Laku Seni Sekar Sari

Nama Sekar Sari mulai dikenal secara luas berkat aktingnya yang apik dalam film Siti karya sutradara Eddie Cahyono. Terlebih ketika film ini mendapat sorotan luar biasa pascamenyabet penghargaan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia 2015. Pada tahun berikutnya, Sekar diganjar penghargaan sebagai pemeran wanita terbaik Usmar Ismail Award 2016. Namun, berperan sebagai tokoh utama Siti hanyalah salah satu kepingan dari begitu banyak laku kesenian lain yang dijalani Sekar Sari. Perempuan kelahiran Yogyakarta ini multitalenta. Ia melakoni banyak bentuk kesenian lain, salah satunya adalah seni tari.

Baru sekitar satu bulan Sekar Sari kembali menetap di Yogyakarta, setelah sebelumnya menempuh studi master jurusan International Master on Dance Knowledge, Practice, and Heritage di University of Roehampton, London, Inggris.

Saya bertemu dengan Sekar Sari di sebuah kafe di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada kamis (11/08) siang, setelah Sekar mengikuti diskusi tentang seni tari di kampus tersebut.

Siang itu Sekar mengenakan t-shirt, rok terusan, flat shoes, serta mencangklong totebag. Ia menyapa dengan ramah. Saya kaget mengetahui bahwa alih-alih mengendarai mobil atau sepeda motor, Sekar ternyata mengayuh sepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar lima kilo meter dari UGM.

Melihat penampilannya yang sederhana, siapa sangka perempuan ini adalah aktris yang di film panjang pertamanya langsung diganjar penghargaan prestisius. Tak hanya seni peran, Sekar Sari juga mendalami seni tari sejak kecil, pernah aktif dalam organisasi Purna Paskibraka Indonesia, turut serta dalam ajang Dimas Diajeng Jogja dan Putra Putri Batik. Sekar juga aktif wara-wiri sebagai MC dan model.

Di dunia akademis, saat menempuh studi sarjana di jurusan Hubungan Internasional UGM, Sekar mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke Daejeon University, Korea Selatan. Beberapa tahun kemudian ia  mendapat beasiswa Choreomundus yang menghantarkannya ke bangku kuliah pascasarjana di empat negara sekaligus. Empat negara tersebut adalah Norwegia, Perancis, Hongaria, dan Inggris.

Siang itu, kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari berbagai tantangan yang harus ia hadapi saat memerankan tokoh penjual peyek jingking di pesisir pantai selatan Yogyakarta dalam film Siti. Tantangan yang juga masih muncul pascaSiti diputar secara nasional di jaringan bioskop: reaksi orang tua Sekar yang terkaget-kaget mengetahui anak perempuannya berperan dalam film yang mengangkat isu kontroversial.

Penampilan keseharian Sekar yang sederhana dan membumi ternyata adalah pengejawantahan ajaran keluarganya. Sekar sangat dekat dengan ibu dan bapak. Kedua orang tuanya tentu tak menyangka Sekar mampu begitu intens malih rupa menjadi Siti, penyanyi karaoke kelas bawah yang karib dengan asap rokok dan minuman beralkohol.

Kami juga membicarakan seni tari dan berbagai diskursus yang berkaitan dengan aspek kesenian serta akademis. Termasuk tesisnya yang mengupas penyebaran Panji, epos asli Indonesia, ke beberapa Negara lain di wilayah Asia Tenggara. Sekar juga menyampaikan gagasannya mengenai apa itu tradisi, seni tradisi, dan pentingnya beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Sepanjang sesi wawancara, Sekar tampak optimistis  terhadap banyak gagasan yang ia pikirkan. Ia terlihat sangat bersemangat dan antusias saat menjabarkan gagasan tentang seni tari, budaya, manusia, dan kelindan antarketiganya.

Sekar dikenal sebagai penari. Sejak kapan belajar menari?

Sejak kecil. Dari dulu bapak memang suka seni.

Bapak dan keluarga pekerja seni?

Aku bukan dari keluarga seniman. Ibu mengurus rumah, sedangkan bapak guru fisika, tapi bapak memang menggemari seni, terutama musik. Salah satu hobi bapak tuh otak-atik amplifier tabung kuno gitu. Beberapa orang yang suka main gitar terus suka bertandang ke rumah. Beliau pernah bergabung menjadi panitia FKY (Festival Kesenian Yogyakarta.) zaman baheula. Pernah jadi anggota dewan kesenian. Di masa kecil aku kerap diajak bapak untuk nonton pertunjukan tari.

Waktu aku masih kecil, pak Hasmi pencipta komik Gundala Putra Petir pernah tinggal satu pekarangan dengan kami, dia bikin puppet terus kita sering main. Mungkin di situ ya aku jadi ada banyak pengalaman untuk melihat dan mengalami peristiwa seni budaya misalnya nonton bapak, beliau suka kasih cerita wayang, terus nonton tari-tarian di FKY, dan melihat bagaimana cara pak Hasmi bikin wayang dan lain sebagainya. Lambat laun aku senang dan menikmati ranah seni dan budaya ini. Di kemudian hari, ini yang memicu aku ikut kompetisi Dimas Diajeng (Yogyakarta 2009).

Kenapa terus memilih ikut Dimas Diajeng?

Ya waktu itu aku jadi duta pariwisata, duta budaya gitu. Aku berharap untuk bisa mengeksplorasi lagi ke depan (seni budaya) itu seperti apa. Rasa ingin tahu, penasaran, terus nyaman juga dengan ranah ini.

Apa kegiatan Sekar sekarang?

Kegiatanku sekarang banyak menghabiskan waktu sama teman-teman, keluarga, adik-adik. Menjalin hubungan  silaturahmi lagi, reconnection lagi. Mulai menata dan mengenal medan lagi. Ada beberapa rencana tapi yo ga pengen grusa grusu, gubras gabrus gitu lah bahasanya. Aku banyak belajar lagi. Pengen update beberapa hal. Jadi aku banyak nonton pertunjukan atau pameran.

Sekar baru saja menamatkan studi master di University of Roehampton. Apa fokus bahasan tesis Sekar?

Tesis aku berjudul “Stage Live dan Daily Live dalam Drama Penari Panji, Representasi Gender dan Karakter”. Ini berbentuk Drama tari. Jadi ada unsur dramanya ada unsur tarinya. Fokus tesisku adalah cerita Panji.

Kenapa memilih epos Panji? Jadi aku pernah beberapa kali terlibat di misi kesenian Indonesia pada tahun 2013. Ke Jerman beberapa kali untuk menari dan show batik. Jadi melihat sudah sampai mana sih diplomasi budaya Indonesia? Di situ aku menemukan beberapa pihak berpendapat Indonesia mudah menyerap seni dan budaya dari suku bangsa lain. Misal Ramayana dan Mahabarata dari India, diserap lalu dikembangkan dengan karakter yang sangat Indonesia gitu.

Padahal kita juga punya epos Panji yang asli Indonesia. Epos panji ini yang mungkin nggak sepopuler Ramayana  atau Mahabarata, tapi punya daya jangkau ke luar negeri, mencapai Thailand, Vietnam, dan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Diaspora ini telah terjadi sejak Indonesia masih bernama Nusantara. Sampai sekarang epos Panji masih ditampilkan beberapa negara Asia Tenggara. Nah berarti ini kan masih ada epos asli Indonesia yang secara diplomasi budaya masih ada sampai sekarang bahkan itu masih dipelajari sama anak sekolah negara lain.

Akhirnya aku makin penasaran dengan epos Panji ini dalam bentuk drama tari. Apalagi sejak kecil ibu sering berkata kisah Ande-Ande Lumut itu turunan kisah Panji. Aku merasa ada banyak keterkaitan. Jadilah membahas epos Panji di tesis.

Apa temuan yang menarik dalam tesis Sekar?

Di Bali, ada drama tari bernama Arja. Tak hanya seni olah tubuh, Arja juga menggunakan seni peran dan seni musik. Dari Arja juga ada turunannya, bentuk seni pertunjukan yang memiliki unsur tari dan komedi, namanya Bondres. Pertunjukan ini dimainkan oleh penari laki-laki, namun sang penari memerankan sosok perempuan. Setelah menari, mereka akan berinteraksi  dengan pemain gamelan, lalu menyapa penonton, berdialog tentang keseharian, semacam kritik sosial, bercanda terus memperbincangkan hal-hal yang ada dalam keseharian.

Kalau di Thailand, drama tari Panji ini, semua pemerannya adalah perempuan. Beberapa memerankan sosok laki-laki. Di situ yang menarik dan menjadi fokus tesisku: tokoh-tokoh penari yang memainkan karakter biological gendernya. Beberapa temuanku, di Bali penari dengan gender laki-laki bisa memerankan sekaligus sosok perempuan dan laki-laki. Sedangkan di Thailand, justru perempuan yang menjadi pemeran. Mereka di Thailand menjaga authenticity dari bentuk drama tarinya. Karena dulu, perempuan dianggap lebih cepat belajar tari dan musik, perempuan juga dianggap memiliki suara lebih bagus dan cocok untuk menyanyi. Thailand menjaga itu tetap berada di koridor otentik.

Di Bali,  intinya berevolusi dan itu bentuknya jadi bisa dibilang organik. Sangat menyesuaikan perubahan zaman. Masyarakat tuh memerlukan hiburan, maka bentuk drama tari Panji menjawab kebutuhan masyarakat dengan menambahkan unsur hiburan. Untuk dilihat bagaimana sebuah seni pertunjukan menyesuaikan zaman tapi tetap eksis. Jadi kaitannya ada Stage Live dan Daily Live seperti apa dalam representasi karakter.

Penari perempuan di Thailand akan dianggap bagus dan berkualitas jika mampu memainkan beberapa peran. Semakin banyak yang dia coba berarti dia seorang penari yang hebat. Beda dengan di Bali, dari yang aku pelajari, seorang penari dinilai bagus ketika dia berkomitmen terhadap satu peran. Di kehidupan sehari-hari dia dipanggil dengan nama peran yang dia bawakan.

Sempat mengenyam pendidikan di bidang Hubungan Internasional, lalu menempuh master di Ilmu Budaya. Secara keilmuan ada tantangan apa?

Awalnya aku merasa seperti salah jurusan. Tiba-tiba belajar hal-hal yang tak pernah aku dapatkan seperti analisa struktur tari. Berat rasanya menganalisis tari berdurasi dua menit ke dalam paper setebal 16 halaman. Tapi lama kelamaan menemukan keasyikannya, seperti merasa program ini memang sudah ditakdirkan untuk aku pelajari. Misalnya, salah satu yang kita pelajari di kampus adalah teknik pengarsipan seni tari. Ternyata di masa lampau aku pernah bergabung dengan proyek pengarsipan tentang daily live di Indonesia. Jadi sudah tahu penggambaran pengarsipannya seperti apa.

Contoh lainnya, di semester kedua kita fokus membahas penyelenggaraan festival (seni). Mulai dari  menganalisis bagaimana sambutan masyarakat terhadap suatu festival, kepentingan mana saja yang harus diakomodasi dalam festival itu, jadi untuk melihat festival sebagai suatu konstruksi. Di situ saya ingat dulu pernah belajar penyelenggaraan festival saat menjadi public relation di Festival Kesenian Yogyakarta.

Kita juga belajar tentang UNESCO. Bagaimana UNESCO menyeleksi proposal-proposal yang mengajukan seni tari sebagai incredible heritage. Ini berkaitan dengan yang saya pelajari di hubungan internasional, bagaimana kepentingan non goverment organization, pemerintah, dan masyarakat. Ternyata apa yang saya pernah pelajari di masa lampau berguna di kuliah ilmu budaya ini. Semesta seperti sudah menyiapkan saya.

Sekar tipe perencana bukan, yang merencanakan di masa depan akan menjadi ini dan itu?

I was so person like that, dulu aku pernah jadi tipe orang yang perencana. Aku mau jadi seperti ini, aku mau lulus di usia sekian, aku mau kerja di usia sekian, menikah di usia sekian. Tapi ada beberapa hal terjadi di luar rencanaku. Gagal. Setelah itu aku jadi belajar untuk bisa mengalir saja, tidak saklek dengan rencana.

Sekar tipe orang yang suka belajar ya? Memulai dari ajang Dimas Diajeng, kemudian bergabung menjadi panitia FKY.

Ya aku menganggap itu jadi tempat buat berproses, untuk eksplorasi. Saya dan kawan-kawan sudah dua tahunan ini menjalankan Kawung, semacam forum untuk memperbincangkan seni budaya, khususnya seni tari. Kita sudah menerbitkan sejumlah edisi newsletter, ruang bincang seni juga rutin diselenggarakan beberapa kali.

Dari situ kita merasa banyak ruang yang harus dieksplorasi dalam seni pertunjukan khususnya seni tari. Misalnya, perkembangan kritik dan kajian dalam film dan musik sudah cukup baik. Tari ini juga akan sangat baik kalau punya posisi kritik, pengkajian, atau penelitian yang lebih dikembangkan. Itu adalah salah satu hal yang pengen kita olah bersama. Maka dari itu forum Kawung mengkaji bermacam isu dan wacana dalam seni tari. Mulai dari tradisi sampai alternatif seperti tari-tari garapan, tari-tari kontemporer.

Sepengetahuan Sekar, ada diskursus apa yang menarik dalam seni tari?

Banyak banget sih. Misalnya, Indonesia katanya unggul dalam diplomasi budaya, tapi sebenernya kita punya formulasi untuk diplomasi budaya itu nggak sih? Terus arsip tari. Kalau mau bikin formulasi, kita sudah banyak studi tentang tari belum sih? Dunia akademis studi tari ini sudah terintegrasi dengan kebijakan-kebijakan seni budayanya belum? Nah hal-hal semacam itu.

Saya pernah ikut pertukaran pelajar di Korea (Selatan). Di sana saya belajar banyak hal juga. Korea memformulasikan yang namanya Korean Wave, program berjangka 20 tahunan. Mereka mempersiapkan formulasi itu secara serius, dan mereka benar-benar melakukan studi. Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Film, musik K-POP, banyak banget produk-produk budaya Korea mendunia. Sudah sampai mana Indonesia? Terus kemarin aku nonton salah satu pertunjukan di sebuah event Indonesia di luar negeri. Apakah yang ditampilkan itu tradisi terus, atau kontemporer atau seperti apa? Mengapa yang ditampilkan tradisi terus misal. Apakah kita sekadar ingin memuaskan ekspektasi masyarakat luar negeri bahwa Indonesia berwarna-warni tari tradisi? Padahal Indonesia punya yang alternatif. Bagaimana sih proses pengambilan kebijakan ini?

Untuk menyelesaikan tesis atau selama studi ini saya menemukan bahwa sumber-sumber referensi akademis tentang Indonesia yang bisa diakses justru dari Belanda dan Inggris. Apakah karena kita tidak punya teknik pengarsipan yang baik? Mungkin sudah banyak juga yang concern di sini, apakah sudah terintegrasi?

Lalu bagaimana culture penonton tari atau culture penonton seni pertunjukan. Budaya mengapresiasi tuh seperti apa, apakah kita sudah cukup pandai dan fair dalam mengapresiasi? Misalnya, ada yang lebih pandai nyacat (nyinyir) daripada mengapresiasi. Hal-hal seperti itu yang perlu kita tanyakan sama diri kita sendiri. Apa makna seni pertunjukan? Sekadar sebagai hiburan, tontonan? Atau mampu menjadi medium yang mempertanyakan identitas kita. Terus jadi medium yang reflektif dengan diri kita. Ini beberapa diskursus dalam seni tari yang perlu dibahas terus menerus.

Setelah melewati sekian banyak proses, dalam pandangan Sekar sekarang, apa itu seni?

Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya. Justru karena itu aku terus bertanya, terus berproses, terus memperbincangkan ini, dan aku rasa serunya seni yaitu ada banyak ruang untuk menginterpretasi. Mengajarkan keberagaman, bukan keseragaman.

Seni juga bikin kita lebih peka. Aku pernah ikut program recording for the future, dan bagiku itu adalah perjalanan spiritual. Di situ kita jalan di satu rute yang sama untuk wawancara orang-orang yang kita temui, ibu-ibu pedagang sate, ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan. Karena itu daily life jadi kita bisa tanya banyak hal kayak fashion, kenapa ibu pakai baju itu. Proyek ini jangka panjang jadi sekarang kita belum bisa langsung menggunakan datanya, tapi ke depan akan menjadi catatan yang berguna buat kita. Bagaimana peradaban yang terjadi pada masa sekarang. Itu sangat melatih kepekaanku juga. Dari sesi wawancara dengan banyak orang berbagai usia di berbagai daerah, aku menemukan beberapa orang yang setelah proses itu bikin aku mbrambangi, mau nangis.

Ada cerita yang lucu dan seru namun sekaligus miris. Misalnya di Jawa Timur, ada bapak tukang becak yang tidur di becak karena rumahnya jauh dari Surabaya. Selama seminggu tidur di becak, weekend balik ke rumah. Saya tanya “Gimana pak, berarti senang sekali pulang ke rumah ya bisa tidur di kasur”. Ternyata si bapak malah menjawab, “wah mbak sakit semua badan saya tidur di kasur, enak tidur di sini (becak)”.

Terus ada beberapa anak pesantren gitu, itu salah satu rute di jalan itu. Aku tanya, “Kenapa ke pesantren, kan di sini sempit, jadwalnya padat, kenapa nggak pilih di rumah?” Terus dia mempertimbangkan, “ya soalnya saya enggak punya bapak, rumah saya sempit”. Ya gitulah ada banyak pertimbangan, anak pesantren itu mengalami banyak hal. Aku mikir, ya ampun, hal-hal ini benar-benar terjadi ya.

Ada beberapa cerita menarik yang enggak bisa aku share di sini. Ada juga cerita bagaimana orang-orang pandai bersyukur, misal tukang tambal ban, sudah bertahun-tahun kerja di situ. Saya tanya “Bapak enggak pengen kerja di bengkel besar”. Terus ya dia bilang enggak, “Yang bengkel besar juga nambal ban di sini”, dan dia bersyukur, itu prestasi dan dia merasa bermanfaat dengan itu. Dia sangat pandai bersyukur. Si bapak bilang “Oh anak saya sudah sekolah di sini,” dan sebagainya. Jadi melihat beragam orang bersyukur dengan beragam cara. Ya menarik.

Pernah juga wawancara, di setiap daerah kan ada grup K-Pop, trus wawancara mereka pas lagi latihan dance. “Jadi gimana, pilih warga negara mana, Korea atau Indonesia?” Mereka jawab dengan polos, “Ya Korea lah mbak” (tertawa). Ya ini yang terjadi. Aku dapat kesempatan untuk bertanya. Itu kan melatih kepekaan kita sampai sejauh apa kita mampu untuk melihat apa yang terjadi di sekitar kita.

Kesenangan untuk melakukan refleksi, bertemu orang banyak, gemar belajar itu datangnya dari mana? Dari didikan keluarga, atau diri sendiri?

Itu formulasi proses yang macam-macam. Misalnya keputusan kecemplung di seni pertunjukan ini karena diberi pengalaman sama bapak ibuku, dan juga karena aku pemalu. Apalagi waktu kecil, aku pemalu dan penakut. Misal ada orang mengetuk pintu rumah, aku langsung lari ke belakang. Di situ I am aware, jadi aku harus menemukan cara terapi agar diriku nggak jadi pemalu, ya dengan terjun ke seni pertunjukan, dengan menari, dengan nge-MC. Jadi aku melakukan repetisi-repetisi untuk membangun kepercayaan diri. Medium itu untuk menghilangkan kelemahanku yang pemalu.

Trus kenapa jadi Sekar yang seperti ini, salah satunya juga karena nggak percayaan (skeptis), nggak mudah percaya, ah mosok to, jadi aku mencobanya. Karena aku penasaran. Kayak dari kecil dulu, bapak sering kasih wacana tentang meditasi. Tahun lalu ada kesempatan artistic meditation retreat di Thailand, semacam meditasi untuk proses kreatif. Di seleksi kan itu, ada 24 artis dari berbagai macam background, seni musik, rupa dan lain sebagainya. Ketika gabung itu pun nggak serta merta aku percaya meditasi itu bagus dan lain sebagainya. Jadi kadang aku membiarkan, memberi ruang untuk aku nggak langsung percaya, dan dari situ memberi ruang belajar, mempertanyakan, untuk eksplorasi lagi, bertanya lagi, membuktikan kebenarannya. Lalu menemukan oh ada bagusnya ada jeleknya. Ya yang bagus diikuti.

Jadi kenapa aku suka belajar ya karena memberi ruang kita untuk kemungkinan-kemungkinan baru, there is no such black and white. Ada ruang yang mungkin abu-abu untuk kita mempertanyakan, membahas. Mungkin kita nggak akan menemukan jawabannya, tapi menikmati prosesnya.

Kenapa mediumnya harus seni? Kemudian ke pertunjukan tari lalu film?

Mudahnya karena itu bikin penasaran, bikin nyaman. Di situ aku kayak, I found the meaning of my life, merasa bisa bermanfaat di situ, bisa eksplorasi di situ. Ini juga dari proses yang tidak singkat, jadi maksudnya kemarin sekolah dan lain sebagainya juga proses-proses sebelumnya.

Jadi kemarin pas ngobrol sama Pak Sal (Murgiyanto), (dia bertanya) “Jadi gimana?” Salah satu capaiannya ya itu, semakin mengenal diri sendiri, minatku di mana sih, di seni, menemukan nyamannya, menemukan penasarannya. Seni itu juga jadi medium yang bisa membicarakan manusianya dan bisa memberikan manfaat buat manusianya dengan berbagai medium yang kreatif, dengan beberapa rangsangan ke indra yang dimiliki manusia, suguhan untuk mata, telinga, untuk pengalaman, indra lainnya, rasa dan sebagainya.

Jadi senang, seru dan bersyukur diberi kesempatan untuk mendapatkan akses itu. Mungkin ada banyak orang yang ingin ke sana, misalnya pendidikan. Anak-anak sekarang apakah dapat pendidikan seni tari kayak gitu? Kalau aku dulu dapat pendidikan seni tari dari TK sampai SMA. Seni ini kan merefleksikan manusianya. Mempelajari seni kan mempelajari manusianya. Tapi ini belum tuntas, masih berproses terus sampai mati. Hal-hal kayak gitu ya, misal dapat obstacle, ya itu merangsang kreativitas.

Bagaimana pandangan Sekar tentang seni tradisi? Misalnya ada diplomasi Negara ke luar negeri, kenapa Indonesia harus diwakili seni tradisi?

Seni tradisi bagiku bagus, itu sampai sekarang masih sering menyampaikan simbol-simbol tentang sisi baik dari kita, walaupun kadang kita tidak sadar. Itu bagus. Tapi kadang kita perlu melengkapinya dengan wacana di sekitarnya. Transfer tarian tidak hanya bentuk tariannya. Pengen melestarikan seni tradisi, oke itu bagus, tapi apakah bentuk saja yang perlu dilestarikan? Spiritnya bagaimana? Pengetahuannya bagaimana?

Contoh sederhana, waktu itu ada sebuah tarian yang tampil di barat sana, sebuah tarian tradisi yang penarinya pakai kacamata hitam, semacam jathilan yang dikoreografi. Ya seru, tariannya seru, geraknya rancak dengan koreografi yang baik. Terus aku tanya ke temanku orang sana. Menurutmu gimana, kenapa pake kacamata item? (Dia jawab) “nggak tahu, karena Indonesia negara tropis kali ya jadi pake kacamata item”. Nah tari itu perlu didampingi narasi, kalau enggak ya nggak sampai maksudnya. Transfer knowledge di sini juga tidak tersampaikan. Tidak ada awareness, tidak ada proses reflektif itu. Jadi kita menyamakan bentuk yang turun temurun, tapi bukan pengetahuannya.

Yang disebut diplomasi budaya melalui tari itu seperti apa sih? Apakah tarian-tarian yang dihadirkan ketika makan malam? Elemen apa saja yang diperlukan ketika menampilkan tari tradisi? Apa mau tradisi terus, terus kontemporer bagaimana? Apa kita mau dilihat sebagai negara yang tradisi saja? Apa itu merefleksikan masyarakat Indonesia saat ini? Bukan berarti kita stop tradisi, tapi bagaimana kalau kita juga menampilkan yang alternatif.

Kemudian, saya tertarik dengan jargon Nguriuri tradisi. Tradisi itu apa sih sebenarnya? Toh hal-hal yang dulu dianggap kontemporer sekarang jadi tradisi. Begitu seterusnya. Bicara perihal seni tradisi, aku lebih sepakat mengembangkan dibanding melestarikan. Kalau melestarikan itu kayak put it in the box, ya berhenti. Padahal ada beberapa yang bisa diolah, dikembangkan.

Kita butuh aware kalau kita hidup di masa sekarang, dengan bermacam tantangan. Jadi ya butuh medium untuk bertanya. Bahwa tari itu nggak hanya di panggung. Bahkan untuk lingkup yang paling kecil, bagaimana cara bikin tari itu accessible, siapapun bisa jadi penari, pelaku, serta penikmat.

Mungkin itu terjadi karena wacana yang lain belum terbahas secara luas, pengetahuan soal ini belum menjangkau, belum terakses semua. Perlu ruang alternatif untuk memperkenalkan kebebasan berpikir,  menginterpretasi suatu karya.

Sekar sudah menarikan tari apa saja?

Dari kecil belajar tari golek, beberapa ragam, ayun-ayun, lambang sari, sekar widiastuti, beberapa tari garapan tradisi. Tari klasik Yogyakarta. Tari klasik Yogyakarta itu asalnya dari Keraton. Juga tari kreasi baru seperti tari Pak Bagong (Kussudiardja). Waktu di SD dari sanggar pak Bagong diajarkan.

Sekarang masih eksplorasi kontemporer, perfomance art, medium alternatif juga. Kemarin sama teman-teman coba mengolah itu, menarik untuk menghadirkan seni dari keseharian kita, dari medium yang beragam, jadi catatan harian kita, nggak melulu harus dipertontonkan, ketika itu bisa dishare juga jadi pengalaman menarik untuk bersama-sama mempertanyakan, mengolah sesuatu.

Kapan mulai masuk ke seni peran?

Tahun 2010 saat aku masih kuliah, ada temannya teman yang produksi film,  anak-anak UII (Universitas Islam Indonesia) gitu yang bikin project fim pendek.

Kemudian, berperan sebagai Siti dalam film Siti yang disutradarai Eddie Cahyono adalah level berikutnya dari seni peran yang aku geluti. Ini film panjang pertamaku.

Ketika Siti telah beredar, aku paling shock kalau teman sendiri menonton, ya malu, takut, terus ya penasaran, gimana ya? Apalagi dulu aku tidak menyangka ini akan diputar secara luas di seluruh Indonesia, jadi aku santai gitu lho, bapak ibu nggak akan menonton, kan film sebelumnya juga bapak ibu nggak penasaran untuk nonton. Biasanya aku pamit syuting, bilang aku terlibat produksi ini, ya (dijawab) oke gitu, tapi nggak cerita detilnya, paling nonton setelahnya. Yang ini juga, oke gitu, ya udah. Lha ternyata (Siti) diputer di bioskop (tertawa).

Reaksi bapak ibu bagaimana?

Pertama kan Siti diputar di JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival), nggak banyak yang nonton, oke lah gitu, walaupun deg-degan. Teman-temanku yang nonton kan (bilang), kamu kok ambil film itu sih? Ya aku sadar aku memilih untuk terlibat di film itu. Pas Siti mulai diputar di bioskop itu bapak ibu kan yang duh tak semayani. “Pak nontonnya besok aja kalau aku pulang.”

Kemudian aku mempertimbangkan. Daripada bapak dan ibu denger cerita yang … aku sadar itu sisi yang cukup kontroversial atau gimana gitu, daripada denger dari orang lain, dan mungkin membayangkan yang lebih buruk, jadi ya udah lah nonton aja. Ya aku kasih intro yang cukup lengkap. “Bu jadi itu nanti mungkin ada beberapa adegan yang bikin bapak ibu kaget atau gimana, jadi persiapkan aja”.

Pas mau screening itu, aku nggak bisa tidur, gelisah banget gitu lho. Temanku sampai bilang “why? Be calm!Aku berusaha untuk tenang, tapi ya gimana, aku nggak bisa tidur. Terus aku memantau lewat adikku. Nggak konsen di sana itu (London), aku ke museum itu nggak konsen. Mana nggak bisa ditelpon lagi pas hari itu, nggak bisa langsung ngobrol gitu lho.

Bapak ibuku, terutama ibu, kan orangnya melankolis sekali ya. Kadang mbrambangi gitu. Terus beliau kirim pesan lewar line, cerita cukup detil, bilang “Ibu tuh kaget”. Lalu aku telepon, terus dia yang … “(tarik napas) walaupun kamu kasih intro, ibu kaget, ya nggak mudah buat ibu liat kamu kayak gitu.. itu tuh dari hal-hal kecil yang kayak kamu digedor-gedor sama polisi, kamu di kamar mandi, gedor-gedornya kenceng banget…” (Sekar cerita sambil tertawa) … yo yo oke oke …

Terus karena bapakku habis sakit kan, jadi kadang ibuku yang sok-sok mau menenangkan bapak, ternyata ibuku yang lebih shock gitu, terus bapak yang menenangkan ibu kalau itu bukan Sekar, itu Siti. Terus ibuku yang lucu gitu, kayak yang, “Kamu kok bisa ngrokok kayak gitu, jangan-jangan kamu ngrokok ya di luar rumah?”, “Apa karena bapakmu ngrokok ya kamu bisa ngrokok?”… Ibuku sedih tapi marai lucu. Beberapa poin sedihnya itu hal-hal lucu. Terus ya dia bilang mbok jangan yang ngrokok-ngrokok.

Untuk beberapa penonton, tentu menyimpulkan Sekar ini Siti.  Siti tuh ya Sekar. Pas banget, karena penjiwaannya luar biasa. Berat tidak seorang Sekar memerankan Siti?

Waktu itu sangat terbantu sekali ketika mas Eddie menggali pengalaman-pengalaman pribadiku untuk dihadirkan kembali, untuk bikin formulasi Siti ini. Misal dia tanya : “Kowe ki wis tahu susah durung?” Kamu pernah nggak sih berada pada masa yang kamu nggak ada jalan keluar? Masalah yang nggak ada jalan keluar. Terus langsung yang slowly darling. Ya ngobrol, ya harus mengingat-ingat apa yang pernah terjadi …

Itu syuting sebelum aku berangkat (sekolah ke luar negeri). Begitu aku dapat naskah, itu aku langsung tertarik. Ini ceritanya simpel, dalam arti riil, nggak muluk-muluk, ya berbeda gitu. Ini cerita dalam durasi yang cukup pendek, tapi cukup intens untuk menggali multilayer identity si Siti ini. Di film ini, Siti digali banget perannya sebagai ibu, sebagai perempuan, sebagai anak, sebagai istri. Secara teknis filmnya dihadirkan dalam warna hitam putih, tapi karakter di dalamnya nggak hitam putih, dan itu yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, setiap orang punya kompleksitasnya. Kenapa dia pilih melakukan action ini, kenapa dia melakukan A melakukan B, karena dia punya prosesnya masing-masing, punya pertimbangannya masing-masing. Ya aku suka sih sama naskahnya.

Kadang yang terjadi di cerita Siti itu terjadi di masyarakat, dan akhirnya aku dapat referensi dari sekitar juga, ibuku, dari teman-temanku. Dari orang-orang yang aku temui. Itu terjadi nyata, dan film ini berpotensi untuk itu. Kemarin waktu diskusi sama mas Ifa (Isfansyah), muncul kesimpulan bahwa Siti itu bisa ditonton tanpa kamu harus tahu latar belakangnya, sejarahnya. Begitu nonton bisa langsung masuk ke ceritanya, bukan kayak film yang harus berpikir aku harus tahu latar belakang negaranya seperti apa. . Terus persoalan  bagaimana aku berjuang menjadi sosok Siti diungkapkan mas Eddie. (mengutip pernyataan Eddie Cahyono) “Itu kerja keras Sekar. Kenapa memilih Sekar Sari, itu karena berbeda dengan karakter dia. Saya memang mengarahkan tapi lebih banyak porsi Sekar mempelajarinya.”

Ada satu adegan saat Siti berjoget sembari menyanyikan dangdut di karaoke. Sekar mampu berjoget dengan bagus, luwes. Memang sering nonton dangdut ke Purawisata ya?

(tertawa) Waktu itu aku lagi sering fokus di tari tradisi, ekplorasi tari kontemporer masih awal. Lebih banyak tradisi. Terus dikasih referensi video-video syur, maksudnya video joget dangdut yang aku nonton kayak, (menghela nafas) kalimat-kalimat toyyibah itu keluar, “astaghfirullah.. mas, serius kayak gini?” Dia (Eddie Cahyono) menanggapi dengan santai, muka datar (menunjukkan muka datar). Isinisin banget itu lho. Waktu itu latihan di kantor. Waktu itu reading sama latihan kamera dan kru. Latihan menari ditambah kru segitu banyak, joget dangdut gitu, gimana nggak malu. Akhirnya disuruh keluar dulu semuanya. Mas Eddie bilang joget gitu, oke. Akhirnya ya udah.

Walau sebenarnya nggak asing juga dengan dangdut. Dulu waktu aku kecil, bapakku nyewain sound system untuk beberapa event dangdut.

Sekar pernah menduga nggak dari kerja keras ini bisa mendapatkan berbagai penghargaan? Apa impact sebenarnya bagi Sekar?

Aku nggak berpikir ini akan mendapatkan sejumlah award. Itu kan aku mepet banget persiapannya. Waktu reading sangat terbatas. Menurutku, edan ini. Aku Tanya ke mas Eddie “Mas kok banyak banget sih?” Tapi ya udah nggak ada pilihan lain selain melakukan yang terbaik. Mas Eddie tuh ngomong, “Saya tuh bertarung dengan Sekar. Sekar tuh ujung tombakku. Ada penonton yang tanya, kenapa judulnya nggak mengeksplorasi Bagas. Mas Edi menjawab, “lha wong iki judulnya Siti kok, entar jadinya Siti dan Bagas.”

Apa harapan Sekar ke depan?

Jadi bermanfaat. Yang jelas karena berproses selama ini, jadi pengen mengembangkan dunia seni dan dunia akademis. Poinnya itu. Visinya lebih detil, mungkin kayak, kemarin kan aku ngumpulin beberapa footage waktu fieldwork terus pengen diolah lagi jadi suatu karya yang lebih mudah dicerna, narasinya tersusun dengan baik. Terus pengen mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari di sekolah, dan segala proses kreatif. Terus menekuni dunia seni dan dunia akademis. Setia pada proses ini untuk tetap menjadi besar.

Ada yang pernah tanya, mbak artis ya? Ini maksudnya artis seniman atau artis selebriti? Kan beda. Menjadi terkenal kan hanya efek, bukan goal. Goalnya tuh lebih ke proses. Saya bersyukur sih dapat kesempatan bisa terlibat di sini, kesempatan belajar. Jadi, ternyata aku tuh seneng di dunia ini. Aku tuh penasaran. Tetep ada challengenya. Ketika challengenya bisa dihadapi, oh jebul, ternyata seru ya.

Setiap hal pasti ada challengenya, nggak semua apik-apik kabeh. Justru itu yang memacu kreativitas. Mensyukuri banyak poin. Kayak dari film Siti, dari beberapa orang, ada beberapa perempuan yang cerita ke aku, “mbak aku tuh gini..”, bercerita tentang kisah hidupnya. Oh gitu toh perasaannya. Di situ aku tahu ternyata ada banyak Siti di dunia sekitarku, dan itu perjalanan menarik buatku.

*Tulisan ini diolah oleh Aris Setyawan dari rekaman wawancara yang dilakukan oleh Siti Fata.

Siti Fata

Siti Fata

Beberapa kali bergiat di kegiatan kerelawanan. Sedang mencoba keluar dari Antropologi Budaya UGM. Bisa dihubungi di fata.hanifa@gmail.com atau @fatanurhaliza.
Siti Fata

Latest posts by Siti Fata (see all)