Serunai.co
Ulasan

Joyland: Mewujudkan Festival Musik yang Inklusif

Joyland
Joyland

Festival musik ada banyak. Tapi masih sedikit yang ramah untuk keluarga, anak, dan penyandang disabilitas. Joyland Festival 2023 berupaya mewujudkan festival musik yang inklusif dan ramah untuk semua kalangan.

Saya jarang sekali ke Jakarta. Setelah menetap selama 13 tahun di Yogyakarta yang menurut saya adem ayem dan tentrem, berkunjung ke Jakarta adalah ujian besar untuk saya karena dalam pandangan saya Jakarta ini selalu lekat dengan yang namanya macet, sumpek, segalanya serba cepat, semuanya serba sibuk. Maka, saya hanya ke Jakarta jika ada kepentingan yang mendesak banget. Salah satunya adalah menonton konser musik.

Di penghujung November 2023, saya akhirnya datang ke Jakarta lagi. Tujuannya sudah jelas: menonton konser musik. Bukan sembarang konser, acara yang saya datangi adalah festival musik besar yang dihelat selama 3 hari berturut-turut dengan senarai penampil yang tidak main-main, baik musisi dalam negeri maupun luar negeri. Festival musik itu adalah Joyland Festival 2023.

Saya mau datang ke Joyland karena beberapa faktor. Pertama, tentu saya tergoda oleh senarai musisi yang akan tampil di festival yang dihelat Plainsong Live ini. Saya kepingin menjadi saksi dan menyaksikan langsung penampilan Interpol, Mew, Alvvays, Fleet Foxes, Bloc Party, Fazerdaze, Otoboke Beaver, The Adams, Mocca, Grrrl Gang, dan para penampil lainnya.

Kedua, sejak diselenggarakan beberapa tahun lalu, Joyland terkenal sebagai festival musik yang inklusif karena ramah keluarga dan anak, serta ramah pada penyandang disabilitas, pokoknya ramah untuk semua kalangan. Jadilah saya kepingin membuktikan sendiri apakah status Joyland sebagai festival musik yang inklusif benar adanya?

Konser musik—termasuk di dalamnya festival musik—itu ada banyak. Mengutip data dari dataindonesia, sepanjang November 2023 setidaknya ada 30 konser musik diselenggarakan. Tercatat ada 12 konser musik, 12 festival musik, 3 orkestra, 2 musikal, dan 1 fanmeet dihelat.

Lalu di tengah gempuran bermacam pertunjukan musik itu, apa yang membedakan Joyland? Ulasan ini akan mengupas Joyland dan mencoba mencari tahu apa perbedaannya dengan pertunjukan lain, sekaligus membedah kelebihan dan kekurangan Joyland agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pihak penyelenggara untuk menyelenggarakan festival yang sama di tahun berikutnya dengan lebih baik.

Hujan Deras kala Joyland Dihelat Tak Menyurutkan Antusiasme Penonton

Joyland
Foto: Dinanti

Sejak menginjakkan kaki di venue Joyland yang berada di Baseball Stadium, Gelora Bung Karno pada hari Jumat (24/11) hujan sedang deras-derasnya mengguyur Jakarta. Hujan mengguyur deras di hari pertama dan kedua pada hari Sabtu (25/11). Di hari ketiga Minggu (26/11) keberuntungan cukup berpihak ke penonton karena pada hari itu cuaca Jakarta cerah dari pagi sampai tengah malam.

Saya adalah satu dari banyak orang yang nekat berdiri di depan panggung Joyland untuk menonton musisi yang tampil di tengah guyuran hujan. Berbekal mantel atau jas hujan, saya melihat banyak penonton yang dengan tegar tetap bertahan di depan panggung utama menyaksikan David Bayu manggung, dan berjoget ketika Kamaal Williams memainkan musiknya di panggung. Sayangnya, karena cuaca kian memburuk, pertunjukan Kamaal harus dihentikan sejenak. Namun, pertunjukan ini dilanjutkan saat cuaca mulai membaik. Penundaan ini tentu berakibat cukup signifikan. Rundown acara di hari pertama jadi molor. Bahkan headliner hari pertama band asal Denmark, Mew, yang seharusnya tampil pada pukul 23:55 WIB, terpaksa baru bisa mentas setelah lewat tengah malam.

