggelam dan lupa diri. Durasi di atas panggung noise tak bisa dibatasi. Pertunjukan akan berakhir apabila emosi tuntas mencapai klimaks dan tak ada lagi yang didalami. Seperti tarian darwis yang hanya dapat berhenti apa bila sang penari usai manunggal dengan yang tak tergapai. Tapi saya tak bilang bahwa noise adalah ibadah, ia adalah kegiatan yang beyond praying.

Saya memandang noise dan doa sebagai medium untuk mencapai segala hal yang tak tersentuh itu. Doa, dan musik yang tak lazim didengar sehari-hari seolah mampu menjembatani detail kegaiban diri manusia seperti perasaan romantis. Cara kerjanya seperti zat adiktif yang mengaktifkan hormon sensitifitas rasa. Keterasingan yang dijumpai membuat kita berfantasi dan meraba apa sebenarnya yang dirasa. Doa membuat manusia manunggal dengan tuhannya secara khusyuk, sedangkan noise menciptakan ketenangan. Tenang dalam arti yang bukan diam, tapi melepas segala beban.

Saya teringat sebuah kisah tentang Abbad bin Bisyr yang saking khusyuknya bersembahyang sampai tak sadar tubuhnya tertembus anak panah. Kekhusyukan ini serupa dengan aksi musisi yang mengalami trance dan tak sadar akan rasa sakit yang dideritanya. Di beberapa kasus, gitaris yang benar-benar larut dengan musik dapat melupakan rasa sakit di jarinya yang berdarah. Lalu apakah noise merupakan salah satu dari banyaknya cara melupakan derita? Saya kira setiap orang memandangnya bermacam-macam. Tapi ada sesuatu yang khusyuk, yang spiritual, tanpa harus dikaitkan dengan agama atau iman dalam ketenangan melupakan lara.

Jika noise begitu istimewa dampaknya, mungkin ada baiknya ormas yang punya hobi ngotot setiap saat tersebut meluangkan waktu sejenak untuk menikmati noise. Setidaknya mereka mengalami pengalaman baru dengan suara. Mungkin ketenangan pascamendengar noise bisa membuat mereka agak kalem.

Atau sebaliknya? Mereka akan mencari dalil bahwa noise adalah budaya sesat dan menyesatkan karena menggantikan doa dengan bunyi-bunyian acak. Seruan mereka untuk membabat, membakar, menghalalkan darah liyan suatu saat nanti akan berubah menjadi tren noise gaya baru: noise syariah. Saya membayangkan kalimat tersedu-sedu, “Jangan ditiru, jangaaan,” seraya menangis Yusuf Mansyur akan menunjuk hidung pemain noise.

Noise kadang memuat kedalaman makna. Saya teringat lirik Space Gambus Eksperimental, proyek bunyi yang dibuat oleh Kamal Sabran. Penggalan lagunya membuat kita berpikir sejenak bahwa jangan-jangan memang betul “earth is not my home, i’m just passing by”. Kehidupan kita hanya sebuah lintasan kecil. Alam semesta dengan riuhnya suara di dalamnya membuat segala bising yang diciptakan manusia tak punya arti. Ada juga karya dari project Lintang Radittya, yang berjudul “Wayang Berisik” di mana medium suaranya merupakan perlambang dari laku jawa. Jawa secara tata hidup, bukan suku. Semangat noise yang kontemplatif semacam ini, akhirnya menuntut pelakunya untuk mawas diri.

Musik semacam Space Gambus Eksperimental dan Lintang Radittya mengharuskan pendengarnya mengamati tanda. Secara semiotika, ada bunyi yang dipepatkan sebagai acuan pandang. Menyikapi karya Kamal Sabran atau Lintang Radittya sebagai refleksi membawa kita khusyuk pada kepasrahan atas situasi. Dunia yang tak baik-baik saja, ruang hidup yang semakin terhimpit dan laju informasi acak yang deras, dapat dilalui dengan hati yang legowo. Apakah dengan demikian bunyi semacam ini memiliki efek magis? Saya kira segala hal di dunia memiliki dampak ajaib bagi akal budi masing-masing.

