Teater Kecil Kota & Ingatan

Kelompok musik asal Yogyakarta Kota & Ingatan baru merilis lagu bertajuk “Alur” awal Juni lalu, tepatnya pada Jumat (10/6). Lagu berdurasi tiga menit ini dapat diunduh dan didengarkan secara bebas di situs layanan musik daring soundcloud.

Kota & Ingatan terdiri dari manusia dengan nama: Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Manusia yang bermusik di Kota & Ingatan mafhum bahwa mereka lahir di dunia modern yang terkadang menganggap manusia sekadar sebuah deretan angka dan statistik. Kota & Ingatan mengamini bahwa anekdot klasik apalah arti sebuah nama menjadi sangat relevan di masa sekarang.

Kuintet yang lahir di Yogyakarta yang kian menjelma urban ini sadar benar bahwa mereka adalah bagian kecil dari keterasingan manusia modern. Refleksi itu terungkap dalam blog mereka : “Masih bagian dari nomor-nomor yang tak penting dalam indeks yang telah sesak-tersimpan di deret kantor catatan sipil yang nomor-nomornya tak pernah diciptakan untuk menyusun kode urutan. Nomor-nomor yang tak pernah membangun tatanan, demikian keluarga kecil ini: nomor yang tak penting pada tatanan macam apa pun.”

Maka bagi Kota & Ingatan, proses bermain musik adalah semacam upaya mendokumentasikan. Kota & Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi dan rencana-rencana yang beterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu pesta untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat. Mencatat guna mengingat.

Musik rekaan mereka bukan sekadar jalinan nada dan irama. Musik mereka adalah catatan, semacam jurnal dari apa yang terjadi di dunia sekitar.

“Sejauh ini Kota & Ingatan lebih kayak memainkan naskah, dan musik kami adalah teater. Semangat kerja di Kota & Ingatan itu seperti teater,” kata pelafal teks Aditya Prasanda.

Jika diperhatikan secara seksama dari aransemen musik dan jalinan syair dalam lagu Alur, tepat kiranya jika Aditya menyebut Kota & Ingatan bak sebuah teater. Dibalut dengan aransemen musik bernuansa distopia, padu padan raungan dua gitar listrik, dentuman bass, dan hentakan drum, lirik lagu ini bercerita tentang kekerasan yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

Kota & Ingatan memperlakukan lirik dalam musiknya sebagai naskah dalam teater, maka mereka tidak menceritakan dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling ihwal kekerasan tersebut. Artinya mereka tidak menyebut nama, peristiwa, dan tempat kejadian.

Meskipun sebenarnya menurut Aditya, Alur menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di Yogyakarta. “Kami mencatat kejadian-kejadian yang dialami teman-teman di Survive Garage dan IAM, itu membantu kami memahami kembali seperti apa sih pandangan awal kami tentang kekerasan,” jelasnya.

Kejadian gropyokan di Survive Garage terjadi bulan awal April silam. Aparat kepolisian beserta sejumlah massa yang mengatasnamakan dirinya ormas agama tertentu membubarkan paksa acara Lady Fast 2016 di ruang komunitas seni Survive Garage. Kegiatan kesenian yang diselenggarakan di sebuah rumah di kawasan Bugisan, Bantul, itu dibubarkan dengan tudingan mengganggu kenyamanan masyarakat dan tidak memiliki izin.

Selang satu bulan pasca pembubaran paksa di Survive Garage, pada akhir Mei, sebuah pameran seni rupa bertajuk “Idola Remaja Nyeni” yang diselenggarakan di Independent Art Management (IAM) juga dipaksa bubar oleh sekelompok ormas. Massa ormas menuding pameran ini bagian dari kampanye LGBT. Meski ternyata pihak ormas tidak mampu membuktikan tuduhannya, mereka tetap menyasar beberapa karya lukis di pameran yang menurut mereka mengandung unsur pornografi. Pihak kepolisian kemudian mengangkut beberapa karya ke kantor polisi.

Alih-alih menghadirkan secara utuh realita tentang kejadian gropyokan dua ruang kesenian alternatif Survive Garage dan IAM oleh sekelompok ormas dalam lirik Alur, Kota & Ingatan memilih untuk menjadikannya sebuah naskah yang subtil.

Sebaris bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini” terdengar subtil, namun sesungguhnya secara bernas menjabarkan bagaimana kekerasan bekerja. Ia meneror manusia dalam sebuah ruang, mengurungnya, sehingga manusia tersebut tak bisa keluar.

Sekasar apapun gropyokan yang kerap terjadi di ruang-ruang alternatif Yogyakarta belakangan, mereka yang berkepentingan di ruang itu tak akan meninggalkan ruangnya, kotanya, karena hidup mereka ada di sana.

Akhirnya, ketakutan gropyokan itu harus diterima. Diamini. Setali tiga uang dengan apa yang terjadi di masa lampau, saat sebuah rezim berkuasa menyebar benih kekerasan agar terjadi ketakutan massal. Atau dalam istilah Kota & Ingatan: “semua seperti biasa; seperti hari kemarin…”

Dalam amatan Kota & Ingatan, rezim lalim boleh tumbang, namun kekerasan kian santer terdengar. “Kini tumbuh melalui ormas-ormas yang mengakuisisi ruang publik dengan dalih agama dan kepentingan warga. Kekerasan menjadi perangkat untuk membuat masyarakat takut dan patuh,” jelas Aditya.

Kota & Ingatan tak sekadar mengamati dan mencatatkan hasil amatannya ke dalam musik, mereka juga berani dengan lantang menunjukkan sikap menolak terhadap sesuatu yang menurut mereka tidak adil. Sikap ini dapat dilihat saat Kota & Ingatan dengan tanpa tedeng aling-aling menyatakan kekecewaan atas keterlibatan perusahaan tambang Freeport sebagai sponsor perhelatan seni ArtJog 2016.

Minggu malam (5/6) saat tampil di atas panggung kapal perhelatan seni rupa Mandiri ArtJog 2016, Kota & Ingatan dengan lantang menunjukkan sikap tidak setuju atas keterlibatan perusahaan tambang Freeport sebagai penyumbang dana.

Sebenarnya mereka tidak sendiri. Sepekan sebelumnya, kelompok musik Dendang Kampungan melakukan hal yang sama: tampil di panggung ArtJog 2016 dan melontarkan protes terkait keterlibatan Freeport sebagai sponsor.

Sebagai sebuah band yang baru tumbuh dan memulai proses meniti karir, protes keras di panggung ArtJog bisa dibilang aksi yang cukup berani. Terlihat bahwa Kota & Ingatan siap dengan segala konsekuensinya, bahwa mereka bermusik bukan untuk mendapatkan keuntungan nominal atau ketenaran. “Kita bermain tapi tidak mengambil apapun dari sana. Dan menunjukkan sikap dengan menyatakan penyesalan kenapa harus ada keterlibatan Freeport di ArtJog (2016),” jelas Adit mewakili rekan bermusiknya.

Lebih lanjut Adit mengungkapkan bahwa kesenian tidak bisa lepas dari sendi-sendi kemanusiaan. Menurutnya, Freeport adalah salah satu perusahaan yang dilaporkan telah melanggar hak-hak kemanusiaan dalam praktik bisnisnya. “Kami menyayangkan perhelatan seni (ArtJog) yang melibatkan Freeport sebagai salah satu penyokong dananya. Freeport jelas bertanggungjawab atas pemberangusan kehidupan rakyat Papua hingga ke akar-akarnya, hingga perusakan lingkungan hidup,” terangnya.

Penyair klasik Dante pernah mengatakan bahwa ceruk terdalam neraka akan dihuni oleh mereka yang diam saat terjadi krisis moral. Tak ada yang tahu pasti rupa ceruk neraka itu. Namun yang pasti, melalui karyanya Kota & Ingatan memilih untuk tidak diam dan menunjukkan sikap. Sekecil apapun sikap itu, seperti yang mereka lakukan di panggung ArtJog 2016. “Ini adalah hal kecil yang bisa kami lakukan dengan cinta yang besar,” pungkas Adit.

Dunia ini panggung Sandiwara. Itu adalah selarik syair yang begitu familiar bagi mereka yang tumbuh di era 90-an. Nukilan dari lagu Panggung Sandiwara yang dinyanyikan oleh almarhum Nike Ardilla.

Sandiwara, tonil, teater. Semuanya adalah padanan kata yang mengacu pada sebuah seni pertunjukan lakon atau cerita.

Sengkarut kisah dalam kehidupan bak sebuah panggung sandiwara. Plotnya sukar ditebak, berubah seiring waktu. Pun Kota & Ingatan menganalogikan diri mereka sebagai lakon yang memainkan naskah sandiwara dalam bentuk musik. Naskah itu adalah saripati kehidupan manusia dan dunianya.

Setelah memainkan naskah Alur dengan cerita getir dunia kita yang penuh dengan kekerasan, saat dirilis kelak, naskah-naskah lain dari teater kecil Kota & Ingatan tentu akan semakin mengobrak-abrik kenyamanan hidup pendengarnya tatkala menyadari: dunia ini tidak baik-baik saja.

Aris Setyawan

Aris Setyawan

Etnomusikolog dan musikus. Baru saja menerbitkan buku pertamanya "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017. Warning Books/Tan Kinira Books). Bisa dihubungi di surel arisgrungies@gmail.com, instagram setyawanaris, atau twitter @arissetyawan. Bercerita di arissetyawanrock.wordpress.com
Aris Setyawan

Latest posts by Aris Setyawan (see all)