Di hari kedua, hujan masih mengguyur deras area venue. Tampaknya cuaca belum berpihak pada promotor yang sempat mengadakan Konser Rimpang Efek Rumah Kaca beberapa bulan yang lalu tersebut. Namun, lagi-lagi saya menyaksikan antusiasme para penonton untuk menikmati Joyland tak juga padam. Untuk mereka yang sudah mempersiapkan diri dengan baik seperti mengenakan jas hujan, dan mengenakan sendal alih-alih sepatu, mereka tetap keukeuh bertahan di depan stage Joyland. Sisanya, banyak orang yang memilih untuk berteduh di beberapa spot seperti booth salah satu produk minuman dan area merokok di bagian pojok.

Para penonton di dua hari pertama Joyland seperti mencari jalan ninjanya masing-masing untuk menikmati festival musik ini.

Upaya Mewujudkan Festival Musik yang Inklusif di Joyland

Seorang anak tengah menggambar di area White Peacock. (Foto: Dinanti)

Menurut KBBI, inklusif didefinisikan sebagai mencakup atau dihitung. Asal usul kata ini adalah dari bahasa Inggris “inclusion“, yang menggambarkan tindakan mengajak atau menyertakan orang atau hal lainnya. Keterbukaan masyarakat terhadap toleransi, penerimaan, serta interaksi dengan budaya lain adalah gambaran dari inklusi.

Sesuai pengamatan saya sepanjang 3 hari perhelatan Joyland, pihak penyelenggara sangat memperhatikan perkara inklusi ini. Venue acara yang luas sehingga tidak terlalu sesak dengan penonton tentu adalah nilai lebih bagi mereka yang ingin nonton konser sembari rebahan di bagian belakang stage. Area luas ini juga banyak dimanfaatkan anak-anak yang diajak orang tuanya untuk bermain, berlari-larian, dan bercengkerama dengan anak seusia sebaya lainnya.

Joyland sangat memperhatikan kenyamanan anak-anak. Misalnya, untuk anak usia 12 tahun ke bawah, mereka tidak perlu membayar tiket masuk selama didampingi oleh orang tuanya. Selain area stage yang luas dan bisa jadi lahan bermain anak-anak, Plainsong Live selaku EO juga menyediakan ruangan khusus bernama White Peacock. Di situ anak-anak bisa bermain, belajar, dan melakukan berbagai kegiatan asyik lainnya. Di White Peacock juga tersedia tempat menyusui, tempat ganti popok, dan tempat membereskan keperluan anak.

Baca Juga:  Membaca Setelah Boombox Usai Menyalak
Joyland
Foto: Dinanti

Fasilitas ramah anak yang begitu banyak berimbas pada jumlah penonton yang membawa anaknya ke Joyland. Saya mengamati dengan saksama, ada banyak penonton yang membawa anak-anak mereka. Ada yang digendong, didudukkan di stroller, atau berjalan beriringan dengan orang tuanya.

Di hari pertama, saya berkesempatan mendekati pasangan muda yang tengah menggendong anaknya. Maka, saya meminta izin untuk mewawancarai mereka. Mereka adalah Gaby dan Mukti. Keduanya bekerja sebagai desainer grafis. Di Joyland ini mereka mengajak serta anak mereka Benji yang masih berusia 1 tahun 4 bulan.

Menurut Gaby, mereka berani mengajak anaknya Benji yang masih berusia sangat muda karena tahu dari awal bahwa Joyland adalah festival musik yang ramah anak.

“Ini pertama kalinya kita ke sini ya, tapi menurut aku sih yang sebelumnya kita pernah ke konser lain, ini cukup ramah anak ya karena dia ada ruang untuk ganti popok, ruang menyusui, ruang kegiatan anak, terus secara venue dia cukup luas kan jadi anak-anak bisa bebas lari, terus pas nonton kita kasih ruang satu sama lain gitu loh kepada orang-orang lain yang yang bawa atau enggak, jadi tetap bisa saling enjoy masing-masing gitu tanpa saling ganggu, kan kadang orang selalu berdesak gitu kan pas nonton gitu jadi yang bawa orang agak aduh, jadi kita tadi bisa lebih enjoy ya nonton Fazerdaze juga Benny Sings,” jelas Gaby.

Lebih lanjut, Gaby menjelaskan bahwa mereka berani membawa Benji hingga agak larut malam karena sudah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan anaknya. “Kita sudah persiapan kayak bawa gendongan, kalaupun terlalu rewel nanti kita bawa ke White Peacock aja untuk disusuin terus dihibur aja gitu,” papar Gaby.

Foto: Dinanti

Mengenai Joyland yang ramah anak ini, Ferrry Dermawan selaku promotor Joyland mengaku saat saya wawancarai via WhatsApp (27/11) bahwa ada alasan personal kenapa Joyland diselenggarakan sebagai festival musik yang ramah anak.

“Alasan personal karena saya memulai ini (Joyland: red) bareng partner (juga istri) saya sejak belum berkeluarga sampai punya 2 anak. Saya dan Lintang ingin festival ini juga bisa dinikmati oleh anak-anak, tentu saja perlu dibuatkan program khusus untuk mereka agar bisa betah. Syukur kalau pulang dengan memori baik,” kata Ferry.

Joyland juga menjadi festival musik yang ramah anak karena peraturan yang mewajibkan audiens yang hadir untuk hanya merokok di area yang sudah disediakan. Mereka dilarang merokok di bagian stage dan lingkungan sekitar Baseball Stadium Gelora Bung Karno.

Selain ramah keluarga dan anak, Joyland juga ramah terhadap penyandang disabilitas. Tampak di samping FoH ada area khusus yang disediakan untuk penyandang disabilitas. Jadi mereka yang mungkin berkursi roda atau menggunakan alat bantu berjalan tetap bisa menikmati suguhan musik yang disajikan tanpa perlu berdesak-desakan dengan penonton lain yang pepat benar.

Kritik Penonton Terhadap Joyland

Semua rencana boleh dibuat, namun kondisi lapangan kadang berkata lain. Sesempurna apapun rencana yang dibuat promotor Joyland untuk mewadahi semua kalangan agar bisa bertempik gembira bersama di GBK, tetap ada para penonton yang kurang puas dan merasa kurang nyaman dengan penyelenggaraan Joyland.

Ketidakpuasan itu mulai muncul ketika Joyland mengumumkan rundown acara di akun Instagram mereka, beberapa hari jelang dilangsungkannya Joyland. Kebanyakan berkomentar sama: headliner atau penampil utama ditaruh main paling terakhir di rundown, artinya mereka baru naik panggung di atas pukul 11:00 WIB.

Menurut komentar beberapa (calon) penonton, mereka protes bahwa jika Joyland mendaku diri sebagai festival musik yang ramah anak, kenapa para penampil utama tampil di jam yang malam sekali. Ini mempersulit karena kasihan anak-anak harus tetap terjaga hingga tengah malam. Ada juga yang berkomentar jika menonton headliner artinya mereka baru bisa pulang dari venue sekitar pukul 1 dini hari. Padahal mereka enggak punya kebebasan seluas itu karena misalnya ada aturan orang tua yang tidak mengizinkan anaknya pulang terlalu larut.

Di dalam pengamatan saya, ihwal rundown ini memang sesuatu yang rumit. Di satu sisi, sepengetahuan saya di manapun yang namanya konser musik tentu saja headliner akan ditaruh main paling belakang karena mereka menjadi semacam gong yang memungkasi acara hari itu. Namun, di sisi lain ini memang cukup jadi kendala bagi mereka yang membawa serta anaknya. Bayangkan saja jika kita membawa anak berusia di bawah 5 tahun dan harus pulang dari show di tengah malam! Kasihan anaknya, kan. Gaby dan Mukti misalnya mengaku bahwa mereka sebenarnya sangat kepingin menonton Mew di hari pertama. Namun, karena membawa Benji, mereka mengurungkan niatnya dan pulang lebih awal sebelum Mew main.

Baca Juga:  Eksperimen Alih Wahana dalam “Bank Pasar Rakyat”

Mengenai banyaknya protes ini, Ferry Dermawan berpendapat bahwa ia dan tim penyelenggara sudah berupaya maksimal agar festival ini tetap ramah anak. Namun, semuanya dikembalikan kepada para pengunjung sendiri—terutama yang membawa anaknya—apakah akan pulang lebih awal, atau menuntaskan Joyland hingga dini hari.

“Ada banyak hal dalam dealing dengan international artists (durasi dan urutan tampil) yang berdampak pada susunan rundown. Saya pribadi tidak akan bawa anak ke festival hingga di atas jam 9 malam, kecuali camping festival. Jadi, sulit untuk memuaskan semua orang, biarkan penonton mencari jalan ninjanya sendiri. Yang bisa kita lakukan dalam hal ini, memberi kemudahan akses re-entry untuk penonton yang datang dengan anak,” ujar Ferry.

Ketika Joyland memposting rundown terbaru mereka di Instagram. Komentar pedas masih banyak yang mampir. Salah satu akun memprotes bahwa meski sudah disediakan tempat khusus, para perokok masih banyak ditemukan merokok di beberapa area.

“Panitia @joylandfest nih kurang tegas, masa event kids friendly tapi vape sama rokok ada dimana mana sih, harusnya kan udah ada tempatnya sendiri. kasihan tau sama anak anak,” protes akun tersebut.

Kritik lain datang dari akun yang menyebut Joyland menerapkan pola draconian karena menerapkan peraturan no re-entry allowed. Artinya penonton yang sudah keluar dari venue Joyland sudah tidak diizinkan masuk lagi.

“Kebijakan Anda tentang Dilarang masuk kembali murni didasarkan pada perdagangan. Keluhan utama adalah kurangnya dukungan untuk kelompok awal karena siapa yang dengan cuaca buruk ini akan tetap berada di lokasi selama sekitar 12 jam. Sama sekali tidak ada festival lain yang pernah saya kunjungi dan ada ratusan festival yang menerapkan kebijakan kejam ini. Sekadar penegasan kembali pintu masuk, cap tangan unik saja sudah cukup. Anda kehilangan banyak penonton dengan cara ini. Dan belum lagi lineup larut malam Anda. Konyol,” jelas akun tersebut.

Pusparagam Musik yang Ditampilkan

Karena Joyland adalah festival musik, maka saya harus menjelaskan para musisi yang tampil di situ. Sejak awal memutuskan bertandang ke Joyland, saya sudah membuat daftar musisi mana saja yang akan saya tonton. Setidaknya saya wajib menyimak pertunjukan Mew, Fleet Foxes, Interpol, Alvvays, dan Otoboke Beaver.

Namun, menyimak pertunjukan selama tiga hari, saya terpukau oleh musisi-musisi lainnya. Proses kurasi musisi yang tampil oleh Joyland menurut saya bagus sekali. Banyak genre musik yang diwadahi di sini. Ferry Dermawan menjelaskan bahwa musisi-musisi yang diundang main memang sengaja dipilih dari berbagai genre agar perhelatan Joyland bisa lebih dinamis dan beragam.

“Sebagai program/music director, saya ingin joyland terbuka terhadap banyak gagasan seru. Selalu ada celah racikan antara mengejar penjualan tiket dan diimbangi memberi panggung pada musik-musik yang memiliki ide progresif,” aku Ferry.

Penampilan Mocca (Foto: Dinanti)

Beberapa yang menarik perhatian saya, pertama ada Mocca, indie darling asal Bandung yang menghibur para penonton dengan lagu-lagu hitsnya seperti “Secret Admirer” dan “I Remember”. Menariknya, Mocca juga menampilkan sebuah lagu yang “digoreng dadakan” karena dibuat khusus untuk anak-anak di area White Peacock. Tepat setelah Mocca yang tampil di hari ketiga, Sore tampil di panggung sebelahnya. Terjadi kolaborasi menarik antara sore dengan Rian, vokalis band pop D’Masiv.

Santamonica, band asal Jakarta yang baru saja comeback setelah hiatus selama beberapa tahun juga tampil dengan bagus di panggung Joyland. Totalitas mereka patut diacungi jempol. Tak hanya dari segi musik yang dimainkan, mereka memikirkan benar perkara kostum yang dikenakan, visual yang ditampilkan di layar besar, hingga penataan aksesoris panggung seperti lampu neon.

Mew tentu saja membuat saya terpukau. Saya sudah lama mengikuti diskografi mereka, dan ketika akhirnya berkesempatan menonton pertunjukan langsungnya, saya sungguh takjub. Musik Jonas dan kawan-kawan terdengar sangat megah, ini juga didukung kualitas sound system yang sungguh mumpuni.

Penampilan Mew. (Foto: Dinanti)

Satu band yang paling saya nantikan adalah Otoboke Beaver. Band punk-rock asal Jepang yang semua personelnya perempuan ini tampil dan membikin para penonton menggila dalam mosh-pit. Ini karena musik Otoboke Beaver yang intens, bertempo cepat, keras, dan dinamis.

Alvvays juga tampil memukau. Band asal Kanada ini paham benar bahwa mereka memiliki basis penggemar cukup besar di Indonesia. Makanya mereka membawakan lagu-lagu hitsnya seperti “Archie, Marry Me”, “Dreams Tonite”, dan “Not My Baby.”

The Brandals, band lokal Jakarta juga tampil memesona di panggung Lily Pad. Rock mereka yang gahar bikin para penonton gatal untuk menggerakkan tubuhnya.

Sebagai penutup di hari terakhir Joyland, Interpol tampil dengan sangat apik. Jalinan musik yang mereka mainkan sepanjang lebih dari 1 jam sungguh terdengar kalem tapi kelam. Fanbase band asal Amerika Serikat ini cukup besar. Wajar jika koor massal terjadi saat hits seperti “Rest My Chemistry” atau “Evil” dibawakan.

Baca Juga:  Membongkar Asosiasi Musik Metal dan Stigma Kekerasan dalam Metal Lords

Yang menarik, di antara para penampil yang manggung, beberapa musisi Indonesia menunjukkan concern mereka akan isu Palestina kepada penonton. Baik yang secara tidak langsung seperti Mocca dan Sore yang menampilkan grafis visual buah semangka di panggung, atau yang secara langsung seperti Santamonica yang menyinggung ihwal kemanusiaan di tengah pertunjukan. Bahkan vokalis The Brandals, Eka Annash tanpa tedeng aling-aling menyatakan dengan tegas bahwa penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina harus dihentikan.

Antara Aku, Kau, dan Rokok

Ketika hadir ke Joyland, saya tiba-tiba teringat obrolan dengan seorang teman tentang sebuah festival jazz tahunan di Yogyakarta. Festival jazz ini selalu terbuka untuk umum dan gratis. Wajar jika festival ini dapat bertahan lama tanpa menyuruh audiens menebus tiket karena salah satu sponsor utamanya adalah brand rokok.

Di festival jazz ini—dan banyak festival musik lainnya—para perokok bebas mengebulkan asap di manapun, di area apapun. Padahal banyak anak-anak yang diajak orang tuanya datang menonton. Anak-anak juga kerap berseliweran bermain bersama karibnya, di tengah kepungan asap rokok.

Ini sesuatu yang agak dilematis. Di satu sisi, brand rokok itu dengan dananya yang besar sanggup menyokong terselenggaranya festival jazz tersebut hingga penonton bisa masuk lokasi tanpa membayar tiket. Namun, di sisi lain hadirnya brand rokok sebagai sponsor utama menjadikan perusahaan rokok tersebut bebas memasarkan dan mempromosikan produknya di seluruh area festival. Ini bisa menjadi buruk karena seperti menanamkan bibit bagi para (calon) perokok baru untuk menjadi perokok aktif.

Maka ketika saya mengetahui salah satu sponsor utama Joyland adalah brand rokok, saya langsung bertanya-tanya: bagaimana cara Joyland bisa bekerja sama dengan brand rokok, namun juga mampu memaksa perusahaan rokok untuk hanya boleh memasarkan produknya di area khusus perokok yang disediakan? Karena biasanya, di festival musik lain jika sponsornya rokok sudah pasti para sales promotion girl (SPG) brand tersebut akan berkeliaran di seluruh area acara dan menawarkan produk mereka.

Di Joyland lain ceritanya. Merokok di sembarang area sangat dilarang, termasuk di area panggung utama. Bagi mereka yang ingin mengisap rokok atau vape harus datang ke area khusus yang disediakan. Area itu dijaga dengan ketat sehingga hanya orang dewasa yang boleh masuk untuk merokok.

Menurut Ferry Dermawan, sejak dari awal menjalin kerja sama dengan brand rokok, sudah ada kesepakatan bahwa perokok hanya boleh nyebats di area khusus yang tersedia di beberapa titik venue, dan untungnya brand rokok itu tidak keberatan dengan kesepakatan tersebut.

“Kami di Plainsong Live sejak 2019 selalu mencoba untuk bentuk environment festival yang teratur, harapannya penonton bisa saling menghargai hak-hak orang lain. Baru sejak 2023 ini kami masuk sponsor rokok, yang ketika brand tersebut masuk sudah sangat aware kalau Joyland selalu membuat designated area buat perokok, jadi sama sekali tidak ada kendala / pembahasan panjang dari kami dan brand ketika dealing, karena sudah tahu aturan mainnya,” jelas Ferry.

Absennya perokok dari area Joyland memberi keuntungan bagi para penonton yang tidak merokok, terutama yang membawa anak-anak. Gaby misalnya menjelaskan terbantu sekali oleh peraturan ini. “itu bener-bener bantu kita sih karena kan selama ini ruang publik selalu dipenuhi sama smoker, sebenarnya enggak ada masalah, cuma sekarang karena posisinya kita sudah punya anak ya jadi tuh concern juga buat kita sih,” pungkas Gaby.

***

(Foto: Dinanti)

Jadi, setelah hadir ke Joyland Festival 2023 selama 3 hari, apakah saya bisa menyimpulkan perhelatan ini inklusif? Saya rasa Joyland sudah cukup berupaya keras mewujudkan festival musik yang inklusif.

Mereka sudah berupaya keras menciptakan festival musik yang ramah bagi semua kalangan. Plainsong Live selaku promotor juga sangat berusaha memberikan kenyamanan kepada para penonton, misalnya dengan hal yang kelihatan sepele seperti menyediakan air minum gratis untuk para audiens, termasuk dengan sigap membuat tempat berjalan dadakan yang terbuat dari kayu dan triplek di hari kedua. Jalan darurat ini penting karena setelah diguyur hujan di hari pertama jalanan menuju stage becek dan penuh lumpur.

Banyaknya komentar atau kritik yang masuk justru menjadi sebuah masukan yang bagus sekali untuk Joyland agar di penyelenggaraan berikutnya mereka bisa memperbaiki hal-hal yang diprotes banyak orang tersebut.

Saya pribadi merasa nyaman dan berbahagia sekaligus bersyukur bisa menikmati Joyland selama 3 hari. Perjuangan saya dari Yogyakarta menuju Jakarta terbayar lunas, dan jika Joyland diadakan lagi tahun depan, rasanya saya akan hadir kembali untuk menikmati musik-musik bagus, dan mengawal apakah festival musik ini akan tetap menjadi acara yang inklusif, sekaligus ramah untuk semua kalangan.

Related posts

Takut Mati dengan Berani bersama Majelis Lidah Berduri

Aris Setyawan

Biennale Jogja 17 dan Titen: Sebuah Usaha untuk Mempertajam Kepekaan

Ismail Noer Surendra

Elegi Kisah ‘Pembangunan’ dalam Bunga Trotoar

Michael H.B. Raditya

Tinggalkan komentar

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy