Serunai.co
Ulasan

Sonic/Panic dan Kegentingan Krisis Iklim

sonic/panic

Album Sonic/Panic adalah buah pikir dari 13 musisi yang peduli dengan perubahan alias krisis iklim, dan apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan bumi tercinta ini.

Tanggal 15 November 2022 adalah hari yang istimewa. Hari itu dikenal sebagai The Day of Eight Billion. Hari ketika jumlah penduduk dunia mencapai 8 miliar jiwa. Melalui situs web worldometers.info kita bahkan bisa memantau bahwa setahun kemudian, pada bulan November 2023 jumlah manusia yang mendiami bumi telah bertambah 82 Juta jiwa lebih. Ketika tulisan ini dibuat, angka kelahiran pada 2023 mencapai 134 juta dan terus bertambah. Ya, bumi makin sesak. Pepat dengan manusia yang berdesak-desakan di setiap penjuru dunia.

Kenaikan signifikan jumlah penduduk dunia itu tak ayal memunculkan pertanyaan: apakah bumi yang makin renta ini sanggup menopang kehidupan 8 miliar jiwa? Bisakah lingkungan dan sumber daya alam yang terbatas memberi makan mulut sebanyak itu?

Jika kita berkaca pada bagaimana cara hidup manusia beberapa dekade ini yang terlampau bergantung pada energi tidak terbarukan, melepaskan jejak karbon dalam jumlah yang luar biasa besar, serta bagaimana kita menjadi makhluk antroposentris yang merusak alam dan lingkungan, sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa bumi tidak akan mampu menyokong hidup 8 miliar jiwa.

Statistik juga sudah berbicara bahwa alih-alih merawat alam, manusia lebih banyak merusak demi tujuan akumulasi profit atau perputaran modal kapital. Di tahun 2023 ada 5,197, 318 hektare hutan yang hilang karena pembalakan liar. Sementara itu, di tahun 2023 manusia melepaskan 36,547,626,930 ton emisi CO2 ke atmosfer bumi. Ditambah lagi ada 9,778,937 ton bahan kimia yang dilepaskan ke lingkungan.

Berbagai kerusakan yang kita timbulkan tak pelak memunculkan perubahan iklim (climate change)—atau beberapa pakar menyarankan menggunakan terma krisis iklim (climate crisis) karena kegentingan yang sudah sangat besar—yang makin memperburuk kondisi bumi.

Agar tidak harus mengikuti cara berpikir radikal Malthusian yakni mengurangi separuh populasi dunia agar bumi tetap lestari, kita harus memikirkan dan segera melakukan langkah besar untuk mengubah cara hidup kita agar 8 miliar jiwa di bumi dapat bertahan.

Semua orang harus melakukan perannya masing-masing dalam upaya menyelamatkan bumi ini, dengan cara yang mereka bisa. Pemimpin dunia dan elite politik harus membuat kebijakan terkait menjaga alam, warga negara harus gencar mendorong pemimpin dunia dan elite politik agar tetap amanah menjaga bumi, dan lain sebagainya. Lalu, apa yang musisi bisa lakukan dalam upaya pelestarian alam dan menyebarkan pesan peduli perubahan iklim ini? Album Sonic/Panic yang merupakan hasil kolaborasi dari 13 musisi Indonesia adalah salah satu upaya musisi untuk menyebarkan isu kepedulian akan pelestarian bumi dan perubahan iklim tersebut.

Sonic/Panic adalah sebuah album musik yang istimewa. Latar belakang album yang dirilis pada penghujung 2023 di bawah Alarm Records, label musik sadar iklim pertama di Indonesia ini dimulai dari inisiatif 13 musisi Indonesia yang membentuk IKLIM yang merupakan singkatan dari The Indonesia Knowledge, Climate, Arts & Music Lab. Selain Merilis album Sonic/Panic, dalam perjalanannya IKLIM juga melakukan banyak kegiatan seperti mengadakan workshop tentang lingkungan, menyelenggarakan IKLIM Fest, mengadakan konser perilisan album Sonic/Panic di tiga kota, hingga membentuk Music Declares Emergency (MDE) Indonesia yang dengan gencar menyuarakan slogan mereka “NO MUSIC ON A DEAD PLANET.

