Kata Mereka tentang Nobel Sastra Dylan

Keputusan panitia Nobel memilih Robert Allen Zimmerman atau Bob Dylan sebagai penerima Nobel Sastra 2016 menimbulkan kontroversi. Pro dan kontra merebak di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Sementara pro dan kontra itu begitu ramai, sejumlah media di Amerika Serikat maupun Inggris melaporkan bahwa hingga sepuluh hari pascapengumuman Nobel itu disampaikan, Dylan belum memberikan respons. Lelaki 75 tahun itu bahkan diberitakan belum bisa dikontak Swedish Academy yang menjadi panitia Nobel. Apakah Dylan akan menambah daftar barisan penolak penghargaan seprestisius Nobel?

Tetapi, terlepas dari sikap Dylan terhadap penghargaan yang diberikan kepadanya, pro dan kontra kadung merebak, tidak hanya pada soal apakah Dylan layak atau tidak, namun juga merembet ke soal definisi sastra. Misalnya, apakah lirik lagu itu bisa disebut sebagai karya sastra?

Kami mencoba menanyakan pendapat sejumlah musisi dan penulis, baik itu penulis novel, puisi maupun naskah teater yang sebagian besar tinggal di Yogyakarta. Narasumber kami pilih secara acak dengan jumlah yang tidak ditentukan. Dengan demikian, tidak ada upaya untuk menyeimbangkan jumlah musisi dan jumlah penulis yang menjadi narasumber. Setelah mengirim pertanyaan acak ke sejumlah nama, tidak semuanya memberi respons. Beberapa mempersilahkan pendapatnya yang sudah lebih dulu disampaikan melalui media sosial untuk dikutip. Inilah pendapat mereka.

Sabina Tiphani (musisi/Agoni) :

Begitu mendengar Dylan menerima Nobel Sastra, aku langsung mencoba membayangkan apa yang mungkin aku rasakan kalau lirik-lirik Dylan dibacakan seperti puisi, dan tidak dinyanyikan seperti yang biasa kudengar/kulakukan. Aku langsung ingat Rendra. Lirik-lirik Dylan terasa tidak kalah menawan dengan puisi-puisi besar yang pernah kubaca. Tapi lirik-lirik Dylan jadi dikenal khalayak karena musik yang mengiringinya. Jadi rasanya tidak relevan kalau Dylan dihadiahi Nobel Sastra, karena sejauh aku tahu, karya sastra itu kegelisahan manusia disampaikan dalam bentuk teks, bukan teks dan musik. Semestinya Nobel Sastra diberikan pada orang yang memang berkutat di bidang sastra, bukan musik atau bidang-bidang lain. Tampaknya kan masih banyak juga sastrawan yang punya karya yang besar pengaruhnya, tapi belum dianugrahi Nobel.

Irwan Bajang (penggiat sastra, pendiri IndieBook Corner) :

Dylan tetaplah penyanyi, musisi, ia bahkan mungkin tidak pernah menyebut dirinya, atau karyanya, atau merasa diri golongan sastra dan sastrawan. Jika kategori ini menjadi begitu gampang dilebarkan, bisa jadi nanti sutradara film tentang antariksa yang syuting untuk bikin duplikasi planet pluto juga layak mendapatkan Nobel Fisika. Bisa jadi padepokan tenaga dalam dan ruwat juga akan bisa mendapat Nobel Kesehatan. Kalau mau adil, batasan-batasan itu harus dikaburkan semua secara total untuk semua kategori.

Bob Dylan memang menyusun banyak lirik lagu puitis, ia juga dikenal sebagai penulis lagu dan pemusik yang dekat dengan isu kerakyatan. Selama 1962, Dylan mulai menulis sebagian besar lagu asli, banyak di antaranya adalah lagu-lagu protes politik merespons jaman di mana ia berkarya. Lagu-lagu tersebut misalnya bisa kita lihat pada album keduanya The Freewheelin’ Bob Dylan. Tapi ia bukan penyair, ia adalah pemusik. Ia sendiri bahkan tidak pernah menyebut dirinya sekadar penyair yang bernyanyi, apalagi penyair. Memberikan label sastrawan padanya hanyalah membantu ia tinggi hati, mencederai yang lain. Dalam tataran tertentu, jika penghargaan Nobel sastra dikategorikan hak, maka Dylan mengambil apa yang bukan haknya. Komite Nobel mengambil hak golongan lain dan memberikannya pada orang yang salah.