Brett Zweiman mengatakan, bahwa tanpa harus mempedulikan selera liyan, bermain musik adalah mengolah good energy menjadi kenikmatan batin secara personal. Jika seseorang bermusik dengan khidmat dan mampu mengantarkan dirinya menuju kekhusyukan, mengapa tidak membagi pengalaman ini ke orang banyak. Brett mencoba merangkul pendengar merasakan ketenangan yang sama.

Beberapa waktu lalu di Surakarta dalam pertunjukan bertajuk Wiken Noise (9/10), Pas Musique, grup noise dari New York juga bermain-main dengan simbolisme ritual. Ia berputar-putar membunyikan lonceng seperti sedang membagi berkah kepada para pendengarnya. Kemudian suara yang dihasilkan dari theremin juga mengingatkan kita pada ketenangan yang megah namun pilu. Seperti berbagai jenis doa dan meditasi, masing-masing menghasilkan kontemplasi yang berbeda. Sebut saja doa mohon ampun yang memancing air mata keluar, frekuensi theremin yang pilu membuat perasaan pun menjadi gamang.

Lantas, apakah ke-aku-an benar-benar dirayakan dalam noise? Pengalaman seseorang menghasilkan dampak yang berbeda-beda ketika ia mendengar noise. Memang tak selalu harus dikaitkan dengan spiritualisme. Namun, noise mau tak mau memang sebuah perayaan atas diri sendiri. Kebebasan yang disampaikan melalui berbagai bunyi ini semacam ijtihad manusia untuk memahami sesuatu. Bisa dikatakan noise adalah musik yang telah dicap kafir oleh penikmat musik puritan. Sebab frekuensinya yang ganjil seperti bid’ah, mengantarkan inovasi baru untuk memahami keadaan dengan suara yang berbeda.

Saya sempat bertanya tentang konsep awal “Acak Baur #2” karya Lintang Radittya. Ia mengatakan bahwa project bunyi tersebut merupakan pengingat bahwa kehidupan adalah hasil dari campuran waktu lalu, kini dan nanti. Segala sesuatunya tak bisa ditebak seperti bunyi yang dihasilkan oleh modular buatannya. Banyak hal yang tersembunyi dalam noise secara semiotik. Tapi tak melulu noise harus membawa kedalaman makna, ke-aku-an juga dapat terwujud dari nihilnya pesan yang disampaikan.

Pertunjukan tanpa makna ini seolah menegaskan bahwa ia hanya ingin bermain, dan menikmati waktunya bersama bunyi tanpa ada embel-embel apapun. Saya teringat dengan puncak arupadatu pada sebuah candi. Di sana bentuk benar-benar dilebur sehingga tak ada wujud yang daif. Ketiadaan membuat ia tak punya risiko untuk rapuh. Suara tanpa makna dalam noise inilah yang bisa jadi merupakan puncak perayaan ke-aku-an melalui suara paling lebur. Estetika yang diyakini secara kolektif dilebur habis agar lumat dan manunggal.

Tetapi komunitas dunia sudah terlanjur menjadi generasi 2.0. Ada sebuah kekhawatiran jangan-jangan apa yang terjadi hari ini benar-benar sebagai medium “nampang doang”. Mungkin noise hari ini tercipta dari rasa frustasi seseorang yang gagal mengejar teknik bermain seperti Jordan Rudess Dream Theatre. Persis fenomena mahasiswa seni rupa yang lelah pada teknik realis dan mendadak menjadi seniman naif. Bisa jadi fenomena noise ini memang medium nampang sangar, keakuannya adalah menyematkan citra kontemporer pada diri supaya terlihat keren a la generasi 2.0-nya Aris Setyawan. Sebagai medium suatu wacana sosial politik, noise jarang dilirik. Maka dari itu, fungsi noise seolah benar-benar sangat personal.

Ah, saya tak bisa membayangkan jika para pemegang tampuk kekuasaan religi melihat noise sebagai peluang komoditas baru. Bisa jadi akan tiba suatu masa di mana beli KFC dapat CD Opick dengan album berjudul “Distorsi Istighfar”, atau Cinta Rasul eksperimental versi Hadad Alwi, duh! Semoga noise tetap menjadi sebuah jalan sunyi  untuk mengolah diri.

*) Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co.

Izyudin Abdussalam

Izyudin Abdussalam

Gemar bersenang-senang dengan musik, visual dan teks. Secara virtual menghuni instagram @melampaui_mata
Izyudin Abdussalam

Latest posts by Izyudin Abdussalam (see all)