Baca Juga:  Musik, Opium bagi Massa, dan Bagaimana Mengakalinya

13 musisi yang tergabung dalam IKLIM dan menyumbangkan karya mereka di Sonic/Panic adalah Guritan Kabudul, Kai Mata, FSTVLST, Endah N Rhesa, Rhythm Rebels, Nova Ruth dan Filastine, Tuantigabelas, Navicula, Iga Massardi, Made Mawut, Prabumi, Tony Q Rastafara, dan Iksan Skuter.

13 musisi ini yang membuat Sonic/Panic menjadi istimewa: latar belakang setiap musisi tidaklah sama. Baik dari segi ideologis, musikalitas, maupun lirik.

Dari segi bangunan musik, Sonic/Panic sungguh ekletik. 13 musisi menawarkan karya dari berbagai genre yang berbeda seperti hip-hop, rock, blues, elektronika, reggae, pop, hingga world music. Musik boleh beda, namun pesan yang disampaikan sama: kegentingan krisis iklim.

Percampuran berbagai genre musik ini seperti sebuah ejawantah dari misi utama IKLIM: menyadarkan semua orang bahwa apapun latar belakangnya, apapun profesinya, berapapun usianya, semua orang dapat melakukan aksi nyata menjaga bumi dan mencegah perubahan iklim.

Dari segi lirik, setiap musisi menunjukkan kepiawaiannya merangkai aksara dan kata untuk menjadi godam penggetok batok kepala setiap penikmat musik: sadar, woy! Bumi sudah semakin rusak, kita harus bertindak!

Sonic/Panic dibuka dengan nomor “Tua Renta” dari Guritan Kabudul. Sebuah lagu contemporary folk yang kontemplatif dengan petikan gitar akustik, suara slide guitar, dan hentakan drum yang dinamis untuk membuka sebuah album tentang kepedulian lingkungan.

Kai Mata, musisi yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sosok musisi yang memperjuangkan hak-hak komunitas LGBTQ+, menyumbangkan lagu bertajuk “Change It” di urutan kedua. Di lagu bernuansa RnB ini, Kai Mata berkolaborasi dengan Kashgari dan menyampaikan pesan tentang bagaimana kita harus mengubah gaya hidup kita jika ingin bumi tetap lestari.

Kugiran rock asal Yogyakarta, FSTVLST, menyumbangkan track rock yang sarat distorsi gitar dan desingan synthesizer dalam lagu “Rat Tua.” Posisi band yang digawangi oleh perupa Sirin Farid Stevy—yang juga merancang ilustrasi sampul album Sonic/Panic—ini penting mengingat fan base mereka yang sudah sangat besar. Artinya, pesan tentang perubahan iklim akan makin luas tersebar.

Selanjutnya, duo pasangan suami istri Endah N Rhesa membawakan lagu “Plastic Tree.” Sebuah lagu folk-pop manis dengan dentingan piano dan hentakan beat perkusif namun dengan pesan yang pahit dalam liriknya: imajinasi seandainya “No more apple tree, no more lemon tree, just a plastic tree, it’s a tree of fantasy.”Bayangkan bumi tanpa pohon nyata dan hanya ada pohon plastik! Kehidupan bakal muspra.

Lagu kelima “LOVEARTH” dimainkan oleh Rhythm Rebels, duo yang beranggotakan Rizal Abdul Hadi dan Reza Achman (perkusionis yang sebelumnya dikenal sebagai personel Matajiwa bersama Anda Perdana). “LOVEARTH” adalah sebuah track elektronika yang menggabungkan rock dan sub-genre drum n bass dengan sangat apik. Spoken word tentang “mother nature” juga mengingatkan kita tentang ibu bumi yang menjaga kita manusia sebagai anaknya.

