Yang Terungkap Lewat Ratapan

Bagaimana jika orang Papua mengungkapkan kisah tentang kampung halamannya melalui karya seni rupa?

Albertho Wanma (30) dan Ignasius Dicky Takndare (28), dua perupa asal Papua, menjawab pertanyaan itu dengan memamerkan karya mereka di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, pada 15 – 23 Oktober lalu. Selama sepekan, mereka memamerkan karya berupa lukisan, patung, instalasi serta performance art yang berkisah tentang kampung halaman mereka.

Melihat karya-karya itu, beragam kesan langsung mengepung pikiran, dan terutama perasaan. Kesan yang teramat kuat terasa adalah bahwa karya-karya itu tampak dibuat dengan segenap upaya dan pemikiran. Saat mengamatinya lebih dekat, karya-karya itu terasa mencabik-cabik perasaan.

Mari mendekat ke tiga lukisan karya Dicky yang dipajang berjajar di salah satu sudut ruang pamer. Lukisan di bagian tengah menampilkan raut wajah seorang mama Papua dengan garis-garis muka yang menyimpan begitu banyak cerita. Ana ye Ana, judul karya itu. Samar air mata menetes dari salah satu sudut matanya. Tetapi tatapan mata itu kosong. Kedua tangannya diangkat hingga ke depan dada, seperti sedang berdoa, sekaligus seperti sedang mempertanyakan sesuatu. Terlebih ketika melihat jemari di salah satu tangan itu yang tak lagi utuh, bekas dipotong, wujud cinta seorang mama terhadap keluarganya yang meninggal. Noken atau tas rajutlah yang mestinya dipasang di kepalanya. Namun, dalam lukisan itu noken telah berganti tas plastik.

Di sebelah kiri lukisan itu, ada raut wajah seorang lelaki belia yang diberi judul Besohathe. Matanya yang menatap tajam mengungkapkan banyak hal. Namun, mulutnya terkatup rapat oleh jahitan benang. Di dahinya ada jeruji penjara.

Sedangkan di sebelah kanan lukisan mama, tampak raut muka seorang pemuda berbibir tebal. Tak ada penjara atau jahitan benang di wajahnya. Namun, sudut keningnya telah ditandai sebagai sasaran tembak senjata otomatis. Judul karya itu Silent Target #2.

Ketiga lukisan itu sunyi. Sosok-sosok yang menyimpan dukanya sendiri. Namun, duka itu ternyata menular dengan cara menyelinap diam-diam. Dalam sunyi, ketiga karya itu justru mampu menyampaikan banyak cerita yang tak terungkapkan.

Bergeser ke tengah ruang pamer, ada patung berbentuk gitar dengan ukuran yang lebih besar dibanding gitar pada umumnya. Alih-alih dilengkapi senar, tubuh patung fiber setinggi 1,2 meter itu berisi rongga mulut yang terbuka, seperti sedang berteriak keras. Gagang gitarnya diganti dengan lengan berotot yang mengepal penuh keyakinan.

Karya Bertho yang berjudul Fafisu Mambesak itu merangsang pengunjung untuk mengetahui maknanya. Rupanya, karya itu berangkat dari cerita tentang kelompok musik bernama Mambesak yang dibentuk pada akhir tahun 1970-an. Lagu-lagu kelompok ini dianggap kritis, misalnya mengangkat soal politik maupun kerusakan lingkungan akibat tambang, sehingga Arnold Ap, tokoh utama kelompok Mambesak, ditahan hingga akhirnya meninggal akibat tembakan di punggungnya. Meski begitu, Mambesak menjadi semangat yang menginspirasi kelompok musik lain setelahnya.

Beranjak ke ruang lainnya, Bertho dan Dicky membuat karya instalasi yang pada pembukaan pameran dihidupkan melalui karya performance art. Dalam ruangan itu, mereka menyusun batangan-batangan emas hingga membentuk ranjang setinggi sekitar setengah meter. Di atas ranjang itu, ada sesosok mayat yang ditutupi kain putih. Di tembok seberang ranjang, ada layar putih yang disorot lampu. Pada layar itu, saat melakukan performance Dicky menuliskan berbagai kata yang tersimpan di benaknya tentang Papua : Wasior, Abepura, Pepera, Mambesak, …

Karya performance itu diberi judul Remahili, yang sekaligus menjadi judul dari pameran ini. Kata remahili diambil dari bahasa Sentani yang berarti ratapan. Ini merujuk pada tradisi meratap ketika ada keluarga yang meninggal. Mereka meratap untuk mengungkapkan duka mendalam yang tak tertahankan.

Selain karya tersebut, lukisan maupun patung lainnya menggambarkan suasana serupa. Dicky yang telah lulus dari jurusan seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta setia bercerita dengan lukisan wajah dan sejumlah karya instalasi. Sementara Bertho yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan patung ISI Yogyakarta mengangkat patung-patung bercorak Papua dengan memberi pemaknaan baru atasnya. Total ada 16 karya yang mereka pamerkan.

Ratapan politik

Setiap karya mewakili ratapan yang berbeda, sekaligus menggambarkan kompleksnya penyebab duka orang Papua. Sebab ketika memutuskan memilih tema ratapan Papua dalam pameran ini, mau tidak mau, kedua perupa memang mesti mengangkat persoalan kemanusiaan di Papua. Tak hanya ratapan duka akibat kehilangan keluarga, namun juga karena kehilangan tanah, air, kekayaan alam, kebebasan, kebudayaan juga kemerdekaan.

Berbagai jenis ratapan itulah yang rupanya menjadi inti kegelisahan kedua perupa. Berbagai isu yang barangkali masih dianggap sensitif tentang tentang Papua pun muncul, meski tidak disampaikan dengan frontal : kematian aktivis, musisi, pelanggaran hak asasi manusia hingga penderitaan warga di tengah kekayaan sumber daya alam. Melengkapi pesan itu, mereka meminta Anti Tank yang kerap mengangkat isu sosial dan politik dalam karyanya membuka pameran.

Melalui lukisan, patung dan instalasi, pengunjung seperti diajak untuk memahami apa yang terjadi di Papua. Dua perupa itu seperti ingin mengatakan, jika informasi yang Anda terima tentang Papua terasa meragukan, carilah sumber yang bisa dipercaya : salah satunya adalah orang-orang Papua itu sendiri.

Ketika orang Papua bercerita tentang segenap peristiwa kemanusiaan yang terjadi di kampung halamannya, maka cerita itu tidak mungkin khayal. Karya-karya itu adalah kisah yang tidak saja mereka dengar, tetapi juga rasakan.

Mengutip pernyataan Romo Sindhunata sesaat sebelum pembukaan pameran, karya seni yang berbicara soal Papua ada banyak. Namun, ketika karya itu dibuat oleh perupa Papua, maka rasa dan kedalamannya menjadi berbeda.

Pameran yang dikuratori Andre Tanama ini disebut sebagai pameran seni rupa pertama bertema Papua yang digelar oleh perupa Papua di Yogyakarta. Meski data ini perlu dicek kembali, namun  setidaknya dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sejumlah anggota komunitas Papua di Yogyakarta yang hadir dalam pembukaan pameran tersebut pun merasa belum pernah menemukan pameran serupa.

Dua perupa Papua ini bisa dianggap membuka pintu bagi apresiator karya seni, khususnya di Yogyakarta, untuk mengulik informasi lebih banyak tentang seni Papua. Pula, mereka membuka pintu bagi perupa Papua lainnya untuk berkisah. Kisah-kisah yang masih tersembunyi dari khalayak umum, terutama di luar Papua.

Maka, dengan melihat karya-karya tersebut secara langsung, barangkali kita akan menemukan kisah-kisah lainnya, sekaligus terdorong untuk mempertanyakan banyak hal tentang Papua.

Idha Saraswati

Idha Saraswati

Peminat seni, budaya dan media. Bisa dihubungi di jatisaras@gmail.com.
Idha Saraswati

Latest posts by Idha Saraswati (see all)