Sudah pantaskah Dylan disejajarkan dengan Hemingway, Kawabata, Hamsun, Coetze, Naipul, Neruda, Marquez, Faulkner, dan nama-nama sastrawan lainnya? Karya sastra yang mana, buku yang mana yang membuatnya harus disebut sastrawan? Apa kabar kritikus sastra yang bahkan tidak pernah masuk sebagai kandidat?

Aditya Prasanda (Musisi/Kota dan Ingatan) :

Terus terang saya bukan pendengar Bob Dylan. Sejauh ini hanya satu Bob yang teksnya membekas dan setiap lagunya saya dedah: Bob Marley.

Ada banyak pertanyaan yang memburu kepala saat pertama mendengar kemenangan Dylan. Sebagai orang yang juga menulis teks lagu, kemenangan Dylan bagi saya memberi ruang dialog baru pada dunia musik dan dunia penulisan. Dalam musik, tidak seperti halnya dunia film yang memiliki penganugerahan khusus, baik penulis naskah dan film terbaik, selama ini—sepengetahuan saya—hanya terdapat penghargaan bagi lagu dan penulis lagu. Tidak pernah ada penghargaan untuk penulis “teks” lagu sepanjang sejarah peradaban penganugerahan musik. Padahal jika film ibarat satu paket komplit, ia akan berbanding lurus dengan sebuah lagu yang berisi aransemen musik dan teks. Peran penulis naskah dalam film persis seorang penulis teks dalam lagu.

Kebiasan ini, boleh jadi, muncul karena teks dalam lagu selalu tertutup oleh konteks musik yang melihat sebuah musik yang memiliki lirik sebagai kesatuan lagu yang utuh. Betapapun dalam tradisi kritik musik populer selalu meluangkan teks lagu dalam perbincangannya. Ini ironis, karena teks dalam lagu akan selalu dikesampingkan, betapapun teks seorang Marley atau Dylan begitu membekas di hati banyak orang. Lagunya dipergunakan untuk memompa semangat perlawanan kepada ketidakadilan. Penggalan liriknya direpro pada karya-karya seni yang akbar hingga emblem jaket para pemuda di pelosok negeri. Lebih bergema ketimbang karya-karya tulis lain, baik pada tumpukan buku sastra, sejarah maupun bacaan populer. Sebagai media, musik memang lebih luwes dan cair. Namun kenyataannya, teksnya tertutup oleh lagu. Dan bentuk paling sederhananya, diskusi kritis tentang teks dalam lagu, tentang konteks dan latar belakangnya, tentang sebuah teks itu sendiri yang bisa begitu menohok dan menjadi senjata, bukan topik yang menarik di kalangan pemusik dan pemikir musik. Jika enggan disebut hanya seperti do’a yang diamini pendengar setianya masing-masing.

Hal ini pula yang menjadikan kenapa teks dalam musik, tidak punya perputaran wacana yang sengit dan khas, seperti halnya sastra dan teater. Karena di dunia akademis, musik sekalipun, teks dalam musik adalah hal kesekian. Saya jadi berpikir, banyak penulis lirik yang bagus memiliki tradisi berpikir dan referensi yang berkembang di luar dunia musik itu sendiri. Pada kasus Dylan misalnya: ia seorang penulis teks yang bagus, bisa menyanyikan teks dengan apik, berbekal referensi tekstual yang bermacam rupa, ditambah kepekaan sosial dan kemampuan bermusik yang mumpuni. Ia kadung dikenal sebagai seorang musisi. Mungkin orang lupa jika enggan mengakui bahwa Dylan juga seorang penulis yang baik.

Hal ini yang menjadi soal baru dalam jagad penulisan, sehingga timbul pertanyaan: “apakah penulis lagu akan selalu dikesampingkan dari dunia tulis-menulis, seperti halnya para penulis novel erotis dan kiat membudidayakan ikan cupang?” Karena saya pikir, kriteria-kriteria yang diciptakan tentang “literature” itulah yang menyempitkan tafsiran tentang dunia tulis menulis yang begitu luas sebenarnya.