Baca Juga:  Sebuah Ingatan tentang Banda Neira

Masih dari departemen musik elektronik, tembang berikutnya “Salah Mangsa” adalah gubahan duo Nova Ruth dan Grey Filastine. Meskipun menggunakan medium musik elektronik dengan suara-suara glitch rhythm dan string section, tembang ini sangat menarik karena menawarkan melodi yang sangat kental unsur Jawa-nya. Suara Nova Ruth yang khas seperti mengajak pendengarnya menghayati world music dalam balutan elektronik.

Berikutnya di lagu keenam, rapper Tuantigabelas membuka lagunya “Kenapa” dengan sebuah dendang yang Njawani. Lalu mulailah ia melontarkan sumpah serapah ala hip-hop terhadap kerakusan manusia mengeksploitasi sumber daya alam dengan bait seperti “…ambil semua segala sumber daya dengan segala daya tebar tipu daya.” Rapper asal Jakarta ini juga mempertanyakan keputusan-keputusan kita yang salah kaprah dalam mengelola lingkungan seperti dalam bait “Kenapa kita menggali bara sementara kita punya terang sang surya?”

Pada lagu ketujuh, salah satu musisi yang sudah sejak lama dikenal memiliki concern terkait lingkungan dan perubahan iklim, Navicula, menghadirkan distorsi keras ala grunge alias seattle sound di dalam lagu “House on Fire.” Band asal Bali ini menyerukan pentingnya kolaborasi antara semua pihak untuk terus konsisten menyerukan aksi nyata mengatasi krisis iklim.

Track kesembilan Sonic/Panic diisi oleh gitaris dan vokalis Barasuara, Iga Massardi yang berkolaborasi dengan Badrus Zeman, inisiator band asal Madura, Lorjhu. Lagu “Polo Nyaba” (dalam Bahasa Indonesia berarti Pulau Nafas) mengisahkan tentang sebuah pulau terpencil yang memiliki tingkat oksigen tertinggi di dunia. Lagu ini menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan keserakahan.

Selanjutnya pendengar diajak menikmati delta blues dari solois asal Bali Made Mawut. Sebelumnya Made Mawut terkenal karena musik delta blues minimalis ala Negeri Paman Sam yang ia bawakan. Hanya ada gitar, dan suara vokalnya. Namun, di lagu “Climate Blues” untuk album Sonic/Panic ini Made Mawut menghadirkan karya yang sedikit berbeda. Ia menyelipkan suara koor di intro lagu, juga instrumen lainnya seperti drum, harmonika, dan bass. Yang paling menonjol tentu saja adalah raungan gitar Made Mawut. Ini adalah musik blues untuk iklim.

Lagu kesebelas “Bambu Runcing” digubah oleh musisi Muktito Adhitya dengan moniker Prabumi. “Bambu Runcing” adalah sebuah simbolisasi bahwa musik memiliki kekuatan yang sama dengan bambu runcing, yakni sebagai alat yang memengaruhi tanpa menyakitkan, meresap dalam jiwa seseorang. Lagu ini menghormati makna sejarah bambu runcing dalam perjuangan kebebasan, mencerminkan pembebasan jiwa dan tubuh. Dalam melodi dan ritmenya, “Bambu Runcing” menggambarkan perjalanan metaforis bambu yang mentransformasi irama mentah menjadi sesuatu yang diasah, mirip dengan proses penajaman gitar. Trumpet melambangkan ketajaman bambu, sementara vokalnya menjadi pemandu yang menyemai cinta, emosi, tekad, dan keberanian pada bambu. Dalam lagu ini, Prabumi menghadirkan pandangan tajam tentang peran musik sebagai pemicu perubahan dan penjaga kebebasan personal.

Baca Juga:  Ziarah: Semesta Tanah, Kematian, dan Pencarian yang Tertunaikan

Berikutnya, salah satu musisi reggae paling termasyhur se-Indonesia, Tony Q Rastafara membawakan lagu berjudul “Sebelum Terlambat.” Musiknya reggae, sudah jelas sangat berkarakter, dengan jalinan ritmis yang dinamis, dan bikin kepala bergoyang. Namun, liriknya menyampaikan pesan serius. “Sebelum Terlambat” menyuarakan pentingnya tindakan dalam menghadapi tantangan lingkungan dan norma-norma sosial yang mengkhawatirkan. Lagu ini mengingatkan akan pentingnya memelihara nilai-nilai seperti keseimbangan, optimisme, spiritualitas, dan harapan. Pesannya mendorong kita untuk menggunakan kebijaksanaan dan kesatuan sebagai alat untuk bergerak maju, mengambil langkah-langkah proaktif menuju masa depan yang lebih baik dan seimbang. Dengarkanlah sekarang, sebelum waktu terus berlalu, sebelum semua terlalu terlambat.

Lagu penutup di album Sonic/Panic bertajuk “Habisilah Kami untuk yang Terakhir Kali” diciptakan oleh musisi folk asal Malang, Iksan Skuter. Iksan Skuter menggali makna yang dalam tentang bagaimana setiap makhluk ciptaan Tuhan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Karyanya menjadi pengingat yang kuat akan dampak buruk keserakahan manusia terhadap lingkungan dan manusia itu sendiri. Lagunya mengandung komentar yang indah tentang penurunan kondisi lingkungan, terinspirasi dari teks suci, cerita rakyat, dan sejarah. Ini menegaskan peringatan yang menakutkan bahwa seringkali, hanya kejadian bencana yang dapat menggetarkan manusia untuk memperbaiki keadaannya. Karya musik Iksan memberikan peringatan yang kuat, mendorong pendengar untuk merenungkan dunia di sekitar mereka dan pentingnya perubahan segera.

Pada akhirnya, kita bisa berkaca dari album Sonic/Panic dan merefleksikan fakta-fakta yang dipaparkan di awal tulisan ini. Delapan miliar manusia itu banyak sekali. Apabila kita tidak segera melakukan aksi nyata yang substansial, tidak menutup kemungkinan bahwa di suatu hari kelak manusia bisa saling bunuh untuk sekadar memperoleh makanan yang makin langka di tengah bumi yang sekarat. Sebuah skenario amit-amit yang jangan sampai terjadi. Pun pemikiran Malthusian yang mengerikan jangan sampai harus diimplementasikan.

Maka, dengarkan Sonic/Panic dengan saksama! Resapi musiknya! Pahami liriknya! Lalu mulailah melakukan aksi nyata semampunya untuk membendung eskalasi perubahan atau krisis iklim.

Sonic/Panic, sebuah album apik yang menutup 2023 dengan renungan agar kita membuat semacam resolusi: tahun 2024 harus lebih baik. Kita harus lebih sadar lingkungan, mengurangi penggunaan plastik, mendorong pemangku kebijakan agar menghentikan atau setidaknya mengurangi penggunaan batu bara, dan mengurangi produksi emisi karbon.

Delapan miliar manusia yang hidup di bumi harus bisa bertahan, ibu bumi harus dilestarikan, dan krisis iklim harus dihentikan. Ini sudah genting. Mari menjadikan Sonic/Panic sebagai soundtrack sehari-hari kita, sekaligus penyemangat agar kita makin melek dengan isu lingkungan.

Album: Sonic/Panic

Musisi: Various Artists

Tahun rilis: 4 November 2023

Label: Alarm Records

Jumlah lagu: 13

Durasi album: 53 menit

Medium rilisan: Digital, dapat didengarkan di DSP seperti Spotify, YouTube Music, dan Apple Music

Related posts

Yang Terungkap Lewat Ratapan

Idha Saraswati

Membongkar Asosiasi Musik Metal dan Stigma Kekerasan dalam Metal Lords

Nadya Karima Melati

Kepada Ide untuk Indonesia

Alfin Rizal

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy