Mengapa Kritik Musik Begitu-Begitu Saja?

Yang membosankan dari ulasan musik, atau lebih “luhur”, kritik musik, adalah gayanya yang begitu-begitu saja. Kalau tidak memuji setinggi langit, ya membabat habis.

Sebuah karya seni dinilai jelek atau bagus adalah hal biasa. Pun dalam kritik musik. Tetapi bagi saya agak mengganjal bila kritik musik hanya soalan memberi nilai A, B, C atau bahkan dengan pretentious menghakimi “album ini hanya layak masuk keranjang sampah”, sebab dengan kecenderungan preferensi personal, penilaian jelek atau bagus, tinggi atau rendah, adiluhung atau kitsch, pada akhirnya cuma jadi perkara selera. Dan perkara selera adalah sesuatu yang sulit diukur–bahkan tidak layak diukur.

Ada sebuah ilustrasi menarik terkait ini: Dua orang kelar menonton konser promo album sebuah band. Yang satu bilang, “mereka keren banget,” dan yang satunya lagi menjawab, “ini konser terburuk mereka yang pernah ‘ku tonton.” Pertanyaan kemudian mencuat: siapakah yang benar? Adakah standar yang bisa menguji kedua argumen tersebut hingga mendapatkan simpulan yang lebih “objektif”?

Yang sudah menonton Bohemian Rhapsody (2018) tentu masih ingat adegan ketika bos EMI, Ray Foster, menolak lagu “Bohemian Rhapsody” yang diusulkan Queen. “Tidak mungkin. Lagu yang lebih dari tiga menit tidak akan disiarkan di radio,” katanya. Lalu ia mulai mengkritik lirik lagu itu. “Scaramouche? Galileo? Ismillah? Apa artinya itu? … Hal-hal baru merusak penjualan. Standarnya tiga menit.”

Sederhananya, menurut sang produser lagu itu tidak kompatibel dengan pasar pendengar alias (berpotensi) tidak menjual. Tapi Freddie Mercury cs bergeming dengan pendapatnya dan memilih walk out, karena menurut mereka lagu itu brilian. “Ini mahakarya,” kata Freddie. Dalam ilustrasi ini saya melihat ada dua kepentingan yang bertolak belakang: Pertama, kepentingan pasar, yang direpresentasikan oleh produser label. Kedua, kepentingan estetika, yang direpresentasikan oleh Queen.

Dulu major label bisa dengan gampang mendikte musisi yang ingin memulai karir di industri: “Lagu situ nggak menjual. Jadi saran saya, bikin lagu yang begini begitu, begini begitu.” Musisi yang datang dengan posisi tawar lemah seringkali menerima dan mengikuti saran si produser meski bisa jadi berseberangan dengan visi bermusik mereka yang mengedepankan estetika atau ideologi tertentu. Dari sudut pandang ini, estetika atau ideologi dianggap “rendah” nilainya karena ia tidak menjual.

Sementara suara oposannya: “Halah, musik lo murahan. Gitu-gitu aja, cuma ngikutin pasar. Nggak menarik.” Yang berselera pasar dianggap “rendah” nilainya karena ia tidak punya estetika atau ideologi tertentu, atau kurang edgy. Pada akhirnya masing-masing pihak punya standar masing-masing dengan orientasi yang memang berbeda. Nah, persoalannya adalah ada kecenderungan untuk “merendahkan” satu sama lain dengan mengacu pada standar dan tujuan masing-masing.

Barasuara (foto: Dok. Barasuara)
Barasuara (foto: Dok. Barasuara)

Contoh teranyar adalah kritik terhadap album baru Barasuara, Pikiran dan Perjalanan (2019). Album itu dikritik habis-habisan dengan simpulan bahwa tak ada yang baru dari Barasuara; gitu-gitu aja, nggak move on, main aman alias ogah bereksperimen, dan penghakiman lainnya.

Pertanyaannya, apa yang salah dengan mempertahankan musik yang dianggap begitu-begitu aja? St. Anger (2003) pernah dinobatkan sebagai album terburuk Metallica. Bring Me The Horizon dicela habis, bahkan oleh penggemarnya, karena mengubah total gaya bermusik di album terbarunya, Amo (2019). Dan saya menganggap album terbaik Blink-182 adalah Ceshire Cat (1995), selebihnya bukan selera saya. Apa yang mereka lakukan dengan album-album itu adalah eksperimen dan improvisasi, dengan harapan para penggemar–atau pasar–juga menyukainya. Tetapi, niat luhur bereksperimen dan berusaha keluar dari pakem gagal.

Ketika Barasuara memilih untuk tidak mengubah konsep dari karya sebelumnya–karena mungkin Taifun adalah yang terbaik, tidak membuat mereka turun secara kualitas. Kecuali bagi mereka penganut dalil, “Hai manusia, jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.” Jadi saya menduga, motif penggarapan album Pikiran dan Perjalanan adalah untuk menuai sukses yang sama. Untuk menuai sukses yang sama adalah dengan menggunakan formula yang sama pula.

Album itu ada, boleh jadi karena tujuan mereka adalah sekadar memuaskan para Penunggang Badai–penggemar Barasuara. Dengan kata lain, memuaskan pasar yang kepincut sejak album pertama. Bukan memuaskan kritikus yang berekspektasi tinggi bahwa Barasuara, dengan segala kelebihannya, dapat menciptakan album yang lebih keren. Memilih bereksperimen atau tidak, menjadi hak mereka sepenuhnya. Toh mereka bukan Zoo atau Senyawa yang menahbiskan diri sebagai grup eksperimental, yang akan terlihat aneh jika mereka tidak bereksperimen.

Si musisi berorientasi pasar, sementara si kritikus berorientasi pada estetika. Di zaman pascamodern, rasa-rasanya yang idealis dan yang industrialis tidak bisa lagi dipertentangkan–atau tidak perlu dipertentangkan. Kedua kutub itu sudah berkoeksisten semenjak pemaknaan terhadap musik menjadi kabur; musik sebagai karya seni, atau musik sebagai komoditas.

Di masa lampau, Adorno pernah berupaya “mendelegitimasi” musik populer (musik selera pasar, musiknya kapitalisme) dengan meninggikan musik klasik yang ia sebut sebagai serious music. Melihat ekosistem industri musik hari ini, dari skala “major” hingga “indie”, nampaknya semua musik sudah menjadi populer, alias terkomodifikasi. Maka menjadi tidak penting membicarakan estetika dalam kerangka orientasi pasar.

Soal kritik mengkritik, kancah musik Indonesia pernah punya cerita menarik ketika pada 1970an, Benny Soebardja mengejek musik dangdut sebagai “musik tai anjing”. Ada beberapa kemungkinan mengapa ia melontarkan pendapat itu. Pertama, dangdut bukan seleranya. Kedua, ia punya “masalah” dengan orang di kancah dangdut. Ketiga, unidentified factor. Pun ketika Raden Haji Oma Irama mengkritik koplo. Pertama, koplo bukan seleranya. Kedua, ia punya “masalah” dengan orang di kancah koplo. Ketiga, karena ia menganggap koplo seronok dan porno. Baginya koplo sudah menyimpang dari dangdut. Lagi-lagi, ini jadi perkara selera dengan mengacu standar nilai tertentu yang diyakini si pengkritik.

Jadi ketika Barasuara memilih musik yang begini dengan lirik yang begitu, lalu dilabeli tidak mau move on, main aman, atau kritik bernada sejenis, disadari atau tidak, si pengkritik sedang memaksakan standar yang diyakininya terhadap si pembuat karya. Daripada memeriksa musik mereka dengan standar yang kita yakini, mengapa tidak mencoba mencari tahu motivasi mereka membuat musik. Misalnya, apa orientasi mereka? Pasar atau estetika? Atau keduanya?

Kita tidak bisa menghakimi dangdut koplo dari segi estetika, apabila ternyata tujuan para aktor di skena dangdut koplo semata mencari nafkah dari kemampuan bermusik yang mereka punya. Justru menjadi tidak kontekstual ketika kritik estetika sebuah karya, sebagaimana kritik musik muncul pada awalnya, ditujukan kepada karya yang sejak awal tidak menjadikan estetika sebagai capaiannya utamanya, melainkan pasar.

***

Kembali ke pertanyaan ilustrasi di awal tulisan: ketika dua orang menonton konser musik yang sama namun punya pendapat berbeda, siapakah yang benar? Bagaimana kita bisa menguji, siapakah yang pendapatnya (mendekati) objektif? Apakah dengan membedah struktur musik, komposisi vokal yang ideal, dan indikator teknis lainnya, dapat membuat sebuah kritik musik menjadi lebih objektif?

Mungkin Emily Zemler punya rumusan yang pas bagaimana kritik musik semestinya: “kritik musik bukan tentang bagaimana yang bagus atau jelek. Bukan untuk mengelompokkan karya ke dalam huruf atau angka. Kritik musik adalah untuk mengontekstualisasikan dan memberi pemahaman bagaimana budaya populer merefleksikan dunia kita. Kritik membantu pendengar untuk memahami apa yang mereka dengarkan.”

Ya, begitulah.

Adalah sebuah kebebasan untuk menilai jelek sebuah karya sembari merasa diri memiliki selera yang lebih bagus. Tapi mungkin pendapat Adorno tentang musik populer mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya semua musik yang kita konsumsi dan perdebatkan hari ini, adalah sama. Kita yang merasa berbeda dan berselera lebih baik, menurut Adorno hanya sedang mengidap pseudo-individualization; merasa berbeda padahal terjebak standarisasi tertentu–yang mungkin jelek juga menurut orang lain. Tak ada yang lebih luhur di bawah industri.

Maka, kritik terhadap Bohemian Rhapsody, Dangdut, Koplo, dan Barasuara, cuma semacam upaya standarisasi selera yang sebetulnya tidak akan pernah menemukan solusi. Sialnya, kritik musik kiwari terjebak di sini.

Tulisan yang dimuat dalam rubrik Kolom adalah opini pribadi penulis. Opini ini menjadi tanggungjawab pribadi penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi serunai.co

Ferdhi Putra

Ferdhi Putra

Peminat kajian subkultur. Sedang asyik dengan penelitian media komunitas. Bisa dihubungi melalui ferdhi@riseup.net.
Ferdhi Putra

Latest posts by Ferdhi Putra (see all)

No Comments

Leave a Comment