Ronny Agustinus (penggiat sastra, pendiri Penerbit Marjin Kiri) :

Tentu saja tak semua harus sepakat dengan keputusan Komite Nobel, tapi beberapa komentar ketidaksetujuan ternyata hanya menunjukkan ketidakpahaman pengucapnya sendiri ketimbang sebuah argumentasi yang jelas untuk menolak mengapa Bob Dylan tidak pantas menerima hadiah Nobel Sastra.

1. Ketidakpahaman pertama adalah tentang kriteria. Komite Nobel punya kriteria yang—meskipun disusun sudah lama sekali—ternyata jauh lebih luas dibanding pemahaman kita yang lebih sempit tentang “literature”. Tidak disebut sama sekali bahwa pemenangnya harus “sastrawan” (dalam pengertian sempit kata itu); bahkan tidak disebutkan bahwa harus novel atau puisi atau esai atau apalah pengkotak-kotakan itu. Bob Dylan dipilih karena lirik-liriknya (yang adalah puisi yang sungguh kuat, tanpa perlu dia menulis satu buku khusus puisi—meskipun dia memang pernah menulisnya), seperti Churcill dipilih karena pidato-pidatonya atau Russell dipilih karena esai-esai filsafatnya (tanpa pernah keduanya mengarang “sastra”). Jelas tidak banyak yang tahu pula bahwa selama ini memang banyak orang-orang di luar “sastrawan” yang masuk nominasi hadiah Nobel Sastra, misalnya Adorno (filsuf), Arnold Toynbee (sejarawan), Ramón Menéndez Pidal (kritikus sastra), Martin Buber (teolog) dll. Jadi meski terasa mengejutkan, Dylan bukan yang pertama atau sesuatu yang benar-benar baru dalam tradisi Nobel.

2. Ketidaktahuan tentang lirik-lirik Dylan sendiri, yang mungkin karena berbentuk lagu (baca: karya populer), jadi tidak dipandang sebagai puisi serius (sampai-sampai ada redaktur penerbit di Indonesia ini bilang kalau gitu Taylor Swift juga bisa menang Nobel). Jelas orang ini tidak pernah mendengarkan Dylan dengan puitis membela kulit hitam yang dijatuhi hukuman mati atas kejahatan yang tidak ia lakukan (dalam “Hurricane”), atau mempertanyakan nasib atlet-atlet tinju amatir yang mati karena kapitalisme olahraga (dalam “Who Killed Davey Moore?”), atau menohok keras McCarthyisme AS (dalam “Talkin’ John Birch Paranoid Blues”). Tentunya si redaktur juga tidak tahu bahwa jauh-jauh hari Cambridge telah menerbitkan “The Cambridge Companion to Bob Dylan” (sebuah seri buku pegangan yang hanya diperuntukkan bagi penulis-penulis dan seniman-seniman besar).

*catatan : ini uraian yang jelas bias dari seseorang yang pernah selama beberapa tahun dalam periode hidupnya (1996-1999) hanya mau mendengarkan Bob Dylan, Tom Waits, dan The Pogues

Tiaswening Maharsi (penulis cerpen) :

Menurutku semua orang yang menggunakan bahasa sebagai alat penyampai pesan telah berkarya/menghasilkan karya bahasa, tak peduli apakah dia seorang penulis atau bukan. Masalah ada syarat dalam kategori tertentu dalam penganugrahan—dalam hal ini Nobel—itu hal lain. Tentu tak masalah Dylan atau misalnya Joni Mitchel yang mendapat penghargaan. Toh misalnya kategori di luar sastra memberikan Nobel pada seorang sastrawan atau penulis juga tak jadi soal, Nobel perdamaian misalnya, karena pesan yang begitu kuat memberikan sumbangsih besar pada perdamaian dunia misalnya. Efeknya buat sastra secara langsung apa, ya yang bisa dilihat sekarang para pencinta sastra kebanyakan tidak puas, mungkin merasa Nobel sastra jadi berkurang maknanya.

Buat aku pribadi justru menyenangkan, karena karya bahasa seharusnya memang seluas itu. Nggak cuma novel, cerpen, puisi. Bisa juga pidato (pernah to ada yang mendapat Nobel karena pidato), lirik lagu kali ini. Song writing tidak bisa dikategorikan sebagai literature, karena kita tak hanya membicarakan lirik tapi ada nada di sana, terus kadang malah sonder lirik. Nah kalau lirik saja, bisa dimasukkan saya kira, ia bisa lepas dari lagu, berdiri sendiri, mempunyai makna sendiri. Karena saya pribadi nggak jarang suka suatu lagu karena liriknya, bahkan jauh sebelum saya dengarkan lagunya. Sekuat itulah bahasa.

Erie Setiawan (musikolog, pendiri Art Music Today) :
Awalnya cukup lumayan kaget dan kemudian mengikuti perkembangan berita ini pelan-pelan. Ada pro dan kontra. Tentu saja bagi saya pribadi yang lebih sebagai penggemar lagu-lagu Dylan, ini suatu fakta menarik, dan wajar-wajar saja karena saya tidak pernah mengamati dengan seksama perjalanan Nobel ke Nobel. Barangkali ini suatu terobosan juga bagi yang memberinya Nobel.

Efek buat musik menurutku bisa memberikan pancingan yang serius tentang proses kreatif dalam dunia song writing… dari mulai penguasaan atas bahasa hingga perwujudan ekspresinya. Ini tidak mudah karena menyangkut gramatikal musik itu sendiri.

Yang menjadi poin penting adalah pada kesadaran proses kreatifnya. Pada fase sejarah musik barat abad ke-18 akhir dan 19 awal, pada waktu itu banyak sekali bermunculan lagu-lagu puitik seperti misalnya karya Frans Schubert, perhatian terhadap teks lagu (yang tidak hanya sekadar kata-kata biasa namun puisi), semakin meningkat. Musik dan syair adalah untuk jiwa. Tentu saja ini bukan sekadar aktivitas “song writing” biasa yang pemahamannya hanya sebatas memberi melodi dan ritme pada susunan kata-kata. Menurut saya, selagi kepenulisan lagu tersebut memang memiliki niat dalam bingkai kaidah-kaidah sastrawi yang dipikirkan serius, saya kira bisa mengarah ke literatur, seperti jika kita komparasikan dengan Macapat atau Kekawin yang berkembang di Jawa.

Leilani Hermiasih (musisi/Frau) :

Aku bukan Dylan-enthusiast, bukan ahli kata-kata apalagi literature, jadi jawabanku akan sangat sederhana. Aku termasuk golongan besar yang merayakan kemenangan Dylan, mungkin karena aku percaya kalau lagu sebagai kesatuan kata, irama, dan nada memang bisa memiliki efek luar biasa besar dalam menyampaikan pikiran dan perasaan.

Kupikir momen ini bisa jadi penanda bahwa kita sudah melampaui batasan-batasan konvensional (setidaknya dalam hal ini terkait media) dalam kategorisasi bidang-bidang seni, baik dengan menciptakannya maupun mengapresiasinya.

Dewi Kharisma Michellia (penulis novel) :

Kupikir kemenangan Bob Dylan jadi kontroversial karena faktor transparansi penjurian yang terkait pada kriteria penilaian. Dan perlu jadi catatan, sepanjang sejarahnya Komite Nobel sudah sering memicu kontroversi. Dalam kasus Dylan, terutama sekali, kontroversi dititikberatkan pada latar belakang Dylan: apakah dia seorang pemusik atau penyair? Seberapa persen dia penyair, seberapa persen dia pemusik?

Untuk memisahkan dua posisi itu sama sekali enggak mungkin karena alasan kemenangannya adalah bahwa dia sudah menghadirkan kebaruan dalam ekspresi puitis tradisi bermusik Amerika Serikat. Tapi toh dia lebih dikenal sebagai pemusik. Jadi ketika orang-orang mendebat bahwa jumlah penghargaan di bidang musik jauh lebih banyak dibandingkan di bidang sastra, kupikir kemenangan ini kemudian layak saja jadi persoalan, terlepas apakah lirik-lirik lagu Dylan jauh lebih indah daripada karangan-karangan Murakami, Adonis, ataupun Roth yang masuk bursa taruhan Nobel tahun 2016 ini.

Persoalan ini justru bikin kita lebih kritis, sebetulnya, untuk mempertanyakan kelenturan idealisme Nobel yang mereka gadang-gadang sejak Prudhome menang. Kalau mereka bisa lentur saja dengan profesi, selain memenangkan seorang pemusik, mereka pernah memenangkan seorang perdana menteri, Churchill, dan segelintir filsuf yang murni menang berdasarkan risalah filsafatnya, seperti Bergson, Eucken, dan Russell, apakah selanjutnya mereka bisa lentur soal kemerataan warga negara penerima penghargaannya? Sejauh ini, pengarang di Asia Tenggara tidak pernah memenangkannya.

Tetapi sebenarnya menang atau tidak ya enggak apa-apa juga, karena toh banyak penulis brilian justru dilewatkan penghargaan ini: Tolstoy, Orwell, Borges, Joyce, Chekhov, Nabokov, Twain, Wilde, dan Ibsen misalnya. Padahal kita tahu apa yang sudah mereka sumbangkan bagi dunia.

Gisela Swaragita (musisi/Seahoarse) :

Pertama-tama aku mau bikin disclaimer bahwa aku enggak melihat diriku sebagai ahli susastra yang bisa dan mau kurang kerjaan mengkategorikan ini itu. Bahkan ada gitu lho orang yang debat bahwa seri Harry Potter itu bukanlah suatu jenis literatur. Kan kurang gawean.

Kalau di fakultasku, aku sudah melihat beberapa seniorku meneliti lirik lagu menggunakan teori-teori sastra, mengkategorikannya sebagai puisi (poem), dan nyatanya penelitian-penelitian tersebut berhasil dan bermutu.

Kupikir sah-sah saja dan pantas-pantas saja jika songwriter mendapatkan penghargaan di bidang sastra, melihat bahwa songwriting juga proses berkarya yang berkelindan dengan permainan kata (pemilihan diksi, simbol, metafor, dan (hampir) semua lagu yang berlirik ada narasinya. Ada penokohannya, ada setting-nya, ada alur ceritanya; pokoknya unsur-unsur yang bisa dibahas di bidang sastra).

Menilik keberadaan narasi, conveyed value, dan pengaruh keadaan sosial di mana lagu tersebut ditulis/dimainkan/diperdengarkan (yang mana bisa sangat mempengaruhi bagaimana lagu/lirik tersebut “dibaca”), kupikir sangat sahih untuk mengatakan bahwa lirik lagu adalah juga karya sastra.

Andy Sri Wahyudi (penyair dan penulis naskah teater) :

Aku ki enggak ngerti tenan lagu-lagunya Dylan… ngertiku Blowing In the Wind. Nek menurutku, simple, enggak apa-apa Dylan dapat (Nobel). Bagiku, sastra itu enggak mulia mulia amat kok

Christabel Annora (musisi) :

He deserves it menurutku, karena apa yang dia tulis (yang tertuang di dalam lagu) merupakan story-telling dan dia menyusunnya dengan baik sekali. Literatur nggak harus melulu novel dan sebagainya, ga sih?

Mahfud Ikhwan (penulis novel) :

Pertama, aku sebenarnya enggak begitu akrab dengan musiknya Dylan, lebih-lebih tahun belakangan ini. Haha… aku enggak tau.

Kedua, aku juga tidak tahu bagaimana kondisi sastra dunia termutakhir. Aku enggak kenal siapa penulis atau penyair yang seharusnya lebih berhak dibanding Dylan, dan karena itu, sebenarnya, aku tidak terlalu peduli…

Herry Sutresna atau Ucok (musisi/eks Homicide) :

Ya satu sisi sepakat, kalau frame-nya adalah musisi juga bisa menulis karya sastra yang luar biasa. Tapi secara personal saya ga pernah dengerin Dylan dan ga pernah ngikutin Nobel. Jadi yaa, gitu lah. Hahahaha. Ya itu sisi lainnya, gua ga pernah peduli ama Dylan dan Nobel.

Redaksi Serunai

Redaksi Serunai

Serunai adalah media yang menyajikan dan membahas berbagai aktivitas seni dan budaya sebagai bagian dari cara hidup manusia. Serunai menyajikan seni yang tidak terbatas pada produk seni di ruang pameran maupun panggung pertunjukan. Lebih dari itu, Serunai ingin menggali, menjadi saksi sekaligus mendokumentasikan peristiwa seni dan budaya yang merupakan wujud dari cara manusia berhubungan dengan sesamanya, dengan alam lingkungannya, maupun dengan spiritualitasnya.
Redaksi Serunai

Latest posts by Redaksi Serunai (see all)